Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 18: Pasukan Pendekar Tiba


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)* 


 


“Maafkan aku, Gusti Permaisuri. Awalnya aku tidak tahu bahwa permaisuri yang aku undang adalah salah satu permaisuri milik Prabu Dira. Sungguh hal yang mengejutkan bagiku saat tahu bahwa Gusti Permaisuri adalah Permaisuri Geger Jagad dari Jurang Lolongan. Karena itu, aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang selama ini aku pendam. Aku hanya mengungkapkan,” tutur Santra Buna.


“Kisah cintamu memang aneh, Syahbandar. Kau mencintai wanita yang belum pernah kau lihat. Dan wanita itu ada sebelas orang. Semuanya adalah istri lelaki lain. Kau pun akan menikahi siapa saja yang diberikan kepadamu. Jika aku yang bertemu denganmu, maka kau akan mencintaiku. Jika Permaisuri Nara yang bertemu denganmu, maka kau pun akan mencintainya,” papar Dewi Ara menyimpulkan.


“Hahaha! Cinta itu terkadang memang tidak masuk di akal, Gusti,” kata Syahbandar setelah tertawa santai, seakan-akan semuanya baik-baik saja.


“Hilangnya kehangatan makanan akan mengurangi separuh dari kenikmatan makanan itu,” kata Dewi Ara yang ditujukan kepada para abdinya yang belum menyentuh makanan, kecuali Ratu Wilasin yang tidak peduli dengan cerita cinta Syahbandar Santra Buna. Ia makan seperti orang yang sedang menekuni kitab suci.


Mendengar perkataan Dewi Ara, Bewe Sereng, Tikam Ginting dan yang lainnya segera mulai menyantap. Dengan demikian, separuh dari emosi mereka mereda, terpadamkan oleh kelezatan hidangan.


“Apakah Syahbandar tahu, bahwa aku berusia ratusan tahun?” tanya Dewi Ara.


Agak melebar lingkar mata Santra Buna mendengar hal itu. Meski Dewi Ara menangkap reaksi kejutnya, Santra Buna cepat bersikap tenang kembali.


“Tapi cinta tidak mengenal usia dan paras, Gusti,” kata Santra Buna seraya tersenyum, mencoba bisa menerima fakta yang ada.


“Itu dusta,” sergah Dewi Ara. “Terbukti kau mencintai para permaisuri Sanggana Kecil karena membayangkan kejelitaan mereka. Rata-rata pasangan selalu berusia setara atau selisih yang dekat.”


Terpojok otak Santra Buna mendengar perkataan Dewi Ara.


“Tapi, Prabu Dira bisa mencintai Gusti Permaisuri dan Permaisuri Mata Hati yang berusia seratus tahun?” kata Santra Buna mencoba untuk mematahkan sudut pandang Dewi Ara.


“Prabu Dira menikahiku dan menikahi guru dari istrinya sendiri karena terpaksa, bukan karena cinta,” tandas Dewi Ara.


“Aku akan tetap teguh pada dasar cintaku kepada Permaisuri Sanggana Kecil,” tandas Santra Buna.


“Aku tidak akan memaksamu agar mengubur mimpimu itu. Silakan kau jadi pejuang cinta. Semoga impianmu tercapai, asalkan permaisuri itu bukan aku,” kata Dewi Ara.


“Terima kasih, Gusti Permaisuri. Restu Gusti Permaisuri tentunya menjadi bahan bakar bagiku untuk memperjuangkan cintaku. Selama ini aku menolak semua jenis wanita yang ingin mendapatkan cintaku karena aku setia kepada impianku. Aku pasti akan datang kepada Prabu Dira untuk menyampaikan impianku ini,” kata Santra Buna.


Dewi Ara tidak menanggapi lagi perkataan Santra Buna karena ada seorang lelaki besar yang serba besar, berpakaian biru yang merupakan seragam Penendang Delapan, berjalan masuk ke ruangan itu. Arah langkahnya jelas menuju kepada Syahbandar Santra Buna.

__ADS_1


Penguasa Bandakawen itupun menghadapkan wajahnya kepada kedatangan personel keamanannya.


“Ada apa, Tarung Bara?” tanya Santra Buna lebih dulu sebelum lelaki berusia empat puluhan itu menyampaikan maksud kedatangannya.


“Lapor, Gusti. Pos pemeriksaan di utara diserang oleh puluhan pendekar. Mereka mengaku Kelompok Ronggo Keling,” jawab lelaki bernama Tarung Bara itu.


“Oh, Ronggo Keling,” ucap Sentra Buna tidak terkejut. Seolah-olah laporan itu perkarah yang ringan. Ia memang sudah tahu siapa adanya Kelompok Ronggo Keling. “Tiga pembunuh dari Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas saja mati tanpa arti di kota ini, apalagi pembunuh bayaran seperti mereka.”


“Tiga petugas pos pemeriksaan telah mereka bunuh, Gusti,” tambah Tarung Bara.


