Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 32: Lawan Terakhir


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Tengkorak Ahoi tidak bisa benar-benar meninggalkan Istana Kabut Kuning di pagi yang berudara sejuk itu. Dia tertahan oleh hadangan Eyang Hagara yang tahu-tahu telah menghadangnya di dalam benteng Istana.


Tengkorak Ahoi harus berhenti ketika satu gelombang tenaga sakti menghadangnya dari arah depan.


“Tuntaskan saja tugasmu di negeri ini. Kenapa harus lari?” kata Eyang Hagara.


“Baik. Akan aku buat menyesal kau manusia tanpa hidung! Heaat!” seru Tengkorak Ahoi lalu berteriak sambil melesat maju dengan tangan memiliki dua sinar hijau panjang seperti pedang.


Ses ses ses …!


Dengan gerakan seperti bayangan melintas, Eyang Hagara menghindari semua tebasan pedang yang selalu berbunyi ketika berkelebat.


Untuk sementara Eyang Hagara menjaga jarak, seolah tidak berani menangkis dua pedang sinar tersebut.


Saas!


“Hugk!”


Hingga kemudian, pada saat kedua pedang sinar itu datang menebas dari atas secara bersamaan, Eyang Hagara mengerahkan ilmu Benteng Kembang Biru.


Sinar biru mengembang menangkis dua tebasan pedang sinar dan itu bisa ditangkis, bahkan mementalkan Tengkorak Ahoi ke belakang. Namun, itu tidak membuat Tengkorak Ahoi terkapar. Ia bisa mendarat dengan kedua kakinya.


Sus sus sus …!


Seperti masih muda saja, dengan gerakan yang bersusulan, Eyang Hagara melakukan gerakan-gerakan tendangan, di mana pada setiap tendangan melesatkan sebola sinar kuning. Ada lebih sepuluh bola sinar kuning melesat menyerbu Tengkorak Ahoi.


Sebagai pemilik benteng gaib yang begitu kuat, Tengkorak Ahoi masih cukup tangguh untuk melawan Eyang Hagara meski dalam kondisi terluka.


Zerzz! Blar blar blar …!


Dengan tubuh yang dijalari listrik berwarna hijau, Tengkorak Ahoi berani menyambut bola-bola sinar kuning dengan tinju dan tendangannya. Ketika bola-bola sinar itu ditinju dan ditendang, maka ledakan bersusulan terjadi tanpa memberi efek luka kepada Tengkorak Ahoi.


“Hebat juga,” gumam Eyang Hagara memuji. “Sepertinya para pendekar Negeri Karang Hijau memang memiliki ilmu kebal yang tinggi.”


Setelah semua serangan Tendangan Purnama Berbilang tidak berbuah mangga atau manggis, Eyang Hagara langsung melesat maju mendatangi lawannya.


Zerzz!


Namun, kedatangan Eyang Hagara disambut oleh serat petir bercabang-cabang yang banyak. Untuk menghindari lidah-lidah petir itu, Eyang Hagara cepat menjatuhkan diri ke tanah lalu bergulingan di bawah serat petir.


Wuss!


Sambil berguling seperti jagoan yang berondong peluru, Eyang Hagara melepaskan angin menggulung yang menyusuri permukaan tanah.


Itu membuat Tengkorak Ahoi melompat tinggi ke udara. Posisi Tengkorak Ahoi itu cepat dimanfaatkan oleh Eyang Hagara.

__ADS_1


Ia cepat bangkit dan menyalakan sinar putih pada tangannya yang juga memiliki unsur petir yang berkecamuk tidak karuan. Itu ilmu Matahari Petir Putih, salah satu ilmu pamungkas Eyang Hagara. Jika Tengkorak Ahoi masih kebal oleh kedahsyatan ilmu itu, maka bisa jadi menjadi pertanda buruk bagi Eyang Hagara.


Sersss! Zerzz!


