Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 9: Insiden di Perbatasan Kampung


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


Permaisuri Dewi Ara dan rombongan bersedia mengantar Garda Tadapan bersama mayat Pendekar Cambuk Enam dan murid-murid Perguruan Cambuk Neraka.


Agar pengangkutan lebih mudah dilakukan, bilik kereta dipangkas seperti nasi tumpeng, sehingga jadilah pedati kuda. Mayat-mayat ditumpuk di bak kereta. Adapun kondisi Garda Tadapan kini lebih baik, setelah ada pengobatan yang cukup diberikan oleh Pangeran Bewe Sereng.


Dewi Ara mau mengantarkan Garda Tadapan karena satu pertimbangan utama menyikapi informasi yang diberikan oleh Bewe Sereng tentang kelompok bertopeng kain hitam.


“Sangat mencurigakan orang-orang Negeri Karang Hijau berada di negeri ini,” ucap Bewe Sereng sendiri sambil berpikir.


Dewi Ara yang mendengar perkataan pangeran itu, jadi teringat tentang cerita Prabu Dira Pratakarsa saat usai mengarungi lautan asmara di Istana Dewi Awan.


Usai saling mendapatkan kelezatan hubungan suami istri, Prabu Dira bercerita tentang informasi yang dibawa oleh Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara. Salah satu sekutu dari Negeri Tanduk adalah Negeri Karang Hijau.


Teringat bahwa Negeri Karang Hijau adalah salah satu kekuatan yang akan dihadapi para pendekar Tanah Jawi, Dewi Ara jadi mencurigai sesuatu. Masalahnya, orang-orang Negeri Karang Hijau yang asalnya jauh di seberang lautan, bisa memperbanyak diri di wilayah sekitar Kerajaan Sanggana Kecil.


“Aku curiga orang-orang Negeri Karang Hijau ingin membangun kekuatan di wilayah Kerajaan Baturaharja,” kata Dewi Ara mengomentari perkataan Bewe Sereng.


Bewe Sereng jadi memandang serius kepada wanita cantik berpakaian merah gelap itu.


“Tapi apa tujuan mereka membangun kekuatan di negeri asing yang jauh dari negeri mereka?” tanya Bewe Sereng yang buta akan berita tentang peperangan besar yang mungkin terjadi setahun atau dua tahun ke depan.


“Jika mereka tahu bahwa lawan utama mereka kelak dalam perang yang akan datang adalah Kerajaan Sanggana Kecil, jelas mereka bertujuan melemahkan Sanggana Kecil. Mereka tidak mungkin mereka membangun kekuatan di dalam wilayah Sanggana Kecil yang memiliki pemantauan terhadap orang asing sangat ketat. Namun jika mereka tidak tahu, tujuan mereka adalah melemahkan kekuatan kerajaan-kerajaan di tanah ini,” kata Dewi Ara.


“Peperangan apa yang akan terjadi?” tanya Bewe Sereng mau tahu banget.


“Peperangan antara Negeri Tanduk dengan kerajaan-kerajaan Tanah Jawi. Negeri Karang Hijau adalah salah satu sekutu Negeri Tanduk,” jawab Dewi Ara.


“Ya, aku tahu Negeri Tanduk. Negeri yang katanya dibangun di atas punggung kura-kura raksasa. Namun karena kura-kuranya telah mati, maka negeri itu terancam tenggelam secara perlahan,” kata Bewe Sereng.


“Salah satu alasan Gusti Prabu Dira mau membantu negerimu karena Negeri Karang Hijau menjadi musuh bersama,” tandas Dewi Ara. “Sepertinya kita harus singgah di kerajaan ini lebih dulu untuk menghabisi orang-orang Negeri Karang Hijau itu.”


“Baik,” ucap patuh Bewe Sereng.


Atas dasar pertimbangan itulah, Dewi Ara memutuskan untuk singgah di wilayah kekuasaan Kerajaan Baturaharja.


Setya Gogol bertindak sebagai kusir cadangan yang mengendalikan satu ekor kuda. Sedangkan kudanya ditunggangi oleh Garda Tadapan yang masih menahan rasa sakit pada luka panahnya yang sudah diobati.

__ADS_1


Arda Handara memilih duduk nyaman di samping pak kusir yang sedang bekerja.


Menjelang magrib, rombongan Dewi Ara akhirnya tiba di luar sebuah perkampungan yang tampak semarak dan berkeamanan tinggi.


Dikatakan semarak karena ada sejumlah umbul-umbul kain warna kuning dipasang berjejer, seolah-olah untuk menyambut kedatangan tamu.


Dikatakan berkeamanan tinggi karena ketika baru saja tiba di pinggiran kampung, rombongan Dewi Ara sudah disuguhi penjagaan lelaki berseragam kuning dan menghentikan mereka.


Para lelaki bercambuk kuning pada pinggangnya itu terkejut saat melihat Garda Tadapan dalam kondisi terluka dan ada tumpukan mayat di bak kereta kuda. Mereka lebih terkejut saat mengetahui Pendekar Cambuk Enam salah satu dari kelompok mayat itu.


“Buka jalan!” perintah Garda Tadapan.


“Mohon maaf, Garda. Kami perlu tahu siapa orang-orang yang bersamamu ini!” sergah salah seorang penjaga dengan sopan.


