Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pertamak 21: Reuni Penerbang Legenda


__ADS_3

*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*


 


Di depan bilik tabib, Banik Terong mendongak menatap Eyang Hagara yang tingginya lebih dua kali lipat dari tinggi badan Orang Separa.


Banik Terong adalah seorang lelaki katai berperut gendut dengan kumis dan jenggot lebat yang berwarna putih. Bibirnya sampai tidak terlihat karena tertutupi rambut kumis. Sepasang matanya pun nyaris bersembunyi di balik tebalnya alis putihnya. Rambutnya digulung-gulung sedemikian rupa sehingga membentuk tiga bola rambut di kepala. Ia mengenakan baju dan celana hijau dengan sabuk putih.


“Belelele! Jika bukan karena hidungmu, mungkin sulit aku mengenalimu, Hagara,” kata Banik Terong dengan suara yang serak.


“Gaya rambutmu tidak berubah, hanya warnanya saja yang berubah, Banik Terong,” kata Eyang Hagara pula. “Aku sungguh tidak tahu bahwa kau adalah pelatih Pasukan Domba Merah.”


“Sepertinya hampir lima puluh tahun lamanya kita tidak berjumpa, Hagara. Kita perlu merayakannya dengan minum teh mawar malam ini,” kata Banik Terong.


“Aku sangat ingin, Terong. Namun, malam ini aku memiliki tugas penting. Aku ingin menangkap pembunuh misterius itu,” kata Eyang Hagara.


“Baiklah, sungguh sangat disayangkan,” kata Banik Terong sedikit kecewa. “Apakah kau tahu, setelah kau tidak bisa lagi jadi penerbang, akulah yang menggantikanmu menjadi penerbang nomor jawu?”


“Itu aku masih tahu. Yang aku tidak tahu adalah kau ternyata masih berada di dunia penerbang dalam usia seperti ini. Aku dengar kau membutuhkan waktu hanya lima tahun untuk bisa sampai ke babak pamungkas dan melawan pasukan yang berpengalaman jauh.”


“Namun sayang, peluang besar yang ada di depan mata harus terlihat nyaris tidak mungkin dengan kondisi sekarat yang dialami oleh Kadidat Colong,” keluh Banik Terong.


“Nah, terkait itulah, ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Bisakah kau memasukkan cucuku ke dalam pasukan kalian?”


“Apakah cucumu seorang ras Negeri Pertama juga?” tanya Banik Terong dengan menyebut nama lain Tanah Jawi. Orang Separa menyebut Tanah Jawi dengan sebutan Negeri Pertama. Adapun Negeri Orang Separa mereka sebut Negeri Keempat.


“Iya, tapi tingginya sama seperti kalian,” jawab Eyang Hagara yang mengerti arah pertanyaan Banik Terong.


“Apakah dia penerbang yang hebat?” tanya sang pelatih lagi.


“Tidak, baru akan aku latih malam ini,” jawab Eyang Hagara.


“Belelele! Bagaimana mungkin?” tanya Banik Terong terkejut.


“Cucuku anak ajaib. Jika kau percaya kepadaku, kau seharusnya tidak meragukanku,” kata Eyang Hagara.


“Baiklah. Demi persahabatan kita. Namun, bagaimana dengan rekam jejaknya yang harus aku setorkan kepada Dewan Tongkat Terbang?”


“Dua hari sebelum Babak Pamungkas, aku akan menyerahkan rekam jejak cucuku. Dan pada hari itu, aku pastikan dia sudah bisa berlatih bersama Pasukan Domba Merah,” kata Eyang Hagara.

__ADS_1


“Baiklah.”


“Haaah! Sebenarnya aku ingin minum teh mawar bersamamu dan berbincang banyak, Banik Terong,” kata Eyang Hagara lalu menepuk dua kali bahu sahabat lamanya yang pernah menjadi rival beratnya dalam Pertandingan Tongkat Bola.


