Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 3: Pendekar Angin Barat


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


Dendam menjadi obsesi bagi Bagang Kala. Hal itu pula yang menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus berlatih tanpa henti bertahan-tahun lamanya, di bawah asuhan pendekar tua yang bernama Bolong Jungkal.


Sebagai seorang pendekar aliran putih, Bolong Jungkal jelas tidak setuju dengan dendam yang dipelihara oleh muridnya yang memiliki prospek bagus. Namun, dia juga setuju jika orang-orang semodel murid-murid Perguruan Cambuk Neraka dihukum mati atas perbuatan kejinya.


Karena itulah, Bolong Jungkal memberi pemahaman secara bertahap kepada Bagang Kala tentang larangan mendendam. Lelaki yang semakin tua itu secara perlahan mengkonversi dendam yang dipendam Bagang Kala menjadi niatan membasmi kejahatan dan membela kebenaran, seperti slogan-slogan para jagoan super hero.


Bagang Kala tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, tampan dan berbadan atletis, tentu saja menjelma menjadi seorang pendekar muda yang kesaktiannya terbilang mumpuni di level menengah ke atas.


Bagang Kala menjadi seorang pendekar yang sangat taat kepada gurunya, sampai-sampai ia pun menuruti larangan meninggalkan hutan bambu selama lima belas tahun.


Setelah lima belas tahun berguru kepada Bolong Jungkal sebagai murid kesebelas, akhirnya hari ini adalah hari penentuan bagi Bagang Kala. Hari ini dia harus melaksanakan ujian penentuan dari ilmu tertinggi yang diajarkan kepadanya. Ilmu itu bernama Pedang Angin Barat.


Wuuus!


Sebola sinar putih berputar kencang pada porosnya di udara, menimbulkan angin dahsyat yang menerbangkan dedaunan bambu yang kering. Kelompok-kelompok pohon bambu yang tumbuh menjulang dan rimbun di sekeliling, berayun kencang oleh angin yang ditimbulkan dari putaran bola sinar putih tersebut.


Satu tombak tepat di bawah bola sinar tersebut duduk bersila dengan kusyuk sosok dari Bagang Kala. Jari-jari kedua tangannya saling bertaut di depan dada.


West!


Tiba-tiba dari arah samping melesat selarik sinar kuning berekor runcing. Targetnya sangat jelas adalah tubuh Bagang Kala yang tanpa baju, tapi bercelana biru terang.


Sudut mata Bagang Kala yang beralis tajam menangkap pergerakan sinar kuning itu. Ia cepat menghentakkan tenaganya, tapi jari-jari tetap saling menggenggam.


Sizz! Bluar!


Hentakan tenaga itu menciptakan lapisan sinar merah yang mengurung tubuh si pemuda, membuat sinar kuning menghantam lapisan sinar merah. Ledakan keras tercipta yang menghentak pepohonan bambu. Sementara Bagang Kala tetap kokoh duduk bersila dengan bola sinar putih tetap berputar kencang di atas kepalanya.


Setelah berhasil menangkal serangan yang tidak pernah diberitahukan oleh gurunya itu, Bagang Kala lalu menghentakkan kedua lengannya lurus ke atas dengan kedua jemari tetap saling bertaut.


Blassett!


Tiba-tiba bola sinar putih di atas pecah dalam bentuk lesatan sinar-sinar putih berwujud pedang ke segala arah.

__ADS_1


Set set set …!


Pedang-pedang sinar putih itu melesat cepat menebasi batang-batang pohon bambu dengan rapi.


Bsruakr! Bsruakr!


Setelahnya, belasan pohon bambu tumbang secara acak, tetapi tidak ada yang jatuh menimpa Bagang Kala. Jika ada yang menimpa, pastilah ada yang akan tertawa.


Sebentar saja, tempat itu benar-benar porak-poranda seperti usai terkena angin tornado.


Seperti itulah kehebatan dari ilmu Pedang Angin Barat.


“Kau lulus dengan sempurna, Bagang Kala!” seru suara Bolong Jungkal dari tempat yang cukup jauh dari posisi muridnya.


Suasana saat itu telah tenang tanpa angin kencang lagi.


Clap!


Tiba-tiba sosok kakek bungkuk itu telah muncul di depan Bagang Kala.


“Dengarkanlah, Bagang Kala. Dengan sempurnanya kau menguasai ilmu Pedang Angin Barat, maka mulai saat ini kau aku sematkan nama julukan, yaitu Pendekar Angin Barat,” kata Bolong Jungkal.


“Murid sangat berterima kasih atas anugerah julukan itu, Guru,” ucap Bagang Kala, masih dalam posisi berlutut menghormat dengan satu kaki.


“Dengan sempurnanya sejumlah ilmu yang aku turunkan kepadamu, dan hari ini kau menunjukkan kesempurnaan dari pembelajaranmu, maka hari ini pula kau aku bebaskan sebagai seorang pendekar. Kau boleh pergi bebas ke mana saja yang kau inginkan, sama seperti yang aku izinkan kepada sepuluh kakak seperguruanmu,” ujar Bolong Jungkal.


