
Leticia, yang tadi sudah mendengar obrolan Alfonso dengan anak buahnya. meminta untuk ikut bersama Alfonso.
''Aku, boleh ikut?" tanya Leticia. dalam hatinya dia berharap semoga Alfonso mau menyetujui. karna Leticia tidak ingin Alfonso membunuh orang lagi, mengingat dia tengah hamil tua.
Alfonso, menoleh dan menatap Leticia.
''Sebaiknya, kamu disini saja sayang. aku, kwatir kamu kecapean, kasihan kamu dan anak anak.''
Alfonso, memberi alasan. karna, Alfonso tau jika Leticia ikut semua rencananya akan berantakan. bisa jadi dia akan minta untuk dibawa ke pihak berwajib atau dimaafkan.karna, Alfonso sudah berjanji untuk tidak membebaskan wanita itu, juga anak buahnya yang sudah menyerang dipernikahan sahabatnya dan hampir mencelakai istri tercintanya.
Leticia, menunduk sedih, karna, biasanya Alfonso tidak prnah menolak kalau dirinya minta ikut. ini kedua kali Alfonso menolak permintaannya.
Saat, sedang memikirkan alasan penolakan Alfonso. tiba tiba pintu kamar diketuk .
Tok.., tok.., tok..,
Alfonso, dengan cepat berjalan kearah pintu depan. tangannya meraih handle pintu.
ceklek..,
Pintu dibuka, Alfonso menatap dingin pelayan yang sedang berdiri didepan pintu kamarnya.
''Maaf tuan. Dokter Louis dan tuan Gareth sudah menunggu didepan.'' ucap Pelayan dengan membungkukkan badannya.
''Terima kasih, saya akan segera ke sana.'' jawab Alfonso dingin.
"Baik, saya permisi." pamit pelayan.lalu, berjalan kembali kearah dapur.
Leticia, berdiri berjalan mengikuti sang suami yang sudah berdiri didepan pintu.
''Mereka sudah datang?" tanya Leticia.
''Iya, Ayo kita temui mereka.'' jawab Alfonso. tangannya meraih tangan Leticia dengan bergandengan tangan Alfonso dan Leticia, menemui Dokter Louis dan Gareth.
Alfonso, tersenyum lega. ternyata dokter Louis tidak membawa suster sesuai permintaannya.
Padahal, kemarin Louis tidak menyetujui permintaan Alfonso. dengan alasan Gareth tidak seberapa memahami dunia medis. Namun, setelah mendengar alasan Alfonso, dokter Louis akhirnya menyetujui. tapi diakhir pembicaraan dokter mengatakan kalau dia tetap membawa suster terserah nanti mau dipake atau tidak itu urusan terakhir.
''Pagi, Tuan dan Nona .''sapa dokter Louis.sembari tersenyum.
''Pagi, juga Dok.''jawab Leticia.
''hmmm.'' Alfonso. hanya berdehem.
Gareth, hanya menatap Alfonso,'' protes! kenapa saya enggak disapa juga.'' Gareth. tersenyum sinis.
Alfonso, tertawa.
''Pagi, pak Gareth.'' ucap Alfonso tersenyum.
Semua, akhirnya tertawa dengan tingkah konyol Gareth.
Lalu, Alfonso dan Leticia duduk disofa .
''Bagaimana kabarnya tuan.'' tanya dokter louis.
''Baik, cuma kadang masih nyeri.'' jelas Alfonso.
''kalau, begitu sebaiknya saya lakukan pemeriksaan dulu, Tuan.'' ucap dokter Louis.
__ADS_1
''Iya, karna saya ada urusan diluar.'' sambung Alfonso lagi.
''Baik, Tuan.'' balas Dokter Louis.
Dengan, menggandeng tangan Leticia, mereka segera berdiri, dan berjalan ke ruang pemeriksaan yang biasa dipake Leticia sekarang dinamakan ruangan p3k.