Sekedar informasi, Banik Terong tidak pernah menang melawan pasukan yang Hagara muda kapteni. Barulah setelah Hagara muda dilarang jadi penerbang karena tinggi tubuhnya, Banik Terong berjaya sebagai penerbang nomor jawu dalam waktu yang cukup lama. Hingga usia mempengaruhi performanya dan muncul penerbang nomor jawu baru.


Setelah jumpa kangen dengan Banik Terong dan berkenalan dengan semua personel Pasukan Domba Merah, Eyang Hagara pun berpisah dengan Gubernur Ilang Banyol.


Gubernur kembali pulang ke kediamannya. Ia tinggal menunggu hasil dari Pasukan Pelindung Ibu Kota dan Pendekar Hagara malam itu.


Eyang Hagara terpaksa menunda janjinya kepada Arda Handara bahwa ia akan mulai melatih anak itu pada malam ini. Eyang Hagara harus berpatroli di Lingkar Cimiot, kawasan yang dicurigai si pembunuh misterius bersembunyi di sana.


Berdasarkan informasi dari saksi-sakti yang telah dikumpulkan sebelumnya dari beberapa serangan yang memakan korban tewas, pembunuh misterius itu memiliki tinggi yang lebih tinggi dari Orang Separa dan lebih rendah dari manusia normal.


Yang pertama Eyang Hagara lakukan adalah berjalan berkeliling di Lingkar Cimiot. Ibu Kota memang sepi di kala malam, tetapi tetap saja ada aktivitas yang terjadi, baik itu orang-orang Separa maupun beberapa non Separa.


“Tidak mungkin pembunuh itu tampil dalam pakaian kebesarannya, karena bisa dengan mudah dikenali,” pikir Eyang Hagara.


Saat berkeliling, Eyang Hagara hanya bisa menjangkau area-area yang umum tanpa bisa masuk ke ruang-ruang yang sifatnya privasi.


Saat berkeliling, Eyang Hagara sering bertemu dengan prajurit Pasukan Pelindung Ibu Kota yang melakukan pencarian dan pemeriksaan. Bagi personel Pasukan Pelindung, mereka bisa mengakses ruang-ruang pribadi warga dengan dalih mencari pembunuh. Namun, sejauh ini, Pasukan Pelindug pun tidak menemukan hasil.


Sementara itu, Eyang Hagara mencurigai beberapa tempat, yaitu lalat milik Pasukan Domba Merah dan pencipta (pabrik) roda. Alasannya, jika lalat milik Pasukan Domba Merah, tidak semua orang bebas masuk ke sana, tapi bagi orang sakti itu mudah dilakukan. Adpun pencipta roda, kebanyakan pekerjanya adalah orang asing. Bisa jadi pembunuh misterius itu adalah salah satu dari pekerja di pencipta roda.


Eyang Hagara berkelebat cepat dan sangat ringan dari satu atap bangunan ke atap bangunan lain. Matanya begitu tajam mengamati pergerakan setiap orang yang dilihatnya dari ketinggian. Namun, jika itu seorang Separa, maka akan langsung diabaikannya.


Pada akhirnya, Eyang Hagara mengambil posisi di atap pencipta roda. Di salah satu sudut atap yang sangat gelap, dia berdiam diri seperti seekor kalong, dia menggantung dengan kaki dan tangan bertaut pada palang penopang atap. Dari titik itu, Eyang Hagara bisa melihat area yang diterangi lentera-lentera minyak. Bahkan pandangan tajam Eyang Hagara bisa melihat pergerakan seekor tikus sekalipun.


Di waktu malam, tidak ada yang bekerja di pencipta roda, tetapi ada aktivitas yang terlihat dari pekerja yang memang tinggal di tempat itu. Para pekerja yang sebagian orang asing seperti manusia atau berasal dari negeri lain, lebih memilih tinggal di lingkungan pencipta yang di masa mendatang dikenal dengan nama mess.


