
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Meski datang dengan berjalan kaki, tetapi itu tidak mengurangi ketinggian wibawa Ratu Bunga Petir, penguasa tertinggi Pulau Tujuh Selir.
Selir Ketiga yang dalam kondisi terluka parah, bersama Pangeran Tendangan Kilat, Janggung dan Rengkuh Badai segera menyongsong kedatangan ratu mereka. Mereka menghormat lalu bergabung di belakang.
Melihat kedatangan sang penguasa berjubah merah terang itu, Dewi Ara pun berjalan menyongsong dengan para abdi berjalan di belakangnya. Dua kubu akhirnya saling berhenti setelah berhadapan dalam jarak tiga tombak. Apakah akan langsung terjadi tawuran?
Ratu Bunga Petir diam sejenak memandang ke arah Penjara Bola Cemburu, di mana Selir Pertama dan Ketujuh terkurung.
“Hormatku, Gusti Ratu,” ucap Dewi Ara sambil menghormat dengan cara sedikit menunduk.
“Izinkan aku tahu, dengan siapa aku berhadapan,” ujar Ratu Bunga Petir.
“Aku Permaisuri Geger Jagad, salah satu permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Dewi Ara.
Terlihatlah keterkejutan Ratu Bunga Petir dan para selir dari perubahan lingkar matanya. Meski mereka tidak pernah datang ke wilayah Sanggana Kecil, tetapi mereka telah mendengar tentang kerajaan kuat itu, yang konon memiliki raja tersakti di dunia persilatan dan sebelas istri yang sebagian besar kesaktiannya begitu tinggi. Sebelumnya juga Mimi Mama pernah memberi tahu bahwa Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas telah dibasmi oleh Permaisuri Dewi Ara.
“Apakah Permaisuri adalah pendekar wanita yang dulu bergelar Dewi Geger Jagad?” tanya Ratu Bunga Petir lagi.
“Benar,” jawab Dewi Ara singkat.
“Jika sebelumnya aku tahu bahwa lawan yang datang menyerang ke pulau ini adalah Dewi Geger Jagad, tentunya aku bisa tahu diri lebih awal,” kata Ratu Bunga Petir yang ternyata memiliki wawasan yang cukup luas tentang orang-orang dunia persilatan.
“Aku datang tidak untuk menyerang, aku hanya ingin mengambil orang yang melakukan penculikan. Justru pasukan Gusti Ratu yang lebih dulu menyerang kapalku,” bantah Dewi Ara.
“Apa hendak dikata, aku telah bertekad di depan para Tetua. Aku akan menyerahkan anak kami Pangeran Api Dewa atau Gandang Duko, karena dia telah mengakui, dia dan Tadayu telah menculik Putri Uding Kemala dari Kerajaan Lampara. Namun, aku memberi dua syarat. Pertama, bebaskan Selir Pertama dan Selir Ketujuh. Kedua, Permaisuri harus mengalahkan aku dalam bertarung,” kata Ratu Bunga Petir.
“Aku terima dua syarat itu,” kata Dewi Ara mantap.
Tanpa berpaling dari Ratu Bunga Petir, Dewi Ara memberi perintah kepada Tikam Ginting.
“Bebaskan mereka!”
“Baik, Dewi,” ucap Tikam Ginting patuh.
Maka dari tempatnya berdiri, Tikam Ginting mengulurkan tangannya mengarah Penjara Bola Cemburu.
Blep!
Maka bola sinar abu-abu transparan itupun lenyap begitu saja tanpa ada ledakan. Selir Pertama dan Selir Ketujuh pun tidak terkurung lagi. Selir Ketujuh segera berusaha memapah Selir Pertama yang menderita luka dalam parah.
“Jadilah kalian penonton, waktunya wanita sakti bertarung!” perintah Dewi Ara kepada para pengikutnya.
“Baik, Dewi,” ucap Tikam Ginting dan yang lainnya patuh.
Maka Tikam Ginting, Bewe Sereng, Eyang Hagara, Arda Handara dan lainnya segera meninggalkan Dewi Ara.
Demikian pula kubu Ratu Bunga Petir, mereka mundur menjauhi junjungan mereka yang tidak ikut mundur.
Arda Handara pergi duduk di dekat Mimi Mama. Sebagai anak kecil lain satu-satunya, Mimi Mama menarik perhatian Arda Handara untuk mendekatinya.
“Kau anak siapa?” tanya Arda Handara membuka obrolan.
“Aku anak ibuku,” jawab Mimi Mama.
“Hahahak! Aku tahu kau bukan anak ayam,” kata Arda Handara yang menertawakan jawaban Mimi Mama.
“Hihihi!” tawa Mimi Mama mendengar perkataan Arda Handara. Lalu katanya, “Aku anak Ratu Bunga Petir.”
“Berarti kau mendukung ibumu yang menang?” tanya Arda Handara.