Alfonso,segera berbaring. Leticia, duduk dikursi matanya terus menatap ke arah sang suami yang sedang diperiksa dokter, dengan ditemani Gareth.
Gareth, segera membuka forban luka lama lalu diperiksa dokter, kemudian dibersihkan dengan Alkohol setelah dibersihkan dengan Alkohol. Lukanya, diberi Obat Lalu Gareth menutup dengan Forban dan diplester.
Selesai, mengganti luka forban, Dokter Louis, duduk dikursi begitu juga Gareth.
Alfonso, bangun dari ranjang. tangannya memasang kembali kancing yang tadi dibuka. Lalu, Alfonso berjalan dan duduk dikursi berhadapan dengan dokter.
''Lukanya, sudah kering Tuan. tinggal tunggu bekas operasinya tertutup. ini, saya kasih obat anti nyeri dan untuk penyembuhan luka.''ucap dokter Louis.
''Iya, memang semalam enggak terasa apa apa." imbuh Alfonso.
''Kemarin, terasa nyeri karna pulang dari rumah sakit langsung ada acara dihalaman belakang sampai sore jadi efek cape juga.'' tambah Alfonso lagi.
''Tapi, ini sudah bagus sekali, mungkin dua hari lagi sudah sembuh total.'' sambung dokter Louis.
Gareth, hanya menyimak begitu juga dengan Leticia.
Leticia, yang awalnya ragu dengan keahlian Gareth. akhirnya, percaya karna tadi Leticia memperhatikan bagimana Gareth bekerja melepas Forban dan menutupnya lagi. Leticia tersenyum.'' ternyata AL, benar. saya salah meragukan kemampuan Gareth.'' batin Leticia.
''Tau, begitu kemarin Gareth saja yang ganti Luka Forban.'' batin Leticia lagi.
Dokterpun, memberikan obat pada Alfonso, kemudian berdiri dari kursi dan segera pamit pulang.
''Baik, Tuan Nona. saya pamit pulang dulu.'' ucap Louis.
''Baik, dok. terima kasih.'' jawab Leticia. kemudian berdiri dan berjalan mendekati sang suami. tangannya meraih tangan Alfonso. mereka bergandengan lalu melangkah keluar dari ruangan.
Diruang keluarga, Felisia, Mason, Nabila. Karla dan juga Steward.sudah menunggu kabar baik dari Alfonso. mereka, berharap luka Alfonso sudah lebih baik.
''Apakata, dokter? lukanya, sudah sembuh belum nak'' tanya Felisia
Alfonso, dan Leticia duduk begitu juga Gareth.
''Sudah, membaik. kata dokter mungkin dua hari lagi sembuh.'' jelas Leticia.
''Syukurlah, Nak. dari kemarin mommy kepikiran terus mengingat sebentar lagi Leticia lahiran.'' jawab Felisia.
''Iya, mom. Al, juga sempat kwatir begitu.'' balas Alfonso lagi.
Alfonso, yang melihat Karla. sedang makan buah disamping Steward. mengingatkan Karla untuk tidak ketiduran, karna dokter Grace datangnya siang. karna, pagi masih ada operasi persalinan dirumah sakit.
''Dek, siang kamu jangan tidur karna dokter Grace ke sininya jam satu siang.'' Alfonso memperingati Karla.
''Iya, kak. jadi, siang aku enggak makan biar enggak ngantuk,'' seloroh Karla. dengan mulut yang penuh buah pear.
Leticia, yang melihat sang adek makan merasa kenyang sendiri.
''Dek, kamu ini enggak ada kenyang kenyangnya. nanti, habis lahiran baru kamu pusing kurusin badan lagi.'' tegur Leticia.
''Enggak, bayiku lapar terus. kadang aku yang malas bangun untuk makan.'' jawab Karla. cuek. bagi Karla, urusan tubuh nanti saja kalau sudah cinta, mau gemuk seperti bantenpun tetap cinta.
Kemudian, menatap ke arah Steward yang duduk disampingnya.
