
"kenapa telpon langsung ngomel ngomel itu." jawab alfonso sambil mengusap kasar wajahnya.
Aaahhhh....,
Dan menguap karna semalam kurang tidur.
"Leticia, sekarang lagi dirawat di rumah sakit. susah sekali hubungi lu." jawab Glen sambil marah marah.
Mendengar, Leticia masuk rumah sakit Alfonso bengong, seketika semua badannya lemas, hatinya hancur tanpa ia sadari air matanya menetes membasahi pipinya.
Kini, Pria berotot, berhati dingin, yang selalu membunuh dan tidak pernah ragu mengeluarkan organ manusia, saat ini begitu terpukul, menyesal, mengutuk dirinya sendiri. mengepal tangan nya tatapannya kosong membayangkan kalau penyakit Leticia kambuh.
Dengan penuh penyesalan Alfonso terus mengutuk dirinya.
Kenapa Dia begitu bodoh, bodoh karna mematikan ponselnya, kenap dia begitu egois mementingkan dendamnya.
Lupa wanita yang dia tinggalkan bukan wanita yang kuat, bukan wanita yang sehat. tapi wanita itu begitu lemah, wanita itu sedang berjuang melawan maut menungu waktu itu datang dan mengajak dia pergi di waktu kapan saja. untuk selamanya meninggalkan dia seorang atau kah Tuhan masih memberi dia kesempatan untuk mereka bersama merawat buah cinta mereka.
Habis kata kata, semua yang ada di otaknya hanyalah penyesalan dan rasa bersalah. kalau dia bisa memohon Tuhan kembalikan waktu ku, aku ingin merubah keegoisan ku.
Sedang berdiam dan mengutuk dirinya dengan menyesali semua ke bodohannya , Alfono mengabaikan Glen yang sedang menatap dia dari kejauhan lewat Layar ponsel.
"Al, kamu baik baik saja? ayo pulanglah Leticia butuh kamu." dengan suara Perlahan Glen memanggil Alfonso, menyadarkan dia dari lamunannya
Alfonso, yang mendengar namanya dipanggil tersadar dari lamunannya lalu dengan cepat menyeka air matanya.
"Glen Cia istriku. hikizz hikks." hanya kata itu yang mampu dia ucapkan dari mulutnya.
"Cia sakit apa ?" tanya Alfonso sambil menyenderkan tubuhnya yang lemas diatas sofa, air matanya terus menetes membasahi pipinya.
"Leticia, jatuh pingsan di kamar mandi. dan sudah tiga puluh menit dia belum sadarkan diri. karna, hemoglobinnya turun, dan mengalami dehidrasi tinggi selanjutnya dokter Louis juga ingin berbicara berdua dengan kamu.jadi, kalau bisa cepatlah pulang." jawab Glen.
"a___ku..a____kan segera pu___lang." jawab Alfonso terbata bata. karna tangisnya tidak tertahan lagi.
"Sudah Glen, matiin! aku akan pulang sekarang." lirih Alfonso dan dengan cepat mengembalikan ponsel Thiago. dan kembali masuk ke dalam kamar.
Dengan hati yang hancur dan penuh penyesalan, Alfonso meraih ponselnya di nakas mengaktifkan lagi ponselnya. menggeser layarnya melihat begitu banyak panggilan dari Leticia suara yang terdengar lemas.
"pagi sayang, kenapa ponselnya mati. aku merindukan mu." pesan suara Leticia.
Alfonso menarik kasar rambutnya mengusap Wajahnya yang penuh air mata dengan cepat melesat masuk ke kamar mandi. Alfonso membiarkan air shower menetes di tubuhnya dan semua perkataan Glen yang mengatakan Leticia pingsan terus terdengar ditelinganya.
Alfonso, melepaskan satu pukulan didinding kamar mandi.
"Maaf kan aku sayang, aku akan pulang dan tidak akan pernah meninggalkan kamu walau sedetikpun aku janji. jangan sakit. jangan nangis tunggu aku pulang." gumam Alfonso. dan dengan cepat mengambil handuk melilitkan dipinggangnya.
Alfonso berjalam keluar ke arah kamar, saat hendak membuka lemari. kembali memikirkan Leticia pingsan , dan ponselnya mati dengan cepat Alfonso melemparkan semua barang yang berada di kamar saat ini kamar hancur seperti kapan pecah.
__ADS_1
"Bodoh..aku bodoh...Tuhan kutuk aku.,,jangan istriku yang kau siksa dengan penyakit itu. kalau adil maka saya lah yang harus disiksa saya yang jahat bukan istriku." teriak Alfonso terduduk lemas didinding kamar tanganya menutupi wajahnya. Alfonso terisak.
semua anak buahnya yang mendengar bunyi dikamar. sudah tidak kaget. tapi, mereka begitu kasihan melihat Alfonso yang biasanya bertindak sesukanya, membunuh semaunya. tapi hancur dikala istrinya sakit, dan bisa menangis.
