
Dengan cepat Alfonso berlari, dan memberi perintah.
"Blokir pelabuhan.!" teriak Alfonso dan terus berlari.
Saat ini, emosi Alfonso sudah tidak bisa dikendalikan lagi, tadi dia masih bisa mengendalikan nya setelah mengetahui kalau bukan Nuel pelakunya. tapi, saat ini sudah habis kesabarannya. terlihat dengan jelas gurat guratan amarah tersusun di dahinya, matanya sudah memerah, gerahangnya mengeras.
Ini, sudah menyangkut hadiah untuk sang istri tercinta, untung saja anak buahnya menemukan peledaknya tepat waktu.
Dengan, pistol di tangannya, dan diikuti oleh keempat teman dari belakangnya, mereka berlari ke arah di mana kapal pesiar miliknya bersandar.
Saat sedang berlari ke arah kapal, sesaat Alfonso membayangkan kalau saja peledak itu meledak disaat dirinya membawa Leticia naik ke atas kapal saat acara syukuran kehamilannya nanti.
Bayangan itu terus ada di benak Alfonso.
"Temukan mereka dan bawa mereka dalam keadaan hidup hidup ke sini."teriak Alfonso lagi dari earphone blutoothnya.
Anak buahnya yang mendengar perintah dari Alfonso, semua bergerak dengan cepat mencari disetiap sudut pelabuhan.
Dengan, secepat kilat.Alfonso melompat masuk ke atas kapalnya, sedangkan Glen dan ketiga temannya bersiap dibawah
Ethan, terus memantau dari atas udara.
"saat ini musuh sedang kebingungan karna telah dikepung disetiap sisi pelabuhan." bisik Glen ke Gareth.
Tapi.., mereka tidak menyadari musuh siapa yang sebenarnya mereka hadapi. yang dengan rapi telah menyusun rencana nya dengan matang. dan benar jebakan dia berhasil. semua masuk ke perangkapnya.
*****
Di mansion, Hari sudah siang tepat pukul dua siang, Leticia yang merasa perutnya kelaparan segera menyibak selimutnya dan melihat ke sampingnya, tapi sang suami tidak ada disampingnya.
"Hmmmm."
Dan perlahan berjalan ke arah kamar mandi, setelah selesai dari kamar mandi. Leticia berjalan ke balkon, kali aja Alfonso disana. tapi tetap saja suaminya tidak berada disana.
Leticia berpikir suaminya di dapur. karna, ini sudah jam makan siangnya. dengan berhati hati Leticia berjalan ke arah dapur dengan menuruni anak tangga satu persatu.
__ADS_1
Leticia, mencoba mencium aroma masakan sang suami. tapi lagi lagi sama sekali tidak tercium aroma masakan khas sang suami.
"Hei.., my babies. daddy kalian ke mana ya?tumben ngga ada didapur, bahkan diruang tamu juga ng ada." gumam Leticia sambil mengelus elus perutnya yang masih rata.
Bibi Yati, yang melihat Leticia sedang kebingungan mencari sesuatu. segera berjalan mendekati Leticia.
'Non, apa Non mencari Nak Alfonso?" tanya Bi Yati dengan lembut.
''Iya, bi. Alfonso ke mana? aku sudah mencari dia diseluruh kamar, dibalkon, ruang tamu juga ng ada. apa bibi melihat Al? atau, mungkin dia meninggalkan pesan mau ke mana gitu?" tanya Leticia, tangannya menarik kursi dimeja makan dan duduk.
"Iya, tadi Nak Alfonso. menitip pesan kalau dia akan keluar sebentar menemui nak Glen ada urusan dengan nak Glen. dan nak Alfonso berpesan lagi kalau bibi yang akan menjaga non disini." jawab bi Yati
''lama ngga bi?"
"Katanya sebentar saja tidak lama Non." jawab Bibi Yati.
"Non mau makan apa biar bibi masakin." sambung bi Yati lagi.
Mendengar jawaban bibi Yati, seketika perasaan Leticia tidak enak. gelisah bercampur sedih.
"Uda non ngga usah memikirkan hal yang aneh aneh. wajar, perasaan ibu hamil sering berubah ubah mengikuti hormon Non." jelas bi Yati.
"Tapi bi."
Leticia terdiam, tidak mau melanjutkan pembicaraannya.
"Bi, temani saya. kita jalan jalan ke depan saya bosan didalam Mansion ini." pinta Leticia.
"Tapi, Non." jawab bibi Yati.
Yang, sudah membayangkan bagaimana reaksi Alfonso, kalau mengetahui istrinya berjalan di luar Mansion dan tanpa ijin dari nya.Memikirkan itu saja bi Yati sudah bergidik ngeri.
"Uda, bibi. ngga usah kwatir. nanti saya yang akan menjelaskan pada Alfonso, setelah dia pulang nanti. tenang saja." jawab Leticia sambil mengedipkan matanya ke arah bibi Yati.
"Ini, permintaan bayi diperut saya lho Bi." pinta Leticia. dengan wajah memohon.
__ADS_1
Karna, tidak tega melihat wajah Leticia yang bersedih. akhirnya, bibi Yati pun menyetujui permintaan Leticia.
"Baik, Non.akan saya temani Nona dengan salah satu pelayan lagi." jawab Bi yati sambil menarik nafas dalam dalam.
Karna, bi Yati takut. semua kegiatan dalam dan sekitar Mansion, Selalu terpantau oleh Alfonso, lewat ponselnya. dan bibi Yati ng isa ngebayangin kalau ada hal buruk terjadi pada Leticia diluar Mansion.
Leticia menggeser kursi ke belakang dan berdiri.
"Ayo, bi." panggi Leticia.
Karna, melihat bibi Yati yang masih berdiri diam ditempat.karna terus menerus dipanggil, akhirnya bibi Yati meraih tangan Leticia dan menggandengnya. mereka bertiga berjalan ke samping Mansion. karna bibi Yati meminta salah satu pelayan untuk ikut dengan mereka.
Leticia, tersenyum setelah menghirup wangi wangi bunga peninggalan bekas tangan sang mertuanya, yang tidak sempat bertemu dengan dirinya.
Tapi.., wangi taman bunga dimansion tidak menghilangkam rasa cemas dan kwatir terhadap Alfonso. mungkin ini kah yang dinamakan insting seorang istri?entahlah untuk saat ini leticia sulit menjelaskan perasaannya.
Saat,sedang menetralkan perasaannya mata Leticia tertuju ke pintu bagian kiri Mansion.
"Bi." panggil Leticia.
"Iya, non."
"Itu pintu, jalan ke mana ya bi?" tanya leticia sambil menunjuk ke arah pintu yang dimaksud dirinya.
"Oh, itu pintu keluar ke jalan depan non. tapi, sejak tuan besar meninggal. pintu itu sudah tidak di gunakan lagi.jawab bi Yati dengan perasan was was kalau saja letica ngidam meminta dirinya manjat pintu atau membukakan pintu itu.
"Ayo, bi kita jalan ke sana. pintu itu dikunci ngga?" tanya leticia bersemangat.
"Non, kalau mau keluar saya minta sama Nak bale saja." jawab bibi.berharap leticia mau menyetujuinya.
"Ya, uda. ayo kalau begitu.kita jalan jalan aja bi.siapa tau ada makanan enak lewat depan jalan, iya kan bi?" Ucap leticia bersemangat.
Bibi, Yati hanya diam. dan terus berjalan dengan diikuti salah satu pelayan lagi dari belakang.
"Oh, Tuhan. mengidam seperti apa ini?" batin bi Yati.
__ADS_1