__ADS_1
''Sayang, kamu enggak masalahkan kalau aku gemuk?" Karla, mencebik.
''Enggak, aku justru akan marah kalau kamu diet." jawab Steward.tanganya memeluk sang istri dengan mesra.
Leticia, tersenyum menatap sang suami. Alfonso, yang menyadari dirinya dilihat sang istri tersenyum
''Aku, juga enggak masalah sayang.'' ucap Alfonso, sembari mencoel hidung sang istri.
Semua, tertawa kecuali Nabila. yang sudah berapa kali keluar masuk kamar.
Felisia, yang menyadari jam sarapan hampir lewat meminta semua untuk sarapan.
'sudah sudah debatnya. ayo sarapan dulu.Tadi, kata daddy semua pria mau ke markas?'' ucap Felisia.
''Iya, mom Al penasaran sama wajah wanita yang hampir menembak Leticia.'' sambung Alfonso.
Semua, berdiri berjalan ke arah ruang makan, untuk sarapan.
''Aku, juga ikut kak. Karla pengen bermain main dengan dia sebentar.'' sahut Karla. tangannya, menarik kursi untuk duduk.
''Enggak, kamu disini, nanti dokter Grace akan ke sini.'' sambung Steward.
Karla, hanya menggerutu kesal. Felisia, mengelengkan kepalanya.
Setelah, sarapan. Alfonso,berjalan masuk ke kamar disusul Leticia dari belakang.
''Minum obat dulu sayang.'' ucap Leticia, membawa obat untuk Alfonso.
''Iya terima kasih.'' jawab Alfonso. menerima obat dari Leticia.dan meminumnya.
Leticia, menerima cangkir yang sudah kosong dan meletakkan cangkirnya diatas meja. kemudian mengambil pakaian Alfonso.
''Ini bajunya sayang. kalau mau berangkat laptopnya ditutup dulu.'' tegur Leticia, yang melihat sang suami baru selesai minum obat, sudah fokus ke arah Laptop lagi.
''Iya, bentar. aku lihat ini sebentar.'' jawab Alfonso. tangannya terus menari diatas keyboard laptopnya sesekali mengerutkan dahinya.
Kemudian, tanganya meraih ponselnya lalu mengirimkan pesan. karna, Alfonso tidak bisa menelpon. Alfonso, kwatir Leticia akan melarang dirinya berangkat kalau mendengar obrolan dirinya dan jose.
''Semua, perlengkapan penyiksaan sudah siap? saya segera ke sana. saya, tidak mau menunggu karna saya tidak lama berada dimarkas.'' kemudian Alfonso menekan tombol send.
Setelah, memastikan chatnya terkirim Alfonso menutup laptopnya. lalu berjalan mendekati sang istri, menerima baju dari tangan Leticia. dengan dibantu Leticia Alfonso mengenakan bajunya.
''Aku, berangkat sayang, jam dua belas aku sudah kembali ke sini. sekarang jam sembilan aku hanya empat jam diluar.'' ucap Alfonso, meyakin kan Leticia untuk tidak mengkwatirkan dirinya.
''Kamu, janji tidak luka lagi?" Leticia, kembali bertanya.
''Iya, istriku tercinta suamimu ini berjanji.'' jawab Alfonso kemudian mengecup ujung kepala Leticia.
Leticia, hanya memutar mata malasnya.
Karna, Leticia yang sudah menyetujui dirinya untuk berangkat. Alfonso segera mengecek peluru di dua buah pistolnya. setelah memastikan pelurunya sudah terisi, Alfonso menyelipkan dipinggang kiri dan kanannya. tidak lupah belatih kecilnya juga.
Leticia, hanya diam melihat Alfonso menyiapkan pistol dan belatihnya.
''Jangan, mengotori tanganmu lagi.'' Leticia, mengingatkan Alfonso.
''Iya, sayang.'' jawab Alfonso.
__ADS_1
...****************...
baru revisi sampe bab 15 dan visual Alfonso yang ini