SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
Ketakutan.


__ADS_3

Sedetikpun, Alfonso sama sekali tidak meninggalkan Leticia.ungkapan cinta terus ia ucapkan pada wanita yang sebentar lagi akan memberi dia empat buah hati.


''kalau, cowo mereka akan saya ajak bermain dipantai seperti dulu ayah mengajak saya bermain dipantai.kalau, cewe saya akan mengajak mereka bermain salon salonan. mungkin, saya akan merasakan di olesi lipstik diwajah oleh mereka.'' Alfonso, terus mengajak Leticia berbicara. Leticia, tertawa membayangkan betapa lucunya muka Alfonso ketika di coreti lipstik oleh putri putrinya


Jam sudah menunjukkan pukul 19:00 waktu Spanyol. Tangan, leticia sudah diinfus begitu juga suntikan kortikosteroid sudah diberikan untuk perkembangan paru paru bayi.



Alat, deteksi jantung bayi. sedang dipasang diperut Leticia. dokter melakukan pantauan dari monitar.'' Bu, setiap kali mengambil napas ditekan ya selama 15kali.'' ujar dokter.


Leticia, dengan menahan sakit, namun ia terus melakukan saran dari dokter. Alfonso terus mendaratkan kecupan demi kecupan dikening dan punggung tangan Leticia.


''Sayang, ini benar benar sakit.'' lirih Leticia.


Dokter Grace, datang mendekati Leticia "sabar, bu kami harus betul betul memastikan kondisi ibu dengan baik dan benar."


Alfonso, hanya bisa menahan napasnya.ketakutan yang selama ini Ia kwatirkan mulai menyelimuti hatinya.saat, sedang menghibur Leticia.


Louis, datang dengan membawa jarum dan satu botol kecil berjalan mendekati leticia.'' apalagi, ini?" tanya Alfonso panik.


''Saya, akan mengambil sampel darah.dan, segera melakukan pemeriksaan vital.'' ijin dokter Louis.


''Hmm..,'' jawab Alfonso.


Dokter Louis segera mengambil sampel darah. dan membawahnya ke ruang laborartorium untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Dokter, Grace mulai memeriksa jalan lahir. ''sudah bukaan 3.'' ucap dokter Grace.


''Itu, artinya anak saya akan segera lahir?" tanya Alfonso dengan panik.


''Tidak, pak. ini baru proses pembukaan.'' jawab Grace, tangannya kembali mengambil kateter dan mulai memasang disaluran kemih Leticia.


Leticia, yang mengeluh punggungnya sangat sakit meminta Alfonso untuk memijitnya. dengan, cegatan Alfonso memberi pijitan dipunggung Leticia.


''Kamu, tahu sayang. aku, sempat dibuat gila oleh Walker. Dia, tiba tiba mengirim nomor ponselmu untuk saya.'' cerita Alfonso, mengingat kenangan awal dirinya menghubungi Leticia.

__ADS_1


''Terus, kamu. menghubungi saya. tetapi, hanya diam .'' jawab Leticia tertawa.


''Iya, karena itu pertama bagi saya menghubungi wanita dan menyimpan nomor ponsel wanita. dan kamu juga wanita terakhir yang saya hubungi." jelas Alfonso.


Mereka, tertawa bersama.'' achh.., ini sangat sakit sayang.'' ringis Leticia. menahan tekanan perutnya semakin kencang Leticia, merasakan jalan lahirnya begitu hangat.


Dokter Grace, memeriksa ternyata Air ketuban dan campuran darah merah pekat keluar dari jalan lahirnya.


''Buk, saya akan lakukan anestesi spinal.'' jelas Grace, dengan berhati hati dokter Grace memberikan suntikan spinal di tulang belakang Leticia.


Alfonso, menitikkan air matanya, saat melihat Leticia memejamkan mata untuk menahan sakit. Dengan penuh cinta Alfonso memeluk kepala Leticia. ''sabar, sayang kita akan segera berkumpul dengan mereka.'' bisik Alfonso. tangan kekarnya menyeka butiran kristal yang terus jatuh membasahi pipinya.


Leticia, segera, dipindahkan diruang operasi. Alfonso, terus mengikuti Leticia. saat melewati lorong depan terlihat Felisia yang sedang berdoa. Karla, berjalan mendekati sang kakak.


''Kakak, kuat ya. aku, disini terus berdoa untuk kakak. kami, sangat mencintai kakak.'' ucapan tulus keluar dari mulut Karla.sembari mengecup kening sang kakak.


Leticia, tersenyum ketika melihat adek sambungnya menitikkan air mata. sakit, yang ia rasakan sudah sedikit berkurang karna suntikan yang sudah diberikan.


Felisia, datang memberi kecupan dikening sang putri. '' mommy, disini nak. sebentar lagi daddymu juga tiba.'' ucap Felisia.


