Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 36: Pembunuh Pertama VS Raja Akar


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


 


Dewi Ara tidak peduli lagi dengan Serak Gelegar dan Mimi Mama yang sedang berenang menjauhi tanggul dan menuju ke dermaga.


Dewi Ara fokus memandang kepada sesosok manusia berjubah abu-abu yang ada di sela-sela tiang bawah dermaga yang memilik kayu-kayu menyilang.


Tidak jauh dari sosok berjubah yang tidak jelas, apakah itu manusia atau tumbuhan berjubah, menggantung tubuh Ratu Wilasin. Jika Ratu Wilasin tidak dibunuh, berarti sosok itu bukan bagian dari pembunuh bayaran.


Justru pengirim sinar merahlah yang mungkin pembunuh bayaran. Kekuatan dari ledakan sinar merahnya seakan menunjukkan bahwa dirinyalah Pembunuh Pertama.


Dan memang, ada yang muncul. Seorang wanita berkulit hitam berambut keriting. Ia mengenakan pakaian kuning dengan sabuk putih. Karena kulitnya hitam seperti orang negeri timur, maka dia tidak secantik telur rebus yang dibelah. Wanita bersenjata tongkat bulat lurus warna kuning gading itu, muncul tiba-tiba seperti setan laut di atas dermaga yang telah dirusaknya.


Dewi Ara tidak bertindak. Ia menduga bahwa sosok berjubah abu-abu di kolong dermaga dengan wanita yang baru muncul akan bertarung. Wanita itu cocok dengan kesaksian Senopati Beling Tuwak yang mengatakan bahwa Pembunuh Pertama adalah seorang wanita dewasa.


Perhatian Santra Buna, Tikam Ginting, Senopati Beling Tuwak, Jago Jantan, Jampang Kawe, dan warga di pelabuhan, kini terpusat kepada sosok wanita keriting berpakaian kuning. Mereka tidak melihat kapan wanita itu mulai berada di dermaga itu, ia tahu-tahu ada di sana, yang pastinya menunjukkan tingkat kesaktiannya bukan setinggi pohon jamur.


Dus dus dus …!


Begitulah bunyinya ketika empat titik lantai papan dermaga dijebol oleh sesuatu dari bawah, tepat di empat titik di sekeliling posisi wanita itu.


Sebanyak empat benda panjang seperti batang tumbuhan rambat dan memiliki beberapa daun kecil-kecil, melesat naik ke udara, lalu menekuk menukik menyerang si wanita berpakaian kuning.


Clap!


Wanita bertongkat tiba-tiba lenyap dari posisinya dan muncul agak jauh dari serangan belalai tumbuhan jalar.


Sreeet!


Gagal menemui target, keempat batang tumbuhan melesat pulang masuk kembali ke bawah lantai papan.


Broakr!


Tiba-tiba papan lantai dermaga, tempat si wanita berdiri, hancur karena dihantam oleh kekuatan besar dari bawah. Hal itu membuat si wanita melejit naik ke udara tinggi menghindari serpihan-serpihan tebal papan dermaga.


Seiring itu, sosok makhluk berjubah abu-abu muncul melompat dari bawah dermaga lewat lubang besar yang telah diciptakannya.

__ADS_1


Jleg!


Sosok berjubah abu-abu mendarat di lantai dermaga yang tidak rusak. Kemunculannya mengejutkan banyak orang karena sosoknya yang menyeramkan.


Dilihat dari rambutnya yang putih, menunjukkan bahwa dia adalah lelaki tua. Namun, wajahnya begitu buruk secara fisik karena kulitnya yang tebal seperti kulit kayu yang kering. Kedua tangannya berjari-jari seperti ranting kayu bercabang-cabang halus.


“Siapa makhluk itu?” ucap Santra Buna lirih. Ia tidak menyebut orang itu manusia karena wujudnya hanya menyerupai manusia.


“Tetua Raja Akar Setan!” sebut Senopati Beling Tuwak terkejut, tapi ada seulas senyum di bibirnya yang sudah ia bersihkan dari noda darah.


Wanita berpakaian kuning turun melayang dengan lembut dan menginjak lantai tanpa suara seperti kecupan bibirmu. Sentuhan ujung kakinya ke lantai begitu halus.


“Kau harus selamat dulu dariku jika ingin membunuh Gusti Ratu Wilasin, Pembunuh Pertama,” kata kakek yang disebut bernama Raja Akar Setan. Dia memang Raja Akar Setan, salah satu pendekar tua yang memiliki ikatan cukup kuat dengan keluarga Kerajaan Baturaharja.


