
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
“Hormat kami, Gusti Prabu!” ucap Mahapatih Duri Manggala dan Panglima Tarikurat sambil berlutut menghormat kepada Prabu Banggarin yang masih terbelenggu ikatan tali sinar merah.
Alangkah terkejutnya Prabu Banggarin ketika Mahapatih dan Panglima keluar dari dalam rumah dalam kondisi baik-baik saja, seolah-olah tidak sedang terjadi sesuatu yang genting di Ibu Kota dan Istana.
“Kalian …,” ucap Prabu Banggarin bergetar dan tercekat. Ia sangat marah melihat situasi itu, tetapi dia tetap butuh penjelasan. “Apakah ini semua lelucon?”
“Ampuni hamba, Gusti Prabu. Hamba hanya mengikuti saran dari Gusti Mahapati!” seru Panglima Tarikurat sambil cepat bersujud karena memang merasa bersalah.
“Mahapatiiih, bisa kau jelaskan?!” teriak Prabu Banggarin gusar bukan main kepada Mahapatih Duri Manggala.
Namun, sebelum Mahapatih Duri Manggala menjawab, Permaisuri Kerling Sukma lebih dulu menyela.
“Biarkan Domba Hidung Merah yang menjelaskan, kenapa Gusti Prabu harus kami tangkap dan mengeluarkan Gusti dari dalam Istana,” kata Permaisuri Kerling Sukma. Lalu perintahnya kepada kedua punggawa itu, “Bangunlah kalian berdua!”
Mahapatih Duri Manggala dan Panglima Tarikurat segera bangkit berdiri. Giliran Domba Hidung Merah yang maju untuk melaksanakan perannya.
“Maafkan hamba, Gusti Prabu,” hormat kakek gagah bertubuh besar itu. “Hamba Domba Hidung Merah, Kepala Desa Bulukempis. Gusti Ratu Wilasin telah datang ke desaku, Gusti Prabu ….”
“Apa?” kejut Prabu Banggarin karena cucu kesayangannya, yang sangat ia khawatirkan nasibnya, disebut. “Kau tahu apa yang terjadi dengan cucuku, Domba?”
“Karena itulah Prabu Dira mengirimkan pasukan untuk menjemput Gusti Prabu agar keluar dari Istana,” kata Domba Hidung Merah. “Sebenarnya aku tidak mau terlibat dalam masalah yang dialami oleh Gusti Ratu. Namun, Gusti Ratu dalam perlindungan Gusti Permaisuri Geger Jagad dan sedang ikut bersama Gusti Permaisuri. Gusti Permisuri memerintahkan aku untuk menyampaikan pesan rahasia kepada Gusti Prabu Dira, yaitu memberi tahu bahwa ada pemberontak di dalam Istana Baturaharja, karena itulah Gusti Ratu pergi jauh dari Istana ….”
“Siapa pemberontak yang kau maksud, Domba?” tanya Prabu Banggarin lagi memotong.
“Berdasarkan apa yang disampaikan oleh Gusti Ratu kepada Gusti Permaisuri Geger Jagad, lalu disampaikan kepadaku yang kemudian aku sampaikan kepada Gusti Prabu Dira, pemberontak itu bernama Komandan Kumbang Draga dan Komandan Bengal Banok,” jawab Domba Hidung Merah yang agak bertele-tele karena harus berputar tujuh keliling lebih dulu.
“Appa?!” kejut Prabu Banggarin sangat terkejut. Sampai-sampai sepasang mata tuanya ingin sekali melompat keluar dari rongganya. Namun jangan, sebab itu berbahaya, terlebih pada masa ini belum ada cara pengobatan operasi mata.
“Kumbang Draga, Bengal Banok, benar-benar ayam berbulu burung!” desis Prabu Banggarin geram bukan main. Lalu teriaknya, “Lepaskan belengguku ini! Biarkan aku kembali ke Istana dan membunuh Bengal Banok keparat itu!”
