
'' Berapa , pak?'' tanya pelayan toko itu.
'' Bungkus, semua saja. dan aku minta cepat.'' jawab Alfonso dengan wajah dinginnya. kemudian berjalan ke arah kasir untuk membayar harga cupcake itu.
setelah, melakukan pembayaran. pelayan toko memberikan paperbox yang berisi cupcake 12 cup ke Alfonso.
'' Ini pak, Terima kasih atas kunjungannya.'' ucap pelayan itu dengan sopan.
'' Sama sama.'' jawab Alfonso kemudian segera pergi membawa paperbox yang berisi cupcake ke mobilnya.
Alfonso, masuk ke dalam mobil dan meletakkan paperbox dikursi samping ia duduk.. lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi kembali ke Mansion.
''Ternyata sulit juga ngatasi orang hamil, aku pikir kalau kita minta untuk mengganti apa yang mereka inginkan itu bisa.'' gumam Alfonso dalam mobil. sambil menggelengkan kepalanya.
Tidak berapa lama, mobilpun tiba di Mansion. dan, Alfonso segera keluar dari mobil sambil membawa paperbox ke arah kamar mereka.
Leticia, yang menunggu dikamar tidak tenang, jalan ke depan balkon kamar untuk melihat Alfonso. tapi, mobil Alfonso tidak nampak dari atas Balkon.
'' Huff..,, kenapa lama sekali.'' gumam Leticia dengan wajah cemberut.
Alfonso, membuka pintu kamar kemudian masuk dengan membawa paperbox ditangannya. tapi, Alfonso tidak melihat Leticia dikamar. .
''Sayang, kamu dimana?"panggil Alfonso dengan rasa panik.
Leticia yng mendengar namanya dipanggil segera berlari masuk dengan girang. sesaat ia melupakan kalau dia sementara hamil.
'' Jangan lari!" ucap Alfonso kwatir. melihat tingkah istrinya seperti anak kecil yang kegirangan mendapat hadiah.
'' Hehehe.., dapat sayang?" jawab leticia dan duduk disofa.matanya langsung tertuju dipaperbox diatas meja.
'' Iya, dapat. tapi jangan lari seperti itu.gimana kalau bayi didalam sana kaget.lagian, ngapain berdiri dibalkon? ini malam hari enggak baik buat ibu hamil berdiri sendiri diluar sana." sambung Alfonso. tangannya membuka paperbox untuk mengeluarkan cupcake strowbery.
Mata, leticia berbinar binar. Saat, melihat cupcake yang menggiurkan tersusun rapi dalam paperbox.
'' Terima kasih, sayang. Maaf aku berdiri di balkon untuk melihat kamu sudah pulang atau belum." jawab Leticia dan memeluk sang suami kemudian mendaratkan satu kecupan mesra dibibir Alfonso.
Alfonso, tersenyum.sambil menatap dalam sang istri.
''Sayang, aku pasti akan berusaha sampai dapat. Demi, kamu dan anak anak kita.'' sahut Alfonso dan menarik pelan pipi Leticia, yang sekarang terlihat semakin cubby.
''Sayang, emang orang ngidam itu dimalam haripun ada? engga bisa hanya disiang hari saja!" tanya Alfonso lagi.sambil tersenyum.kemudian menyuapkan cupcake ke mulut Leticia.
''Mana bisa sayang.masa ngidam bisa janjian? emang orang pacaran. jadi, janjian, ishh.'' sahut leticia mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
''Emang, pacaran ada janjian begitu?'' tanya Alfonso dengan bingung. Alfonso, memang tidak pernah merasakan pacaran. jadi, wajar kalau dia menanyakan hal itu untuk Leticia. karna, saat melihat Leticia mereka tunangan mendadak dan langsung menikah.
'' Hmmm..., kurang lebih begitu.'' jawab Leticia menganggukkan kepalanya mulutnya terus mengunyah cupcake dimulutnya.
''Berati, aku perlu pacaran dulu.biar bisa tau apa itu janjian.'' jawab Alfonso dengan menggoda.
Leticia, yang mendengar itu menatap tajam Alfonso.
''Coba aja kalau bisa!" jawab Leticia dengan nada menekan.
''Sudah, kalau makan enggak boleh ngomong. aku bercanda.' lagian enggak ada yang mau sama aku.'' Jawab Alfonso. yang gemes melihat sang istri kalau wajahnya cemberut.
''Mana, bisa aku berpaling darimu. Aku, tidak keberatan kamu ngidam apapun sekalipun aku harus menerjangi lautan merah akan aku lakukan demi kamu, karna aku beruntung saat ini bisa direpotin kamu, entahlah dihari besok semua masih misteri.'' batin Alfonso. sambil menarik pelan nafasnya dengan begtu dalam.
''Kamu enggak mau coba? manisnya pas dan ini enak bangat.'' ucap Leticia yang sudah menghabiskan tiga cupcake.
''Buat kamu saja, biar anak anak kita yang didalam sini enggak kelaparan.'' jawab Alfonso kemudian tangannya mengelus perut leticia dengan lembut.
''Aku, juga uda kenyang.'' sahut leticia. yang merasa sudah lega dan kenyang.
'' Cuma tiga cup? aku pikir semua ini bakal dihabisin.'' kata Alfonso dengan tersenyum.matanya melihat ke arah paperbox. lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Leticia hanya menggeleng dan mengelus perutnya.