“Aku sangat menyesal karena aku harus turun tangan langsung hanya untuk membunuh seorang ratu yang kekanakan seperti itu,” kata wanita yang ternyata memang adalah Pembunuh Pertama.


“Kau tidak akan berhasil membunuh Ratu Wilasin. Kini kau berhadapan denganku dan di tanggul sana ada Permaisuri Geger Jagad,” kata Raja Akar Setan.


“Itu tidak masalah, karena targetku bukan kalian, tetapi Ratu Wilasin,” kata Pembunuh Pertama.


Tebs!


Kali ini, Dewi Ara harus bertindak dan harus mengerahkan tenaga ekstra karena jarak tanggul dengan dermaga cukup jauh. Tongkat kuning Pembunuh Pertama terhenti ketika ujungnya tinggal sejangkauan dari tubuh Ratu Wilasin.


Tas tas tas!


“Aaak!” jerit kencang Ratu Wilasin ketika tali akar pohon yang mengikat dan menggantung tubuhnya berputusan.


Jbuur!


Ratu Wilasin jatuh ke dalam air laut di bawah dermaga. Lalu menyusul tongkat kuning yang masuk ke air pula, tapi dengan arah yang telah jauh dari target.


Jbur!


Mengetahui apa yang terjadi kepada sang ratu, Tikam Ginting cepat melompat terjun ke laut guna menyusul tubuh Ratu Wilasin.


Slet slet slet!

__ADS_1


Raja Akar Setan melesat maju menyerang Pembunuh Pertama dengan jari-jari tangannya yang seperti ranting-ranting kecil tanpa daun, tapi bisa memanjang. Raja Akar Setan mengagresi Pembunuh Pertama dengan serangan tangan yang cepat bertubi-tubi.


Namun, Pembunuh Pertama bisa dengan mudah menghindari setiap serangan jari-jari aneh itu.


“Giliranku, Raja Akar Setan!” pekik Pembunuh Pertama lalu gantian menguasai momentum pertarungan. Serangan kedua tangannya yang menyala kuning mengandung unsur listrik.


Serangan tangan Pembunuh Pertama begitu cepat, nyaris tidak terlihat oleh pandangan Santra Buna yang jelas-jelas berkesaktian tinggi pula.


Paks!


Pada satu waktu, telapak tangan kanan Pembunuh Pertama dan telapak tangan kanan Raja Akar Setan bertemu keras. Saat itu, jari-jari Raja Akar Setan dalam kondisi memendek.


Ketika dua telapak tangan bertemu, yang terjadi adalah saling dorong tenaga sakti. Keduanya bertahan dalam kuda masing-masing.


Seet!


Tiba-tiba jari-jari tangan Raja Akar Setan yang seperti kayu, memanjang hidup dan mejalar meliliti batang tangan Pembunuh Pertama.


“Cara yang salah, Akar Setan!” teriak Pembunuh Pertama yang membat Raja Akar Setan terkejut.


Blass!


“Akk!” jerit tertahan Raja Akar Setan saat lengan kanan Pembunuh Pertama tahu-tahu menjepretkan sinar hijau menyilaukan.


Tubuh Raja Akar Setan sampai terpental dengan jari-jari tangan yang hangus menghitam seperti kayu hangus dibakar dan berpatahan seperti kentang goreng hangus.


Surss! Blar blar!


Tiba-tiba tubuh Pembunuh Pertama sudah melayang di udara sambil membanting dua sinar hijau ke arah posisi Raja Akar Setan yang sempat terluka.


Namun, Raja Akar Setan juga bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh Pembunuh Pertama. Ia tahu-tahu raib dan telah berpindah tempat seiring dua sinar hijau menghancurkan lantai papan dermaga.


Papan lantai yang berlesatan atau yang melambung mengangkasa, tiba-tiba berhenti di udara. Ada puluhan serpihan papan yang terbuat dari kayu nan keras. Pertunjukan itu bukan kekuatan mata Dewi Ara, tetapi kesaktian Raja Akar Setan.


Set set set …!


Tes tes tes …!

__ADS_1


Puluhan serpihan papan itu langsung berlesatan menyerang Pembunuh Pertama tanpa terpengaruh oleh embusan angin laut.


Namun, tubuh Pembunuh Pertama telah dilindungi oleh dinding sinar hijau berlapis aliran listrik. Serpihan-serpihan kayu itu gagal melakukan eksekusi. (RH)


__ADS_2