Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 43: Kedatangan yang Mengejutkan


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


Sbuuur!


Selir Pertama, Selir Kelima, Selir Ketujuh, Pangeran Tendangan Kilat, Janggung, dan Rengkuh Badai melompat dan melesat mundur ketika air laut berwujud ombak tsunami seperti monster menerkam itu jatuh ke darat.


Ratusan prajurit pulau yang lari kocar kacir hendak menyelamatkan diri, harus pasrah karena tidak selamat dari terkaman air yang merupakan wujud kesaktian Dewi Ara. Sebagian dari tiga ratus prajurit itu dicaplok oleh air dan diseret menuju laut.


Namun, serangan air dari Dewi Ara itu hanya menakutkan, tapi tidak begitu berbahaya. Sebab, mereka yang terseret air hanya ditarik ke air dangkal yang kedalamannya paling dalam setinggi pinggang.


“Uhhuk uhhuk uhhuk …!”


Banyak dari para lelaki Pulau Tujuh Selir itu yang terbatuk-batuk karena dipaksa menelan air laut yang pastinya tidak manis.


Meski tidak ada korban nyawa, tetapi serangan ombak besar itu cukup memporak-porandakan pasukan pertahanan Pulau Tujuh Selir. Sepuluh alat pelontar batu dibuat rusak dan bergelimpangan tanpa mengerti tentang kerapian.


Mereka yang bergelimpangan di pasir pantai segera berbangkitan, yang berada di air seperti keramaian cucu kura-kura segera berlari sempoyongan naik kembali ke darat.


Dewi Ara dan kedelapan orang yang diajaknya terbang masih melayang di depan Benteng Sejagad yang berbentuk hologram tetapi berasa nyata.


“Kurang ajar, permaisuri itu ternyata hanya menggertak!” rutuk Selir Pertama gusar.


“Aku jadi penasaran ingin bertarung dengan permaisuri itu,” kata Selir Kelima.


“Kau ingin mencoba?” tanya Selir Pertama kepada Selir Kelima.


“Aku hanya penasaran, bukan ingin menghancurkan pertahanan yang dibuat Kakak Tetua,” kata Selir Kelima.


“Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah hanya menunggu permaisuri itu menghancurkan pasukan kita seperti ombak menghancurkan benteng-bentengan pasir?” tanya Selir Ketujuh.


“Serahkan Gandang Duko yang telah menculik Putri Uding Kemala!” Tiba-tiba terdengar seruan Dewi Ara dari luar Benteng Sejagad.


Seruan itu cukup mengejutkan ketiga selir.


“Tidak akan kami serahkan putra kami, meski dia bersalah!” balas Selir Pertama.


“Itu kebijakan yang tidak bijak, Tetua!” kata Dewi Ara. “Aku minta sekali lagi, serahkan Gandang Duko!”


“Dan aku jawab sekali lagi, tidak akan!” tegas Selir Pertama.


“Kalian membuatku marah. Aku tidak akan membuang-buang waktu datang ke sini hanya untuk membawa nahkodaku saja,” kata Dewi Ara.


West! Krakr!


Tiba-tiba Dewi Ara melesat maju dan menghantamkan telapak tangan kanannya. Ketika telapak tangan itu menyentuh permukaan Benteng Sejagad, dari telapak tangan itu menyebar sangat cepat aliran sinar hijau ke segala permukaan benteng. Sangat cepat, sampai-sampai jalaran sinar hijau dalam hitungan detik sudah menjalar sampai ke bagian benteng yang ada di ujung pulau.


Selir Pertama selaku pemilik Benteng Sejagad langsung terkejut. Karena dia masih terhubung dengan kesaktiannya itu, dia bisa merasakan kekuatan ilmu yang dikeluarkan oleh Dewi Ara. Itu adalah ilmu Dewi Bunga Delapan yang untuk pertama kali digunakan di dalam pertarungan.


Prakr!


