
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Kerajaan Lampara benar-benar merasa dilanda bencana bertubi-tubi. Setelah separuh Istana Puncak hangus terbakar, kemudian berurusan dengan Dewi Ara dan pengikutnya, lalu Putri Uding Kemala diculik, dan yang terbaru adalah dibunuhnya Pangeran Bangir Kukuh tanpa diketahui siapa yang membunuhnya.
Sayangnya, saat itu belum ada biro detektif atau agen investigasi untuk bisa dimintai jasa penyelidikannya. Raja Bandelikan dan Permaisuri Turi Kumala yang dalam kondisi sangat berduka, menyerahkan penyelidikan kepada Panglima Kumbiang dan para pejabat lainnya.
Dugaan penyelidikan bahwa pelaku memasuki kamar Pangeran Bangir Kukuh lewat pintu rahasia yang ada di kamar tersebut. Meski mereka mengejar pelaku lewat jalan rahasia, hasilnya tetap zero. Bahkan muncul asumsi bahwa pelaku bukan orang jauh karena tahu keberadaan jalan rahasia di kamar tersebut.
Apakah mungkin Pangeran Rebak Semilon? Tidak mungkin. Setahu mereka, Pangeran Rebak Semilon sedang ikut kapal Permaisuri Dewi Ara.
Apakah mungkin Putri Uding Kemala? Tidak mungkin. Putri Uding Kemala adalah putri biasa yang tidak memiliki kesaktian atau pandai menggunakan pedang.
Atau Keluarga Kerajaan Lampara lainnya? Namun, mereka tidak bisa dituduh tanpa adanya bukti dan saksi bahwa merekalah pelakunya.
Dalam waktu singkat, berita kematian Pangeran Bangir Kukuh tersebar turun ke seluruh desa hingga ke Pelabuhan Manisawe. Gemparlah Pulau Gunung Dua.
Hampir semua prajurit dan sumber daya manusia dikerahkan untuk mencari pembunuh yang tidak bisa mereka pastikan jati dirinya. Jadi, meski pencarian dilakukan di seluruh pelosok Pulau Gunung Dua, hasilnya seperti mencari sehelai jerami di tumpukan jarum.
Seiring kegemparan mewabah, kapal Bajak Laut Malam merapat di Pelabuhan Manisawe menjelang magrib.
Sebelum ada yang turun dari kapal hitam, Syahbandar Pasir Geni lebih dulu naik ke kapal tersebut untuk menemui Dewi Ara, mengabarkan bahwa Pangeran Bangir Kukuh telah dibunuh oleh orang yang tidak diketahui.
“Apa? Kakak Pangeran! Hiks hiks hiks …!” pekik Putri Uding Kemala terkejut lalu menangis kencang.
Tadayu segera memeluk kekasihnya untuk menenangkannya dan menjadi kayu sandaran yang tepat.
Setelah mendengar cerita Syahbandar, mereka semua tidak berkomentar, tetapi di dalam hati mereka bisa menerka siapa pelakunya.
Maka sebelum turun dari kapal dan pergi naik ke Gunung Ibu, Dewi Ara memanggil Putri Uding Kemala, Tadayu dan Gandang Duko. Yang ada di kabin kapal itu hanya Permaisuri Dewi Ara, Putri Uding Kemala, kedua pemuda Pulau Tujuh Selir, Tikam Ginting, Eyang Hagara, dan Bewe Sereng.
“Kalian bertiga pasti bisa menerka siapa pembunuh Pangeran Lampara,” terka Dewi Ara.
“Pangeran Rebak Semilon dan adikku Putri Gunira,” jawab Tadayu.
Putri Uding Kemala yang hanya diam dengan masih menyisakan isak tangis, tidak terlihat terkejut. Itu artinya dia pun telah menduga.