Sinar putih menyilaukan yang mengandung petir pula dilesatkan ke atas, ke arah Tengkorak Ahoi yang masih mengudara.


Dari posisi di udara, Tengkorak Ahoi melesatkan serat petir berwarna hijau dari kesepuluh jari tangannya. Seperti telah bersepakat, petir-petir hijau itu menjerat sinar putih menyilaukan, bahkan agak meredupkan silaunya.


Jika sinar putih sudah tidak berhubung langsung dengan Eyang Hagara, maka petir-petir hijau tidak putus dari jari-jari Tengkorak Ahoi. Jeratan petir-petir hijau menahan sinar putih untuk tidak terus maju, tetapi dua kekuatan itu saling dorong.


Sampai kedua kaki Tengkorak Ahoi menginjak tanah, adu kekuatan dua kesaktian itu tetap seperti itu.


Sersss! Bluarr!


Dalam kondisi seperti itu, Eyang Hagara kembali melesatkan sinar putih menyilaukan yang sama. Sinar putih berpetir putih menghantam sinar jenisnya sendiri yang sedang terperangkap oleh jeratan petir hijau.


Ledakah energi yang dahsyat pun terjadi hebat. Bukan saja langsung mementalkan tubuh Tengkorak Ahoi yang terhubung langsung, tetapi juga mementalkan Eyang Hagara dengan kencang.


Tengkorak Ahoi jatuh keras di tanah lalu terseret ke dekat tangga depan Istana. Sementara Eyang Hagara terlempar menghantam dinding benteng.


“Huakr!” Tengkorak Ahoi muntah darah.


“Hoek!” Ternyata Eyang Hagara juga muntah darah.


Namun meski demikian, kedua orang tua itu segera bangkit kembali dan sepertinya akan mengeluarkan ilmu baru yang lebih dahsyat.


Dari keempat batu cincin di tangan kanan Tengkorak Ahoi keluar empat tali sinar beda warna yang panjang dan berfungsi seperti cambuk. Ketika keempat cambuk sinar itu menyentuh tanah, tanah itu langsung menyalakan api.


Ctass! Sersss!


Tengkorak Ahoi melecutkan cambuk empat sinarnya ke udara di atas kepalanya. Dari lecutan itu muncul empat sinar kecil berbeda warna yang kemudian melesat terbang menyerang Eyang Hagara. Si kakek hidung tengkorak yang sedang melakukan gerakan bertenaga dalam tinggi, memilih menghindar dengan cepat agar urutan gerakannya tidak putus, meski dia sedang melompat.


Jleg!


Ketika Eyang Hagara mendarat, ia sudah selesai melakukan gerakan intro, sehingga tinggal eksekusi.


Ketika dia melakukan gerakan tangan merentang terangkat dari bawah ke atas dengan telapak menghadap ke langit, tiba-tiba dari dalam tanah dan rerumputan, keluar melayang bulir-bulir air ke udara.


Ketika Eyang Hagara kembali mengolah gerakannya, bulir-bulir air yang sangat banyak itu berlesatan kepada si kakek. Ilmu Pasukan Air Sejati mirip ilmu pengendali air di cerita negeri seberang.


Pada saat proses itu, Tengkorak Ahoi datang dengan lecutan empat cambut sinarnya.


Dengan sedikit gerakan tangan, Eyang Hagara memobilisasi sebagian tetesan-tetesan air untuk menyerang Tengkorak Ahoi. Dan ternyata, itu berhasil membuat Tengkorak Ahoi repot dengan berusaha menghindari tetes air yang jumlahnya ratusan tetes. Ternyata, kelebihan air itu hanya bisa terbang dengan sifat seperti air biasa.


Sementara itu, di tangan kanan dan kiri Eyang Hagara kini ada dua bola air yang bergerak berputar pada porosnya.


Setelah itu, Eyang Hagara berlari cepat mendatangi Tengkorak Ahoi dengan kedua telapak tangan membawa bola air. Tengkorak Ahoi pun menyambut dengan lesatan empat cambuk cincinnya.