“Kurang ajar!” maki Santra Buna akhirnya. Kali ini amarahnya tersulut. Lalu tanyanya, “Seperti apa keadaannya?”


“Kuyang Wangi, Baling Sosor, Sambit Jurig, dan Lilin Temaram sudah bertarung dikeroyok oleh puluhan pendekar bayaran itu, Gusti,” jawab Tarung Bara.


“Kau dan tiga lainnya cepat bantu mereka!” perintah Santra Buna.


“Baik, Gusti!” ucap Tarung Bara dengan nada lebih bersemangat. Delapan orang Penendang Delapan melawan puluhan pendekar bayaran jelas adalah tantangan yang akan membakar adrenalin, lebih panas dari ketegangan di tikungan pertama sirkuit malam pertama.


Setelah menghormat, Tarung Bara segera berbalik pergi.


“Baik, Gusti,” ucap kedua pengawal Syahbandar bersamaan. Keduanya segera pergi setelah menghormat kepada junjungannya.


“Sebenarnya siapa yang diburu oleh para pendekar pembunuh bayaran itu?” tanya Santra Buna kepada dirinya sendiri.


“Mereka ingin membunuh Gusti Ratu Wilasin,” jawab Dewi Ara.


“Iya. Mereka ingin membunuhku! Hihihi!” sahut Ratu Wilasin tiba-tiba sambil menengok kepada Santra Buna, tapi kemudian justru tertawa. “Tapi Gusti Permaisuri Geger Jagad selalu menyelamatkanku.”


“Jika Syahbandar ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan yang tercipta, mintalah kepada Prabu Banggarin,” kata Dewi Ara pula.


“Ratu ingin dibunuh sampai mengerahkan pendekar pembunuh bayaran sebanyak itu. Pasti orang di balik perintah itu adalah seorang pejabat yang kaya raya,” duga Santra Buna.


Seperti ada segaris cahaya yang masuk ke dalam otak Dewi Ara mendengar prediksi syahbandar itu.


“Benar. Untuk membayar para pembunuh bayaran dibutuhkan uang atau harta yang banyak. Upah seorang komandan pengawal tidak mungkin cukup untuk membayar pembunuh bayaran sebanyak itu. Berarti ada pejabat kaya di belakang Komandan Bengal Banok dan Komandan Kumbang Draga,” pikir Dewi Ara.

__ADS_1


“Tidak usah buru-buru, silakan nikmati, Gusti Ratu, Gusti Permaisuri,” kata Santra Buna seraya tersenyum, seolah tidak begitu memikirkan apa yang sedang terjadi di area pintu masuk ke Kota Bandakawen.


“Penuhi perut kalian, jangan sampai kalian mati dalam kondisi perut yang kosong. Setelah ini kita harus bertanggung jawab, karena orang-orang itu datang mengikuti kita,” kata Dewi Ara kepada para pengikutnya.


“Baik, Dewi!” ucap mereka kompak.


Bong Bong Dut segera tancap gas. Tangan kanan dan kiri aktif mencomot lauk, mirip balita yang baru suka jajan, tangan kanan dan kiri memegang makanan. Namun yang lainnya, tetap bersikap normal dalam aktivitas makannya.


Namun, entah sejak kapan, Dewi Ara tahu-tahu telah tidak ada di antara mereka. Bahkan Santra Buna yang duduknya berhadapan langsung dengan Dewi Ara, telat menyadari kehilangan wanita jelita itu.


“Ke mana Gusti Permaisuri?” tanya Santra Buna kepada yang lainnya.


“Pastinya ke tempat pertarungan,” jawab Bewe Sereng.


“Jika demikian, aku harus ke sana sekarang juga. Maaf, aku harus meninggalkan kalian,” kata Santra Buna.


Clap!


Tiba-tiba Santra Buna menghilang begitu saja dari tempat duduknya. Hal itu jelas menunjukkan tingkat kesaktian sang syahbandar.


“Bagaimana dengan kita?” tanya Anik Remas.


“Dewi memerintahkan kita makan sampai kenyang. Setelah itu barulah kita pergi ke sana untuk mengurai makanan yang ada di perut,” jawab Tikam Ginting.


Ternyata setelah Dewi Ara dan Santra Buna pergi, Tikam Ginting justru berubah lahap makannya, seolah ingin menyaingi Bong Bong Dut.


Anik Remas dan Bagang Kala bahkan sempat tertegun melihat kegalakan cara makan Tikam Ginting di belakang junjungannya.


“Ayo, Remasku Sayang,” kata Bagang Kala kepada calon istrinya.


“Biar aku suapi,” kata Anik Remas seraya tersenyum mesra kepada Pendekar Angin Barat.


“Kalian berdua terus menyiksaku yang tidak memiliki pasangan,” keluh Bewe Sereng. Ia pun melanjutkan makannya. Ia memilih menu yang lembut-lembut.


“Hihihik!” Ratu Wilasin hanya tertawa. (RH)

__ADS_1


__ADS_2