SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
33. Laura menelpon


__ADS_3

"Gareth, sudah kamu pastikam cctv diBandara aman?" tanya Alfonso dengan penekanan.


"Siip beres." jawab Gareth.


Ke empat pria itu melanjutkan minum. sementara minum, tiba tiba ponsel Steward berbunyi.


Drthhh...


Alfonso melirik ingin tahu siapa yang menelpon Steward.


"Laura?" batin Alfonso. mengerutkan dahi mengangkat bahu kepada kedua temannya.


" Dasar mafia kepo."bisik Gareth pada Andre.


Melempar tutup botol alkohol ke arah kedua temannya.


" kalian, ngomongin aku?"


"Emang, kamu merasa digosipin. bukannya tadi kamu yang kepoin?"Sindir Gareth dan Andre serentak.


Alfonsi bersungut kesal.


Melihat Steward,datang membawa minuman. merekapun akhirnya berhenti debat.


Steward, datang. mengambil ponsel diatas nakas.dilihat ponselnya, mengerutkan dahi.


" Laura?" gumam Steward.


Berjalan menjauhi ke tiga temannya, dan mengusap layar Ponsel.


"Hallo." Ucap Steward.


"Baby, kamu kemana aja? lama bangat terima panggilan ku?" Laura kesal.


"Sorry, aku lagi sibuk. "jawab singkat Steward .


"kamu, sibuk?" Laura meyakinkan jawban Steward.


"Iya aku sibuk! kamu menelpon hanya untuk mengintimidasi aku lebih baik matikan ponselmu !" ucap Steward kesal.


Merasa Steward marah, Laura cepat mengalihkan pembicaraan.


"karla, " jawab Laura.


"Lanjutkan, pembicaraan mu. kenapa hanya setengah setengah bicaramu!" Nada Steward meninggi.


"Karla., akan mengadakan pesta malam ini. di Hotel xx dekat kampus." ucap Laura.


"Oh.., baik lah. nanti malam kami akan ke sana. dan kamu, tetap berlagak tidak mengenal aku." jelas Steward.

__ADS_1


"Aku, mengerti. terus mengenai kesepakatan ki_."Ucap Laura.


sebelum melanjutkan pembicaran Steward sudah memotong.


"Mengenai bonus? dasar matre! aku mengerti dan tidak akan lupa. kerja lah, sesuai dengan apa yang aku perintahkan. kalo tidak taruhannya nyawamu!" Steward memberi penekanan.


Laura, yang sudah mengenal Steward. dan, mengetahui Steward lewat beberapa situs internet bergidik ngeri.


"Jangan, kwatir. akan aku kerjakan dengan sebaik mungkin."lirih Laura.


klik..,


panggilan berakhir.


Tak..,


Tak..,


Tak..,


Langkah kaki Steward berjalan kembali ke arah ke ketiga temannya.


dengan tersenyum Steward menarik kursi dan duduk disebelah Alfonso.


" Malam ini, kita akan bermain main lagi." ucap Steward sambil menepuk bahu Alfonso.


Alfonso yang merasa aneh dengan sikap Steward.menatap Steward dengan tatapan tajam.


"Wanita itu, yang akan membantu kita. jadi, malam ini bersiaplah kita akan party." Jawab Steward sambil berkedip mata nakalnya,


"Tap_." sahut Andre.


Sebelum menyelesaikan pembicaraannya sudah dipotong oleh Steward.


"Hubungan aku, dengan wanita itu. apa itu yang kalian maksud?" Jawab Steward. sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ia." jawab serentak ketiga temannya.


"Hahahaha..,


Steward pecah tertawa.


"Aku,tidak bodoh. aku mendekati dia hanya supaya dia membantu melancarkan aksi kita. karna, Laura teman dekat Karla. tapi, karna uang dan gaya hidup, Laura nekat mengkhianati pertemanan mereka. menarik bukan?" steward menjelaskan agar tidak terjadi salah paham antara dirinya dan ketiga temannya.


Alfonso dan kedua temannya mengangguk mengerti.


Plak..,


Alfonso, memukul meja. dan berhasil membuat ketiga sahabatnya jantungan.

__ADS_1


"Alfonso!" teriak ketiga sahabatnya.


Menatap tajam ke tiga sahabatnya, dan mulai merancang rencana.


"Malam ini kita akan ke party, saat Karla diculik dan menyiksa dirinya. yang bagian merekam kamu Andre."menatap ke arah Andre.


"Aku?" Andre menunjuk dirinya dan bertanya.


"Ya, kamu. memangnya ada berapa Andre yang berada disini?" jawab sini Alfonso.


Andre mengangguk mengerti.


Sudah menunjukkan pukul 7 malam, waktu California. ke empat Mafia, itu bersiap dengan penampilan paling terkeren. seolah, mengubah image mereka yang kejam.


Steward, memanggil salah satu anak buah kepercayaannya. untuk, mengantarkan mereka ke Party.


Masuk kedalam mobil ,dan tidak lupa dipinggang mereka masing masing terdapat pistol.tapi, lain hal dengan Alfonso. yang selalu membawa juga sebuah jarum suntik yang sudah terisi dengan cairan racun Botunilum.


Sang sopir, menginjak pedal mobil dan melaju dengan kecepatan rata rata.


"Kamu, selalu stay. dan akan ada beberapa anak buah juga. yang menunggu diluar hotel menyamar sebagai keamanan. abaikan, agar tidak dicurigai orang yang melihat." Steward menjelaskan.


"Aku mengerti." jawab sang sopir.


****


Alfonso, mengambil ponselnya. menghubungi Glen.


"Glen, bagaimana semua sesuai rencana kita kan?" tanya Alfonso.


mendengar ponselnya berbunyi Glen mengambilnya dari nakas diusap layar ponselnya.


"Chat dari Alfonso."gumam Glen


Mengerutkan dahi, mengusap layar dan membaca isi chat Alfonso.


"Semua sesuai rencana. tapi, sepertinya Mosan tidak benar benar bekerja untuk Sergio. sejak kemarin Sergio menculik beberapa wanita menjadikan tahanan dan akan dijual ke Mexico. Mosan memilih pergi ke rumahnya dan bertemu Leticia."balas chat Alfonso.


"Aku mengerti. terus lah, pantau dari kejauhan. dan mengenai wanita itu, aku sudah memikirkan akan menjebak dirinya dalam kehidupan aku. mengingat, dia adalah putri dari Mason. jadi akan lebih mudah untuk menangkap Mason." balas Alfonso dengan senyum liciknya.


"Kenapa? harus Leticia? bukannya masih ada Karla dan kamu kesana tujuannya untuk menculik Karla.kenapa melibatkan Leticia yang tidak mengerti masalah ini?" Glen protes.


Glen, tidak terima teman dari kekasihnya dilibatkan. karna, Glen kwatir akan berdampak ke hubungannya dirinya dan Stefani.


Alfonso yang membaca isi chat Glen tersenyum licik dan menggelengkan kepalanya.


"Bodoh! sejak awal sudah aku ingatkan jangan pernah mengikuti hati dan perasaan." gerutu Alfonso.


Visual Alfonso diparty

__ADS_1



__ADS_2