Begitu keras suara kehancuran sampai terdengar di seluruh pelosok Pulau Tujuh Selir, ketika dinding raksasa itu pecah serentak, seperti dinding kaca yang pecah oleh timpukan banyak batu.

__ADS_1


“Huaakr!” pekik Selir Pertama dengan tubuh terlempar keras ke udara belakang. Banyak darah yang terlompat dari dalam tenggorokannya.


“Kakak Tetua!” sebut Selir Kelima dan Ketujuh terkejut bersamaan.


Kedua Tetua itu segera pergi mendapati tubuh Selir Pertama yang jatuh di tanah berpasir.


Ratu Bunga Petir yang sedang duduk menganyam daun pandan kering di kediamannya bersama Dewi Petir, jadi memandang ke langit lepas.


“Itu suara Benteng Sejagad yang pecah,” ucapnya kepada Dewi Petir.


“Bukankah ilmu itu sangat kuat, Bunda Ratu?” tanya Dewi Petir, selaku calon penerus Ratu Bunga Petir.


“Itu berarti kesaktian lawan lebih kuat, Dewi,” jawab Ratu Bunga Petir.


Kembali ke pertempuran di pantai.


“Penjara Bola Cemburu!” sebut Dewi Ara yang masih melayang di udara bersama kedelapan orang di belakangnya.


Tikam Ginting langsung memununculkan bola sinar abu-abu transparan di tangan kanannya.


Set!


Tiba-tiba tubuh Tikam Ginting dilesatkan dengan cepat oleh Dewi Ara ke darat, tepatnya ke posisi ketiga selir.


Melihat kedatangan wanita cantik bertubuh indah ke darat, Pangeran Tendangan Kilat cepat bereaksi, bukan karena Tikam Ginting adalah perempuan, tetapi karena Pendekar Bola Cinta itu adalah musuh.


Pangeran Tendangan Kilat cepat berkelebat dengan tendangan siap memotong lesatan tubuh Tikam Ginting yang datang membawa mainan bola besar.


“Ugh!” keluh Pangeran Tendangan Kilat.


Belum lagi niat Pangeran Tendangan Kilat terwujud untuk menunjukkan kehebatannya kepada seorang gadis cantik, sebuah bola kayu merah yang dilemparkan oleh tangan kiri Tikam Ginting menyerang wajahnya di tengah jalan. Demi menyelamatkan wajah tampannya, menurut dia, Pangeran Tendangan Kilat cepat menutupi wajahnya dengan kedua batang tangannya. Tangan itulah yang dihantam bola.


Ternyata hantaman bola kayu merah itu begitu kuat, memaksa laju tubuh Pangeran Tendangan Kilat di udara tertahan dan terlempar balik jatuh ke tanah berpasir.


Wuut!


Ketika Tikam Ginting sudah dekat dengan posisi para selir, ia melemparkan bola sinar abu-abunya yang sudah besar di telapak tangan kanan.


Swust!


Melihat kedatangan bola besar yang lebih kecil dari gubuk biasa, Selir Kelima dan Selir Ketujuh secara bersamaan melesatkan sinar hijau berpijar yang sama untuk menghancurkan bola sinar abu-abu itu.


Bluar! Bluar!


Dua sinar hijau itu melesat masuk ke dalam bola sinar abu-abu besar. Kedua sinar hijau bisa menembus masuk tanpa kendala, tapi terbentur oleh sisi dalam dari dinding bola sinar abu-abu, menimbulkan dua ledakan keras tanpa merusak bola tersebut, bahkan kekuatan ledaknya tidak keluar dari dalam bola.


Sementara bola itu tidak berhenti dan terus melesat sedang ke posisi Selir Pertama yang terbaring terluka parah.


Selir Kelima cepat melompat menjauhi bola sinar tersebut. Sementara Selir Ketujuh harus mengangkat tubuh Selir Pertama lebih dulu. Namun, justru hal itulah yang membuat Selir Ketujuh terlambat dan lebih dulu tertimpa bola abu-abu tersebut.