Tangannya meraih ponselnya, menelpon anak buahnya untuk menyiapkan pesawat untuk pulang saat ini juga. dia tidak peduli sekarang masih pukul empat pagi.
"Siapkan pesawat saya mau pulang sekarang." dengan bicaranya yang dingin dan tatapan kosong pikirannya sudah ke mana mana. Alfonso takut kalau dia tidak memiliki Waktu lagi.
" Tapi, tuan. tuan Gareth belum tiba dari korea." jawab anak buahnya.
"Saya bilang siapkan sekarang! bukan memintamu memberi alasan. atau kau sudah bosan hidup ha?" jawab Alfonso sambil mengepalkan tangannya. rahangnya begitu mengeras.
kalau saja anak buahnya didepan dia sudah habis dihajar Alfonso.
********
Dengan, Cepat Letica diturunkan dari mobil,. dokter Louis, yang sudah lebih dulu tiba, sudah menunggu didepan rumah sakit dan bebrapa perawat dan Brankar.
Andre mengangkat tubuh Leticia dan membaringkan ke atas brankar dan didorong masuk ke dalam ruangan vvip oleh empat orang perawat.
Vani, terus memegang kepalanya, berharap Glen sudah menelpon Alfonso.
Leticia sudah nerada di ruangan VVIP. ruangan khusus Alfonso.
Sementara...,
perawat yang lain sibuk menyiapkan cairan dan infus.
Kemudian...,
Dengan gerak cepat Para perawat segera melakukan observasi. dan semua dicatat dengan rapi direkam medis.
Setelah melakukan observasi dan semua sudah tercatat rapi di rekam medis.
Leticia segera dipasang infus karna mengalami dehidrasi tinggi.
Setelah tindakan darurat sudah selesai dilakukan, para perawat keluar. dan, mengijinkan Vani dan Nabila masuk ke ruangan Leticia.
Dengan Lembut Vani mengelus dahi Leticia, berharap sahabatnya segera sadar.
Tapi, mata Leticia masih tertutup rapat.
__ADS_1
"Cia, setelah cairan masuk, cepat sadar ya. kita bercanda lagi." ucap Vani tanpa sadar air matanya menetes.
Ya Vani dan Nabila, masih ingat semua kesulitan hidup yang Leticia lalu.
****
Alfonso, sekarng sudah menuju bandara. d tangannya terus memijit keningnya, sesekali Alfonso menarik napas panjang dan terus mengutuki kebodohannya.
Seketika Alfonso teringat kutukan Blake, sebelum dia benar benar membunuh Blake.
"Ingat Putra Rudolf, kau akan menerima akibat dari perbuatanmu."
Lalu dengan cepat, menyingkirkan pikiran itu.
Dan..,
Yang, Alfonso. kwatirkan penyakit Leticia kambuh dan dia tidak ingin semua orang mengetahui sakit Leticia. Alfonso tidak berpikir Kalau Leticia pingsan karna hal lain.
" Maaf, maaf aku pikir obatmu masih tiga hari. karn itu aku tenang meninggalkan kamu. aku tidak akan memaafkan diriku kalau ada hal buruk terjadi padamu sayang, tunggu aku sudah pulang. batin Alfonso.
Tangannya menopang dagunya, dengan tatapan kosong Alfonso terus melihat keluar jendela mobil
Tapi...,
Karna banyak memikirkan Leticia, Alfonso tidak menyadari kalau mobil melaju dengan kecepatan Tinggi.tapi yang Alfonso rasakan kan mobil seperti berjalan ditempat saja. dengan segera mengeluarkan pistol dipinggangnya dan menarik pelatuk pistolnya.
Lalu.., menodongkan di kepala sopirnya.
Sopirnya yang kaget, karna di todong pistol hanya berdiam dan terus melajukan mobil.
"Kenapa, mobilnya tidak bergerak sama sekali. aku bilang melaju dengan kecepatam tinggi. kalau bisa terbang, terbangkan mobilnya. aku tidak peduli dengan kendaraan lain, yang aku mau aku cepat tiba di Spanyol. ucap Alfonso sambil terus menodongkan pistolnya di kepala sopirnya.
"Ba___ik tu__an." jawab sopirnya dengan terbata bata. karna takut alfonso benar benar melepas pelatukknya.
Dengan kecepatan tinggi, Sopir menginjak pedal Gasnya.
hingga menyebabkan bunyi klakson mobil yang protes dengan aksi sopirnya, bahkan ada yang marah marah sambil meneriaki sopir Alfonso.
" Biarkan mereka. terus jalan. kalau mereka berani menghalangi jalan. nyawa mereka taruhannya." ucap Alfonso.
"Ba__ik tuan besar," jawab Sopir dengan ketakutan.
"Aku bilang tidak perlu menjawab saya, fokus dijalan dan cepat." ucap Alfonso.
...****************...
yang satunya masih review ya🙏
__ADS_1