
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Demi mengamankan harta jarahannya, Komandan Bengal Banok mengamuk dengan pedang hitam di tangan kanan dan tinju maut di tangan kiri.
Satu demi satu prajurit dari Pasukan Ular Gunung tumbang dengan luka pedang melayangkan nyawa dan tinju yang meremukkan tulang.
Set set set! Tak tek tek ktek!
Bahkan serangan panah dari Pasukan Ular Gunung tidak ada yang mampu menancapi tubuh lelaki separuh baya itu. Gerakan pedangnya dalam menangkis begitu cepat.
Sementara Pasukan Pengawal Prabu harus kewalahan dan berguguran dengan badan berbekal uang kepeng hasil jarahan.
Meski Pasukan Pengawal Prabu memiliki kwalitas lebih tinggi dibandingkan prajurit Pasukan Ular Gunung, tetapi kalah jumlah membuat mereka harus ikhlas hati melepas nyawa. Pasukan Ular Gunung terlalu banyak.
Sempitnya arena membuat mayat bertumpuk-tumpuk.
“Lepaskan pemimpin pasukan itu!” teriak satu suara perempuan tiba-tiba yang datang dari arah keputren.
Terkejut Pasukan Ular Gunung melihat siapa yang datang, tapi kemudian gembira karena itu adalah junjungan mereka yang cantik jelita. Jika Permaisuri Ginari sudah turun tarung, duduk ganteng menonton adalah perkara terbaik yang harus dilakukan. Sambil menonton pertarungan hebat, mereka bisa menikmati kecantikan sang permaisuri yang sudah manis meski tanpa madu dan tebu.
Lebih terkejut lagi Komandan Bengal Banok saat melihat kedatangan Permaisuri Ginari yang seperti burung dan sempat berputar di atas kepalanya, seperti burung bangkai yang menunggu kematian mangsanya.
Bengal Banok sudah memandang suram masa depannya karena dia tahu siapa yang melayang di atas kepalanya. Namun, sudah kepalang tanggung. Dia sudah terbukti sebagai perampok dalam Istana dengan barang bukti satu muatan harta di kereta kuda. Tidak ada jalan lain selain perlawanan. Jika menyerah pun, pasti akan dihukum mati.
“Hiaaat!” teriak Bengal Banok sambil melompat tinggi dari atas keretanya dan mengibas-ngibaskan pedangnya, mencoba mencabik-cabik tubuh indah Permaisuri Ginari.
Tas tas tas …!
Dalam posisi tubuh melayang seperti layangan tidak pakai putus, Permaisuri Ginari menangkis semua serangan pedang dengan piringan sinar merah bening yang menempel di telapak tangan kanannya.
Sementara itu, dari arah keputren bermunculan para Pendekar Pengawal Bunga yang berlari cepat di udara. Di belakang mereka berlari pasukan berkuda.
Mendapat lawan hanya setingkat prajurit, bergembiralah para Pendekar Pengawal Bunga, seperti petani siap memanen.
Ketika Komandan Bengal Banok bergerak turun kembali, Permaisuri Ginari yang berposisi di atas justru bisa mendorong turun tubuhnya meluncur mengejar Bengal Banok, seolah-olah wanita itu sedang berenang di dalam air yang bisa bergerak ke mana saja.
Diikuti terus dari atas, Bengal Banok memutuskan meninjukan tangan kirinya yang bersinar merah dan bertenaga sakti tingkat tinggi.
Joss! Brakr!
Namun, Permaisuri Ginari menghadang tinju maut itu dengan piringan sinar merah bening yang sama dengan tangan kirinya.
Hasilnya, bagian kereta kuda yang Bengal Banok pijak tertekan keras hingga patah dan hancur, membuat badan kereta jatuh miring. Akibatnya, muatan kereta kuda yang banyak terperosok jatuh.
Sreekr!
Satu peti jatuh dan tutupnya terbuka, membuat mutiara di dalamnya terburai di tanah.
“Hartaku!” pekik Bangol Banok terkejut nyaris jantungan karena melihat harta jarahannya nyaris rusuh sendiri.
__ADS_1
Sementara Permaisuri Ginari terdorong kembali naik ke udara tanpa menderita luka apa pun.
Seeet! Bluar!
Setelah terdorong naik kembali mengudara, Permaisuri Ginari menyentilkan jari kelingkingnya melepaskan sinar kuning kecil sebesar kuku dari ilmu Sentilan Peri Cantik. Bengal Banok bereaksi cepat dengan melompat menjauh dari kereta kuda yang masih dipijaknya.
Seperti terhantam rudal tempur, kereta kuda itu hancur meledak ke mana-mana, bahkan kepeng yang ada di muatan berhamburan yang kemudian menciptakan hujan kepeng lokal.
Terkejut para prajurit dari Pasukan Ular Gunung mendapati adanya hujan kepeng.
“Hujan kepeng, hujan kepeng!” teriak para prajurit yang sedang bertempur.
Beberapa prajurit segera berebut memunguti kepeng yang banyak berserakan.
“Jangan tergiur kepeng! Abaikan kepeng!” teriak seorang komandan Pasukan Ular Gunung yang melihat sebagian pasukannya justru berebut memungut kepeng. Mungkin mereka pikir itu acara saweran koin. “Jika kalian menang, hadiah kepeng menanti!”
Crass! Crass! Crass!
“Akk! Akh! Akk!” jerit beberapa prajurit Pasukan Ular Gunung yang lalai karena memunguti kepeng. Mereka menjadi sasaran empuk bagi prajurit Pasukan Pengawal Prabu.