__ADS_1
“Kedatangan kalian ke Istana Puncak sangat tepat untuk disalahkan dan dituduh sebagai pelaku pembunuhan. Jelas itu akan mengacaukan rencana yang kalian susun. Aku hanya menyarankan, jika kalian ingin semuanya kembali baik, kemudian Pulau Gunung Dua dan Pulau Tujuh Selir bisa berndamai dengan pernikahan kalian, maka rundingkan sebuah rencana baru. Tugasku hanya membawa kalian ke depan Raja Bandelikan tanpa turut campur dengan masalah yang sedang terjadi. Bukan aku yang akan naik membawa kalian, tetapi Pangeran Bewe Sereng dan Tikam Ginting yang akan mengawal kalian ke atas. Setelah kami menyerahkan kalian, selanjutnya urusan kalian,” tutur Dewi Ara.
“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Tadayu.
Maka, ketiga orang itupun berunding untuk mengatur siasat. Dalam momentum ini, Tadayu harus membujuk Putri Uding Kemala agar mau menjaga rahasia dan bisa bekerja sama. Jika tidak, masalah bisa semakin runyam.
Agak lama mereka berunding hingga akhirnya ketiganya yakin bisa menghadap Raja dan Permaisuri dalam kondisi Kerajaan sedang kacau.
Setelah melaporkan rencana yang mereka sepakati kepada Dewi Ara, maka Bewe Sereng dan Tikam Ginting mengawal Tadayu, Gandang Duko dan Putri Uding Kemala naik ke Gunung Ibu.
Sekedar informasi, Tadayu dan Putri Uding Kemala sudah berpakaian selayaknya seorang pangeran dan putri. Tadayu berpakaian rapi putih-putih seperti seragam upacara bendera dan Putri Uding Kemala berpakaian warna jingga. Keduanya seperti telur asin dibelah jika berjalan berdampingan.
Ketika mereka tiba di Istana Puncak, mereka langsung disambut dengan kepungan puluhan prajurit yang dipimpin langsung oleh Panglima Kumbiang. Saat itu malam baru saja datang tanpa sambutan.
“Tahan, Panglima!” seru Bewe Sereng. “Kami datang dengan damai!”
Agak jauh di belakang Panglima Kumbiang muncul Raja Bandelikan dan Permaisuri Turi Kumala di bawah penerangan dua obor besar. Keduanya memasang wajah marah. Itu terjadi karena mereka menaruh kecurigaan besar kepada rombongan itu.
“Ibundaaa!” pekik Putri Uding Kemala sambil berlari menerobos pengepungan.
“Gusti Prabu, Gusti Permaisuri Dewi Ara telah menepati janjinya dengan membawa pulang Putri Uding Kemala dengan selamat. Kedua penculiknya pun telah kami bawa ke hadapan Gusti Prabu. Maka selesailah penunaian janji junjungan kami. Dan kami mohon undur diri!” seru Tikam Ginting. Pengepungan membuat jarak mereka agak jauh dari posisi Raja Bandelikan.
“Tunggu!” seru Raja Bandelikan, membuat Tikam Ginting dan Bewe Sereng urungkan niat untuk pergi. “Kenapa kedua penjahat itu tidak dibelenggu?”
“Karena mereka bukan penjahat. Mereka hanya dua pemuda yang sedang mengidap cinta gila,” sahut Tikam Ginting.
Wusss!
Tikam Ginting lalu berbalik dan langsung mengibaskan tangan, melepas angin bertenaga dalam tinggi yang menerbangkan sejenak para prajurit pada arah itu.
Selanjutnya, Tikam Ginting berkelebat cepat meninggalkan tempat itu menuju ke kegelapan malam.
Clap!
Bewe Sereng pun lenyap begitu saja seperti setan, membuat pasangan penguasa dan pasukannya mendelik kaget.
__ADS_1
Tinggallah Tadayu dan Gandang Duko yang berada di dalam pengepungan prajurit. Namun, jelas sekali terlihat bahwa kondisi itu tidak mengintimidasi jantung mereka. Keduanya berdiri dengan tenang tanpa memasang kuda-kudaan untuk bertarung.
“Tangkap kedua penculik itu!” teriak Raja Bandelikan memberi perintah kepada pasukannya.
