SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
nostalgia.


__ADS_3

Akkhhh...,


Jerit Alfonso kesakitan.


Karna, tertembak .peluru Sergio dan Blake.


Gareth, yang mendengar itu. bergegas lari ke arah Alfonso.


"Ward, Alfonso tertembak."teriak Gareth.


namun,tidak dihiraukan ward.


Ward dan Poliveera . mengejar, Sergio dan Blake yang berusaha melarikan diri. namun, usaha kabur mereka digagalkan Poliveer hanya dengan dua tembakan di kaki mereka.


Brughhh...,


Dua manusia yang berbadan kekar itu ambruk bersamaan.dengan, cegatan ward memborgol mereka, dengan bantuan beberapa anak Alfonso. kedua pria itu, digiring ke markas dimasukan ke dalam penjara bawah tanah.


Blake, mengerutuki dirinya. yang, tidak kabur saat heli nya jatuh tertembak.beda, dengan Sergio yang melirik ke semua sudut ruangan mencari sang Putri.


"Karla, where are you? daddy, coming my girls." teriak Sergio.


Teriakan ,Sergio berhasil membuat Blake naik darah.


" Hei, pecund*ng diam. kamu lupa kalo kamu sekarang berada di mana? percuma , kamu teriak. karna Putrimu itu tidak dengar." ucap Blake kesal.


"Aku,ke sini. karna anak ku, dan aku sudah berjanji akan pulang bersama Karla." ucap Sergio.yang tidak kalah kesalnya.


"Makanya pensiun jadi mafia. pikir enak ?memiliki istri anak tapi masih bekerja sebagai mafia?maka korbankan perasaaanmu dan mereka."ucap Blake santai.


"Enak aja, cukup kamu aja yang jadi karatan lapuk."Jawab sergio kesal.


Blake dan Sergio terus berdebat. mereka tidak mempedulikan luka tembakan poliveera.


Alfonso, yang sudah dirawat.masih tidur,karna efek obat bius yg diberikan Gareth.


Gareth keluar dari ruangan pengobatan, dan membiarkan Alfonso beristirahat.


Ceklek...


Bunyi pintu.


Gareth, berjalan keluar dari ruangan Alfonso. dan duduk bergabung dengan kedua temannya dan Poliveera.


"Bagaimana, keadaan Alfonso? "tanya Poliveera.


"Uda di perban, dan pendarahan nya pun sudah berhenti, sekarang lagi tidur karna efek dari bius yang aku kasih"jawab Gareth.


"Emangnya, bius apa yang kamu kasih." Tanya Edward.


" aku kasih bius lokal, tapi jenis suntik awalnya aku pikir kasih bius semprot. tapi, karna pendarahannya sangat banyak. dan, harus cepat melakukan tindakan akhirnya aku putuskan bius jenis suntik." jelas Gareth lagi.


"Ya, uda apapun jenis bius yang terpenting Alfonso sudah kembali pulih. intinya semua demi kesembuhan Alfonso.


dan intinya kalo kita debat bagaimana tanggapan musuh terhadap kita?" ucap Pol.


Akhirnya mereka semua diam dan mengangguk mengerti.


"iya, benar kalo kita satu kelompok debat dan didengar musuh akan diketawain dan mereka akan memanfaatkan situasi ini."sambung Andre.


Semua , kembali. fokus ke minuman mereka masing masing, meneguk wine menghangatkan tubuh California yang lagi musim dingin.


"Dimana Putri dari Sergio aku penasaran. dulu kerja sama dengan Sergio aku sama sekali ng ketemu Putrinya."tanya Poliveera.


"itu, diruang. penyiksaan kedap suara sebelah kiri bagian pengambil organ."ucap Andre.


"Aku, mau lihat. gimana Putrinya Itu cantik ng?" tanya Poliveera penasaran.


"Coba aja lihat. Steward dan Andre aja tergoda ampe lupa atur keseimbangan tubuh mereka.bahkan, ada yang ampe jatuh tertumpuk."Ucap Gareth sambil melirik ke arah Andre dan tertawa.


Andre, yang mengingat kejadian dirinya Dan Karla. hanya tersenyum dan menggeleng geleng kepala.


"Si bodoh itu, aja yang ng bisa ngatur keseimbangan," Ucap Andre kesal. menarik asap rokoknya dan mengebul ke atas langit langit ruangan.


"Ah, kamunya aja. yang, tidak kontrol ritme permainan. kalo kamu bisa lambat juga tetapkan cairan vanilamu keluar dari harus tuntaskan ditoilet."sambung Stewad.


"uda diam, masa hanya karna penyatuan tubuh aja debatnya ampe ke mana mana."tegur Poliveera.


