Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 37: Kakek Ragu Santang


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


 


Sebuah gubuk kayu yang sederhana dengan pencahayaan yang terang oleh beberapa dian unik. Dian itu terbuat dari buah kelapa yang masih berkulit hijau. Dia ditempelkan di tiang-tiang gubuk dengan memiliki sumbu pada bagian atasnya. Jadi pertanyaan, apakah api itu menyala karena minyak atau air kelapa?


Bukan hanya pada pondok ada dian kelapanya, tetapi di batang-batang pohon yang tumbuh di sekeliling gubuk, di dahan-dahannya, terpasang pula dian-dian kelapa muda.


Selain itu, pada bagian kanan dan kiri gubuk ada taman bunga yang indah, lengkap dengan sendang yang suara air pancuran bambunya terdengar jelas di waktu sunyi seperti itu.


“Waaah! Itu rumah Kakek Setan!” teriak Arda Handara girang ketika melihat gubuk sederhana nan indah tersebut.


“Gusti Pangeran, apakah Kakek Setan itu akan baik kepada kita?” tanya Barada.


“Tenang saja, Kak. Aku yakin, Kakek Setan orang baik,” jawab Arda Handara santai.


“Tapi tiga pendekar Pasukan Hantu Sanggana tewas di sini,” kata Barada bernada berbisik sambil memandangi serius ke arah gubuk yang terkesan bercahaya.


“Mereka mati karena kesombongan mereka sendiri!” kata satu suara kakek-kakek tiba-tiba.


Suara yang menjawab perkataan Barada itu sangat mengejutkan Arda Handara dan Barada. Mereka langsung menengok ke belakang karena sangat jelas sumber suara itu dari belakang.


“Hahaha!”


Terlihatlah oleh mata kedua bocah itu sesosok kakek berpakaian serba hitam berlapis jubah kuning sedang berdiri tertawa. Lelaki tua itu menggelung rapi rambut putihnya dan mengikatnya dengan lingkaran kayu kecil yang lentur. Panjang jenggot putihnya hanya beberapa jari dan ia tidak berkumis. Ada satu tahi lalat besar di bawah mata kirinya. Meski ia terlihat gagah, tapi tangan kirinya memegang sebatang tongkat dari kayu hitam mengilap seperti dilapisi vernis.


“Apakah kau Kakek Setan?” tanya Arda Handara setelah sempat terkejut.


“Hahaha! Iya, tapi nama sebenarku bukan Kakek Setan, tapi Kakek Ragu Santang. Kalian bisa menyebutku Kakek Santang,” kata si kakek. “Kalian pasti lelah menempuh perjalanan ke sini. Ayo, Kakek sudah menyiapkan kalian makanan dan minuman.”


Kakek Ragu Santang lalu berjalan melewati kedua tamunya dan berjalan lebih dulu menuju ke gubuk.


“Pergi ke mana dua Cumi Hutan tadi?” tanya Arda Handara sambil berjalan mengikuti si kakek.


“Itu bukan Cumi Hutan, tapi namanya Akar Santang,” ralat Ragu Santang. “Mereka kembali ke tempatnya sesudah melaksanakan tugas.”


“Kakek Santang tinggal dengan siapa di tengah hutan ini?” tanya Barada.


“Sendirian. Hehehe! Karenanya, Kakek sangat senang kalian bisa datang ke tempat Kakek,” jawab Ragu Santang.


“Kenapa Kakek tinggal sendirian? Lebih baik Kakek keluar dari hutan ini dan tinggal di Ibu Kota,” kata Barada.


“Hahaha! Kakek tidak bisa pergi bersenang-senang ke sana. Kakek harus menjaga hutan ini,” jawab Ragu Santang. “Oh iya, siapa nama kalian berdua?”

__ADS_1


“Aku Pangeran Arda Handara, putra Raja Kerajaan Sanggana Kecil. Aku adalah pangeran yang paling berani. Hahaha!” jawab Arda Handara lalu tertawa bangga. Lalu katanya lagi, “Tapi yang paling nakal. Hahaha!”


“Hahaha!” tawa si kakek pula.


“Sedangkan kau, Cantik?” tanya Ragu Santang kepada Barada.


“Hihihi!” tawa Barada yang sudah mengerti tentang kecantikan. “Namaku Barada, Kek.”


“Lalu kalian bagaimana? Apakah orangtua kalian tidak mencari kalian? Ingat, kalian masuk ke hutan ini pada waktu malam.”


“Aku setiap hari dicari, Kek. Aku hilang sebentar saja pasti dicari, apalagi aku hilangnya lama,” jawab Arda Handara.


“Ayah ibumu bersama pasukannya pasti sedang mencarimu, Pangeran,” kata Ragu Santang. “Bagaimana denganmu, Barada?”


“Aku hilang pun tidak ada yang akan mencari, Kek. Ayah ibuku sudah lama mati,” kata Barada seraya tersenyum kecut.


“Bagaimana jika kau tinggal bersama Kakek saja, Barada? Kakek bisa menjadi gurumu dan mengajarimu kesaktian,” tawar Ragu Santang sambil naik ke rumah panggung papan yang lantainya hanya setinggi pinggang.


“Wah, aku sangat ingin, Kek. Tapi …,” ucap Barada sambil menyusul naik.


