
Alfonso kaget dengan tamparan Leticia. Apalagi dibanyak orang seperti saat ini membuat Alfonso marah dan menarik kasar tubuh Leticia ke dalam dadanya.
"Semua, keluar dari sini ! cepat! Atau...," perintah Alfonso.sambil menatap tajam pada semua yang berada diruangan Walker.
Melihat Alfonso yang sangat emosi. semua yang berada diruangan Walker bergegas keluar, tidak ada yang berani menegur Alfonso. Leticia sudah kesakitan.Karena, tangan kecilnya dicengkram yang keras oleh Alfonso.
Hanya Glen yang masih bertahan di dalam ruangan Walker Karena kwatir dengan keadaan Leticia saat ini.
"Al, kontrol emosi mu!."ucap Glen.
Alfonso tidak mendengarkan ucapan Glen. Alfonso mengangkat tangan nya dan ingin balik menampar Leticia. Namun, tangannya di tahan oleh Glen.
"Al, apa apaan ini? hentikan!" tegur Glen.
"Salah dia! kenapa dia mengusik iblis yang lagi tidur?" hardik Alfonso.
Tangan Glen dihempaskan kasar oleh Alfonso. dengan terus menahan badan Leticia.Alfonso mengambil pistol yang terselip dipinggang kanannya.
Pistolnya di arahkan kepada Glen yang masih berdiam didalam ruangan itu. Leticia ketakutan dengan pistol yang sudah dibidikan pada Glen. Leticia ingin melepaskan diri dari cengkraman Alfonso. Namun, sia sia kekuatan Leticia kalah jauh dengan kekuatan Alfonso.
"Keluar, Glen! sebelum aku bertindah lebih jauh lagi. keluar sekarang! selagi otak warasku masih mengusai diriku sebaiknya kamu keluar!" perintah Alfonso dengan menatap tajam Glen.
Glen yang mengenal baik Alfonso akhirnya mengalah dan keluar dari ruangan Wlaker. membiarkan Alfonso dan Leticia sendiri diruangan itu. Dia yakin Alfonso tidak sebodoh itu . Karena Alfonso masih memiliki misi yang belum selesai mana mungkin dia bisa menyakiti Leticia.
"Oke oke, aku keluar!" jawab Glen dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. Lalu berjalan keluar dari ruangan Walker.
Melihat Glen keluar Alfonso bergegas mengunci pintu ruangan. kuncinya di masukkan ke dalam kantong celananya.
Alfonso kembali berjalan mendekati Leticia. Walaupun, ketakutan Leticia berusaha mengumpulkan keberanian nya untuk melawan Alfonso. " Tidak tidak! aku tidak boleh diam saja aku harus melawan." batin Leticia. menatap tajam Alfonso.
Melihat Alfonso semakin mendekati dirinya Leticia berusaha berbicara.
"Saya, tidak akan menikah dengan anda Tuan Presdir! Ingat, sampai aku matipun aku tidak ingin dinikahi oleh kamu. Camkan itu baik baik pak presdir!" tegas Leticia.
Rasa hormatnya pada Alfonso sebagai atasannya hilang seketika. yang ada hanyalah kebencian kepada Alfonso.
Alfonso tidak menghiraukan ucapan Leticia. Dengan langkah yang pasti Ia semakin mendekat kepada Leticia yang sedang duduk di sofa panjang. Tangannya memutar pistolnya sesekali Ia melihat isi peluru didalam pistolnya.
Leticia semakin ketakutan. Namun, Leticia berusaha untuk tetap kuat harapan Leticia semoga pria gila ini tidak kelepasan emosinya.
"Oh, Tuhan. tolong lepaskan saa dari pria sakit jiwa ini."batin Leticia penuh harap.
Tangan kekar Alfonso meraih tubuh Kecil Leticia. Dengan kasar Alfonso melempar Leticia diatas sofa. Lalu, Leticia dikungkung dengan posisi tidur terlentang. Tangannya di putar kebelakang. Alfonso mulai menindih tubuh Leticia sorotan mata Alfonso sulit diartikan. wajah dinginnya bak es batu jiwa iblisnya kembali mengusai dirinya.
Leticia mulai sulit bernapas. Ia berusaha untuk melepaskan diri dari kungkungan Alfonso. Namun, sia sia tenaga Leticia kalah dengan tenaga Alfonso.
"To___long le______pas kan a______ku." pinta Leticia. bicaranya terbata bata karena Leticia sulit untuk bernapas. air matanya berurai karena sakitnya cengkraman dari Alfonso.
"Tidak! siapa kamu berani nya perintah aku? salah mu kenapa berani menampar aku? satu hal yang perlu kamu tahu, Ayah dan Ibu ku saja tidak pernah menampar aku apalagi kau gadis bodoh!" teriak Alfonso. jiwa iblisnya kini benar benar bangun dari tidurnya
__ADS_1
" Dan sekarang aku yang melakukan itu. hanya wanita bodoh yang mau diperbodoh oleh pria kejam seperti dirimu!" balas Leticia
Plakk...
