
Setelah, mengendalikan emosinya. Alfonso, kembali menginjak pedal gas mobil. dengan, kecepatan rata rata menuju ke Hotel. matanya, sesekali melirik ke arah Leticia.lalu, kembali fokus ke jalan lagi.
Leticia, masih diam. matanya melihat keluar jendela mobil, tangan kanannya menopang dagunya. sambil, menitikkan air matanya.
''Mau, sampai kapan terus melihat ke arah luar. enggak takut kalau nanti leher pegal?'' ucap Alfonso. sembari tersenyum.
Leticia, enggan menjawab. tangannya terus menyeka air matanya.
Alfonso, segera membelokkan mobilnya masuk ke halaman hotel. kemudian menghentikan mobilnya didepan lobby Hotel.
''Jangan, nangis lagi aku tau kamu lagi nangis. aku, minta maaf. karna, tidak bisa mengontrol emosi. yang, sudah membuat kamu dan anak anak kita ketakutan. maafin, aku ya sayang!'' ucap Alfonso, tangannya meraih tangan Leticia.
''Hapus, air matanya sayang. aku, tidak ingin mereka tau masalah kita hmm?" sambung Alfonso lagi. sembari, membawa Leticia kedalam pelukannya.
Leticia, memukul pelan dada Alfonso, sambil terisak.
'' Kalau, omonganku membuat kamu marah. maka, marahlah aku. bukan dengan rem mendadak seperti itu. apa kamu mau membunuh aku dan anak anak ku?" Leticia terus terisak.
''Aku, minta maaf. aku terlalu bodoh, maafkan aku sayang. aku, janji ini pertama dan terakhir kali aku melakukan hal bodoh itu.'' Ungkap Alfonso penuh penyesalan. tangannya mengelus lembut rambut Leticia dan sesekali mendaratkan kecupannya di ujung kepala Leticia.
Akhirnya, Leticiapun diam dan tenang.Alfonso, segera meraih tissu dan mengelap wajah Leticia.
''Polesi, sedikit make up hilangin mata yang sembab itu."' pinta Alfonso.
Karna, bagi Alfonso. masalah rumah tangga cukup dia dan istri yang tau.mau itu masalah besar atau kecil. hanya mereka berdua yang menyelesaikan, tidak melibatkan keluarga.
Masalah, yang terjadi hari ini, diselesaikan hari ini juga. Alfonso, tidak suka berlarut larut kalau ada masalah.
Leticia, mengangguk. lalu, tangannya mengambil pouch make upnya dari dalam tasnya. dan mulai memolesi wajahnya. Leticia, melihat wajahnya di kaca mobil.
Setelah, memastikan make upnya sudah rata. Leticia, mengembalikan pouch make up nya ke dalam tas nya lagi.
"Makin cantik." puji Alfonso. sambil tersenyum.
Wajah, Leticia merona.
"Ngegombal!"gumam Leticia. yang masih didengar Alfonso.
"Aku, enggak tau merangkai kata. tapi, apa yang aku ungkapkan, itu yang ada didalam hatiku. kamu, wanita tercantik didunia, selain ibuku." jelas Alfonso.
"Sudah?" tanya Alfonso lagi.yang melihat Leticia, telah mengembalikan pouch make up nya ke dalam tas nya lagi.
''Hmmm..'' Leticia berdehem.
Alfonso, membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. lalu, segera berjalan ke pintu depan bagian kiri. kemudian, membuka pintu mobil untuk Leticia.
Dengan, bergandengan tangan Alfonso dan Leticia memasuki Lobby hotel dimana sudah ditunggui, Glen dan semuanya.
Lagi lagi, Karla dibuat terpesona dengan bangunan hotel milik Alfonso.
__ADS_1
''WOW.., sayang. benaran ini milik Alfonso lagi?'' tanya Karla. matanya melihat ke sana kemari. tangannya terus menggandeng lengan Steward.
'' hmmmm.., wajar sayang. kamu sendiri tau, selama kerjasama dengan Alfonso bagaimana.'' jelas Steward.
''Hmmm. sayangnya sekarang dia tidak turun langsung menyiksa musuhnya.''canda Karla. yang membuat Steward tersenyum.
''Husstt.'' Steward menegur Karla, yang mulutnya kalau sudah bicara lupa ngerem.
Semua, berjalan ke arah belakang hotel. dimana, lapangan yang biasa digunakan untuk party outdoor.
Disana padekor( orang yang mendekorasi) sedang sibuk. sesuai rencana semua hijau dan putih.
[pict google.]
Wajah Felisia terus tersenyum, sambil bergandengan dengan Mason.
''Sayang, tugas kita mendampingi anak anak menikah besok sudah selesai.[sebenarnya tradisi spanyol tidak ada pendamping, tapi karna berkembangnya jaman sekarang Spanyol juga mengikuti trend, ada pendamping pengantin.]'' ucap Felisia, menitikkan air matanya.
Felisia, bersyukur Tuhan masih memberi dia kesempatan untuk mendampingi anak anaknya menikah. Setelah, bertahun tahun bisa melewati masa yang sangat sulit.