Namun, sebelum Panglima Kumbiang berperintah kepada pasukannya, masih ada kendala.
“Jangan!” teriak Putri Uding Kemala kencang. “Kakak Tadayu adalah calon suamiku!”
“Appa?!” kejut Raja Bandelikan dan istrinya.
“Maafkan hamba, Paduka Raja. Kami berdua adalah pangeran dari Pulau Tujuh Selir!” seru Tadayu.
“Appa?!” Kembali pasangan suami istri itu terkejut, bahkan menunjukkan ekspresi ketidaknyamanan.
“Aku mencintai putrimu. Karena mungkin aku tidak akan diterima sebagai pangeran dari Pulau Tujuh Selir, jadi aku menculik Putri Uding untuk menikahinya!” tambah Tadayu.
“Tidak akan pernah!” teriak Raja Bandelikan sangat marah, sampai air ludahnya muncrat dan wajahnya gemetar. Matanya pun terlihat sangat sangar dan memerah.
“Ayahanda!” sebut Putri Uding Kemala sembari menangis.
“Meski Kerajaan Lampara jauh lebih lemah dari orang-orang Pulau Tujuh Selir, tetap aku tidak akan pernah berdamai, apalagi sampai menyatukan dua keluarga kerajaan. Apalagi pasti kalian yang menjadi pembunuh putraku Pangeran Bangir Kukuh!” kata Raja Bandelikan penuh emosional. Mungkin dia akan masuk dalam nominasi Piala Pencitraan.
“Bukan, Ayahanda. Tuduhan Ayahanda salah, bukan Kakak Tadayu pelakunya. Kami semua bersama dengan Permaisuri Dewi Ara di lautan dalam sehari ini,” bantah Putri Uding Kemala cepat. Ia menjalankan sketsa rencana yang telah mereka rancang.
“Kanda Raja, jangan gelap pikiran. Jika Kanda Raja memaksa menuduh orang yang memang bukan pelakunya, itu artinya pembunuh itu akan bebas selamanya,” kata Permaisuri Turi Kumala lembut sambil memegang lengan suaminya, mencoba menenangkan.
Raja Bandelikan terdiam mendengar perkataan istrinya. Sebenarnya di dalam hati dia menagkui bahwa kedua pemuda itu memiliki alibi yang kuat. Di saat Pangeran Bangir Kukuh dibunuh, mereka berada di tengah laut bersama rombongan Dewi Ara. Pendiriannya yang tidak berdasar memang hanya dilatari rasa permusuhan dengan Pulau Tujuh Selir.
“Mana mungkin kami membunuh Pangeran jika aku sangat ingin menikahi adiknya?” seru Tadayu untuk menambah tekanan agar pikiran Raja Bandelikan bisa cepat lurus.
“Jika Paduka Raja bersedia merestui Pangeran Tadayu menikah dengan Putri Uding Kemala, maka kami bisa membantu menemukan pembunuh Pangeran. Kami berdua berkesaktian tinggi, jadi kami berdua memiliki kemampuan lebih daripada para perwira yang Paduka Raja miliki!” Kali ini yang berseru adalah Gandang Duko. Ia berkata dengan penuh percaya diri.
“Baik!” balas Raja Bandelikan cepat. Lalu katanya lagi, “Jika kalian bisa menemukan pembunuh itu, dan pembunuhnya bukan orang Tujuh Selir, maka aku akan merestui putriku menikah dengan dirimu, Tadayu!”
Dalam hati legalah Tadayu, Gandang Duko dan Putri Uding Kemala. Jawaban dari Raja Bandelikan sesuai harapan. Masih ada tahapan kedua yang harus mereka lakukan, yaitu menemukan pembunuh Pangeran Bangir Kukuh yang sudah mereka kantongi namanya. Untuk tahapan itu, cukup Tadayu dan Gandang Duko yang bekerja. Putri Uding Kemala cukup tutup mulut, jangan sampai sandiwara mereka bocor. (RH)
__ADS_1