“Murid sangat berterima kasih, Guru!” ucap Bagang Kala begitu gembira, tapi tetap kusyuk dalam hormatnya.


“Tapi ingat, Bagang Kala. Lupakan dendammu. Beri mereka hukuman berdasarkan perbuatan jahatnya. Pijakkan kakimu pada kebenaran, hantamkan pukulanmu pada kejahatan. Jangan lupakan tanah di saat kau terbang ke langit, jangan lupakan langit di saat kau berpijak di bumi. Berjuanglah untuk hidup dengan rencana, agungkan kebenaran dengan siasat, waspadai tipu daya wanita dan tahta. Dan yang terakhir aku pesankan, ingatlah bahwa kau punya seorang guru,” nasihat Bolong Jungkal.


“Baik, Guru. Murid akan berusaha selalu mengingat dan menghapal pesan-pesan Guru,” ucap Bagang Kala.


“Sekarang kau boleh pergi berkelana. Jangan lupa pakai pakaian terbaikmu, jangan seperti gembel miskin,” perintah Bolong Jungkal.


“Baik, Guru,” ucap Bagang Kala patuh.

__ADS_1


Bagang Kala segera bangkit dan pergi menuju ke rumah. Tidak berapa lama, dia telah keluar dengan baju berwarna putih, yang pada bagian tepiannya berwarna biru terang pula, sewarna dengan celananya. Rambut gondrongnya yang tadi berantakan, sudah ia rapikan dengan sederhana, membuatnya terlihat lebih tampan. Ia membawa sebuntal kain warna putih yang berisi pakaian ganti dan bekal secukupnya.


Setelah menemui kembali gurunya untuk berpamitan, Bagang Kala akhirnya berlari pergi meninggalkan hutan bambu tersebut, seolah sudah tidak sabar untuk melihat dunia luar.


Setelah meninggalkan hutan bambu kediaman gurunya, tempat pertama yang menjadi tujuan Bagang Kala adalah tempat tinggalnya di masa kecil.


Namun, karena tidak pernah keluar meninggalkan hutan bambu selama lima belas tahun, Bagang Kala tidak tahu jalan dan arah. Ia benar-benar menjadi orang yang buta arah dan buta medan.


Ketika Bagang Kala berjalan di satu jalan tanpa tahu jalan itu akan membawanya ke mana, tiba-tiba terdengar suara derap lari sejumlah kaki kuda yang kencang dari arah belakang.


Bagang Kala menengok ke belakang. Maka, dilihatnya ada satu kuda berlari paling depan yang ditunggangi oleh seorang wanita dewasa berpakaian bagus seperti layaknya wanita bangsawan. Di belakang wanita itu berlari sekitar tujuh kuda yang ditunggangi oleh lelaki semua.


Sesekali wanita cantik berusia kisaran empat puluh tahun itu menengok panik ke belakang, mengecek sudah sedekat mana para pengejarnya.


“Menyerahlah, Anik Remas!” teriak salah satu lelaki penunggang kuda.


Namun, wanita yang disebut bernama Anik Remas itu tidak menanggapi. Ia terus memacu kudanya dengan cepat.


Bagang Kala segera meminggirkan dirinya agar tidak tertabrak oleh kuda-kuda yang berlari dalam kecepatan sangat tinggi, mirip sedang berpacu dalam balapan, bukan berpacu dalam melodi.


Seeet!


Ketika rombongan kuda itu melintas di depan posisi berdiri Bagang Kala, tiba-tiba sebuah benda melesat sangat cepat dari lemparan salah satu penunggang lelaki.


Set! Blugk!


Benda besar tapi tipis itu adalah senjata logam berbentuk sabit yang melesat berputar-putar. Benda itu berhasil memangkas putus satu kaki kuda yang ditunggangi oleh Anik Remas. Hal itu langsung membuat si kuda tersungkur ke tanah, memaksu Anik Remas jatuh bergulingan di tanah jalanan.


Meski jatuhnya keras, Anik Remas cepat bangkit berdiri.


Sebentar saja, ketujuh kuda pengejar sudah mengurung posisi wanita berpakaian kuning itu sambil berlari pelan mengitari. Saat itu, Anik Remas berdiri memasang kuda-kuda, siap menghadapi pengeroyokan para lelaki tersebut.


Melihat apa yang dialami oleh Anik Remas, seketika Bagang Kala teringat dengan apa yang pernah terjadi dengan kakaknya, Juminah, saat diperkosa.


Tanpa banyak pertimbangan, Bagang Kala memutuskan berkelebat cepat dan menerjang jatuh seorang lelaki penunggang kuda.

__ADS_1


Terkejutlah semua orang, terkhusus bagi Anik Remas. (RH)


__ADS_2