“Tidak, aku mendukung Bibi Permaisuri yang menang,” sanggah Mimi Mama.
__ADS_1
“Oh, agar seru, aku memilih ibumu yang menang. Jika aku kalah, aku akan memberimu uyut-uyut,” kata Arda Handara.
“Buah apa itu?” tanya Mimi Mama.
“Buah yang membuat kepala bahagia. Hahaha!” jawab Arda Handara lalu tertawa.
“Baik, setuju!” tandas Mimi Mama.
Dua wanita pemimpin tertinggi telah berhadapan.
Bress!
Sepertinya yang pertama menyerang adalah Dewi Ara dengan cara ia menaikkan banyak butiran pasir ke udara, lalu melesatkannya menyiram kepada Ratu Bunga Petir.
Wuss!
Ratu Bunga Petir cepat menangkal serangan itu dengan serangkum angin yang menahan semua pasir lalu membuyarkannya. Untung tidak ada yang kelilipan pasir.
Setelah itu, sang ratu langsung melesat maju kepada Dewi Ara dengan kedua tangan telah diselimuti oleh lidah-lidah petir berwarna kuning.
Bugzz!
“Aak!” jerit tertahan sang ratu.
Tiba-tiba satu dinding sinar merah muncul di depan tubuh Dewi Ara, sehingga tinju listrik yang dilancarkan oleh Ratu Bunga Petir menghantam dinding tersebut. Aliran listrik memang kemudian menyebar di bidang dinding Perisai Dewi Merah, tetapi tinju yang menghantam ilmu perisai juga membuat sang ratu menjerit kesakitan, karena dinding itu juga sangat panas.
Ratu Bunga Petir terpaksa mengurungkan niat tinju listrik keduanya. Ia tidak mau tangan kirinya kembali jadi korban.
Kejap berikutnya, dinding sinar Perisai Dewi Merah hilang bersama aliran sinar listrik yang menggerogotinya. Dia hilang atas kehendak Dewi Ara, karena wanita itu ingin maju menyerang lawannya dengan kecepatan super.
Dengan kecepatan super pula, Ratu Bunga Petir mengelaki semua serangan tangan kosong Dewi Ara.
Buk!
Namun, tingkat kecepatan gerakan Dewi Ara lebih unggul. Tahu-tahu kaki kanan sang permaisuri nyelonong ke perut Ratu Bunga Petir tanpa kulunuwon.
Meski sang ratu mengeluh, tetapi tendangan itu masih ringan, karena hanya mampu mendorong sejauh tiga tindak.
Bzeerzz!
Namun setelah itu, Ratu Bunga Petir setengah merentangkan kedua tangannya, yang kemudian memunculkan sebaran lidah petir warna kuning ke segala arah, menciptakan pemandangan indah dan menakjubkan.
Zerzz …!
Lidah-lidah petir pendek itu tiba-tiba melesat serentak ke depan menyerbu sosok Dewi Ara.
Namun, lagi-lagi dinding Perisai Dewi Merah muncul di depan tubuh Dewi Ara. Kembali sinar-sinar kuning itu menggerogoti dinding sinar merah tersebut. Hasilnya ….
Praks!
Cukup terkejut Dewi Ara dan para pendukungnya ketika dinding Perisai Dewi Merah meledak pecah dan musnah. Ujung-ujung listrik dari kesaktian yang bernama Bunga Petir itu langsung menyergap Dewi Ara.
Namun, Dewi Ara lebih dulu melesat sangat cepat mundur ke belakang sampai ia berhenti di atas permukaan air laut, jarak yang tidak bisa dijangkau oleh ujung-ujung petir manusiawi itu.
Clap!
Ketika lidah-lidah petir itu padam, tiba-tiba Dewi Ara kembali melesat terbang maju. Saking cepatnya, sehingga terlihat seolah-olah menghilang. Dan ketika Dewi Ara berhenti beberapa tombak di depan lawan, di tangan kanannya telah tergenggam tombak sinar biru.
Sets! Zing! Bluar!
Ketika Dewi Ara melempar tombak sinarnya, Ratu Bunga Petir cepat memasang ilmu perisainya yang bernama Kerang Lima Cangkang.
Ketika tombak sinar dari Tombak Algojo menghantam lapisan sinar merah di depan tubuh Ratu Bunga Petir, ledakan terjadi yang menghancurkan tombak dan lapisan sinar merah. Namun, masih ada empat lapis sinar lagi yang belum hancur.
__ADS_1
“Benteng yang begitu kuat,” puji Dewi Ara. “Tapi itu tidak akan menjadi berguna.”
Ketika yang lainnya tidak percaya dengan kata-kata Dewi Ara, Mimi Mama justru terkejut. Kesimpulannya, ibunya bisa bernasib lebih buruk jika pertarungan berlangsung sampai akhir.