Seperti layaknya seorang pemburu, Eyang Hagara harus memiliki kesabaran dalam diam menunggu mangsa. Dan itu dia lakukan dengan diam menggantung di atap pencipta yang gelap, karena lentera hanya menerangi area bawah saja.


Semakin malam, rupanya aktivitas di lingkungan pencipta semakin berkurang.


Namun, setelah hening tanpa terlihat ada makhluk hidup yang bergerak selama setengah jam, tiba-tiba ada pergerakan dari seorang lelaki yang bukan Orang Separa, bisa diketahui dari tinggi badannya.


Lelaki yang sepertinya sudah tidak muda lagi itu, mengenakan jubah hitam, sehingga pergerakannya tidak mencolok, tetapi Eyang Hagara bisa mendeteksi dengan baik. Maklum orang sakti.


Sebaliknya, orang berjubah hitam yang membawa sesuatu seperti senjata itu, tidak menyadari bahwa dirinya telah masuk ke radar pengintaian.

__ADS_1


Gerak-gerik lelaki berjubah hitam itupun terlihat mencurigakan, karena sesekali ia menengok ke sana dan ke mari.


Sebenarnya, Pasukan Pelindung sudah memeriksa pencipta itu dan memeriksa identitas sejumlah pekerja asing, terutama yang memiliki tinggi di atas Orang Separa, tetapi semuanya normal-normal saja.


Weess!


Namun, ketika orang yang dicurigai menunjukkan kesaktiannya dengan cara berkelebat tinggi melewati tembok luar bangunan pencipta, Eyang Hagara menggunakan kekuatan tenaga saktinya mencabut sebatang balok kayu besar yang langsung dilesatkan menyerang orang berjubah hitam.


Serangan dari kegelapan itu sangat mengejutkan lelaki berjubah hitam.


Seeet! Tsuk! Bduag!


Lelaki berjubah hitam yang memiliki tinggi tanggung itu cepat bertindak dengan melesatkan lima tali hitam panjang yang ujungnya berbandul besi lancip.


Kelima besi lancip itu menancap tembus balok kayu besar, lalu menariknya yang membuat balok kayu berbelok arah dan jatuh berdebam di lantai halaman pencipta roda.


Setelah menyerang lelaki berjubah dengan balok kayu, Eyang Hagara telah terbang melayang mendatangi sosok itu dari sisi atas.


Seeet! Seeet!


Melihat kemunculan bayangan berpakaian kuning dan bertongkat kayu, lelaki berjubah hitam cepat melesatkan sepuluh tali berbesi lancip menyongsong kedatangan orang asing.


Eyang Hagara menggerakkan tangan kirinya, yang tenaga saktinya menahan lesatan kesepuluh tali dan membuatnya saling merajut dan mengikat.


Buru-buru lelaki berjubah hitam melesat mundur meninggalkan tembok bangunan pencipta roda.


Wessst!


Namun, baik lelaki berjubah hitam dan Eyang Hagara, harus terkejut. Tanpa diduga, dari dalam kegelapan gang di sisi pencipta roda ada bayangan yang melesat terbang sangat cepat.


Bduk!


“Akk!” jerit lelaki berjubah hitam.


“Aaak!” jerit satu suara anak kecil pula.


Bayangan yang terbang cepat menembus kegelapan malam, entah kebetulan atau memang disengaja, menabrak keras dari samping tubuh lelaki berjubah hitam ketika sedang melesat mundur.


Lelaki berjubah hitam terlempar menghantam tembok pagar jalan yang gelap. Sementara penabrak, yang ternyata mengendarai tongkat terbang, jatuh ke jalan dengan tongkat yang terpisah.

__ADS_1


Namun, penerbang yang adalah anak kecil itu masih beruntung, karena tubuhnya tidak jadi menghantam tanah keras jalanan, tubuhnya ditahan oleh kekuatan tenaga sakti Eyang Hagara.


“Arda!” sebut Eyang Hagara terkejut bukan main saat mengenali anak itu. (RH)


__ADS_2