
Fani, berusaha menatap wajah Glen. Pipi nya,kini berubah menjadi warna pink.
''Kenapa, tersipu? warna pipi ini cukup hanya untuk aku yang lihat.hmmm!"tanya Glen, dengan lembut tangannya menarik tubuh Stefani masuk ke dalam dada bidang polosnya. karna, Glen tidak ingin orang lain melihat wajah istrinya yang merona seperti ini.
Fani, hanya mengangguk.
''Jangan, malu kamu sudah menjadi istri sah saya. hmm.''sambung Glen lagi. tangannya mengelus lembut rambut Fani.
Fani, yang berusaha menahan dirinya, dengan menggigit bibir bawahnya. karna merasa seluruh tubuhnya seperti kesetrum arus listrik tegangan tinggi.
''Sayang!" panggil Glen. karna, tidak mendengar jawaban dari Fani.
''Hmm.., kamu bicara saja. aku dengar.'' jawab Fani. kedua tangannya menutup wajahnya sembari bersembunyi didalam dada bidang polos sang suami.
''Kita, sudah mengucapkan janji ke Tuhan. kita, akan selalu bersama dalam suka dan duka. jadi, tidak ada salahnya, aku bertubuh polos didepan kamu begitu juga dengan kamu sayang. tidak, ada rahasia diantara kita lagi.hmmm,'' Glen terus memberi pengertian kepada sang istri. karna, Glen juga menyadari kalau Fani masih berada diusia yang labil. Dua puluh lima tahun.untuk, orang Spanyol usia yang mash labil.
Sedangkan, dirinya yang sudah menginjak usia tiga puluh lima tahun. dengan berpaut usia sepuluh Tahun. Glen, sadar kalau dia harus menjadi sahabat sekaligus suami, yang melindungi juga sebagai sahabat yang selalu memberi pengertian dan mendengar apa yang akan dikeluhkan sang istri.
__ADS_1
''Maaf, kalau aku masih bersikap seperti anak kecil, jujur aku belum pernah berpacaran selain dengan kamu!" ungkap Stefani jujur.
Glen, tersenyum sekaligus bangga. karna, Glen tidak menduga kalau ternyata, dirinya lah orang pertama sekaligus yang terakhir dalam hidup Stefani.
''Terima kasih, karna menjadikan saya orang pertama dan terakhir, dalam hidup kamu. maafkan aku, karna dihari pernikahan kita yang seharusnya menjadi moment bersejarah, dan terindah dalam hidup kamu. malah, semuanya berantakan jauh dari dugaan kita semua. untuk, itu mulai saat ini, malam ini dan sampe aku tiada nanti nya. aku, akan membahagiakan kamu,. dan tidak akan membiarkan kamu menangis.'' janji Glen. tangannya memeluk sang istri dengan begitu erat. kemudian mendaratkan satu kecupan diujung kepala sang istri.
Stefani, meneteskan air matanya. karna, kejadian diacara nikahan mereka itu, bukan mimpi dari Stefani kecil.
''Sudah, kita bersyukur masih dikasih keselamatan. lihat Alfonso, harus menderita, bahkan Leticia juga tidak kalah menderita dengan kejadian siang tadi.'' jawab Stefani. yang akhirnya, mau berbicara setelah tadi malu malu dengan Glen.
Fani, mengangguk kepalanya, dengan perlahan. karna, merasa nyaman dengan elusan Glen di kepalanya Fani perlahan memejamkan matanya menuju dunia mimpi.
*****
Diruangan, yang berbeda Leticia. masih setia duduk disamping sang suami. Felisia, terus bujuk sang putri untuk beristirahat sebentar. tapi, Leticia tetap tidak mau tidur jauh dari sang suami.
''Mommy, tidur aja. Cia, kalau ngantuk bisa tidur disamping Al.'' jawab Cia.
__ADS_1
Nabila, yang sudah tidak kuat menahan ngantuknya. sudah, lebih dulu tidur di sofa. Tubuhnya, ditutupi selimut. karna ruangan yang begitu dingin.
Sedangkan, Mason, dan ketiga sahabat Alfonso, duduk didepan ruangan bersama beberapa anak buah yang setia menjaga dengan senjata lengkap ditangan mereka.
Jam, sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Felisia, yang memang sangat cape. akhirnya ketiduran juga disamping willy diatas tempat tidur yang disediakan.
Leticia, tertidur disamping sang suami dengan duduk dikursi, ditepi ranjang sang suami. tangannya, dan tangan Alfonso sang suami terus saling bertautan.
Tangan, yang satunya dijadikan alas kepalanya untuk tidur disamping sang suami.
Alfonso, yang merasa lengannya berat. berusaha membuka matanya dan menggerakan tangannya.
Alfonso, dengan perlahan membuka matanya. dan melihat ke arah tangannya yang sedang digenggam sang istri.
Seketika, air matanya jatuh. karna, telah menyiksa sang istri yang perutnya besar harus tidur dikursi beralaskan tangan sebagai pengganti bantal.
''Oh, Tuhan istriku.'' batin Alfonso. yang belum bisa memiliki tenaga untuk bangun.
__ADS_1