
"Al..., Al..., Al...,"panggil Cia. air Mata Cia terus menetes. Cia bingung dan harus bagaimana, mengangkat tubuh besar ini ke kamar.
Al, tergelatak di bawah shower dengan air yang masih mengalir. dan hanya memakai boxer. Cia, menarik kasar rambutnya. mengerutuki dirinya karna, kebodohan dirinya yang jujur soal sakitnya.
"Bagaimana aku harus apa dulu."Cia kebingungan.menepuk pelan pipi Al yang dingin seperti es.
"Tidak, kamu tidak boleh mati. bukan kah aku yang sakit. kenapa kamu yang menderita? oh... pernikahan seperti apa ini?"Ucap Cia tanpa hentinya dan terus menepuk pipi Al. agar tersadar dari pingsan nya.
Cia panik, takut dan ada rasa yang didalam sana sulit sekali di ungkapkan, rasa yang tidak mau jauh dari Al.
Segera Cia mematikan showernya. lalu, Cia mencoba menenangkan diri dari kepanikannya.
Cia, ingat kalo di hotel ini ada klinik dan dokter yang bertugas disini dokter Louis.
Dokter pribadi Al, tepatnya dokter kepercayaan dari keluarga Al. tapi, Cia diam bagaimana dirinya bisa memanggil dokternya.berpikir sejenak otaknya mencair memikirkan Vani. Ya, Vani Managernya dan pacarnya Glen temannya Al.
"Tunggu bentar ya sayang, aku cari pertolongan."ucap Cia pada Al.
Lalu...,
Dengan berlari kecil, Cia keluar dari kamar mandi menuju kamar. tangannya meraih ponsel miliknya yang diletakkan di atas nakas dekat ranjang.
Segera Cia mengusap layar ponsel miliknya. lalu, mencari nomor ponsel milik Vani.
"ketemu." gumam Cia. setelah lama menggesek layar ponselnya.
Drthhhh...,
Ponsel Vani berdering...,
"Hallo, Van. pelase help me Van." ucap Cia sambil menangis.
"Lho, kamu kenapa Cia. kenapa menangis?" tanya Vani dalam kebingungan.
Seketika tangis Cia pecah lewat sambungan Telpon, membuat Vani kebingungan.
"Cia, ada apa? bicara bukan kamu nangis. kebiasaan deh, ada masalah selalu nangis. kamu pikir dengan kamu menangis semua masalah bisa diselesaikan." ucap Vani kesal. karna Cia ng terusin bicaranya, malah terus saja menangis.
"Van, tolong aku. Al pingsang didalam kamar mandi aku ng tau kenapa.tapi saat aku bangun dari tidur aku berjalan ke arah kamar mandi. ternyata, Al sudah tidak sadarkan diri dibawah shower." jawab Cia sambil terus menangis.
"What, ada ada saja." Ucap Vani.
"Iya, makanya cepatan ke sini. ajak Glen juga." ucap Cia.
"Iya iya. aku akan ke sana bersama Glen."ucap vani.
Dan Cia pun segera mengakhiri panggilan telpon.
Cia, tidak tahu kalo diluar banyak anak buah Al yang jaga didepan pintu, kamar hotel mereka tempati. karna, anak buah Al mengenakan seragam security. jadi, Cia sama sekali tidak curiga dengan orang orang yang berdiri didepan kamar mereka.
Setelah, selesai menelpon Cia meletakan lagi ponselnya di atas nakas. Cia sedikit lega karna Vani akan segera datang bersama Glen.
Lalu, Cia berjalan lagi ke kamar mandi. Cia berjongkok didepan Al menyamai tinggi mereka.
"Ayo, bangun. bukannya kamu sudah berjanji akan selalu berada disamping aku.jangan, nakutin aku sayang. bercandamu ng lucu yank," Ucap Cia. berharap, Al mendengarkan dirinya dan bangun dari pingsan nya.
Glen dan Vani sudah di lobby hotel. karna Glen mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. dan Glen ke sini bersama Andre, Kevin, Gareth.
Setelah, mobilnya diparkirkan. mereka segera berjalan ke arah Lift.
Ting...,
Pintu lift terbuka.
Segera, mereka masuk kedalam lift.semua karyawan hotel yang melihat, hanya menunduk karna mereka sudah tau kalo mereka teman teman dari bos mereka tuan Alfonso.
__ADS_1
Ting...,
pintu lift terbuka.
Glen bersama yang lainnya segera keluar dari lift dan berjalan menuju ke kamar hotel Al.karna dilantai dua puluh hanya terdapat 6 kamar hotel yang dikhususkan buat Al dan teman temannya.
Glen, yang memiliki accescard kamar Al.dengan Cepat Glen menempelkan Acces cards di pintu Glen segera masuk dengan beberapa anak buah yang berjaga didepan pintu. mereka berlari kecil menuju kamar mandi.
Saat hendak membuka pintu kamar mandi, mata Glen membulat. saat melihat ke arah Al yang terbujur kaku dilantai kamar mandi bawah shower.
"Cia. " panggil Vani dan berjalan ke arah Cia.
Cia, yang mendengar teman temannya sudah datang segera membalikkan badan dan berlari ke arah Vani memeluk Vani dan menangis.
Glen dan beberapa anak buah segera mengangkat tubuh Al dan dibawah ke kamar. dan Andre segera menghubungi dokter Louis.
Tidak menunggu lama, dokter Louis datang, Andre segera membuka pintu dan mempersilahkan dokter Louis masuk.
"Pagi dok, Silahkan masuk dok."ucap Andre.
"Pagi, Ndre."jawab dokter Louis.
Sambil berjalan mengikuti andre menuju arah ranjang Al. Cia, masih saja terus menangis dalam pelukan Vani.
