
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Separuh dari jumlah pasukan panah Rombongan Kapak Hijau tewas oleh serangan kapak jarak jauh yang dikendalikan oleh kekuatan ilmu Tatapan Dewi Tabir.
Beleng Tarmehek berubah gusar. Dia memang bisa melindungi diri dari serangan tingkat tinggi lawan dengan kehebatan Cambuk Usus Bumi, tetapi pasukannya langsung banyak berkurang.
Seeet!
Namun ternyata, serangan jarak jauh itu tidak berhenti sampai sebatas kapak.
Dewi Ara telah mengangkat semua anak panah yang berserakan di tanah ke udara dengan mata panah menghadap satu arah. Setelah itu, puluhan anak panah itu dilesatkan jauh ke arah posisi Beleng Tarmehek dan pasukan panahnya.
Serangan kapak sebelumnya membuat pasukan panah berantakan, sehingga ketika datang badai anak panah yang menjadi serangan berikutnya, pasukan panah itu tidak siap.
Tep tep tep …!
“Aak! Akk! Akh …!” Orang-orang bertopeng kain itu berjeritan ketika hujan anak panah memangsa mereka semua, kecuali Beleng Tarmehek.
Ctarzz! Zerzz!
Kembali lecutan Cambuk Usus Bumi menjadi pelindung dari serangan. Seiring itu, serat listrik sinar putih muncul semakin besar dan jangkauannya semakin jauh. Bahkan lidah petir itu menjangkau dan menyengat beberapa mayat yang tergeletak di sekitar kaki Beleng Tarmehek.
Teganglah Beleng Tarmehek saat menyadari bahwa kini ia seorang diri. Pasukannya telah habis. Kesendirian itu lebih menakutkan dari pada hidup sendiri menjomblo.
Clap!
Tiba-tiba di tempat itu muncul sosok Pangeran Bewe Sereng yang sudah kehabisan anak panah di tabung di punggungnya.
“Pangeran Bewe Sereng!” sebut Beleng Tarmehek tanpa terkejut lagi, karena sebelumnya dia sudah menduga tentang keberadaan pangeran tua berkumis biru itu.
“Tidak aku sangka, ada seorang pendekar dari Negeri Pulau Kabut bersama dengan orang-orang dari Negeri Karang Hijau dan berada jauh di negeri orang,” ujar Bewe Sereng.
“Hahaha!” tawa pendek Beleng Tarmehek sambil melangkahi mayat-mayat pasukannya. Ia berusaha bersikap tenang di depan musuhnya, meski sebenarnya ia memendam kerisauan.
Kini, kedua lelaki berbeda usia itu berhadapan. Ada kesamaan dari mereka berdua, yaitu sama-sama seorang pemanah dan di dahinya sama-sama ada bulu unnggas yang tersemat. Jika di dahi Bewe Sereng tersemat bulu unggas berwarna merah, maka di dahi Beleng Tarmehek tersemat bulu unggas berwarna putih.
“Rupanya ada orang-orang sepertimu yang mengkhianati negeri sendiri dan menjual diri kepada musuh,” kata Bewe Sereng.
“Apa boleh buat, Pangeran Mulia. Jika penguasa sudah tidak bisa memberi kesejahteraan kepada rakyat, jangan salahkan rakyat jika mencari kesejahteraan ke negeri yang lain. Penguasa Negeri Karang Hijau telah memberi jaminan hidup yang baik, jadi aku dan sejumlah pendekar Negeri Pulau Kabut memilih mengabdi kepada Kerajaan Mutiara Hijau,” kilah Beleng Tarmehek.
__ADS_1
“Aku menduga bahwa kalian sedang ingin membangun kekuatan di wilayah Kerajaan Baturaharja. Adapun tujuan kalian sebenarnya adalah menyerang Kerajaan Sanggana Kecil. Benarkah dugaanku?” ujar Bewe Sereng.
“Hahaha!” tawa Beleng Tarmehek bernada getir. “Aku tidak menyangka ada orang sangat sakti di dalam Perguruan Cambuk Neraka. Dalam waktu singkat semua pasukanku dihancurkan.”
“Orang sakti yang kau maksud adalah salah satu permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Bewe Sereng.
Terkesiap Beleng Tarmehek mendengar fakta itu.
“Lalu, bagaimana bisa seorang pangeran dari negeri seberang samudera berada di wilayah ini?” tanya Beleng Tarmehek.
“Jika kau bisa berada di tempat yang jauh ini untuk memerangi Kerajaan Sanggana Kecil, maka aku pun bisa berada di sini untuk meminta bantuan Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Bewe Sereng.
“Baiklah jika demikian. Izinkan aku untuk bertarung sampai mati melawan Pangeran Mulia,” kata Beleng Tarmehek yang sudah sangat menyadari posisinya saat ini.
“Silakan, karena hukuman yang pantas bagi pengkhianat adalah mati,” tandas Bewe Sereng.
Set set set …!
