SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
36. hinaan


__ADS_3

Oliver dan dua orang anak buah, datang membereskan ke tujuh mayat itu dan melempar masuk ke dalam kolam buaya.


Setelah, mayat mayat itu selesai dillemparkan ke kandang buaya. Ketiga pria itu masih berdiri dan menyaksikan, Bagaimana Buaya-buaya itu saling rebutan daging manusia. Oliver dan kedua temannya bergidik ngeri, Mereka membayangkan andai saja mereka yang berada di pihak ke tujuh pria itu.


"Makanya kalau kerja dunia hitam seperti jangan berpikir, untuk memiliki kekasih atau istri. Karena, kasihan kalau ditinggal mati seperti ini." ucap Oliver. Tangannya menepuk bahu kedua temannya yang masih berdiam di tepi kolam buaya.


Puk...puk...puk...


Lalu pergi meninggalkan Kedua pria itu yang masih diam terpaku. Mereka membayangkan ucapan Oliver barusan.


"Benar juga." ujar serantak keduanya.


Dengan terus membayangkan nasib ketujuh pria barusan. Kedua pria itu meninggalkan kolam buaya yang masih dipenuhi oleh darah manusia.


*****


Di Markas Red Devil, Karla dan seorang pria berkepala plontos. sudah di keluarkan dari bagasi mobil


Tubuh Karla lemas tak berdaya efek suntikan racun dan bekas tembakan di kaki. Begitu juga dengan anak buah Sergio yanb ikut ditangkap oleh Alfonso dan teman temannya. Dengan penglihatan yang buram keduanya di geret oleh anak buah Alfonso, Untuk dimasuk kan ke dalam penjara bawah tanah.


Karena masih belum sadar sepenuhnya kedua hanya hanay diam dan menurut ketika di geret kasar oleh Anak buah Alfonso. Setelah sudah berada didalam penjara bawah tanah, Tangan dan kaki nya di rantai besi.


Ruangan penjara itu sangat gelap dan hanya terdengar suara raungan Harimau dan bunyi kecepapan mulut buaya yang menahan lapar. untungnya Karla masih pinsang jadi tidak mendengar suara harimau. Kalau sadar Karla pasti akan ketakutan dan histeris.


Selesai kaki dann tangan di rantai. Anak buah Alfonso pergi meninggalkan penjara bawah tanah. dan bersiaga di depan Markas menunggu perintah selanjutnya.


Anak buah yang berada di California terus memperhatikan proses persiapan siksaan yang akan dilakukan oleh Alfonso. Karena, Kalau bersama Steward mereka hanya mengambil organ tubuh manusia. Lalu, sisa potongan manusia itu diberikan pada hewan buas piaraan Tuan Besar, yang kelaparan di dalam kandang.


Setelah menunggu hampir dua jam. Alfonso dan ketiga temannya keluar dari ruangan khusus persiapan.


Tak...tak...tak...


Bunyi langkah kaki ketiganya berjalan menuju ruangan penyiksaan tawanan, yang berada dekat kandang hewan buas. Alfonso segera duduk di kursi kebesarannya. Tidak lupa Alkohol disediakan di depannya, Karena bagi Alfonso rokok dan Alkohol adalah teman hidupnya.



"Bawa Mereka ke hadapan ku." Perintah Alfonso dengan wajah dinginnya. satu buah pistol sudah berada ditangannya, Kaki kanannya sengaja dsilahkan diatas paha kirinya. Sesekali Alfonso mengepul kan asap rokok, Lalu meneguk winenya.


Sudah menjadi kebiasaan Alfonso setiap kali akan menyiksa tawanannya.


Alfonso selalu bersikap seperti itu, wajahnya dingin tatapan matanya kosong, Alfonso berlagak seperti orang yang tidak memiliki hati.

__ADS_1


Masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, Karla dan Pria berkepala Plontos itu di geret dengan kasar keluar dari penjara bawah tanah.Alfonso yang tidar menunggu sesekali mengeras kan rahangnya.


Kedua tawanannya sudah didepan Alfonso. Alfonso melirik Andre.


" Tunggu saat penyiksaan dimulai baru kamu rekam." ucap Alfonso.


"Beres." jawab singkat Andre sembari berkedip.


Setelah menunggu 10 menit Karla dan Pria berkepala plontos itu sadarkan diri. Alfonso segera berdiri dan memberikan suntikan penawaran racun kepada keduanya untuk menjaga tidak terjadi kerusakan organ tubuh mereka.


"Gadis bodoh! Kenapa terlahir dri pria brengse*k seperti dia." batin Alfonso. sembari mmenyuntikan penawar di paha Karla.


Karla yang sudah sadar penuh melihat disekitar ruang penyiksaan.Menggeliatkan badannya. Namun, tangannya seperti tertahan. Karla melirik kearah tangan dan kakinya.


" Lihat wajah gadis ini, begitu lucu!" ledek Gareth.


Steward yang dikenal suka bermain wanita melirik di dua gundukan Karla, yang begitu menggoda. Apalagi Karla mengenakan gaun pesta yang belah samping tanpa lengan, dipadu dengan warna hitam seamkin erlihat ****i dan menawan. ditambah dengan tubuh Karla yang raamping bak gitar Spanyol dan wajah yang cantiknya, membuat Steward menelan salivanya dengan kasar.


