
*Penakluk Hutan Timur (PHT)*
Lelaki berbadan besar berotot kekar itu memiliki tatapan yang tajam, apalagi saat ini dia dalam kepungan tombak-tombak prajurit Kadipaten Kenangan. Ia mengenakan model pakaian berbahan kulit dan tebal berwarna hijau gelap. Rambut gondrongnya sebatas bahu dan kepalanya dililit oleh ring logam berwarna biru terang, yang pada bagian dahinya ada tersemat sehelai bulu burung berwarna merah. Pada punggungnya ada tabung berisi sejumlah anak panah, tetapi dia tidak membawa sebuah busur pun. Lelaki separuh baya itu memelihara kumis tebal yang rapi berwarna biru gelap.
“Siapa kau, Kisanak? Beraninya kau membuat masalah di Kadipaten Kenangan,” tanya perwira yang duduk di atas kudanya.
Perwira itu terbilang masih lebih muda dari orang asing tersebut. Beberapa asesoris yang melekat pada kepala, leher dan kedua lengannya, menunjukkan bahwa dia seorang punggawa. Ia bertelanjang dada dengan kekekaran otot yang tidak mau kalah dari si orang asing. Rambutnya digelung di atas kepala. Ada sebuah keris terselip di pinggang belakang. Perwira bercelana hitam dan bersabuk perak itu adalah Kepala Keamanan Kadipaten Kenangan, Perwira Batas Gurah.
“Aku adalah Pangeran Pulau Kabut, Bewe Sereng!” jawab lelaki asing. “Aku datang untuk menantang Raja Joko Tenang!”
“Terlalu lancang kau berani menantang Gusti Prabu. Kau harus bisa melewati Kepala Keamanan Kadipaten Kenangan dan Jagoan Kadipaten Kenangan!” seru Perwira Batas Gurah setengah marah.
“Aku datang hanya ingin mengalahkan, tidak untuk membunuh. Jadi perintahkan pasukanmu menyingkir dan kita bertarung secara ksatria. Jika aku menang, biarkan aku lewat menuju ke Istana Sanggana Kecil!” tantang Pangeran Bewe Sereng.
Karena ditantang secara ksatria, Perwira Batas Gurah jadi merasa tertantang. Sebagai seorang perwira, tentunya dia harus menjaga harga dirinya yang entah berapa kepeng.
“Kalian semua mundur dan jangan ikut campur!” perintah Perwira Batas Gurah kepada pasukannya.
Puluhan prajurit berseragam biru terang itu segera menarik tombak-tombaknya dari sekeliling Pangeran Bewe Sereng. Mereka lalu mundur menjauh, memberi Pangeran Bewe Sereng udara yang segar.
Jleg!
Perwira Batas Gurah lalu melompat bersalto dari atas kudanya dan mendarat dua tombak di depan Pangeran Bewe Sereng.
“Apa maksudmu ingin menantang Gusti Prabu?” tanya Perwira Batas Gurah.
“Hanya kepada Raja Joko Tenang aku akan perjelas maksudku. Perwira rendah sepertimu tidak pantas mengetahuinya,” kata Pangeran Bewe Sereng.
“Baiklah, akan aku buat kau pulang dengan merayap! Hiaat!” kata Perwira Batas Gurah lalu maju sambil berteriak.
Tinjunya terkepal dengan kuat dan dilesatkan berniat menghajar wajah Pangeran Bewe Sereng. Lelaki berkumis biru itu memilih mengelaki semua pukulan Perwira Batas Gurah dengan cara menarik wajahnya ke sana ke mari. Sementara kedua tangannya ia pertautkan di belakang punggung, terkesan begitu santai.
Gerak langkah kaki Pangeran Bewe Sereng cepat dan kokoh dalam mengatur jarak dengan serangan Perwira Batas Gurah.
__ADS_1
Kesal karena tidak kunjung mampu menyentuh wajah atau badan Pangeran Bewe Sereng, Perwira Batas Gurah menambah serangannya dengan tendangan.
Namun, tetap saja Pangeran Bewe Sereng sanggup mengelaki semua serangan tangan kosong bertenaga tinggi tersebut. Dari situ saja, para prajurit dan warga Kadipaten Kenangan yang menonton bisa menyimpulkan siapa yang pastinya akan unggul.
Bak babak!
“Hugk!” keluh Perwira Batas Gurah ketika tiba-tiba Pangeran Bewe Sereng bergerak maju dengan gerakan yang mengejutkan. Tiga pukulan telapak tangan mendarat rapat pada dada.