Beleng Tarmehek lalu melepaskan sekitar sepuluh anak panah secara beruntun dengan gerakan isi ulang busur yang cepat. Namun, Beleng Tarmehek tidak langsung memanah kepada Bewe Sereng, tetapi ke sembarang arah, ke atas, ke samping kanan, ke samping kiri dan lainnya.
Sebagai sama-sama orang dari Negeri Pulau Kabut yang memiliki kebudayaan panahan yang kuat, Bewe Sereng jelas tahu maksud dari memanah ke sembarang arah itu.
Setelah membiarkan Beleng Tarmehek melepaskan sepuluh anak panah, Bewe Sereng lalu melesat maju dengan kedua tinju yang bersinar merah.
Ctarzz!
Namun, belum lagi ilmu Tinju Pemarah Bewe Sereng itu menyerang sosok Beleng Tarmehek, Cambuk Usus Bumi langsung diandalkan.
Beleng Tarmehek hanya melecutkan cambuk di udara, tetapi tebaran listrik sinar putih yang diciptakan cukup jauh. Hal itu mengejutkan Bewe Sereng, sampai-sampai ujung lidah sinar putih itu sampai di depan wajah, memaksa sang pangeran cepat melompat mundur.
“Heaat!” pekik Beleng Tarmehek sambil melompat maju setelah Bewe Sereng mundur.
Ctarzzr!
Lompatan maju Beleng Tarmehek disertai lecutan Cambuk Usus Bumi. Tebaran lidah listrik yang lebih panjang dari sebelumnya melesat seperti serat raksasa menyerang keberadaan Bewe Sereng. Begitu berbahayanya serangan model petir itu, membuat Bewe Sereng harus menghindar dengan kecepatan penuhnya.
Clap! Zerzz!
Tahu-tahu Bewe Sereng menghilang dari tempatnya dan membuat lokasi berdirinya hangus berapi terkena jilatan listrik cambuk.
Bewe Sereng kembali muncul pada titik yang lain. Sebentar kemudian, tubuhnya telah berada dalam kurungan bola sinar merah bening. Itu adalah ilmu Bulan Sebening Merah. Bewe Sereng kemudian duduk bersila di dalam benteng ilmunya.
__ADS_1
Set set set …!
Ces ces ces …!
Tiba-tiba dari berbagai arah muncul sepuluh anak panah yang semuanya menuju ke satu target, yaitu Bewe Sereng. Namun, semua anak panah yang pulang dari tour-nya itu harus musnah ketika membentur lapisan sinar merah bening.
Sepertinya Bewe Sereng sudah menyadari bahwa kesepuluh anak panah milik Beleng Tarmehek sudah dalam perjalanan pulang.
Ctarzz! Zerzz!
Melihat serangan panahnya gagal, Beleng Tarmehek melompat maju sambil mencambukkan senjatanya. Tali cambuk menghantam langsung dinding benteng Bulan Sebening Merah.
Dinding ilmu itu bergeming ketika dihantam cambukan, tetapi listrik sinar putih dari cambuk itu menjalari dinding sinar merah, meski cambuk telah ditarik.
Ctarzz! Zerzz!
Beleng Tarmehek kembali mencambuk dinding sinar itu, memberi tambahan aliran sinar putih yang kemudian menjalar menyelimuti dinding sinar merah.
Di saat aliran listrik sinar putih menggerogoti kekuatan dinding Bulan Sebening Merah, Beleng Tarmehek menyalakan tangan kirinya dengan sinar berwarna hijau terang berpijar.
Bluar!
Pada akhirnya, gerogotan sinar putih berhasil menghancurkan dinding sinar merah bening, menimbulkan ledakan nyaring.
Surss! Brus!
Dengan hancurnya dinding ilmu Bulan Sebening Merah, Beleng Tarmehek langsung menghentakkan lengan kirinya, melesatkan sinar hijau yang menderu keras menyerang Bewe Sereng.
Namun, pada saat itu pula, Bewe Sereng menghentakkan ke atas kedua tangannya yang sudah berbekal sinar merah berbentuk kelompok bunga yang mekar.
Bluarr!
Ketika Bewe Sereng menghentakkan kedua tangannya lurus ke atas, sinar merah berbentuk kelopak bunga itu mengembang membesar lalu meledak sendiri, seiring datangnya sinar hijau milik Beleng Tarmehek.
Peraduan dua kesaktian itu menimbulkan ledakan susulan keras yang terdengar jelas hingga ke pusat Perguruan Cambuk Neraka. Hasilnya, Beleng Tarmehek terpental keras dengan mulut menyemburkan darah kental. Ia lalu jatuh dengan punggung menghantam bumi lebih dulu.
Sementara Bewe Sereng tetap kokoh duduk bersila di tempatnya.
Clap!
Dengan kedua tinju bersinar merah, tiba-tiba Bewe Sereng telah berpindah tempat ke udara, tepatnya di atas posisi tubuh Beleng Tarmehek yang terbaring di tanah dalam kondisi terluka. (RH)
__ADS_1