Sejenak Eyang Hagara berhenti lalu melesat ke samping menghindari semua cambuk sinar. Dari samping, Eyang Hagara tahu-tahu menghilang.

__ADS_1


Clap! Pcrak!


Tiba-tiba Eyang Hagara muncul dekat di belakang Tengkorak Ahoi sambil melemparkan satu bola airnya.


Namun, Tengkorak Ahoi lebih dulu lenyap begitu saja sebelum bola air mengenai dirinya. Sebelum bola air menghantam tanah kosong, Eyang Hagara juga sudah menghilang mengejar lawannya.


Pcrak!


Tiba-tiba di salah satu koordinat di udara, muncul sosok Tengkorak Ahoi yang tahu-tahu dadanya telah basah oleh air yang dihantamkan kepadanya, tetapi tidak terlihat sosok yang melempar.


Mata biasa tidak bisa melihat kedua petarung tua itu ketika mereka sama-sama melesat dengan sangat cepat.


Dari sudut pandang slow motion, ketika Tengkorak Ahoi menghilang dengan melesat menjauh, Eyang Hagara langsung mengejar dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat. Jadi ketika Tengkorak Ahoi melesat, Eyang Hagara juga melesat menyusulnya sehingga ada momentum sejajar. Pada saat itulah, Eyang Hagara melemparkan satu bola airnya yang tersisa.


Tengkorak Ahoi tidak bisa menghindari hantaman bola air pada dadanya, membuat lesatan tubuhnya memelan dan dia muncul di udara. Sementara Eyang Hagara terus melesat tidak terlihat.


Jleg!


Tengkorak Ahoi mendarat dengan kondisi tidak terluka apa-apa.


“Ada yang aneh,” batin Tengkorak Ahoi. “Tidak mungkin serangan sakti itu tidak memberi luka apa-apa.”


Namun kemudian, Tengkorak Ahoi merasakan ada rasa aneh di dalam tubuhnya, baik di dalam kepala, dalam dada dan dalam perut. Akan tetapi, itu tidak memberi efek sakit pada raganya.


Eyang Hagara muncul lima tombak di hadapan Tengkorak Ahoi. Eyang Hagara kembali mengeluarkan ilmu Matahari Petir Putih dan melesatkannya.


Sersss! Ctass!


Sinar putih Eyang Hagara disambut dengan empat cambuk sinar Tengkorak Ahoi.


Bluarr!


Ledakan dahsyat terjadi yang kembali mementalkan tubuh Eyang Hagara dengan kencang.


“Hoekh!” Eyang Hagara kembali muntah darah, tetapi kali ini dia tidak bisa langsung bangkit berdiri.


Namun, Tengkorak Ahoi yang juga terpental kencang lalu jatuh berguling-gulingan, tidak mengalami muntah darah seperti bentrokan sebelumnya. Tengkorak Ahoi justru sudah menjadi mayat hangus.


Sebenarnya cambuk sinar Tengkorak Ahoi lebih hebat dari ilmu jari petirnya tadi. Namun, karena Tengkorak Ahoi lebih dulu terkena ilmu Pasukan Air Sejati, maka kekebalan tubuh Tengkorak Ahoi hilang, yang membuatnya langsung hangus seketika. Ilmu Pasukan Air Sejati memang berfungsi untuk menetralkan diri lawan jika memiliki kesaktian yang membuatnya kebal atau sulit dibunuh.


Dengan kematian Tengkorak Ahoi, maka habislah orang sakti dari Negeri Karang Hijau. Dengan demikian, berakhirlah penjajahan di Negeri Pulau Kabut dan terbebaslah negeri itu dan seluruh rakyatnya. (RH) 


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Novel Baru


Om Rudi telah rilis novel terbaru genre cinta-cintaan anak muda berbau religi berjudul “Rudi adalah Cintaku”, yuk ramaikan dengan baca, like, komen dan gift. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2