
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Perahu yang dinaiki oleh Putri Gunira dan Pangeran Rebak Semilon akhirnya kandas tidak jauh dari pasir pantai.
“Sudah aku duga Kakak ada di sini!” seru Putri Gunira kepada kakaknya yang telah berdiri menunggu di atas tanah pasir. Ia lalu melompat ke hadapan Tadayu.
“Bagaimana bisa kau bersama dengan Pangeran Rebak Semilon?” tanya Tadayu serius.
Namun, sebelum Putri Gunira menjawab, kekasihnya sudah berteriak lebih dulu.
“Tadayu, di mana adikku, Putri Uding Kemala?!”
Pangeran Rebak Semilon yang marah lalu melompat dari perahu dan mendarat di sisi Putri Gunira. Tangannya memegang tali tambang perahu, agar perahu itu tidak hanyut. Ia masih dalam kondisi pakaian basah.
“Aku tidak tahu, aku tidak menculiknya,” jawab Tadayu berdusta. Ia mulai suka berdusta dan menuju kepada kemahiran dalam berdusta.
“Kakak jangan berbohong. Bukankah memang itu yang aku minta. Kakak Gandang Duko sudah diadili oleh Tetua Penghukum dan kini dipenjara. Kakak Gandang sudah mengaku di depan Gusti Ratu tentang apa yang kita rencanakan,” kata Putri Gunira.
“Katakan di mana adikku, atau aku beradu nyawa denganmu saat ini juga, Tadayu!” ancam Pangeran Rebak Semilon.
“Jawab dulu pertanyaanku, kenapa kau bisa bersama dengan adikku!” balas Tadayu tidak mau kalah.
“Karena aku adalah kekasih adikmu!” jawab Pangeran Rebak Semilon lantang.
“Apa?!” pekik Tadayu sangat terkejut. Ia langsung memandang mendelik kepada adiknya. Lalu tanyanya bernada marah, “Kenapa kau tidak pernah cerita bahwa kau memiliki kekasih, yaitu kakak dari orang yang memperkosamu?”
“Kami lama tidak bertemu dan tidak ada yang setuju dengan hubungan kami. Aku tidak bisa cerita,” kilah Putri Gunira.
“Jika aku tahu hubungan kalian, aku akan menuntut pangeran ini untuk membunuh adiknya sendiri!” tandas Tadayu marah sambil menunjuk Pangeran Rebak Semilon.
“Iya, itu pasti akan aku lakukan. Aku dan Putri Gunira sedang menuju ke Gunung Dua untuk membunuh adik keparatku itu,” kata Pangeran Rebak Semilon. “Lalu di mana adikku?”
“Adikmu sudah aku perkosa,” jawab Tadayu singkat. Kembali berdusta. Tampaknya dia semakin mahir berdusta, sehingga ada dusta di antara mereka.
“Apa?!” kejut Pangeran Rebak Semilon. “Kau jangan berdusta, Tadayu!”
“Kalian lihat sendiri kondisiku,” kata Tadayu dengan gestur tubuh seolah berkata “Lihatlah aku yang busikit”.
“Keparat bajingan babian kau, Tadayu! Heaaat!”
Pangeran Rebak Semilon segera berlari maju dua tindak, lalu tendangannya segera berkelebat. Putri Gunira tidak berusaha mencegah atau melerai.
__ADS_1
Dak!
“Akk!” pekik tertahan Pangeran Rebak Semilon ketika tulang keringnya ditangkis oleh Tadayu dengan santai. Laksana menendang batang besi, itulah yang dirasakan kaki Pangeran Rebak Semilon.
Jangan ditanya jika kesaktian dan ilmu beladiri kedua pemuda itu dibandingkan. Putri Gunira pun sudah menerka pasti hasilnya. Pangeran Rebak Semilon tidak memiliki kemampuan berarti jika dibandingkan dengan Tadayu, Pangeran Tangan Kuasa.
“Tidak usah marah seperti itu. Aku pun memerkosa adikmu atas permintaan kekasihmu, Pangeran. Lagi pula aku akan bertanggung jawab,” kata Tadayu.
“Bertanggung jawab apa maksud Kakak?” tanya Putri Gunira.
“Aku akan menikahi Putri Uding Kemala. Kami sudah bersepakat,” jawab Tadayu.
“Appa?!” kejut sepasang kekasih itu.
“Jika kalian tidak setuju, maka aku juga akan tidak setuju dengan hubungan kalian!” ancam Tadayu.
Terdiam berpikirlah Pangeran Rebak Semilon dan Putri Gunira. Keduanya saling pandang.
“Lalu di mana adikku?” tanya Pangeran Rebak Semilon.
“Di balik pohon besar itu,” jawab Tadayu sambil menunjukkan pohon yang benar. “Tapi jangan melihatnya, adikmu tidak berpakaian sedikit pun.”
