
*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*
“Hiat! Hiat! Hiat!”
Buk buk buk!
Pemuda bernama Gada Perkasa menonjoki gedebog pisang seperti gaya “salam dari Binjai”. Warna mukanya yang memerah dengan sorot mata yang tajam, menunjukkan bahwa ia sedang marah.
Setelah menghancurkan satu gegebog pisang, ia beralih pada gedebog pisang korban selanjutnya.
“Salam dari cinta!” desis Gada Perkasa lalu mulai menonjoki korban kedua.
Seolah tidak mengenal lelah, Gada Perkasa terus menghancurkan batang demi batang pohon pisang. Padahal peluh yang menetes sudah sebesar-besar biji salak.
“Hihihik …!”
Tiba-tiba terdengar suara tawa nenek-nenek yang begitu dekat. Tawa itu mengejutkan Gada Perkasa, membuat aksi membantengbutanya terhenti.
Gada Perkasa terkejut bukan main. Buru-buru dia mengedarkan pandangannya ke sekitar, tetapi tidak melihat siapa pun.
“Aku di sini, Celeng!” bentak satu suara dari belakang kakinya.
Sontak Gada Perkasa melihat ke belakang kakinya.
“Huah!” pekik Gada Perkasa sambil terlompat dan jatuh terjengkang.
Rupanya nenek pemilik suara tawa itu duduk bersila di belakang kaki Gada Perkasa.
“Apa yang kau lakukan, Nenek Jelek?!” hardik Gada Perkasa dalam kondisi masih terduduk. Ia begitu marah karena dikejutkan di saat dia sedang marah.
Dibentak seperti itu, si nenek berjubah abu-abu itu justru mengenyot-ngenyotkan bibir tua imutnya tanpa ada yang dikenyot. Ia lalu bangkit berdiri dengan dibantu tongkatnya.
“Jadi lelaki jangan seperti itu juga, Celeng,” kata si nenek yang tidak lain adalah Kenyot Gaib.
“Jangan menyebutku Celeng, aku manusia!” bentak Gada Perkasa.
“Selagi kau masih memukuli pohon pisang itu, aku akan menyebutmu Celeng,” kata Kenyot Gaib. “Apa gunanya memukuli pohon pisang, lelaki tidak ada guna. Pantas saja jika kau ditinggal kawin oleh wanitamu.”
“Itu bukan urusanmu. Ini urusan cintaku!” teriak Gada Perkasa yang sudah bangkit berdiri.
Meski dibentak-bentak oleh pemuda kurang ajar itu, si nenek tetap bersikap santai.
__ADS_1
“Hihihik! Kalau wanitamu itu sudah menikah, kau mati pun dia tidak akan peduli. Tinggallah kau menjadi kotoran celeng,” ejek Kenyot Gaib.
“Kurang ajar kau, Nenek Jelek!” maki Gada Perkasa.
Plak!
Tiba-tiba wajah Gada Perkasa terhentak ke belakang, seperti orang yang terkena sesuatu, setelah si nenek mengibaskan sedikit jari tangannya. Gada Perkasa sontak memegangi kedua bibirnya yang terasa sakit berdenyut.
“Aku bisa membuat wanitamu itu kembali sepenuhnya kepadamu. Daripada kau menjadi lelaki tidak berguna sama sekali. Jika kau merasa sebagai seorang lelaki, hajarlah calon suami wanitamu itu, jangan menghajar pohon pisang yang seharusnya kau nikmati buahnya,” ujar Kenyot Gaib. “Sebaiknya kau menerima tawaranku, sehingga kau bisa menikmati wanitamu. Jika kau sudah menikmati wanitamu lebih dulu, bagaimana pun kondisinya, dia tidak akan pergi kepada lelaki lain.”
Sepasang mata Gada Perkasa mendelik, bukan karena terkejut, tetapi karena akalnya membenarkan perkataan si nenek.
“Siapa namamu, Anak Muda?” tanya Kenyot Gaib.
“Gada Perkasa,” jawab si pemuda.
“Berdasarkan namamu, kau seharusnya bersikap perkasa menghadapi permasalahanmu. Aku bisa membelamu jika ada orang yang berani memisahkanmu dengan kekasihmu itu,” kata Kenyot Gaib.
“Benarkah, Nek?” tanya Gada Perkasa.
“Kau meragukan ucapan orang sakti sepertiku,” dumel Kenyot Gaib.
“Tapi, siapa namamu, Nek?” tanya Gada Perkasa.
“Kau bisa menyebutku Kenyot Gaib,” jawab si nenek.
Pak!
Satu tamparan keras dilayangkan secara gaib oleh Kenyot Gaib, memaksa Gada Perkasa berhenti tertawa.
“Jangan sembarangan menertawakan namaku. Jika aku mengenyot bibirmu, kau pasti akan ketagihan dan tergila-gila dengan kenyotanku!” hardik Kenyot Gaib.
“Ma-ma-maafkan aku, Nek Kenyot,” ucap Gada Perkasa jadi takut.