Ratu Bunga Petir kembali menghilangkan ilmu perisainya dan menggantinya dengan ilmu Bunga Petir, yang bisa menghancurkan Perisai Dewi Merah dan membuat Dewi Ara mundur.
Zerzz! Praks!
Lidah-lidah petir kembali melesat dari tubuh Ratu Bunga Petir menyerang Dewi Ara. Dan sang permaisuri kembali memasang ilmu Perisai Dewi Merah yang kemudian kembali pecah.
Zerzz! Praks!
Namun, setelah dinding sinar merah itu pecah, Dewi Ara kembali mengeluarkan dinding sinar merah yang lain, lalu pecah lagi.
Kejadian seperti itu terjadi hingga lima kali, membuat Ratu Bunga Petir memutuskan menarik serangannya.
Sreeps!
Tiba-tiba pasir-pasir di arena tarung itu naik mengudara dalam jumlah banyak yang mengepung posisi Ratu Bunga Petir. Tidak seperti sebelumnya, kali ini butir-butir pasir itu bersinar merah semua. Pasir-pasir bersinar yang jumlahnya ribuan atau jutaan butir itu membuat suasana semakin tegang, terlebih posisi Ratu Bunga Petir terkurung.
Seeerst …!
Selanjutnya, kurungan pasir terbang itu bergerak berputar mengelilingi posisi Ratu Bunga Petir. Semakin lama semakin cepat membentuk kurungan merah. Arah atas kepala sang ratu pun tertutupi oleh lapisan pasir bersinar. Dinding sinar itu menghalangi pandangan dari dalam dan orang-orang di luar pun tidak bisa melihat keberadaan Ratu Bunga Petir, kecuali sangat samar.
Semua orang kubu Pulau Tujuh Selir menjadi tegang dan was-was. Kali ini, Mimi Mama pun terlihat begitu khawatir. Dia tidak pernah melihat ilmu itu dikeluarkan oleh Dewi Ara.
Ratu Bunga Petir terdiam sejenak, memikirkan cara untuk bebas dari kurungan itu. Ia merasakan panas yang memanggang.
Set! Ces!
Ratu Bunga Petir lalu melesatkan satu cincin emasnya untuk menjajal kekuatan pusaran pasir sinar itu. Ternyata, cincin emas yang tersambar langsung lebur mencair.
Wuss!
Ratu Bunga Petir melepaskan angin berkekuatan besar. Namun, angin itu seperti menghempas tembok yang kokoh dan justru menghantam diri sendiri, mebuat sang ratu terhuyung nyaris hilang keseimbangan.
Zerzzz …!
Ratu Bunga Petir kemudian kembali mengeluarkan ilmu Bunga Petirnya. Ternyata, lidah-lidah petir sinar kuning bisa menembus kurungan tersebut, tetapi tidak bisa merusak dan menghancurkan ilmu Kupu-Kupu Badai milik Dewi Ara. Sementara itu, lidah-lidah petir yang tembus keluar tidak bisa menemukan sasaran karena terhalangnya pandangan.
Di dalam kurungan, Ratu Bunga Petir mulai merasakan oksigen menipis. Ia mulai terhalang dalam bernapas.
Tidak berapa lama akhirnya, lidah-lidah petir yang keluar dari dalam kurungan lenyap, sementara dinding pasir sinar merah terus berputar kencang dengan suara yang berdenging. Melihat tidak ada perlawanan berarti dari dalam kurungan, para Tetua semakin cemas.
Melihat ilmu Bunga Petir padam, pikiran Mimi Mama segera menyimpulkan.
“Bibi Permaisuri, aku mohon hentikan. Ibundaku mengaku kalah!” teriak Mimi Mama, yang mengejutkan semua Tetua dan punggawa Pulau Tujuh Selir.
Dewi Ara yang sedang berdiri di atas pasir pantai, menengok memandang kepada Mimi Mama yang berbicara dengan sepasang mata yang merah berkaca-kaca.
“Bibi Permaisuri, aku mohon jangan bunuh ibundaku!” ucap Mimi Mama seperti anak kecil perempuan sungguhan.
Seeef!
Setelah kalimat permohonan itu, kurungan pasir sinar merah berhenti dan sinar merah padam semuanya, menyisakan pasir alami yang berjatuhan ke bawah.
Terlihatlah sosok Ratu Bunga Petir sedang berlutut lemas sambil memegangi lehernya yang kehilangan oksigen.
“Haaah!” Ratu Bunga Petir cepat menghirup udara sebanyak-banyaknya ketika udara kembali mendatanginya. Wajahnya memerah dengan mata berair.
“Ibunda Ratu!” sebut Mimi Mama sambil menghilang dari tempatnya dan muncul memegangi Ratu Bunga Petir.
“Gusti Ratu!” sebut beberapa Tetua sambil mendatangi posisi ratu mereka. (RH)
__ADS_1