SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
Mom, Al nangis.


__ADS_3

Setelah, mendapatkan transfusi darah. Akhirnya, Alfonso sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.


Alfonso,yang berbaring tak berdaya di atas Bed Pasien. didorong oleh perawat menuju ruang rawat inap pribadi.


Semua, yang sejak tadi menunggu didepan ruang operasi. segera, mengikuti Alfonso dari belakang.


Begitu, juga dengan Leticia yang digandeng oleh Nabila. terus, mengikuti sang suami.


'Nad, suami saya nanti akan segera bangun kan?'' tanya Leticia. sambil terus mengikuti sang suami yang dibawa ke ruang inap khusus miliknya.


''Iya, Alfonso pasti cepat sadar. ini karna, efek obat bius. mungkin juga, karna efek kehabisan darah tadi. kamu, dan kita semua selalu mendoakan yang terbaik untuk Alfonso.'' jawab Nabila. menenangkan ibu hamil ini.


''Jangan, terlalu stress. kamu, enggak kasihan anak anak kamu. Bukan, kamu saja yang sedih atas musibah ini. kita semua juga, sangat terpukul dan sedih atas kejadian ini.tapi, semua tidak harus dengan terus menangis. yang Alfonso, butuhkan saat ini, Doa, dan support dari kita semua. terutama, kamu istrinya.''sambung Nabila lagi. sembari tersenyum.


''Iya, terima kasih. ya, Nad.''' jawab Leticia. dan, membalas senyum Nabila.


''Nah, gini dong senyum. ini, baru Leticia, yang aku kenal dulu.'' jawab Nabila lagi.


kedua, sahabat ini tersenyum bersama. Nabila, akhirnya lega melihat sahabatnya ini bisa tertawa lepas lagi sejak setengah hari nangis sampai matanya sembab.


Mason, yang sejak tadi mengikuti sang putri dari belakang ikut senang saat melihat Leticia tertawa bersama Nabila.


Ruangan, Alfonso dibuka. dengan berhati hati para perawat mendorong bed pasien ke dalam ruangan.


Setelah, semua dipastikan sesuai prosedur pemindahan pasien. dan alat pernapasan juga EKG semua terpasang ditubuh Alfonso dengan baik dan benar.


'' Ibu, kami permisi. kami, selalu pantau dari ruang sebelah. kalau, ada reaksi dari pak Alfonso. tolong ditekan belnya biar perawat atau dokter segera datang.'' jelas ketua perawat itu. pada Leticia.


'' Baik, sus. aku mengerti. sekali lagi terima kasih.'' jawab Leticia dengan sopan.


'' Iya, sama sama buk. ini, sudah tugas kami untuk memberikan pelayanan yang terbaik.untuk, tuan dan juga semua pasien yang berobat disini.'' jawab perawat ltu lagi.


Kemudian, para perawat itu keluar dari ruangan Alfonso. dan, membiarkan semua sahabat dan keluarga untuk menjenguk Alfonso.


Diluar hotel, dan didepan ruangan Alfonso rawat. untuk, menghindari kecolongan lagi. Glen, mengerahkan puluhan anak buah. untuk menjaga hotel dan khusus berbaris didepan ruangan Alfonso.


Leticia, duduk disamping Alfonso. tangannya meraih tangan Alfonso.

__ADS_1


''Sayang, maafin aku ya. karna, kamu ingin melindungi aku. akhirnya, kamu harus menderita seperti ini.'' lirih Leticia.menitikkan air matanya.


Semua, berdiri mengelilingi Alfonso. tidak, ada yang bersuara termasuk Willy yang kecil itu juga.


Hari, sudah mulai pukul lima sore. semua, yang menunggu di ruangan itu bergantian ke kamar hotel untuk membersihkan diri mereka.


Tapi, Leticia masih tidak ingin mandi. padahal bercak darah milik Alfonso sudah mengering di gaunnya.


''Nak, ayo mandi. nanti, mommy yang bantuin lepas gaunmu.'' ucap Felisia. yang berdiri disamping Leticia. tangannya. mengelus punggung sang putri.


Leticia, hanya menggelengkan kepalanya.


''Cia, mau mandi. Tapi, Cia kwatir kalau Alfonso sadar, Cia enggak ada disampingnya.'' lirih Leticia. menitikkan air mata lagi.


''Tapi, Nak. Badanmu sudah lengket semua. sejak pagi, kamu sama sekali belum membersihkan diri. ayo, biarkan mommy yang membantu kamu melepaskan gaunmu. ini mommy mu, bukan orang lain yang melepas resleting gaunmu.''jawab Felisia. yang mengerti akan perasaan putrinya.


Leticia, masih diam mempertimbangkan perkataan Felisa.


''Mom, Cia mandi di kamar mandi ini saja. Nad, tolong ambilkan baju ganti aku dikamarku. Ini, acces cardnya.'' ucap Leticia. sembari memberikan acces card kamarnya untuk Nabila.


Nabila, segera berdiri dari sofa. dan menghampiri Leticia, menerima acces card yang dikasih Leticia.