“Besok pernikahan wanitamu dengan pendekar desa itu akan terjadi. Jadi nanti sore kau harus menculiknya. Jika kau berhasil, maka aku akan membuat kalian menjadi pasangan paling bahagia di dunia. Apakah kau berani menculik kekasihmu itu?” kata Kenyot Gaib.
“Aku berani. Tapi, kau berjanji akan melindungiku jika Adipati Siluman Merah menyerangku?” kata Gada Perkasa.
“Kau tidak perlu galau seperti itu, Adipati Siluman Merah bagiku hanyalah seorang anak ingusan. Aku akan berada di sekitar kediaman adipati itu nanti sore. Jika kau tidak melakukan apa-apa, maka akan hilang kesempatanmu dan kau bisa menangis seperti anak perempuan,” kata Kenyot Gaib.
“Baik, Nek Kenyot. Aku akan melakukannya,” tandas Gada Perkasa.
Kenyot Gaib lalu berjalan pergi dengan santainya meninggalkan daerah kebun pisang itu. Gada Perkasa hanya memandangi punggung berjubah abu-abu itu pergi.
__ADS_1
Sore harinya, Gada Perkasa ternyata siap melaksanakan niatannya. Namun, masih ada tersisa ketakutan di dalam dirinya. Terbukti dia menutupi wajahnya dengan arang bokong panci, bergaya seperti pasukan khusus penculik perawan, bertujuan agar tidak mudah dikenali.
Seperti benar-benar pasukan khusus, Gada Perkasa mengenakan pakaian terbaiknya yang serba hitam. Ia pun membawa sebilah pedang lengkap dengan tamengnya yang terbuat dari papan penutup gentong, persis seperti prajurit mau perang.
Sama seperti Genap Seribu, dia pun memilih jalur perkebunan. Dia berlari seperti gaya lari ninja dengan wajah lurus tegang, tapi sepasang mata lirak-lirik penuh waspada.
“Tangkap penculik itu!”
Tiba-tiba Gada Perkasa mendengar suara teriakan dan keramaian, baik di jalan depan rumah Adipati Siluman Merah maupun di dalam lingkungan rumah.
Suara ramai itu membuat dia berhenti berlari lalu diam menyimak seperti ayam mendengar suara jeritan dari dalam kubur.
Posisinya yang berada di balik tembok pagar, membuat Gada Perkasa belum bisa melihat seperti apa situasi di jalan depan dan dalam lingkungan rumah.
Suara keramaian para prajurit kademangan terdengar menjauh.
“Baguslah jika para prajurit itu pergi, berarti penjagaan berkurang,” pikir Gada Perkasa.
Gada Perkasa melanjutkan aksinya. Ia mendekati pagar samping barat, kemudian naik ke atas tembok lewat sebatang pohon.
Dari cara dia naik ke atas tembok yang repot karena bawaan pedang dan perisai penutup gentong, menunjukkan setinggi apa kemampuan dia dalam ilmu olah kanuragan.
Dari atas tembok itu, Gada Perkasa mendengar suara ramai kaum wanita di dalam rumah, bahkan ada suara wanita yang menangis.
“Itu pasti tangis Munik Segilir yang tidak setuju dinikahkan dengan Pendekar Desa Balikandang,” pikir Gada Perkasa.
Gada Perkasa lalu melompat turun dan pergi berlari memutari rumah. Pemuda tampan itu berhenti di depan rumah.
Melihat kemunculan orang asing berpenampilan hitam-hitam, bahkan wajahnya pun hitam, beberapa prajurit yang berjaga di tempat itu, segera berlari mengepung Gada Perkasa.
Ternyata, Gada Perkasa tidak menunjukkan sikap gentar, meski perasaannya was-was.
“Munik Segilir kekasihku, aku datang untuk menjemputmu pergi ke dalam kebahagiaan!” teriak Gada Perkasa lantang dan lancar, seperti ucapan saat ijab kabul pernikahan.
Namun, para prajurit itu tidak berseru “sah”, tapi justru menghardik.
“Berani-beraninya kau membuat onar di kediaman Gusti Adipati!” teriak salah seorang prajurit marah. “Serang!”
Ketika kedelapan prajurit itu hendak menyerang dengan tombak-tombak mereka, tiba-tiba ….
“Tahan!” seru Adipati Siluman Merah yang telah keluar dengan cepat.
Meski ia memerintahkan para prajuritnya menahan serangan, tetapi ia muncul dengan kulit wajah yang berwarna merah seperti warna udang rebus. Bagi yang sudah tahu tentang Adipati Siluman Merah, mereka pasti tahu bahwa mantan panglima Pasukan Siluman Kerajaan Siluman itu sedang dalam kondisi sangat marah.
__ADS_1
Melihat tampilan Adipati Siluman Merah, Gada Perkasa tiba-tiba jadi ciut dengan gestur menunjukkan posisi pertahanan. Pedang dan tameng kayu papannya ia majukan.
“Aduh gawat, Gusti Adipati begitu menyeramkan. Di mana Nenek Kenyot?” batin Gada Perkasa mulau panik. (RH)