
*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*
Hampir semua warga Ibu Kota hadir di alun-alun depan benteng Istana Kabut Kuning. Mereka hadir karena dipaksa hadir oleh pasukan Kerajaan Puncak Samudera yang telah menguasai Negeri Pulau Kabut sepenuhnya, termasuk Istana Kabut Kuning. Jika tidak menurut, mereka akan dilukai oleh para prajurit yang galak-galak itu.
Di depan gerbang benteng istana telah dibangun sebuah panggung besar tapi terkesan dibangun seperlunya. Memang itu bukan panggung untuk konser dangdut atau band papan tinggi, melainkan untuk mengeksekusi tahanan.
Tahanan yang akan dieksekusi bukanlah tahanan biasa, tetapi anggota-anggota Keluarga Istana.
Di atas panggung ada sebuah titian balok kayu yang tinggi selebar empat jengkal. Di atas titian itu ada sembilan orang yang berdiri di atasnya. Tangan mereka semua dalam kondisi terikat kuat di belakang pinggang. Sementara leher mereka dilingkari oleh tambang yang ujungnya mengikat pada balok panjang di atas kepala.
Kesembilan orang itu adalah Raja Negeri Pulau Kabut, Permaisuri, Ratu Tua, Pangeran Putra Mahkota yang berusia tujuh belas tahun, Pangeran adik Raja, istri Pangeran, dua anak Pangeran, dan Panglima Perang. Mereka berdiri menghadap ke ujung panggung, di mana di sana sudah seorang algojo yang sudah siap dengan busur dan banyak anak panahnya.
Sementara itu, di salah satu sudut panggung, Pangeran Tololo Coi duduk di sebuah kursi. Di belakangnya berdiri dua pengawal sakti, yakni Gambut Cone dan Tengkorak Ahoi.
Seluruh warga Ibu Kota dipaksa untuk melihat eksekusi raja mereka dan Keluarga Istana.
Algojo sudah memasang sebatang anak panah dan sudah membidik ke arah salah satu orang yang berdiri di atas titian itu.
“Panah!” perintah Pangeran Tololo Coi.
Set! Tseb!
“Akh!” jerit Pangeran Putra Mahkota, ketika anak panah itu menancap di dadanya hingga tembus ke belakang.
“Pangeraaan!” pekik beberapa orang tanpa bisa bergerak melakukan sesuatu, kecuali hanya berteriak.
“Putrakuuu!” jerit Raja dan Permaisuri.
“Cucukuuu!” jerit Ratu Tua.
Krek!
Pangeran Putra Mahkota lalu jatuh dari titian, tetapi lehernya yang tersangkut oleh tali membuatnya menggantung tanpa bisa melawan.
Ayah, ibu, nenek, paman dan sepupunya hanya bisa menjerit dan menangisinya.
“Gusti Putra Mahkotaaa!” teriak sebagian rakyat yang terpukul menyaksikan eksekusi itu.
Dari tempat yang jauh.
“Kakaaak!” ratap Putri Keken dari salah satu menara Istana, tempat dia bersembunyi. Lewat jendela menara, dia bisa langsung melihat eksekusi orang-orang terdekatnya.
Sebaliknya, keberadaannya tidak terpantau karena ada kabut kuning yang menyelimuti bagian atas menara. Namun, dia sendiri bisa melihat ke alun-alun, bahkan dia masih bisa mengenali siapa saja orang yang berdiri di titian eksekusi.
“Panah!” perintah Tololo Coi lagi.
__ADS_1
Set! Tseb!
“Akkh!” Kali ini yang menjerit adalah Ratu Tua, ibu dari sang raja.
“Ibuuu!” teriak Raja dan Permaisuri.
Raja yang berdiri bersebelahan dengan ibunya berusaha menahan tubuh ibunya dengan badannya. Namun, kondisi tangan yang tidak bisa berbuat apa-apa, justru membuat tubuh sang raja tersenggol dan terdorong jatuh dari titian.
Krek!
“Hekrr!” erang sang raja.
Seiring tubuh Ratu Tua tergantung, tubuh Raja juga tergantung. Hanya bedanya, sang raja tidak disiksa oleh sakitnya anak panah.
“Kakanda Rajaaa!” jerit sang permaisuri sambil menangis histeris.
“Kakanda Rajaaa!” pekik adik raja pula.
Bukan hanya satu keluarga besar itu yang memekik dan menjerit menangis, tetapi sebagian rakyat juga menyebut nama raja mereka sambil menangis.
“Ayahandaaa! Nenek Ratuuu!” ratap Putri Keken lirih dan menangis penuh duka yang mendalam, menyaksikan orang-orang tercintanya meregang nyawa satu per satu.
Setelah itu, Putri Keken akhirnya memilih duduk menangis di balik dinding jendela menara. Dia tidak sanggup lagi melihat kematian ibunya yang berikutnya, juga pamannya. Ia hanya meyakini bahwa mereka semua telah mati dieksekusi.
Sementara itu, Pangeran Tololo Coi hanya tertawa-tawa menyaksikan drama tangis memilukan itu. Memang, tidak ada yang luput dari eksekusi panah dan gantung itu. Keluarga Istana dieksekusi di depan rakyatnya.
