
*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*
Pasukan panah di atas benteng Istana mengarahkan bidikannya kepada Pangeran Bewe Sereng dan pasukannya. Sebaliknya, pasukan Bewe Sereng mengarahkan panahnya ke pasukan di atas benteng yang lebih berpelindung.
Agak jauh di depan lagi, terjadi tiga pertarungan yang melibatkan empat pendekar lawan empat pendekar.
“Pasukan, aku adalah Pangeran Bewe Sereng! Apakah kalian akan membunuh junjunganmu?!” teriak Bewe Sereng kepada pasukan di atas benteng.
Mendengar teriakan Bewe Sereng, maka pasukan di atas benteng langsung dilanda kebimbangan dan kebingungan harus bersikap apa.
“Bergabunglah bersamaku. Sudah waktunya penjajah terkutuk kita musnahkan dari negeri kita!” teriak Bewe Sereng lagi.
“Memberontaklah kalian semua, maka aku akan membunuh kalian semua!” teriak seorang lelaki tiba-tiba menggelegar.
Orang itu telah berdiri di atas tembok benteng, tepat di atas gerbang benteng. Sosok lelaki berbadan besar itu tidak terlihat jelas gambar wajahnya. Yang jelas dia mengenakan jubah merah tebal yang terlihat berat ketika tertiup angin. Ada sebuah tombak yang lebih tinggi dari kepalanya tergenggam di tangan kanan. Orang itu adalah Gambut Cone, satu dari dua pengawal sakti Pangeran Tololo Coi. Dialah pemilik dinding gaib di benteng Istana itu, tetapi Bewe Sereng dan yang lainnya tidak tahu itu.
“Panah!” teriak Gambut Cone memerintah pasukan panah di atas benteng.
“Tahan!” teriak cepat pemimpin pasukan panah atas benteng. Teriakan itu sukses menahan pelepasan panah pasukan atas benteng.
Penentangan itu jelas membuat marah Gambut Cone.
“Waktunya kita memberon … akk!” teriak pemimpin pasukan itu lagi. Namun, seruannya berujung jeritan ketika satu sinar kuning samar menghantam tubuhnya, membuatnya terlempar jatuh dari atas benteng.
Bdag!
Tubuh pemimpin prajurit itu remuk pecah berdarah jatuh dari ketinggian. Nyawa pun jangan ditanya bagaimana kabarnya.
Melihat penghukuman itu, bukannya membuat pasukan panah takut, tetapi mereka justru marah kepada Gambut Cone.
“Panah Gambut Cone!” teriak seorang prajurit panah di atas benteng, mengambil alih komando.
Pasukan panah di atas benteng cepat mengalihkan target mereka kepada Gambut Cone.
Set set set …!
Lebih dua puluh anak panah semuanya melesat tertuju kepada Gambut Cone.
Wuss! Wuss!
Namun, Gambut Cone menghentakkan kedua tangannya ke dua arah yang berjauhan, tepatnya ke arah dua sisi benteng di mana pasukan berada.
Dua gulung angin keras berembus menderu. Selain menghalau semua panah yang datang menyerangnya, angin kencang itu juga menerpa pasukan panah tersebut. Mereka berjengkangan dengan berbagai gaya.
“Aaa! Aaa!” jerit beberapa prajurit panah yang terhempas lalu jatuh ke bawah.
__ADS_1
“Panah!” teriak Bewe Sereng kepada pasukan panah.
Set set set …!
Pasukan panah pimpinan Bewe Sereng melepaskan anak panahnya serentak ke atas gerbang benteng.
Wuss!
Namun, hujan panah itu juga dihalau oleh angin keras yang dilepaskan oleh Gambut Cone. Semua anak panah terbuang berserakan.
Set! Tseb! Cress!
Terkejut Bewe Sereng ketika Gambut Cone melesatkan tombak besinya. Refleks Bewe Sereng mundur beberapa tindak, membiarkan tombak itu menancap dalam di depannya. Namun, Bewe Sereng cepat kembali melompat mundur lebih jauh ketika melihat dari titik tusukan muncul sebaran sinar merah sejauh radius setengah depa. Sinar itu membakar tanah tanpa api.
Dari pada mengurusi prajurit-prajurit recehan, Gambut Cone memilih menargetkan pemimpin besar musuh, yakni Bewe Sereng.
Gambut Cone berkelebat turun dengan kedua tangan telah berbekal sinar biru biru berpijar.
Ses ses! Bluar bluar!
Sebelum sampai mendarat, Gambut Cone lebih dulu membanting kedua sinar biru di tangannya. Dua ledakan pada titik yang sama terjadi, setelah Bewe Sereng melompat tinggi sambil melepaskan tiga panah sinar biru ke sembarang arah lalu hilang di kejauhan.
Gambut Cone merehatkan dulu serangannya, membuat ia dan Bewe Sereng bisa berhadapan.
“Setya Gogol, bawa pasukan masuk ke Istana. Biar aku menahan penjaga ini di sini!” perintah Bewe Sereng.