“Maafkan, Gusti Prabu. Hanya Permaisuri Tangan Peri yang bisa melepas belenggu itu. Aku harap Gusti Prabu dapat bersabar,” ujar Permaisuri Kerling Sukma.
“Kecurigaanku benar,” ucap Mahapatih Duri Manggala.
__ADS_1
“Jika kau telah curiga, lalu kenapa kau tidak memberi tahu kepadaku, Mahapatih?” tanya Prabu Banggarin jadi sewot.
“Menurutku, justru itu akan berbahaya bagi Gusti Prabu karena ularnya selalu berada di dekat Gusti,” jawab Mahapatih Duri Manggala.
“Lalu apa yang kalian rencanakan, Gusti Permaisuri?” tanya Prabu Banggarin dengan nada yang mulai lembut.
“Kami tidak mengkhawatirkan Gusti Ratu Wilasin karena berada di dalam lindungan Permaisuri Geger Jagad. Yang kami utamakan adalah keselamatan Gusti Prabu. Terpaksa kami menciptakan sandiwara perang untuk mengelabui para pemberontak itu. Sebab kami tidak tahu pasti sekuat dan segurita apa kekuatan pemberontak di dalam Istana. Kini Gusti Prabu telah kami jauhkan dari para pemberontak itu, jadi tinggal membersihkan Istana dari tikus-tikus beracun,” tutur Permaisuri Kerling Sukma.
“Maafkan aku, Gusti Permaisuri,” ucap Prabu Banggarin lirih sambil jatuh berlutut di depan Permaisuri Kerling Sukma. “Aku telah berpikir tidak jernih dalam menghadapi kedatangan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil.”
“Tidak apa-apa, Gusti Prabu. Bangkitlah!” kata sang permaisuri cepat.
Prabu Banggarin segera bangkit dengan agak susah payah karena sedang terbelenggu. Domba Hidung Merah segera membantu Prabu Banggarin bangkit.
“Lagipula, apa pun keputusan yang Gusti Prabu ambil sebelumnya, sudah diperhitungkan oleh Menteri Perang Sanggana Kecil,” tandas Permaisuri Kerling Sukma merujuk kepada Permaisuri Getara Cinta.
“Aku telah memerintahkan Kumbang Draga untuk mengejar cucuku, tapi ternyata dia adalah ular berbisanya. Pantas saja Gusti Ratu segera meninggalkan Istana tanpa bertemu aku lebih dulu. Namun untuk Bengal Banok, aku harus menyaksikan sendiri kepalanya terpisah dari leher,” kata Prabu Banggarin.
“Siapa kau, Nisanak?” Tiba-tiba terdengar suara pertanyaan oleh salah satu Pendekar Pengawal Bunga di halaman kepada seorang wanita.
Orang yang ditanyai adalah seorang gadis muda berpakaian putih dengan warna jingga pada bagian tengahnya, secantik telur asin dibelah. Wanita cantik itu berpenampilan rapi dengan rambut panjang sepunggung yang dihias hanya dengan satu ikatan pita kuning. Di tangannya ada pedang berwarna cokelat gelap berhias ukiran indah.
“Nyai Kisut,” ucap Prabu Banggarin dan Mahapatih Duri Manggala pelan bersamaan.
“Aku Nyai Kisut, pengawal kepercayaan Gusti Ratu Wilasin,” jawab gadis cantik itu.
“Kau Nyai Kisut yang keriput itu?” tanya Tangpa Sanding terkejut, seakan tidak percaya. Dia segera menghampiri gadis yang mengaku sebagai Nyai Kisut.
“Benar,” jawab Nyai Kisut tanpa senyum.
“Tapi, tapi sekarang kenapa bisa secantik ini?” tanya Tangpa Sanding dengan mata berbinar.
“Jika benar dia adalah Nyai Kisut, lalu kenapa baru sekarang kau berbahagia? Bukan ketika dia masih keriput tua?” tanya Nyi Mut segera turun andil untuk mencegah tingkah mata keranjang Tangpa Sanding.