Perwira Batas Gurah terjajar dan nyaris jatuh.
“Uhhuk uhhuk!” batuk Perwira Batas Gurah. Ia menatap tajam dengan wajah mengerenyit kepada Pangeran Bewe Sereng yang berwajah dingin seperti orang mati.
Bug!
Perwira Batas Gurah lalu mengadukan kedua tinjunya sehingga memercik sinar biru. Kedua kepal tangan Perwira Batas Gurah berubah warna biru gelap dan berasap, terkesan mengandung racun ganas.
“Dia bukan lawanmu, Perwira!” seru satu suara lelaki dari sisi lain.
Semua orang pun mengalihkan perhatiannya kepada pemilik suara.
Dia seorang lelaki berusia enam puluh tahun berpakaian bagus warna putih. Ia bercaping warna putih. Orang itu bernama Anyam Beringin yang terkenal dengan julukan Dewa Seribu Tameng.
Dewa Seribu Tameng memiliki jabatan penting di Kadipaten Kenangan, yaitu Jagoan Kadipaten Kenangan. Maklum, dia adalah pendekar yang punya banyak kenangan masa lalu. Dia adalah orang nomor dua setelah adipati, Namun, untuk urusan kesaktian, dia adalah orang tersakti di Kadipaten Kenangan.
“Anggaplah Perwira Batas Gurah sudah kalah karena kesaktiannya memang ada di bawahmu, Kisanak,” kata Anyam Beringin sambil maju meninggalkan istri cantiknya di pinggir.
Dengan menelan perasaan dongkol, Perwira Batas Gurah bergerak mundur. Ia memberi arena kepada Anyam Beringin yang lebih sebanding umur dengan Pangeran Bewe Sereng.
“Baiklah, tapi dengan siapa aku berhadapan?” tanya sang pangeran.
“Kau berhadapan dengan Jagoan Kadipaten Kenangan, julukanku adalah Dewa Seribu Tameng,” jawab Anyam Beringin.
“Sepertinya sangat menantang,” ucap Pangeran Bewe Sereng.
“Aku tahu kau berkesaktian tinggi, jadi aku langsung saja ke pertarungan tingkat tinggi,” ujar Anyam Beringin.
__ADS_1
Tiba-tiba caping putih yang dikenakan oleh Anyam Beringin bergerak terbang naik ke udara meninggalkan kepala pemiliknya.
Set!
Caping itu tiba-tiba melesat seperti pesawat tempur menyerang Pangeran Bewe Sereng.
Prak!
Pangeran Bewe Sereng menghentakkan dua jari tangan kanannya. Tahu-tahu caping putih itu hancur di udara.
“Istri cantikku!” seru Anyam Beringin tanpa mengalihkan pandangannya dari lawan.
Nima Sukarsih lalu menghentakkan satu lengannya ke bawah. Seiring itu, enam buah caping putih yang ada di dalam keranjang bergerak naik ke udara.
Zeng!
Dewa Seribu Tameng lalu memainkan kedua tangannya. Keenam caping tiba-tiba melesat lalu diam melayang di sekeliling tubuhnya.
Anyam Beringin lalu melesat maju kepada Pangeran Bewe Sereng. Saat maju itu, keenam caping putih bergerak cepat melingkari tubuh Anyam Beringin.
Jadi, ketika tubuh Anyam Beringin bertemu dengan Pangeran Bewe Sereng, putaran caping itulah yang berusaha mengenai tubuh lawan seperti sebuah roda gergaji.
Pangeran Bewe Sereng untuk sementara memilih mundur sambil mencari celah untuk memasukkan serangannya. Putaran keenam caping putih itu terlalu cepat, menjadi senjata sekaligus menjadi benteng bagi Anyam Beringin.
Ctar ctar ctar!
Pangeran Bewe Sereng memutuskan melompat mundur menjauh sambil dua jari tangan kanan dan kirinya bergantian menyentak.
Ledakan-ledakan kecil tercipta di depan tubuh Anyam Beringin, ketika caping-caping itu menangkis serangan-serangan jari yang tidak berwujud.
Set set set …!
Anyam Beringin akhirnya melesatkan keenam capingnya menyerbu Pangeran Bewe Sereng dengan kecepatan yang hebat.
Bress!
__ADS_1
Namun, Anyam Beringin harus terkejut ketika Pangeran Bewe Sereng menghentakkan kedua tangannya dengan telapak terbuka. Serangkum api besar berwarna biru melesat melahap keenam caping putih.
Kuatnya suhu panas api itu membuat keenam caping langsung hangus menjadi abu. (RH)