
*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*
Entah, apakah Genap Seribu benar-benar gila atau hanya berpura-pura gila. Sebab, ketika ia mendekati rumah Adipati Siluman Merah, ia tidak langsung pergi berkuda masuk ke dalam halaman, tetapi justru berhenti agak jauh sebelum rumah.
Ia menambatkan kudanya secara normal pada sebatang pohon kecil, kemudian mengintai suasana di depan pagar pinggir jalan. Ada sejumlah prajurit yang berjaga ketat di depan pagar. Pemuda botak itu berlindung di balik sekelompok pohon pisang. Ia memerhatikan sisi barat dari rumah Adipati.
Pagar rumah pada sisi barat tidak terjaga oleh prajurit kademangan, karena pada sisi itu areamya berkebun dan banyak pohon, baik pohon pisang hingga pohon jengkol. Di balik pagar yang berlumut ada beberapa pohon pisang.
Genap Seribu cepat berlari di antara pepohonan. Setelah tengak ke kanan dan tengok ke kiri, ia lalu melompat ke atas tembok, tapi berlindung di belakang tiga pohon pisang yang berkumpul berpelukan.
Dari posisi itu, Genap Seribu bisa melihat keramaian di sekitar rumah besar dan mewah tersebut. Ada banyak prajurit berseragam baju biru terang. Namun, prajurit itu tersebar di lingkungan dalam, termasuk tidak jauh dari posisi Genap Seribu bersembunyi.
Sementara orang-orang non prajurit lebih banyak berkumpul di sisi belakang rumah, tepatnya di dekat tempat mandi.
Dari sudut intipnya, Genap Seribu bisa melihat seorang wanita bertelanjang bahu, tapi tidak bertelanjang dada, sedang duduk pada sebuah kursi pendek. Terlihat kulitnya putih bersih seperti cangkang telur ayam kampung. Rambutnya terurai dan dia dikelilingi oleh kaum ibu, salah satunya memegang gayung dari batok kelapa. Pada jarak tertentu, terlihat Adipati Siluman Merah dan keluarga besar berdiri berkumpul menyaksikan prosesi siraman kembang delapan rupa.
Namun sayang, wanita yang hendak dimandikan itu posisi duduknya membelakangi sudut bidik mata Genap Seribu.
“Itu pasti Bening Mengalir,” ucap Genap Seribu rilih. Kondisinya yang tidak berbaju, tapi bercelana, membuatnya tidak begitu mencolok. Lalu ucapnya tiba-tiba sambil mengerenyit, “Aduh, kenapa jadi terdesak kencing?”
Karena dalam misi darurat, Genap Seribu terpaksa kencing di atas tembok batu itu. Air seninya meluncur melengkung jatuh di daun pisang kering.
Treeet!
Terdengar suara timpaan kucuran air pada daun oleh seorang prajurit yang berjaga di tempat terdekat. Prajurit itupun menengok dengan kening berkerut.
Melihat hal itu, terpaksa Genap Seribu menutup keran bawahnya secara mendadak dan menahannya.
Ketika si prajurit hendak mendekati tiga pohon pisang yang tumbuh rapat, tiba-tiba seorang prajurit lain datang setengah berlari kepadanya.
“Karno, ayo cepat, kita lihat Putri Adipati dimandikan air kembang. Mumpung hanya pakai kain sarung! Hahaha!” kata prajurit yang baru datang kepada prajurit yang bernama Karno.
“Memang boleh kita lihat?” tanya Karno seraya tersenyum sumringah.
“Iya. Ayo!” jawab temannya lalu menarik pergelangan tangan Karno.
Seperti mau diajak ke kamar asmara, Karno menurut saja.
“Aaah!” desah Genap Seribu ketika ia kembali membuka keran bawahnya, menghabiskan sisa air seninya yang di-pending sebentar. Sepasang matanya sampai menyayu karena menikmati kelegaan.
Setelah hajat mendesaknya selesai, Genap Seribu kembali memandang sekitar sambil berpikir sesuatu.
__ADS_1
Genap Seribu akhirnya menemukan ide di dalam pikirannya. Ia kemudian melompat turun, masuk ke dalam lingkungan rumah itu.
“Aduh, kenapa mendaratnya di air kencingku sendiri?” sesal Genap Seribu karena ia mendarat di daun pisang kering, tempat air seninya ditampung, akibatnya kakinya terciprat.
Seet!
Genap Seribu lalu menggunakan kesaktiannya untuk menebas satu batang bawah pohon pisang memakai tangannya. Gedebog pisang itu tidak terpotong total, tetapi menyisakan sedikit yang tidak tertebas.
Ternyata maksud Genap Seribu, penyisaan sedikit itu bertujuan agar gedebog tidak langsung tumbang, tetapi tetap berdiri, kemudian dia tinggal mendorongnya.
Gedebog itu tumbang ketika didorong. Tumbangnya ke arah bangunan rumah dan bagian atas pohon pisang menghantam tepian genteng.