"Jangan berimajinasi dulu, belum waktunya. Atau mau bersolo karier di toilet." sindir Alfonso yang hapal benar kelakuan para sahabatnya itu.


Karla yang berpura- pura tidak membuka matanya. Segera disiram air dingin oleh anak buah Alfonso.


"Siram mereka! tidak adil kalau saya siksa mereka, dengan keadaan mereka tidak sadarkan diri." perintah Alfonso, sembari meneguk 1 cangkir wine lagi.


Suara guyuran air dingan membasahi tubuh Karla dan pria berkepala plontos itu. Merasakan tubuh yang dingin Karla akhirnya memutuskan bangun, begitu juga dengan anak buah Sergio.


"Hai! gadis manis." sapa Alfonso dengan senyum menyeringai.


Karla ketakutan dan menggeserkan tubuhnya kebelakang. Sedangkan, anak buah Sergio hanya diam dan menunggu ajalnya datang.


Alfonso memutar-mutar sabuk berduri, di depan Karla dan anak buah Sergio. Karla sesunggukan, Ini pertama kali bagi Karla diperlakuan kasar oleh orang. Karena, Karla putri satu-satunya Sergio dia dijaga bak seorang putri.


Tak...tak...tak...


Langkah kaki Alfonso bak malaikat pencabut nyawa berjalan mengintari keduanya. sesekali Alfonso mengepulkan asap rokoknya. Sesekali Alfonso berkedip pada Karla, membuat Karla mnegerutkan dahinya.


Karla mulai merasakan perih dikaki bekas tembakan Alfonso di Hotel tadi. matanya menatap Alfonso dengan iba. berharap ada belas kasihan dari Alfonso. Tubuhnya masih lemah efek suntikan obat.


"A...ku di mana?" tanya Karla dengan ketakutan.


"Di neraka!" jawab Alfonso dengan terbahak.

__ADS_1


Hahaha...


Kedua tanngannya direntangkan kepalanya mendengak ke atas. Alfonso seprti orang yang haus akan darah manusia.


"Selamat datang, gadis bodoh!" sambung Alfonso lagi.disela tawa jahatnya.


Karla berusaha memberanikan dirinya, menatap tajam Alfonso.


"Pria kejam, apa mau mu? sehingga kau membawa aku ke sini?" teriak Karla berusaha memberanikan dirinya.


"Plakkk..."


Satu tamparan melayang dipipi tirus Karla, "berani nya kau! teriak di hadapanku!" bentak Alfonso. sorot matanya bak seekor singa yang kelaparan.


"Berani tampar aku sekali lagi! ya aku berani!" jawab Karla dengan tidak takut mati, "jika kau pria sejati tampar aku sekali lagi," Karla berusaha menaha tangisnya di depam pria berhati iblis ini. Namun, naluri seorang anak dan juga wanita lemah mengatakan lain. air matanya berderai membasahi pipinya.


Hatinya terisak memanggil ibunya. Namun, yang dipanggil tidak mengetahui apa-apa.Karla yakin sang ibunda mendengar jeritan hatinya walau jauh diseberang lautan.


"Kenapa, menangis? Ayo teriak lagi yang kencang. Karena tidak akan ada yang berani datang menolong kau disini! cam'kan, ini baik baik!" bentak Alfonso. sembari berjongkok dihadapan Karla untuk menyamai tinggi mereka. Karla memaling wajahnya dari hadapan Alfonso.


"Jangan sentuh tubuhku! dengan tangan hinamu itu!" sergah Karla.


Deg...


Alfonso merasakan darahnya naik hingga diatas ubun ubun.Karla melewati batasannya. Kini Karla siap menghadapi amarah singa yang sedang tidur pulas.


"Kata'kan tangan siapa yang hina disini! Ayo bicara yang jelas!" bentak Alfonso. Tangan Alfonso menarik kasar rambut panjang Karla kebelakang, membuat wajah Karla mendengak ke atas.


Namun, perlakuan kasar Alfonso tidak membuat Karla menyerah. Karla semakin menyerang Alfonso dengan kata kata hinaan yang menusuk hati Alfonso, benar saja kini Alfonso sudah terpancing!


"Kau! tangan kamu yang hina!" balas Karla dengan mata yang kini sudah merah.Karena kebanyakan menangis. Kepalanya pun sakit tak tertahankan Karena tarikan Alfonso yang semakin kasar.


Andre terus merekam semua siksaan terhadap Karla.


"Tatap wajahku! tanyakan pada bajing*an itu. siapa yang lebih hina diantara aku dan Ayah mu itu!" sahut Alfonso dengan tatapan yang mematikan.


Karla serasa ditampar mendengar Ayahnya kini dibawa-bawa oleh Alfonso.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(Sudah direvisi).

__ADS_1


jangan lupa y berikan like, komen. kalo bisa berharap vote y🙏


Iya uda pencet 💖 nya kan💐💐🙏🙏💖


__ADS_2