Cia, sedikit lebih manja kalau didekat Vani. karna, Vani dan Nabila teman dekat dia sejak dulu.selain sebagai manager Cia. Vani, juga suda menjadi teman curhat Cia.
Vani terus mengelus kepala Cia sambil menenangkan Cia.
"Sudah, diam itu dokter Louis sudah datang."ucap Vani.
Cia, yang mendengar dokter sudah datang segera melepaskan pelukan Vani dan merapikan rambutnya.
"Pagi, Nyonya Alfonso. pagi semuanya."sapa Dokter Louis.
"Pagi juga dokter."jawab serentak semua orang yang berada diruanga Al.
"Ah.., gimana pengantin baru. baru semalam uda pingsan saja ni."goda dokter Louis.
Cia, yang mendengar itu tersipu malu.
"Berapa ronde."goda dokter Louis lagi. sambil mengambil testoskop dari dalam tasnya dan mulai pasang ditelinganya dan menekan di dada Alfonso.
Setelah selesai, dokter mengambil senter memeriksa mata dan mulut Al. lagi lagi dokter menggelengkan kepalanya.
"Hmmmmm."dokter berdehem.
Cia, daan lainnya mengerutkan dahi mereka penasaran. sakit apa yang diderita Al
"Sayang, kamu baik baik sajakan."batin Cia. sambil memegang erat tangan Al.sesekali Cia mengelus punggung tangan Al.
Dokter yang melihat Cia yang kwatir hanya tersenyum.lalu, mengembalikan Testoskop dan alat medis lainnya ke dalam tasnya lagi.
"Ng apa apa.tuan Al tidak menderita penyakit serius." ucap Dokter.
"Lalu?" tanya Cia.
" hanya kelamaan kena air menyebabkan tuan Al pusing. Hal ini berkaitan dengan tekanan darah. ketika mandi air panas, tekanan darah menjadi menurun.karna, panasnya air dapat melebarkan pembuluh darah tepi sehingga menyebab kan tuan Alfonso,pingsan." jawab dokter Louis.sambil tersenyum.
Cia, dan lain nya merasa lega. setelah mendengar penjelasan dokter.
"Nyonya, lain kali kalo cari gaya jangan dibawa shower."goda dokter Louis. sambil menulis resep obat untuk Al.
Cia, yang mendengar ucapan dokter. hanya, mengerutkan dahi tidak mengerti.Glen dan yang lainnya menahan tawa.
"pufttthhhh."
__ADS_1
Cia, semakin tidak mengerti sambil terus mengoleskan minyak ke hidung dan telapak tangan Al.
Setelah hampir lima belas menit. Al mulai sadar. Al, perlahan membuka matanya. saat matanya terbuka sempurna Al kaget karna ada banyak orang didalam kamar mereka dan Al sudah berada dalam selimut.
Al, memegang kepalanya, lalu bangun dan duduk menyenderkan kepalanya diheadboard ranjang.
"kenapa banyak orang disini sayang."tanya Al pada Cia.
Cia hanya diam karna kesal dengan tingkah konyol Alfonso.
"kamu berapa lama di kamar mandi Al, sehingga bisa pingsan seperti itu."tanya Glen.
"Ah.., itu. aku lupa berapa lama."jawab Al singkat dengan wajah dinginnya.
"Baik, Tuan. saya permisi. obatnya diminum."ucap dokter Louis.
Al, melihat ke arah dokter.
"Ok, baik. dokter. terima kasih dok."jawab Al.
"Sama sama tuan. lain kali jangan dikamar mandi."ucap Dokter Louis.
Lalu..,
Dokter Louis keluar dan kembali ke klinik hotel.
Dan, teman temannya masih didalam kamar.
"Kamu sudah enakan belum."tanya Kevin.
"Emangnya aku kenapa."Al balik bertanya.
Cia, yang kesal. berjalan ke arah kamar mandi melanjutkan ritualnya yang tadi tertunda. karna kekonyolan Al.
Tinggal Glen dan yang lainnya di kamar.
"Kamu, ada masalah sama Cia."tanya Glen.
Al, mengerutkan dahi. mengingat kejadian semalam. dan bagaimana dirinya menyalah shower dan membiarkan airnya terus mengalir ke tubuhnya.
"Oh, mungkin karna aku kelamaan mandi."jawab Al singkat. yang masih memiliki banyak pertanyaan nanti ditanyakan Ke Cia.
Glen, tertawa menggoda. Al, kesal.
"Malam pertamanya bagaimana?" goda Gareth.
"Apaan sich kalian ini."jawab Al kesal.
"Ya, sudah kamu lanjut bulan madunya. ingat jangan keluar ke mana mana Spanyol masih social distancing." ucap Kevin.
Dan mereka tertawa bersama. setelah beberapa menit di kamar mandi. Cia, berjalan keluar dari kamar mandi.
Karna, melihat Cia yang sudah keluar dari kamar mandi. mereka pun berpamitan pulang.sambil membawa resep dari dokter.
"Ya, uda kami pulang, resepnya aku bawa.nanti obatnya aku titipkan di security."ucap Glen.
Vani pun berpamitan dengan Cia, mereka saling menautkan pipi. dan Cia, mengantar mereka hingga di depan pintu kamar.
"Cia, aku pulang."pamit Vani sambil melambaikan tangannya ke arah Cia.
"Ok, Van. thanks Ya.
Lalu...,
Cia berjallan lagi ke kamar menuju ranjang dimana suaminya lagi berbaring. Cia, berjalan ke arah kulkas mengambil air dan minum.
__ADS_1
"Lain kali kalo mau bunuh diri balikin dulu aku ke rumahku."ucap Cia kesal.
Al, tersenyum.