“Kau takut karena kau anak perempuan?” tanya Ragu Santang menerka.


“Hehehe!” tawa cengengesan Barada, seolah membenarkan terkaan si kakek.


“Kakek tidak mungkin melakukan hal-hal kotor. Namun, Kakek hanya menawarkan. Agar kakek pun punya teman hidup. Selama ini Kakek hanya selalu ditemani oleh Akar Santang,” kata Ragu Santang.


“Hahaha!” tawa Ragu Santang.


“Aku juga, Kek. Aku ingin menjadi muridmu!” kata Arda Handara menggebu-gebu. “Di Istana aku selalu dikejar. Jika tinggal di sini, aku yang akan mengejar ular, mengejar Cumi Hutan, mengejar harimau dan mengejar Kakak Barada. Hahaha!”


“Hahaha!” tawa Ragu Santang pula. Namun kemudian katanya, “Tapi maafkan aku, Pangeran. Aku tidak bisa menerimamu. Tentunya ayah dan ibumu tidak akan mengizinkannya karena mereka sangat sayang kepadamu. Apalagi, kesaktian ayah dan ibumu sangat tinggi. Mungkin jauh lebih tinggi dari kesaktian Kakek.”


“Iya. Ayahku adalah raja yang sangat sakti. Banyak pendekar yang tunduk kepadanya. Orang yang paling sakti adalah Ibunda Guru. Walaupun Ibunda Guru buta, tetapi kesaktiannya tidak terkalahkan, Kek,” kisah Arda Handara menggebu-gebu.


“Ayo, duduk dulu, biar Kakek siapkan makanan dan minumannya!” kata Ragu Santang.


Arda Handara dan Barada lalu duduk di lantai papan yang ada tikar anyaman pandannya, tapi berwarna merah. Ruangan kecil itu terang karena ada empat dian kelapa.


Ragu Santang masuk ke ruang dapur untuk mengambilkan panganan dan minuman.


“Siapa nama Ibunda Guru itu, Pangeran?” tanya Ragu Santang sambil keluar membawa sepiring anyaman bambu ubi rebus yang masih mengebulkan asap tipis. Ia juga membawa kendi dan dua gelas tanah liat.


“Permaisuri Nara,” jawab Arda Handara.

__ADS_1


Agak terkesiap Ragu Santang mendengar nama itu.


“Julukannya Permaisuri Mata Hati,” tambah Arda Handara.


“Bukankah rambut Gusti Permaisuri Mata Hati itu seperti lelaki, Pangeran Bulu?” tanya Barada.


“Iya. Hahaha!” jawab Arda Handara lalu tertawa. “Eh, jangan mengejek Ibunda Guru, nanti dia dengar.”


“Mana mungkin Gusti Permaisuri Mata Hati mendengar sedangkan dia ada di Istana,” bantah Barada.


“Bisa saja!” tandas Arda Handara.


“Sepertinya Kakek mengenal Ibunda Guru itu. Jika tidak salah, dulu julukannya adalah Dewi Mata Hati,” kata Ragu Santang. “Sampaikan saja salamku jika Pangeran nanti pulang.”


“Baik, Kek,” ucap Arda Handara patuh.


“Ayo dimakan. Ubi rebus masakan Kakek sangat enak, apalagi dimakan di saat udara dingin,” kata Ragu Santang.


“Waaah, tidak ada ayam sambal telur kepiting, Kek? Atau ikan goreng sambal uyut-uyut?” tanya Arda Handara menawar.


“Hei, Pangeran Bulu, ini di tengah hutan, bukan di dalam Istana!” hardik Barada, mulai berani lagi.


“Hahaha!” tawa Ragu Santang. “Jangan-jangan di Istana kau tidak pernah makan ubi rebus.”


“Tidak. Tapi aku suka makan ubi panggang bumbu kacang, Kek,” jawab Arda Handara.


“Aku baru mendengar makanan seperti itu,” timpal Barada sambil mengambil satu buah ubi rebus yang sudah terhidang.


“Hahaha! Itu khusus makanan Istana,” kata Arda Handar.


“Ini, coba Pangeran cicipi dulu,” kata Ragu Santang sambil mematahkan ubi yang ada di tangannya.


Arda Handara menurut dan menerimanya. Ia pun tanpa sungkan memakan ubi tersebut.


“Eh, benar, Kek. Ubi rebus Kakek Santang enak!” pekik Arda Handara.


“Tapi, kenapa aku langsung mengantuk? Huaah!” tanya Barada lalu menguap dengan kunyahan ubinya masih di dalam mulut.


“Itu karena kalian kelelahan,” kata Ragu Santang.


“Huaaah!” Arda Handara juga menguap panjang. “Sepertinya memang sudah waktunya tidur. Kek, jaga uyut-uyutku, jangan sampai mereka kabur semua dari keranjangku.”


“Iya, Kakek akan jaga,” ucap Ragu Santang.

__ADS_1


Dalam waktu yang hanya sebentar setelah makan ubi, Arda Handara dan Barada sudah tergeletak tertidur di lantai.


“Hahaha!” tawa pelan Ragu Santang sambil memandangi kedua anak tersebut. (RH)


__ADS_2