Setya Gogol pun mengambil alih kepemimpinan pasukan dengan perasaan bangga.
“Pasukan, majuuu!” teriak Setya Gogol penuh kegagahan, agar Lentera Pyar juga bisa bangga punya kekasih sekeren dirinya.
“Seraaang!” teriak pasukan itu ramai-ramai sambil berlari menuju ke gerbang benteng.
Pasukan panah di atas benteng pun segera memobilisasi diri untuk turun dan bergabung dengan pasukan Ibu Kota.
“Hahaha!” tawa pendek Gambut Cone melihat pergerakan pasukan itu, tapi dia membiarkannya.
“Menyerahlah, Kisanak!” seru Bewe Sereng.
“Hahaha!” Gambut Cone menertawakan Bewe Sereng. “Untuk apa aku menyerah jika aku bisa membunuhmu?”
“Baiklah,” ucap Bewe Sereng.
Bluar!
Belum lagi Bewe Sereng bergerak menyerang, tiba-tiba ada ledakan api tepat di belakang kaki Gambut Cone. Lelaki bertombak itu hanya terdorong setindak oleh ledakan yang bersumber dari bola sinar yang jatuh dari langit gelap. Bisa ditebak siapa pelaku pelempar bola sinar merah.
Gambut Cone memang kebal terhadap ledakan dan api itu, tetapi kain jubahnya tidak antiapi. Ia buru-buru menanggalkan jubahnya yang terbakar dan membuangnya begitu saja. Meski kebal api, tetapi dia tidak mau bertarung dalam kondisi buto.
__ADS_1
Bewe Sereng segera melesat maju dengan dua tinju bersinar merah di kala Gambut Cone sibuk dengan jubahnya.
Gambut Cone cepat bereaksi dengan melakukan elakan-elakan tanpa jauh meninggalkan posisinya. Serangan tinju Bewe Sereng begitu cepat, tetapi Gambut Cone bisa mengimbanginya. Hingga akhirnya Gambut Cone mencabut tombaknya.
Dengan tombak itu, Gambut Cone bisa leluasa menangkis dan bahkan menyerang balik.
Dag dag dag!
Tiga tinju beruntun ditangkis oleh tombak besi. Kemudian tombak diputar menyerang balik, memaksa Bewe Sereng bergerak mundur sambil menghindari tombak berat tersebut.
Di saat dalam posisi bertahan, Bewe Sereng memunculkan sinar biru pada kedua tangannya. Dengan itu dia bebas menangkis tombak yang mengandung tenaga dalam tinggi.
Wuut! Beks!
Pada satu kesempatan, tombak Gambut Cone mengibas mengincar paha Bewe Sereng. Sang pangeran tua meloncat tinggi sambil menghentakkan dua jari tangan kanannya, melepas ilmu Jari Serang Jauh.
Satu energi tidak terlihat langsung menghantam dada besar Gambut Cone. Namun, ketika tenaga sakti itu menghantam dada, muncul percikan sinar hijau tanpa melukai Gambut Cone, hanya membuat badannya tersentak pelan.
Gambut Cone melanjutkan serangan tombaknya. Bewe Sereng memilih melompat mundur sambil melepaskan banyak ilmu Jari Serang Jauh.
Beks beks beks …!
Hantaman-hantaman beruntun menghajar badan depan Gambut Cone. Seperti tadi, setiap hantaman energi sakti tidak terlihat itu, muncul percikan-percikan sinar hijau pada titik hantaman. Gambut Cone tidak menderita luka apa pun dari hantaman beruntun itu.
Tseb! Pyar pyar pyar …!
Tiba-tiba Gambut Cone menancapkan tombaknya ke tanah, lalu melepaskannya. Satu hentakan tangan diarahkan kepada batang tombak yang berdiri.
Tiba-tiba dari tombak itu melesat sinar merah berwujud tombak yang berdiri. Bukan hanya satu wujud sinar, tapi banyak yang melesat beruntun dan rapat.
Bewe Sereng yang tidak siap menghindar lebih cepat, hanya menyilangkan kedua tangan bersinar birunya di depan tubuhnya.
Bess!
“Akk!” pekik lelaki besar berkumis biru itu dengan tubuh terlempar mundur dan jatuh terjengkang.
Set set set …!
Sebelum Gambut Cone melakukan serangan susulan, dari tiga arah datang melesat panah sinar biru.
Blar blar blar!
Sebelum panah-panah sinar itu mengenai target, Gambut Cone lebih dulu menyentuh dahinya dengan jari telunjuk tangan kanan yang bersinar putih kecil.
Tidak sampai sedetik, tiga ledakan sinar biru terjadi di sekitar tubuh Gambut Cone tanpa menyentuh kulitnya. Ada satu dinding kuat tidak terlihat yang membentengi seluruh tubuh Gambut Cone. Orang itupun tidak apa-apa.
Terkejut Bewe Sereng menyaksikan itu. (RH)
__ADS_1