Dengan memendam kesal, Pangeran Rebak Semilon segera berlari menuju ke pohon besar yang ditunjuk. Terlihat sang pangeran berlari agak terpincang.
Putri Uding Kemala yang sejak tadi duduk bersandar di balik pohon terkejut. Itu berarti Tadayu memberitahukan keberadaannya. Karena sudah terlanjur diketahui, Putri Uding Kemala lalu melongokkan wajah dan kepalanya.
“Jangan ke mari, Kakak!” larang Putri Uding Kemala cepat.
Teriakan sang adik pun mengejutkan Pangeran Rebak Semilon dan membuat sang kakak berhenti.
“Kenapa?” tanya Pangeran Rebak Semilon.
“Aku tidak berpakaian sedikit pun,” jawab Putri Uding Kemala.
“Apakah benar kau ingin menikah dengannya?” tanya Pangeran Rebak Semilon.
“Apa boleh buat. Kakak Tadayu sudah mengambil kehormatanku. Semuanya sudah dia sentuh. Jika aku tidak menikah dengan Kakak Tadayu, aku akan memendam rasa malu sampai mati, Kakak. Lagi pula, aku … aku juga mencintai Kakak Tadayu,” kilah Putri Uding Kemala.
“Baiklah, baiklah. Kau boleh menikah dengan Tadayu, tapi jangan sekarang kalian pulang ke Istana Puncak, karena akan ada pertumpahan darah di sana,” kata Pangeran Rebak Semilon.
“Apa yang akan terjadi di Istana, Kakak?” tanya Putri Uding Kemala cemas.
“Tidak perlu kau tahu. Jika Tadayu memang bisa melindungimu, untuk sementara kau bersamalah kepadanya,” tandas Pangeran Rebak Semilon. “Jika menikah dengan Tadayu sudah menjadi pilihanmu, mungkin aku tidak bisa mencegah.”
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain.
“Siapa orang itu, Kakak?” tanya Putri Gunira sambil memandang kepada Goreang.
“Dia adalah anggota Tiga Setan Pulau Kutukan yang menculikmu. Dua rekannya sudah aku bunuh. Sementara itu ….”
“Keparat pulau!” maki Putri Gunira sambil berjalan pergi hendak mendatangi Goreang.
“Tahan, Gunira!” seru Tadayu sambil cepat menghadang langkah adiknya.
“Dia masih aku butuhkan untuk menjadi saksi jika aku diadili pula oleh Tetua Penghukum,” tandas Tadayu.
“Putri Gunira!” panggil Pangeran Rebak Semilon sembari berjalan mendekat. “Biarkan kakakmu bersama adikku. Kita harus segera ke Gunung Dua.”
“Baiklah,” jawab Putri Gunira. Lalu ia kembali beralih kepada Tadayu, “Pulau Tujuh Selir sedang kedatangan lawan yang sakti. Dia datang ingin menangkap Kakak karena telah menculik Putri Uding Kemala. Kakak harus segera pulang, jangan sampai gara-gara Kakak tidak ada, hal buruk terjadi kepada para tetua.”
“Jika begitu, aku pinjam perahumu,” kata Tadayu.
“Tidak bisa. Aku sudah terlanjur kabur dari pulau. Lebih baik Kakak buat rakit saja,” kata Putri Gunira. Ia segera berbalik pergi menuju ke perahunya.
“Aku harap kau menjaga adikku sebaik-baiknya!” pesan Pangeran Rebak Semilon.
“Baik,” ucap Tadayu.
Pangeran Rebak Semilon lalu segera menyusul Putri Gunira. Mereka akan langsung mendayung hingga ke Pulau Gunung Dua.
Sementara Tadayu segera mendatangi Putri Uding Kemala di pohon.
“Putri!” panggil Tadayu.
Putri Uding Kemala pun melongokkan wajah cantiknya.
“Bagaimana, Kakak?” tanya sang putri.
“Kakakmu tidak mempermasalahkan kita menikah. Hanya, aku harus membuat rakit. Kita akan menyeberang ke Pulau Tujuh Selir. Ternyata kedatangan kapal bajak laut itu bermaksud menangkap diriku. Kita harus segera ke sana, mungkin kehadiran kita bisa meredakan pertarungan di sana.”
Maka segeralah Tadayu bekerja untuk membuat sebuah rakit. Dengan kesaktiannya yang tinggi, mudah bagi Tadayu untuk mengumpulkan batang-batang kayu guna dibuat rakit.
Maka dalam waktu cepat, Tadayu bisa membuat rakit.
Akhirnya, Putri Uding Kemala mengenakan baju dan celana milik Goreang tanpa mengenakan pakaian interen. Sementara Tadayu merangkai dedaunan untuk dijadikan penutup area cawatnya.
Adapun Goreang yang dibawa serta tetap dalam kondisi busikit. (RH)
__ADS_1