Prakr!
Terdengar suara genteng yang rusak lalu jatuh dan pecah di tanah.
Genap Seribu buru-buru melompat naik ke atas genteng dengan ilmu peringan tubuhnya. Namun, maksud dari rencana Genap Seribu itu tidak berhasil, yaitu untuk mengalihkan perhatian keramaian di rumah itu.
Rupanya tidak ada yang mendengar suara kerusakan itu.
“Sial!” maki Genap Seribu.
Wuss!
Bluar!
Satu ledakan keras terjadi menghancurkan batang pohon mangga yang tumbuh di halaman belakang rumah.
Suara itu mengejutkan Adipati Siluman Merah dan semua orang yang mendengarnya. Hal itu terjadi saat putri Adipati Siluman Merah mendapat siraman pertama dari air kembang delapan rupa.
Bsruak!
Mereka serentak memandang ke arah atas, di mana mereka melihat pohon mangga bergerak tumbang tanpa melihat apa yang terjadi dengan batang bawahnya.
Adipati Siluman Merah dan beberapa orang pendekarnya segera berkelebat ke bagian halaman belakang rumah, termasuk Kepala Keamanan Kadipaten Jalur Bukit yang bernama Perwira Serak Barbaya. Para prajurit pun segera berhamburan menuju halaman belakang,
Suara ledakan keras dan tumbangnya pohon mangga, membuat mereka sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sepertinya maksud Genap Seribu berhasil. Dalam waktu cepat, keramaian berpindah dari sekitar tempat mandi ke halaman belakang yang sebenarnya tidak begitu jauh. Sehingga yang tersisa di tempat penyiraman calon pengantin hanya para kaum wanita.
Ketika orang-orang yang berilmu dan para prajurit bergerak ke halaman belakang, tiba-tiba sosok Genap Seribu berkelebat dari atas atap dan langsung mendarat tepat di belakang putri Adipati Siluman Merah.
__ADS_1
Semua kaum ibu, termasuk istri sang adipati yang melakukan penyiraman sangat terkejut melihat kedatangan Genap Seribu yang lancang.
“Aaak! Ada setan botaaak!” jerit istri sang adipati.
Tuk tuk tuk!
Sebelum calon pengantin menengok ke belakang untuk melihat siapa yang datang, totokan Genap Seribu telah bersarang pada tubuhnya. Putri Adipati itupun diam mematung.
Tanpa sungkan atau berpikir dua kali lagi, Genap Seribu langsung meraih tubuh putri Adipati dan memanggulnya.
Jeritan istri Adipati yang kencang, mengejutkan Adipati Siluman Merah dan para prajurit yang baru tiba di halaman belakang. Mereka kembali ramai-ramai ke tempat siraman dengan cara yang berbeda-beda.
Adipati Siluman Merah langsung berkelebat cepat kembali ke tempat siraman.
“Anakku diculik, Kakang!” jerit istri Adipati.
“Hei, berhenti!” teriak Adipati Siluman Merah meneriaki Genap Seribu yang telah berkelebat naik ke atap.
Baru saja Adipati Siluman Merah hendak mengejar Genap Seribu, tiba-tiba istrinya jatuh terkulai tidak sadarkan diri. Untung seorang ibu lain sigap menahan jatuh tubuh nyonya besar. Terpaksa Adipati Siluman Merah menahan niatannya saat tahu istrinya tercinta jatuh pingsan.
“Ibuuu!” pekik seorang gadis cantik jelita berlari keluar dari pintu dapur. Wanita itu tidak lain adalah Bening Mengalir, wanita yang selama beberapa bulan ini digila-gilai oleh Genap Seribu.
Bening Mengalir cepat mendapati ibunya dengan rasa cemas.
Jika Bening Mengalir ada di situ, lalu siapa gadis yang sedang dipanggul dibawa pergi oleh Genap Seribu?
Puluhan prajurit segera berlarian mengejar menuju ke gerbang depan.
Genap Seribu dengan berani berkelebat lewat pagar depan. Sejumlah prajurit yang berjaga di luar pagar halaman depan, muncul menghadang Genap Seribu.
Wusss!
Satu gelombang angin pukulan dilepaskan oleh Genap Seribu. Para prajurit itu tidak bisa menghindar, sehingga mereka dihempaskan seperti sampah.
Setelah itu, dengan mudahnya Genap Seribu berlari kencang keluar dari halaman.
“Kejaaar!” teriak keras Perwira Serak Barbaya.
Puluhan prajurit kadipaten berlarian mengejar Genap Seribu yang terlalu cepat bagi mereka.
“Tangkap penculik itu!” teriak Serak Barbaya lalu berlari dan berkelebat di jalan besar depan rumah Adipati Siluman Merah.
__ADS_1
Keramaian inilah yang menarik perhatian tiga pendekar tua yang sedang makan di dalam kedai besar seberang jalan. Mereka adalah Kenyot Gaib, Pangeran Bajing Tua dan Tengkak Bande. (RH)