Sembari, menunggu Nabila mengambil bajunya. Tangannya, Leticia terus mengelus punggung tangan Alfonso. sesekali, mengambil tisu memberikan wajah Alfonso. lalu, jarinya merapikan bulu mata Alfonso. sembari tersenyum.


''Sayang, ini aku lagi rapiin bulu mata kamu. Sama, seperti biasa kalau kita bangun tidur aku merapikan bulu mata kamu.ayo, bangun. aku, mau mandi, masa mommy yang bantu aku melepas resleting gaunku. kamu, tau kan betapa sulitnya aku untuk bergerak dengan perut yang buncit seperti ini.''Leticia, terus mengajak Alfonso bicara.tangannya mengelus perut besarnya.


''Sayang, lihat semuanya berdiri nungguin kamu. mereka ingin kita kumpul bersama di Mansion.'' sambung Leticia lagi.


Tapi, yang diajak bicara terus saja pulas. hanya, gelombang detak jantung yang semakin menujukkan ke garis normal.


Nabila, datang dengan membawa baju leticia dan beberapa perlengkapan leticia, yang dibutuhkan oleh Leticia.


''Ini, ayo sana mandi. kalau mommy, cape enggak apa biar Nabila yang bantu Cia melepas Resleting Gaun Cia.'' ucap Nabila.


''Enggak, Nak. mommy, enggak cape biar mommy yang bantu Cia mandi. Nak, kamu istirahat dulu. biar nanti malam kita gantian temani Cia'' jawab Felisia tersenyum.


''Baik, Mom." jawab Nabila. karna dia mengerti mungkin ini saatnya Felisia. Bisa, menunjukkan cintanya untuk putrinya yang dulu tidak pernah dia lakukan untuk Leticia saat bayi dulu.

__ADS_1


''Sayang, aku mandi dulu ya, sebentar saja. tunggu aku ya.''Pamit Leticia. sembari mengecup kening Alfonso. Leticia, tau kalau sang suami dengar semua yang dia ucapkan.


Setelah, pamit ke Alfonso. Leticia, dengan dibantu oleh Felisia masuk ke kamar mandi.


Para pria, segera keluar dari ruangan.karna, leticia akan segera mandi.


Felisia, membantu Leticia melepaskan gaun Leticia di kamar mandi. Setelah, melepaskan Gaun Leticia. Felisia, keluar lagi membiarkan Putrinya membersihkan diri.


Setelah, beberapa menit membersihkan diri. Leticia, berjalan keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang lebih seger dari pagi tadi.


''Mom, Al belum bangun?"pertanyaan, pertama yang Cia ucapkan saat kakinya menginjak ke dalam ruangan.


Felisia, tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


''Belum, sayang Al maunya nunggu kamu keluar baru mau bangun.'' jawab Felisia. sembari menatap sang putri. Felisia, bisa merasakan perasaan Leticia saat ini, sebagai seorang ibu juga seorang wanita.


Bagaimana, rasanya menanti orang yang kita cinta dan sayang, yang tidak pernah sadar.


'' Nak, kamu istri yang baik. apa yang kamu lakukan ini wajar karna mommy tau dan melihat sendiri bagaimana Alfonso memperlakukan kamu. tapi, dia anak yang tidak beruntung.'' batin Felisia.sembari memeluk sang putri.


Sekarang, Leticia sudah mulai tersenyum. bahkan, sudah bisa diajak ngobrol lagi setelah sang suami dinyatakan operasinya lancar.


Leticia, berdiri disamping bed pasien.matanya, menatap wajah Alfonso.Lalu, mengambil tangan Alfonso dan diletakkan diatas perut besarnya.


''Anak anakmu, kangen sapaan daddy mereka. lihat, mereka bergerak saat tangan daddy menyentuh mereka.'' ucap Leticia. tangannya memegang tangan Alfonso dan dieluskan diperutnya. dengan, tersenyum matanya menatap wajah Alfonso.


Saat, tangannya yang menyentuh perut sang istri. Alfonso, meneteskan air matanya yang menetes disudut matanya.


''Mom, tolong tekan belnya. ini Al nangis saat dengar aku bicara tadi!" teriak Leticia.


Air mata, Alfonso terus menetes. namun, belum bisa bicara, dan badannya juga belum bisa digerakkan.


Felisia, segera menekan tombol belnya.seorang dokter dan seorang perawat berlari masuk ke ruangan Alfonso. dan, mulai melakukan pemeriksaan.


''Bu, ini respon yang baik.terus, saja ajak tuan Alfonso bicara.'' saran dokter itu lagi.


''Dok, berapa lama lagi suami saya bisa sadar penuh?"tanya Leticia. sembari menyeka air mata sang suami.

__ADS_1


''Sebentar, lagi pasti sadar buk. jangan kwatir.hanya. mungkin untuk menggerakan tubuhnya masih sedikit susah tapi kami akan membantu dengan melakukan terapi.'' jelas dokter itu lagi.


Kemudian, dokter itu pamit dan keluar dari ruangan Alfonso.sesuai, saran dokter Leticia, terus mengajak Alfonso ngobrol.


__ADS_2