“Mereka adalah orang-orang yang telah menyelamatkanku,” jawab Garda Tadapan.


“Mohon maaf sekali lagi, Garda. Kami harus melaporkan lebih dulu kedatangan kalian kepada Ketua Dua,” tegas si penjaga.


“Apa kalian gila?!” teriak Garda Tadapan tiba-tiba marah. “Lancang sekali kalian! Aku membawa mayat pamanku Pendekar Cambuk Enam!”


“Tapi kau datang bersama orang asing. Kami yang bertugas di sini tetap harus melaksanakan perintah sesuai aturan perguruan,” tegas penjaga itu.


Penjaga itu tidak membalas ancaman Garda Tadapan yang gusar bukan main atas aturan yang tidak menguntungkannya itu. Ia segera memerintahkan anak buahnya untuk segera pergi melapor kepada Ketua Dua Perguruan Cambuk Neraka yang bernama Tolak Berang. Satu pemuda berseragam kuning segera pergi dengan kuda menuju dalam kampung.


Sementara itu, Dewi Ara dan yang lainnya tidak berkomentar. Meski mereka merasa dongkol pula, tapi mereka hanya menyaksikan keributan singkat itu tanpa melakukan apa-apa.


Karena masa menunggu, bukan Arda Handara namanya jika betah berdiam diri.


Arda Handara dengan sengaja membuka pintu sangkar burungnya. Brojol pun brojol lewat pintu yang dibuka. Bajing berbulu cokelat hitam-hitam itu berlari kencang tanpa kenal arah. Sepertinya dia mabok perjalanan.


“Eh eh eh, Brojol lepas!” teriak Arda Handara berakting. Sepertinya itu adalah bakat yang ia pendam untuk di masa depan nanti, ketika film dan sinetron sudah marak diciptakan.


Arda Handara cepat melompat turun dari tempat duduk sais. Ia mengejar bajing peninggalan Pangeran Bajing Tua itu. Arah lari si bajing ternyata ke arah posisi pemimpin penjaga yang barusan bersitegang dengan Garda Tadapan.


Dewi Ara, Pendekar Bola Cinta, Lentera Pyar, dan Setya Gogol diam saja melihat bajing itu lepas dari sangkar. Tindakan itu karena mereka sudah bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh si anak jahil.


Sebelumnya, Setya Gogol melihat Arda Handara memutar posisi sangkar agar pintunya menghadap segaris lurus dengan posisi berdiri si pemimpin penjaga. Sehingga ketika pintu sangkar dibuka, si bajing larinya langsung ke arah lurus.

__ADS_1


Brojol belari kencang lurus, seolah-olah dia memakai kacamata kuda.


“Hei hei hei!” pekik pemimpin penjaga panik saat Brojol menaiki tubuhnya.


Pemimpin penjaga itu berusah menangkap Brojol dengan tangannya, tetapi gagal. Hingga ketika Brojol mencapai kepala pemimpin penjaga, Arda Handara tiba-tiba datang melompat kepada pemimpin penjaga.


Plak!


“Aw!” pekik pemimpin penjaga saat kedua tangan Arda Handara menepak wajahnya.


Karena tidak kuat menahan dorongan tubuh anak kecil itu, ditambah pukulan tangan yang sekeras tamparan, pemimpin penjaga jatuh terduduk. Sementara binatang yang dikejar telah melompat dan berlari kembali menuju jalan masuk kampung, yang ditutup oleh palang kayu panjang seperti palang portal. Konsepnya mengikuti palang pintu jalan tol, hanya beda praktik cara operasi dan bahannya.


Arda Handara terus berlari mengejar Brojol.


“Kakang-Kakang, cepat bantu tangkap Brojol!” teriak Arda Handara sebelum bajing itu lolos melewati palang jalan.


Beberapa pemuda berseragam kuning jadi terkejut karena diteriaki oleh Arda Handara. Mereka pun sigap bergerak untuk menangkap Brojol yang lewat di antara posisi dua penjaga di dekat palang jalan.


Bduk!


Seperti adegan di film-film komedi konyol, kedua penjaga itu justru saling tabrak kepala, sementara Brojol lolos lewat di bawah palang dan berlari sambil bersiul.


“Brojoool!” teriak Arda Handara sambil naik ke atas pundak dari salah satu penjaga yang terbungkuk karena berbenturan sesama rekan. Kemudian dia melompati palang jalan seperti seorang pendekar bocah.


Jleg!


Keren. Arda Handara mendarat mantap setelah melewati palang jalan.


Melihat hal itu, pemimpin penjaga cepat bertindak memberi perintah.


“Kejar anak itu!” teriaknya.


Dua orang penjaga yang berdiri di sisi dalam, segera berlari mengejar Arda Handara yang mengejar Brojol. Namun, ….


Bduk!


Tidak seperti adegan dua penjaga yang berbenturan sebelumnya karena memang faktor kecelakaan seamata, maka dua penjaga yang mengejar Arda Handara saling berbenturan badan karena didorong oleh kekuatan mata Dewi Ara. Hanya wanita sakti itu yang tahu.

__ADS_1


Kejadian tabrakan kedua penjaga membuat Arda Handara dan Brojol terus masuk menjauh ke dalam kampung. (RH)


__ADS_2