'' kan lima orang yang makan sayang. makanya aku beli 12 cup. mommynya 4, anak anak masing masing dua cup .'' jelas Alfonso sambil terkekeh.
''Sayang, yang benar saja.." jawab Leticia dan ikut tertawa.
Alfonso, menatap dalam Leticia. yang tertawa begitu lepas.entah, kenapa setiap kali melihat Leticia tertawa bahagia. semakin Alfonso takut akan kehilangan sang istri
Kemudian..,
Alfonso, merapikan meja. dan membawa cupcake tadi ke dapur.karna dia tidak ingin menggangu para pelayan yang sudah istirahat.
Leticia, duduk dikamar sambil membaca kisah putri cinderela untuk anak anaknya.
Alfonso, yang sudah selesai menyimpan cupcake di dapur segera kembali ke kamar. dan duduk disamping leticia. tangannya mengambil buku di Leticia dan membacakan cerita lanjutan untuk anak anaknya.
'' Memang mereka bisa dengar? kalau dibacain seperti ini."tanya Alfonso dengan menatap bola mata Leticia.
'' Hmm.., katanya begitu. setiap kali aku baca, aku merasakan gerakan lembut diperutku. mungkin itu reaksi mereka mendengar ceritanya.'' jelas leticia sambil tersenyum.
'' Benarkah.aku ingin merasakan tendangan gerakan mereka juga.'' jawab Alfonso yang penasaran dengan tangannya menempel pelan diperut Leticia dan mulai membacakan kisah pangeran kit dan putri cinderela.
__ADS_1
Leticia, tersenyum.saat, melihat wajah penasaran Alfonso.
'' Bagaimana ada geraknya enggak?" tanya Leticia.
Alfonso menggeleng.
'' Mungkin, mereka sudah tidur karna sudah larut malam. ayo, sekarang mommy dan daddynya juga tidur, besok kita akan hadir dipertunangan Glen dan Vani.'' ajak Alfonso, dan meletakkan buku cerita diatas meja tangannya meraih tangan sang istri lalu berjalan ke arah ranjang.
Dengan, perlahan Alfonso, membaringkan tubuh Leticia diranjang, tangan satunya meletakkan bantal dengan benar dikepala Leticia.
'' Tidurlah.'' ucap Alfonso.Leticia, menganggukan kepalanya.
''Kamu?''tanya Leticia dengan suara manja.
''Sebentar, aku masih kirim pesan ke Glen. setelah itu aku akan tidur.'' jawab Alfonso mendaratkan satu kecupan dikening Leticia.
Alfonso, duduk ditepi ranjang, mengirimkan pesan ke Glen.menanyakan persiapan pertunangan Glen dan Vani.
Kemudian, meletakkan lagi ponselnya diatas nakas dekat ranjang. lalu, Alfonso membaringkan tubuhnya disamping Leticia.
Tangannya menarik tubuh leticia dengan lembut ke dalam dada bidangnya.sambil mengelus perut Leticia.
Leticia, yang sudah kenyang, memejamkan matanya dan menuju Alam mimpi.
Alfonso, yang masih terjaga menatap wajah Leticia yang sang cantik saat tertidur pulas. seperti orang yang sehat.
'' Tidurlah, aku tidak akan lelah memenuhi semua yang kamu minta. yang aku takutkan suatu saat aku bangun dipagi hari tanpa melihat kamu disamping ku lagi.''' Batin Alfonso. sambil menarik nafas dalamnya.
''Kalau, bisa aku ingin terjaga seperti ini terus.''batin Alfonso lagi. ketakutan Alfonso, sering muncul dihatinya mengingat perut leticia semakin besar bayang bayangan Leticia melahirkan dengan kondisi sakitnya yang kadang bisa kambuh dengan tiba tiba.membuatnya selalu takut dan resah.
Dan, akhirnya Alfonsopun terlelap disamping Leticia. dengan tangan yang memeluk erat sang istri hingga pagi menjemput.
Alarm, pagi berbunyi. Alfonso mengerjap melihat kesampingnya tapi tidak menemukan Leticia disampingnya.
'' kemana dia?" gumam Alfonso. dan segera bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. namun, tidak menemukan leticia dikamar mandi. kemudian, Alfonso bergegas berjalan ke arah dapur matanya menatap ke arah wastafel sambil tersenyum. saat melihat, Leticia yang sibuk memasak.
''Kenapa, bangunnya begitu pagi?" tanya Alfonso sambil melingkarkan tangannya dipinggang leticia, kemudian membenamkan wajahnya dicurug leher sang istri.
'' Aku, lihat kamu begitu lelah. dan anak anak ingin hari ini aku yang masak untuk daddy. kalau bukan hari ini, terus kapan lagi, mumpung aku masih bisa melakukkannya. setidaknya untuk kamu kenang bagaimana rasanya masakanku.'' jawab Leticia dan menatap sang suami dengan tersenyum.
'' kenapa, berbicara seperti itu? kamu, akan selalu masak untuk saya hingga kita menua bersama. sini aku bantu.'' jawab Alfonso yang tidak ingin mendengar kata itu dari mulut sang istri lagi.
Tangannya, meraih spatula dari tangan Leticia untuk membalik omelet yang berada didalam toflen.
__ADS_1