Karena itulah, sebagai Putri Mahkota dan satu-satunya keturunan dari orangtuanya yang tersisa, Putri Keken berani menawarkan ketundukan negerinya kepada Kerajaan Sanggana Kecil.
“Pangeran Tololo Coiii!” teriak Putri Keken begitu keras dan penuh amarah, ketika ia naik ke depan Istana Raja dan melihat sosok Pangeran Tololo Coi.
Teriakan keras sang putri itu menyentak perasaan para prajurit. Permaisuri Dewi Ara bahkan menengok dan memandang kepadanya.
Pada wajah dan diri Putri Keken diliputi amarah yang sangat besar. Sorot matanya begitu tajam memerah, mengandung dendam yang begitu dalam. Kulit putih wajahnya memerah. Air matanya bahkan menetes menahah rasa sakit dari kenangan kematian ayah, ibu, dan kakaknya yang begitu pedih.
“Aku bunuh kauuu!” teriak Putri Keken lagi sambil bergerak cepat melesatakan satu per satu anak panahnya hingga habis.
Namun sayang, Putri Keken hanya seorang gadis pemanah biasa, bukan orang yang berkesaktian tinggi seperti pamannya atau Menteri Kete Weleng. Jelaslah bahwa semua anak panah itu gugur di tengah jalan ketika menabrak dinding gaib.
“Hahahak …!”
Melihat kemarahan dan aksi Putri Keken itu, tertawa kencanglah Pangeran Tololo Coi.
Semakin bencilah Putri Keken melihat lelaki pembunuh keluarganya itu tertawa. Ia lalu mencabut pisau belatinya yang terbilang besar bagi ukuran tangannya.
“Heaaat!” teriak Putri Keken sambil berlari sekencang mungkin hendak menabrak dinding gaib. Dia telah hilang kendali karena terbakar oleh api dendam yang berkobar.
“Putri Mahkotaaa!” teriak Kete Weleng dan para prajurit menyaksikan tindakan itu, tapi tidak melakukan sesuatu.
__ADS_1
Akhirnya, Putri Keken berlari di tempat, seperti sedang berlari di alat olahraga treadmill. Dia berlari tapi tidak maju-maju.
Semua orang yang belum pernah melihat kesaktian Dewi Ara seketika mendelik heran. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dan siapa yang melakukan itu kepada Putri Mahkota. Tololo Coi pun tidak tertawa kali ini.
“Hahahak!” Justru yang tertawa adalah Arda Handara.
Wuut! Blug!
“Aww!” pekik Arda Handara sambil terjatuh tertimpa tubuh Putri Keken yang dilempar oleh kekuatan mata Dewi Ara.
“Hihihik …!” Giliran Mimi Mama yang tertawa kencang melihat adegan tabrak timpa antara Arda Handara dan Putri Keken.
Sementara itu, Dewi Ara berjalan maju menuju dinding gaib yang tidak sanggup dihancurkan oleh siapa pun.
Krakr!
Tiba-tiba Dewi Ara melesat maju dan menghantamkan telapak tangan kanannya kepada dinding gaib.
“Hahahak!” tawa Tololo Coi melihat tindakan sang permaisuri. “Awas! Jika kau berhasil menjebol dinding gaibku, aku akan langsung menciummu, Cantik!”
Ketika telapak tangan Dewi Ara menyentuh dinding gaib, dari telapak tangan itu menyebar sangat cepat aliran sinar hijau ke segala permukaan benteng. Sangat cepat, sampai-sampai jalaran sinar hijau dalam hitungan detik sudah menjalar sampai ke langit-langit nan tinggi dan dinding Istana di kanan-kiri.
Tololo Coi yang sedang menertawakan Dewi Ara dan menggodanya langsung terkejut. Karena dugaannya mendadak buruk melihat benteng gaib itu bisa ditampakkan.
Prakr!
Begitu keras suara kehancuran benteng yang pecah seperti dinding kaca tipis dihantam banyak batu secara bersamaan.
Semua orang di belakang Dewi Ara yang berada dalam jarak dekat, terdorong keras. Pakaian dan rambut Dewi Ara bahkan sempat berkibar singkat ke belakang.
Sementara Pangeran Tololo Coi juga terpental dan jatuh terjengkang, meski dia tidak terhubung langsung dengan dinding gaib itu.
Pada saat itu di sebuah lorong rahasia.
“Huaakr!” Tengkorak Ahoi yang sedang mengawal seorang wanita separuh baya dan seorang gadis berusia matang, terhentak tubuhnya sambil memuntahkan darah.
Itu terjadi karena dia terhubung langsung dengan dinding gaib sakti di depan Istana Raja. Ilmu benteng gaibnya memang mirip dengan milik Gambut Ceno, tetapi berbeda sifat.
Jika Gambut Ceno tidak terluka saat benteng gaibnya dihancurkan oleh Arda Handara, maka Tengkorak Ahoi bisa terluka jika dinding gaibnya dihancurkan. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Novel Baru
Om Rudi telah rilis novel terbaru genre cinta-cintaan anak muda berbau religi berjudul “Rudi adalah Cintaku”, yuk ramaikan dengan baca, like, komen dan gift. Terima kasih.
__ADS_1