Alfonso memukul kasar sofa.
"Gadis bodoh! diam. aku sudah berusaha keras menahan iblisku. Tetapi, kamu jika kamu memaksa jangan salah kan aku kalau aku bertindak semakin jauh." tegas Alfonso
Alfonso mulai mendekati wajannya dengan wajah Leticia. Dengan kasar Alfonso mencium bibir Leticia. menyesap semakin dalam dan dalam. Leticia berusaha menolak dengan menggerakkan tubuhnya. Tangan Alfonso mulai menyusuri lekukan tubuh Leticia. Alfonso mulai merem*s dua gundukan kenyal milik Leticia. Alfonso bangkit berdiri dengan kasar Ia melapas baju yang melekat di tubuhnya.
Lalu, kembali menindih tubuh Leticia. Leticia tertuju pada tubuh sixpack Alfonso. Kedua tangan menutupi wajahnya. Leticia takut dengan dua pistol yang terselip dipinggang Alfonso.
" Jangan macam macam kamu Tuan Alfonso! aku bisa berteriak!" ancam Leticia.
Namum, ancaman Leticia seperti hinggapan lalat yang tidak berguna.
"Teriak saja! biar pemburu berita diluar sana datang. Aku akan berterima kasih karena, mereka sudah mempermudahkan langkah aku untuk menikahi kamu." Tawa Alfonso.
Langkahnya semakin mendekati Leticia. lagi lagi dengan kasar Alfonso menarik kasar tubuh Leticia bangun dari sofa. Alfonso mendekap dengan kasar tubuh Leticia ke dalam dadanya. Dengan tidak sengaja paha Leticia menyentuh milik Alfonso.
"shift." gerutu Alfonso.
"Jangan disentuh! susah kalau dia bangun. kau menyiksaku." ucap Alfonso.
Leticia merona mendengar ucapan Alfonso. karena benar dibawah sana sudah berdiri bentuk celana Alfonso kini berubah. Alfonso hanya bisa menggeleng dengan tersenyum sinis.
Namun, tidak menghentikan tangan Alfonso mencari resleting Leticia. Setelah menemukan Alfonso menarik dengan kasar. dan benar saja dress yang dikenakan terjatuh dilantai.kini hanya tersisa dalaman berwarna pink yang melekat ditubuh mungil Leticia.
Leticia malu dengan keadaan dia saat ini. Dia berusaha melepaskan diri dari dekapan Alfonso. Namun, sia sia Alfonso sudah membenamkan wajahnya di curug leher Leticia. Alfonso mencium leher Leticia dengan meninggalkan bekas merah di leher Leticia. lidah Alfonso mulai menelusuri hingga ke dada Leticia
Dengan jiwa iblisnya Alfonso menyesap sesaat. dalam hati Alfonso bahagia. karena, kedua gundukan itu masih utuh. Napas Leticia mulai menderu Ia terbawa dengan permainan Alfonso. Melihat Leticia mulai menikmati bibir nakalnya. Alfonso mulai meninggalkan bekas merah di dua bukit indah Leticia. Setelah merasa puas mengerjai Leticia dengan kasar Alfonso mendorong Leticia jatuh ke atas sofa.
Kaget karena dijatuhkan kasar oleh Alfonso. Lega karena Alfonso tidak melakukan lebih dari yang ada didalam bayangannya. Kedua tangan nya menutupi wajahnya. Leticia histeris dalam tangan Ia malu, marah dengan keadaan tubuhnya saat ini dan perlakuan kasar Alfonso.
"Berani sekali kau! tidak seperti ini cara nya meminta seorang wanita untuk menikah dengan kamu." ujar Leticia. sembari menyeka air matanya yang tidak ingin berhenti membasahi pipi mulusnya.
" Karena itu tolong jadikan aku manusia!" sikap kasar itu kini menjadi lunak. lirihan nya terdengar begitu tulus dari hatinya. Ia menunduk mengambil dress Leticia lalu melemparkan ke tubuh Leticia.
" Kenakan bajumu! aku tidak ingin mengambilnya sebelum kita menikah." ucap Alfonso. kemudian ia berjalan kembali ke kursi Walker dan mendudukkan tubuhnya sembari menatap Leticia.
Tangan Leticia mengambil dres diatas tubuhnya. Dengan, sangat malu Leticia berdiri dan mengenakkan dressnya. Air matanya terus menetes membasshi pipinya. Ketika, matanya melihat tanda merah disekujur tubuhnya. Selesai mengenakkan baju Leticia dberjalan ke arah pintu, tangannya menarik handle pintu dengan sekuat tenaga. Namun, pintu itu tidak terbuka. Alfonso hanya tersenyum sinis.
"Sudah, jangan ngeyel pintu tidak akan terbuka." dengan tersenyum sinis Alfonso menunjukkan kunci yang berada di tangannya.