Bdak!


Ketika Selir Ketujuh bergerak melesat hendak menembus keluar dari dalam bola sinar dengan menggendong Selir Pertama, mereka justru manabrak dinding keras dan jatuh di dalam bola.

__ADS_1


Ternyata Dewi Ara meniru kejadian di jalan Desa Berunuk ketika menghukum Pangeran Bangir Kukuh. Ternyata taktik itu berhasil. Kini Selir Pertama dan Selir Ketujuh terkurung.


Setelah jatuh, Selir Ketujuh cepat bangkit dan menyentuh dinding dalam bola sinar. Ternyata keras sekeras besi.


“Hiaaat!” pekik Selir Ketujuh sambil melesatkan tinju kanannya yang bersinar merah kehitaman.


Bugk!


“Hekh!” keluh Selir Ketujuh dengan tubuh terdorong jatuh terduduk, bahkan menduduki tubuh Selir Pertama.


“Seraaang!” teriak Rengkuh Badai sambil menunjuk Tikam Ginting yang baru saja menangkap bola kayunya.


“Heaaa!” teriak para prajurit pulau beramai-ramai berlari ke arah posisi Tikam Ginting sambil angkat pedang tinggi-tinggi.


Tiba-tiba ….


Sest!


“Ibunda sayaaang! Aku pulaaang!”


Terkejut Dewi Ara, Tikam Ginting, Bewe Sereng, Setya Gogol, Lentera Pyar, dan Bong Bong Dut.


Entah dari mana datangnya, Arda Handara muncul melesat terbang dengan tongkat terbangnya di udara atas pantai. Dia melesat terbang sebagai seorang penerbang melambai kepada Dewi Ara, tapi menuju ke atas pasukan yang bergerak beramai-ramai ke arah Tikam Ginting.


Bagi mereka yang tidak mengenal Arda Handara juga terkejut dengan cara kemunculan anak asing yang hebat itu.


Dewi Ara hanya memandang tanpa senyum, berbeda dengan yang lainnya.


“Pangeran Ardaaa!” pekik Setya Gogol dan Lentera Pyar girang sekali sambil melambai, seperti fans fanatik bertemu sang idol.


“Wow, hebaaat!” teriak Bong Bong Dut yang terpukau takjub melihat Arda Handara bisa terbang.


Blar blar blar …!


“Akh! Akh! Akh …!”


Arda Handara terbang melintas di atas pasukan Pulau Tujuh Selir sambil menjatuhkan bola-bola sinar merah seperti bola-bola lampu sebesar genggaman. Ternyata dia membawa sejumlah bola sinar merah yang disimpan di jaring yang menggantung di leher Tongkat Kerbau Merah.


Seperti pesawat tempur yang menjatuhkan bom beruntun. Bola-bola sinar merah itu jatuh di tengah-tengah pasukan yang kemudian berledakan. Para lelaki berpedang itu berpentalan oleh ledakan yang tercipta. Ada sepuluh ledakan yang terjadi.


Sejumlah orang pun menderita luka-luka, tetapi tidak sampai ada yang mati. Bola sinar pemberian dari Eyang Hagara memiliki daya ledak rendah, sehingga hanya menimbulkan luka ringan hingga sedang, tetapi tetap saja itu membuat menjerit.


“Siapa anak itu, Paman?” tanya Mimi Mama kepada Bewe Sereng.


“Pangeran Arda Handara, putra Permaisuri,” jawab Bewe Sereng.


“Oh, aku kira pangeran putra Bibi itu sudah dewasa,” ucap Mimi Mama. Setelah itu dia jadi tersenyum sendiri.


Set set set …!


Tiba-tiba semua orang yang melayang di belakang Dewi Ara dilesatkan ke pantai. Mereka semua mendarat baik di pasir pantai. Mereka segera disambut oleh serangan para prajurit pulau.


Tinggallah Dewi Ara yang masih melayang di udara di atas permukaan air. (RH)

__ADS_1


__ADS_2