“Jangan lengah, Prajuriiit!” teriak keras sang komandan yang tidak mau disebutkan namanya itu karena alasan sibuk berperang.
Dia segera merangsek melindungi para prajurit pasukannya yang lengah. Para prajurit Sanggna yang teguh hati segera mengikuti gerakan sang komandan dan menyadarkan kelalaian rekan-rekan mereka.
Setelah itu, tidak ada lagi prajurit yang peduli dengan kepeng-kepeng yang berserakan, mereka kembali fokus.
“Aku menyeraaah! Huuu …!” teriak orang dekat Bengal Banok yang bernama Tunggakan. Dia turun berjongkok sambil membuang pedangnya kemudian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Ia pun menangis ketakutan.
“Tidak ada ampun bagi pemberontak! Hiaaat!” teriak seorang prajurit Sanggana Kecil sambil datang berlari dengan pedang berkelebat hendak memancung leher Tunggakan.
Bak!
“Hukh!” keluh prajurit Sanggana Kecil itu ketika tiba-tiba sesosok pendekar berpakaian biru gelap menerjang dadanya, membuatnya terjengkang.
Sosok yang baru saja menendang si prajurit adalah seorang pemuda berwajah tegas bermata sipit. Ia bertubuh kurus tetapi berotot kekar dan keras. Dia adalah Pendekar Pengawal Bunga yang bernama Teriak Cadas.
“Apakah kau tidak mendapat perintah, hah?! Yang menyerah tahan, yang melawan bunuh!” bentak Teriak Cadas dengn mata mendelik. Namun, semendelik-deliknya pemuda itu, tetap saja matanya sipit.
“Maafkan aku, Pendekar. Aku lupa,” ucap prajurit itu sambil menghormat.
“Aku menyerah!” teriak satu orang personel Pasukan Pengawal Prabu lagi sambil turun berjongkok di dekat Tunggakan.
Tunggakan pun terhibur, karena ternyata dia tidak sendirian.
“Kami menyerah!” teriak beberapa personel Pasukan Pengawal Prabu lainnya. Mereka adalah orang-orang yang yakin bahwa mereka tidak akan selamat jika terus melakukan perlawanan.
Sementara itu, Komandan Bengal Banok ingin melarikan diri dengan berkelebat dan turun di tengah-tengah prajurit Pasukan Ular Gunung yang menyemut.
Komandan Bengal Banok langsung disambut oleh serangan banyak pedang.
__ADS_1
Wuss!
Bengal Banok melepaskan segelombang angin keras yang membuat prajurit di sekelilingnya terdorong berjengkangan dan saling tindih.
Ketika Bengal Banok hendak melesat ke arah tirai tumbuhan rambat yang sudah terpangkas, dia menengok ketika sudut pandangnya menangkap pergerakan bayangan hitam. Ternyata, Permaisuri Ginari sedang terbang mengejarnya.
Wusss! Bset! Stang!
Buru-buru Bengal Banok melepaskan segulung angin keras menyongsong kedatangan Permaisuri Ginari. Namun, terlalu banyak cara bagi Ginari untuk menangkal serangan lawannya.
Ia mengapakkan tangan kanannya dengan jari-jari lurus. Satu tebasan sinar tipis putih melati membelah angin serangan yang tidak terlihat.
Bengal Banok cepat menamengi dirinya dengan lintangan pedangnya menangkis ilmu Tebasan Peri Penjagal. Dan ketika sinar putih tipis itu menebas pedang Bengal Banok, lelaki itu langsung terlempar keras dengan pedang yang patah tiga bagian.
Buk! Tsuk!
“Akk!” jerit Bengal Banok ketika ia jatuh keras di tengah-tengah Pasukan Ular Gunung bertombak.
Satu prajurit langsung menusuk perut Bengal Banok. Komandan itu cepat bergerak menghindar. Meski perutnya terselamatkan, tapi justru paha kanannya yang tertusuk.
“Jangan bunuh!” teriak Permaisuri Ginari cepat.
Tsuk!
“Aak …!” jerit tinggi dan panjang Bengal Banok lagi.
Ternyata masih ada prajurit yang tidak patuh, sehingga tusukan tombaknya menembus lengan kiri Bengal Banok.
“Tahan! Jangan bunuh!” teriak seorang komandan pasukan segera maju dan merentangkan kedua tangannya, mencegah pasukan melanggar perintah sang permaisuri.
Pasukan pun berhenti dan bergerak mundur beberapa tindak untuk memberi ruang bagi Komandan Bengal Banok yang bangkit sambil menahan sakit yang pedih. Darah mengucur deras dari dua lubang luka tusukan tombak pada paha dan lengannya.
“Ringkus!” perintah komandan Pasukan Ular Gunung kepada anak buahnya.
Sess!
Namun, sebelum para prajurit bergerak meringkus, Bengal Banok telah menyalakan kedua tangannya dengan sinar biru berpijar.
Clap!
Ces ces ces!
“Akk! Ak! Ak!”
Tiba-tiba sosok Permaisuri Ginari muncul satu jangkauan di depan Bengal Banok dengan kuku-kuku telah bersinar kuning. Dengan gerakan tangan yang nyaris tidak terlihat, Permaisuri Ginari menotok kedua lengan dan dada Bengal Banok.
Bengal Banok menjerit-jerit lagi ketika kuku-kuku bersinar sang permaisuri menotoknya.
Ilmu Cubitan Peri itu langsung membuat kedua lengan Bengal Banok kehilangan tenaga dan fungsi. Dua sinar biru yang sempat muncul di tangan Bengal Banok seketika padam karena suplai energi bahan bakarnya terhenti. (RH)
__ADS_1