''Mom, Al temani Cia diruang operasi,'' ujar Al.


''Baik, nak. kamu yang tenang jangan panik.'' Felisia, menepuk bahu Alfonso. dia, tahu menantunya sedang rapuh. Alfonso, mengangguk, matanya menoleh ke arah Steward yang sedang duduk menatap Alfonso, dengan tersenyum.


Perawat,lanjut mendorong Brankar menuju ruangan operasi.Leticia dibaringkan diatas meja operasi kepalanya sedikit dinaikkan, kain hijau ditutup dibagian dada Leticia.untuk membatasi perut dan dada Leticia.


Tim dokter, sudah siap untuk melakukan tindakan operasi.Dokter Catlyn selaku dokter yang menangani Penyakit Lupus Leticia datang mendekati Alfonso, yang sedang cemas menggenggam tangan Leticia.


''Pak, kami segera melakukan tindakan operasi karena kwatir dengan kondisi ibu Leticia akan semakin menurun.'' ucap Cathlyn.


Alfonso, tidak langsung menjawab matanya menatap bola mata Leticia. Leticia tersenyum. ''Jika, kamu yakin. aku, bisa melewati ini dengan baik.'' Leticia, berusaha meyakinkan Alfonso.


''Hmm.., lakukan yang terbaik untuk ke limanya, dokter.'' tegas Alfonso. matanya enggan menatap dokter.


Cathlyn, tersenyum.'' pak, masih ingat pesan saya waktu itu. ibu, Leticia bisa selamat.'' jawab Cathlyn penuh percaya diri.

__ADS_1


''Baiklah, lakukan yang terbaik, jika, tidak. aku, pikir dokter sudah tau siapa saya.'' perkataan itu lolos begitu saja. entah sadar atau tidak. tetapi, Alfonso benar benar ketakutan. dia, tidak ingin kehilangan Leticia, apalagi akhir akhir ini imun Leticia sering naik turun. Bahkan, lupusnya sempat kambuh, yang menyebabkan seluruh badan Leticia memerah dan benjol benjol.


Dokter Cathlyn, tersenyum." percayakan, pada dokter juga Tuhan." jawab Cathlyn.


Alfonso, hanya menghela napas panjangnya. sayatan pada perut Leticia sudah dimulai dari sayatan 10 centimeter sampai 20 centimeter hingga sampai pada rahim Leticia.


*****


Pesawat , juga sudah mendarat di airport Spanyol. Jose dan dua anak buah lagi sudah menunggu di lobby airport Spanyol.


Mason, segera masuk ke dalam mobil. "antarkan, saya langsung ke rumah sakit.'' ujar Mason pada sopir.


''Baik, Tuan.'' jawab sopir dengan kecepatan tinggi, mobil melaju menuju rumah sakit.Dan, tidak menunggu lama mobil tiba dirumah sakit.Mason, segera membuka pintu dan berlari menuju rumah sakit. Glen dan Stefani dan yang lainnya menyusul dari belakang.


Felisia, sedang menangis dilorong dengan cemas menunggu kabar dari dokter.


''Mom,'' panggil Mason.


''Daddy, Cia sedang dioperasi.'' jawab Felisia. bercucuran Air mata. Mason, memeluk Felisi sembari mengecup ujung kepala Felisia."sabar, putri kita anak yang kuat, dia baik baik saja." sambung Mason.


Stefani, menatap Glen.'' Ternyata, ini yang sejak tadi dicemasi daddy.'' bisik Stefani pada Glen.


Dengan, langkah perlahan Stefani mendekati Felisia. " Mom, bagaimana kondisi Cia?" tanya Stefani.


Felisia, balik memeluk Stefani. ''Tadi, dibawa ke ruang operasi dia baik baik saja. Namun, kondisi yang sekarang mommy belum tahu.'' lirih Felisia.


Stefani, mengelus punggung Felisia, "mommy. yang tenang. Cia, orangnya kuat.'' sambung Stefani.


Felisia tersenyum. " Terima kasih nak," jawab Felisia.


Namun, begitu lah hati seorang ibu. dikuatkan oleh siapapun tetap saja mencemaskan putrinya.


***


Di ruang operasi, Alfonso bolak balik menyeka keringatnya. kecupan demi kecupan terus ia berikan di kening Leticia. sayatan 20 centimeter sampai pada rahim Leticia, dengan cepat dokter mengangkat kepala bayi dan memberikan pada perawat yang sudah siap disamping dokter. bayi berjenis laki laki. menyapa dunia dengan tangisnya yang begitu kencang. Leticia yang terjaga menatap wajah panik Alfonso.

__ADS_1


"Bayi, kita?" guman Leticia. Alfonso, masih dalam mode bingung.


__ADS_2