Leticia tidak peduli dia terus saja memaksa menarik handle pintu. Tujuannya hanya satu dia ingin cepat keluar dari ruangan itu. meninggalkan pria iblis itu sendirian di ruangan Walker.
"Buka pintunya! aku mau pulang." titah Leticia dengan tatapan tajam pada Alfonso.
Alfonso berdiri mengambil air mineral. Dengan membawa cangkir yang sudah berisi air mineral Alfonso berjalan mendekati Leticia.
"Minum dulu air nya," ucap Alfonso. sembari memberikan cangkir yang berisi air pada Leticia.
__ADS_1
Leticia tidak mau menerima. Dengan cepat Leticia memalingkan wajahnya dari hadapan Alfonso.
" Tidak ada racun." sambung Alfonso lagi.
Leticia yang merasa tubuhnya membutuhkan air menoleh pada Alfonso.
" ini, lihat wajahmu sangat kelelahan." sambung Alfonso sembari mengangkat ujung alisnya.
Leticia segera menerima cangkir dari tangan Alfonso. lalu meneguknya sampai habis. Alfonso tersenyum melihat cangkir yang dikembalikan Leticia sudah kosong.
Dengan lirikan mautnya Alfonso menggeleng." badan kecil Tetapi kalau minum mirip gajah." gumam Alfonso.
"Siapa yang gajah?" Leticia langsung menyambar gumaman Alfonso. dia tidak terima dirinya dikatakan gajah oleh Alfonso. tubuhnya, masih terus membelakangin Alfonso karena Alfonso belum mengenakan bajunya lagi.
Saat ini Leticia sudah lebih tenang. Ia berjalan kembali ke sofa dan mendudukkan tubuhnya. Alfonso segera mengenakkan bajunya lagi. kemudian berjalan mendekati Leticia.
Leticia ingin berdiri. Namun, dengan cepat Alfonso menarik tangan Leticia.
" Jangan berdiri. duduk disini bersama saya sebentar." pinta Alfonso.
Akhirnya Leticia duduk lagi bersama Alfonso mereka berdampingan. Dengan lembut Alfonso menarik tubuh Leticia ke dalam pelukannya. Kepala Leticia di senderkan didadanya.
"Tolong, jadikan aku manusia." lirih Alfonso dengan tatapan kosong ke depan. tangannya mengelus rambut Leticia.
Leticia, merasa ada yang berada dengan Alfonso. Dia jauh lebih tenang wajahnya yang tadi menakutkan kini terlihat begitu menyedihkan.
"Tidak secepat ini Al. semua butuh proses. aku belum mengenal kamu begitu juga kamu belum mengenal aku." mendengar jawaban Leticia Alfonso menghentikan tangannya.
"Kita belajar saling mengenal setelah kita menikah nanti." Tangannya mengangkat wajah Leticia untuk menatap wajanya. Mata mereka saling mengunci sesaat.
"Tetapi..." sebelum Leticia melanjutkan pembicaraannya Alfonso sudah menyambar bibir Leticia. sesapan lembut Ia daratkan dibibir Leticia.
"Bibir mu manis. aku bisa kecanduan." ungkapan itu tulus dari hatinya. entah sadar atau tidak sesaat Alfonso melupakan misi utamanya.
Leticia tersenyum manja. sedikit Leticia mulai memahami perasaan Alfonso. penyesalan dalam hatinya kini terlambat andai saja tadi dia tidak menampar Alfonso mungkin perlakuam kasar itu tidak terjadi. membayangkan perlakukan Alfonso terhadap dirinya tadi Leticia bergidik ngeri.
"Katakan sejujurnya, alasan apa kamu ingin menikahi aku?" cebik Leticia dengan memajukan bibirnya.
Karena, gemas dengan tingkah Leticia, Ia menarik kedua pipi Leticia ." Cinta." jawab Alfonso wajah dinginnya kembali Ia tunjukkan.
"Cinta semacam apa?" pertanyaan yang Leticia lontarkan terdengar konyol oleh Alfonso.
"Aku serius menikahi kamu. jangan tanya lagi cinta semacam apa. yang aku tau itu cinta." jawaban itu seakan menekan Leticia untuk tidak membantah ucapanya lagi.
"Bagaimana ...." belum selesai bicara Alfonso sudah memotong.
"Bagaimana dengan perasaan mu? karena kamu tidak mencintai aku?" jawab Alfonso.
"Banyak orang menikah tanpa cinta. Namun, dengan berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. dan pernikahan mereka bisa bertahan hingga ajal menjemput. jika, mereka bisa kenapa kita tidak?" sambung Alfonso menatap dingin Leticia.
"Memang benar pernikahan harus dilandasi dengan cinta. Tetapi, aku ingin pernikahan aku dilandasi dengan adanya komunikasi dan kepercayaan? bukan kah kedua poin itu lebih utama? Namun, dimana letak kesalahanku untuk menikahi kamu?" jawaban Alfonso. sesaat membuat Leticia melayang.
__ADS_1
********
BAB YANG SUDAH DI REVISI.