“Hahaha! Wajar jika aku terpukau, sebab dulu dia adalah nenek-nenek manis,” kilah Tangpa Sanding.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa para Pendekar Pengawal Bunga lainnya mendengar perkataan Tangpa Sanding.
“Biarkan Nyai Kisut masuk!” perintah Permaisuri Kerling Sukma.
Perintah itupun membuat para pendekar itu tidak berani mengusik Nyai Kisut. Mereka memberi jalan di mana kaum batangan melepas dengan senyuman.
“Adduh!” keluh Gemara yang tiba-tiba jatuh terduduk, membuat pahanya yang masih putih mulus tamasya ke mana-mana.
Tangpa Sanding, Hantam Buta, Bayu Pratama, dan Legam Pora sontak menghampiri wanita bertubuh indah itu dengan ekspresi wajah yang cemas.
“Ada apa, Gemara Sayang?” tanya Tangpa Sanding, tapi tidak berani menyentuh. Jika menyentuh, bisa repot urusannya karena Gemara punya motto hidup “Dilihat tidak bayar, disentuh masuk kubur”.
“Mana yang sakit, Manis? Biar Kakang urut pijit,” kata Legam Pora sambil berjongkok mendekatkan wajah hitamnya kepada Gemara, tapi tidak berani menyentuh pula.
“Jika diizinkan, biar aku yang menggendong. Sampai pulang ke Sanggana Kecil aku pun sanggup,” kata Bayu Pratama, pendekar muda yang terbilang tampan dengan rambut keriting dikuncir. Ia suka berpakaian warna jingga, tapi tidak secantik telur asin dibelah karena tidak ada warna putihnya. Ia berbekal senjata rantai yang ujungnya ada semodel mata kail raksasa.
“Tidak usah, terima kasih. Aku hanya cari perhatian,” kata Gemara sambil bangkit berdiri tanpa senyum.
“Hahahak!” tawa para Pendekar Pengawal Bunga yang perempuan.
“Ampuni hamba, Gusti Prabu!” ucap Nyai Kisut sambil turun bersujud kepada Prabu Banggarin. Ia telah menduga bahwa dirinya pasti disalahkan karena dalam sepekan kekisruhan yang terjadi, dia tidak melakukan penampakan.
“Kenapa kau justru ada di sini dan ratumu ada jauh di selatan?” tanya Prabu Banggarin.
“Ampuni hamba, Gusti Prabu. Hamba memang sempat terpisah dengan Gusti Ratu, tapi hamba telah meminta guruku Raja Akar Setan untuk mengawal Gusti Ratu yang bersama Gusti Permaisuri Geger Jagad,” jelas Nyai Kisut masih dalam kondisi bersujud.
“Lalu apa yang kau lakukan?” tanya Prabu Banggarin masih penasaran.
“Hamba mengintai pergerakan Komandan Kumbang Draga, Gusti Prabu. Dan hamba menyaksikan pergerakan mencurigakan dari Komandan Kumbang Draga ketika meninggalkan Ibu Kota ….”
“Apa itu?” potong Prabu Banggarin cepat.
“Ketika meninggalkan Ibu Kota, Komandan Kumbang Draga dan pasukannya pergi ke kediaman Adipati Rugi Segila di Kadipaten Kedaweng. Namun, hamba tidak tahu maksud dari kunjungan itu. Setelah itu, barulah Komandan Kumbang Draga pergi mengejar Gusti Ratu ke selatan,” jelas Nyai Kisut.
“Apakah kerabat jauhku punya hubungan dengan kasus pemberontakan ini?” ucap Prabu Banggarin kepada dirinya sendiri. Lalu katanya kepada Nyai Kisut, “Bangunlah, Nyai Kisut!”
__ADS_1
Gadis cantik itu segera bangkit. Setelah itu, dia turun bersujud kepada Permaisuri Kerling Sukma. Meski sudah lama tidak berjumpa, tetaplah Nyai Kisut merasa berutang nyawa kepada Prabu Dira Pratakarsa Diwana dan para permaisurinya. (RH)