Leticia, yang melihat mommynya menitikkan air mata. melepas genggaman Alfonso. lalu, berjalan mendekati Felisia. Dan, Mason yang sedang menggendong Willy.
'' Mommy, kenapa nangis? harusnya, bahagia kedua anak gadis mommy sudah memiliki pasangan masing masing, yang sangat mencintai kami. terus, apalagi yang membuat mommy bersedih?" tanya Leticia. tangannya menggandeng lengan wanita paruh baya yang sangat Ia sayangi itu.
Felisia, mengangguk. sembari tersenyum menatap putri tertua nya itu.
'' Iya, Cia. ngerti perasaan mommy. tapi, nangisnya sudahan mom.'' pinta Leticia. Tangannya, mengambil tissu.lalu, Leticia mengusap wajah yang sudah dipenuhi guratan keriput itu.
'' Terima kasih, nak.'' sambung Felisia.
'' Sama sama, mom. itu, lihat anak gadis mommy, enggak bisa diam. sejak tadi jalan ke sana jalan kemari.'' ucap Leticia lagi.sambil terkekeh, tangannya menunjuk ke arah depan.
Felisia, melihat ke arah yang ditunjuk Leticia.sambil terkekeh.
''Dasar, gadis nakal. diamnya kecuali tidur.'' sambung Felisia.
Leticia, dan Felisia tertawa bersama.melihat Karla yang hamil. tapi, begitu lincah kesana ke mari.
Setelah, selesai melihat persiapan dekorasi. Alfonso, dan semuanya masuk ke dalam hotel. menuju Resto yang dikhususkan Alfonso dan keluarganya.
Alfonso, dan semuanya, makan siang bersama.
Alfonso, sesekali menyuapi Leticia yang membuat Andre dan Kevin saling menatap.
''Glen, kalau sudah menikah, harus romantis seperti Alfonso.'' ucap Gareth. yang sejak tadi mengamati Alfonso yang sangat romantis.
Stefani, hanya tersenyum dan menunduk.
__ADS_1
''Enggak, usah dengarin para jomblo sejati itu.'' ucap Glen pada Stefani.
Felisia, menatap Mason. lalu tersenyum. tangannya terus menyuapi Willy.
*******
Malam ini, sesuai kesepakatan semua nginap di Hotel.
Setelah, mendapat accescard masing masing. karna, sudah sangat cape masing masing masuk kamar hotel mereka.
Leticia, membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
''Aku, tidur ya sayang.'' ucap Leticia.
''Iya, aku masih cek email ya sayang.'' Alfonso, memberi alasan. karna, tidak ingin Leticia cemas.
Alfonso, mulai mengambil ponselnya.
Lalu, mengirim pesan ke Ethan untuk mengirimkan anak buah lebih banyak lagi ke hotel.
"Persiapkan, anak buah dan lengkapi mereka dengan senjata dan baju pengaman yang lengkap. malam, ini segera kirim sini. '' Alfonso, mengirim pesan ke Ethan.
'' Baik, boss.'' balas Ethan.
''Blokir hotel ini dan sekitarnya. hingga satu minggu ke depan. semua yang masuk diperiksa dengan benar benar.'' balas Alfonso lagi.
'' Siap, saya mengerti.''balas Ethan lagi.
Selesai, mengirim pesan, Alfonso meletakkan ponselnya diatas nakas.
Lalu..,
Menatap ke arah Leticia, yang sudah pulas. Alfonso, tersenyum.dengan lembut menarik selimut dan menutupi tubuh Leticia.
Kemudian, Alfonso berjalan ke Balkon. tangannya mengeluarkan dua buah pistol dan sebilah belatih kecil. yang selalu diselipkan di pinggangnya.
Alfonso, mengecek peluru di kedua pistolnya. lalu, kembali diselipkan dipinggang nya lagi.
Kebiasaan, Alfonso yang selalu membawa dua pistol sekaligus dan sebuah belatih. tidak pernah dirubah hingga saat ini.
Walaupun, sudah jarang melakukan pembunuhan. tapi, Alfonso selalu waspada.Seperti saat ini, Jose, menelpon kalau besok akan ada penyerangan.
Karna, tidak ingin para wanita kwatir. mereka membahas persiapan hanya lewat chat.
Mason, yang sudah mengetahui siapa yang dibalik perencanaan penyerangan ini. berjalan kesana kemari didalam kamar.
Alfonso, yang kwatir mertuanya. segera menelpon Mason. mengatakan kalau tidak perlu kwatir. karna, penjagaan sudah ketat.
Mason, hanya berdehem sambil mengusap kasar wajahnya. Para, wanita semua pulas di kamar masing masing. Alfonso, yang melihat ke arah jam dinding baru pukul empat sore. segera, melakukan pertemuan diruangan khususnya yang berada di lantai dua puluh itu.
__ADS_1
Disetiap, kamar hotel dijaga ketat oleh dua orang bertubuh kekar yang lengkap dengan baju serba hitam.