Poliveera Menarik kursinya, dan berjalan ke arah dimana sudah diberitahu Andre. melihat ke setiap ruangan, dan Poliveera acungi jempol soal kerapian dan kebersihan di markas. karna biasanya markas pada umumnya terkenal kotor dan berantakan.


"Aku, salut sama kerja dan aturan Alfonso. Markas bisa senyaman ini. Aku sudah, banyak kerja sama dengan kelompok kelompok lain tidak sebersih dan serapi ini."puji Poliveera.


"Ya, benar. dan Alfonso menugaskan, beberapa wanita yang khusus datang setiap hari, untuk membersihkan markas ini. Alfonso, merekrut warga sekitar sini. yang, dinilai Alfonso, keadaaannya sangat membutuhkan tambahan materi."Jelas Steward.


"Aku Salut sama Alfonso, Mafia yang tidak mau mengandalkan harta, dan kekuasaannya."puji Poli veera lagi.


Setelah Poliveera, dibuat terpesona dengan keadaan Markas. merekapun, nyampe diruangan penyiksaan khusus.


Poliveera, yang penasaran dengan Karla . tidak, sabar menungu pintu dibuka.


Ceklek...,


Pintu terbuka, Poliveera pun melangkah masuk, mendekati Karla. mengangkat wajah Karla agar lebih jelas dilihatnya.


Saat Poliveera mengangkat wajah Karla. wajah Poliveera, dipenuhi semburan ludah.. Karla, yang kesal dikurung tidak diberi makan semalam.melampiaskan emosinya tanpa melihat siapa yang ada didepannya.


Derrr...,


Darah amarah Poliveera mendidih serasa mau meledak keluar dari ubun ubun.


Plakk..,plakk...,plakkk...,


"Wanita pelac*r beraninya meludahi aku?" ucap Poliveera sambil mencekik leher Karla.


Steward kaget, dengan kelakuaan Karla yang mendadak berani.menelan saliva kasar melangkah mundur satu langkah.hanya terdiam dan menyaksikan penyiksaan yang diberikan Poliveera.


"Kamu, layak diperlakukan seperti ini wanita murah*n! "Ucap Poliveera sambil berdecih.


Karla, sedikit kaget. melihat wajah asing yang baru pertama kali dilihatnya di markas Alfonso.


"Si_i..ii...a..paaa kaa...m...u" Tanya Karla.memberanikan diri.dengan suara tersedak.

__ADS_1


"Aku? tanya ayahmu! siapa aku." tegas Poliveera semakin mengencangkan cekikannya.


Karla ,yang berusaha melepaskan diri. hanya sia sia karna ikatan tangannya ke belakang tidak bisa membuat dirinya bergerak sama sekali.


"La..aaagii... ay...ah?" Jawab Karla dengan suara tersedak.


"Ya, ayahmu,"jawab Pol.


Palkkk...,


Amarah Polivera semakin memuncak.


Cekikan, terus dikencangkan. tangan kirinya, menampar pipi Karla tanpa henti.


"Awalnya aku iba melihat kamu tapi rasa iba ku jadi murka atas perbuatan kamu sendiri."ucap Poliveera.


Steward, masih terdiam, melihat amarah Poliveera .yang sudah seperti orang kemasukan iblis.


Karla yang sudah tidak bisa bernapas, tiba tiba lemas dan pingsang.Poliveera yang melihat itu akhirnya melepaskan cekikannya.


Melepas kasar, cekikan leher Karla. dan pergi meninggalkan si bodoh itu.


Berjalan kembali ke ruangan di mana ada Andre dan Gareth yang masih menikmati minuman berdua.


"Bagaimana, kamu sudah melihat si bodoh itu?" tanya Andre.


"Ya, dan dia berhasil membuat darahku mendidih. untung saja, aku masih berpikir kalo Alfonso ingin menyiksa dia didepan ayahnya. kalo ng uda aku cabut nyawanya sebelum diminta Tuhan." jawab Poliveera masih dengan wajah kesalnya.


****


Sudah, hampir 2 jam Alfonso tertidur. dan sekarang sudah mulai sadar, tapi masih sedikit pusing dan mual.


Alfonso, berusaha bangun dengan perlahan. setelah, tidak merasa mual dan pusing. menggeserkan, badan perlahan ke arah nakas membuka laci nakas mengambil obat anti nyeri dan diminum Alfonso. setelah itu, meraih cangkir yang berisi air dan diminumnya.


Mengambil napas panjang, merasa tenaganya sudah terkumpul semua. Alfonso berjalan keluar menemui teman temannya. terutama Poliveera.


Ceklek...,


Pintu terbuka...,


Tak..,tak...,tak...,


Langkah kaki Alfonso ,mengarah ke ruangan teman temannya berada.


Gareth dan teman temannya, yang sedang menikmati minuman dan Rokok. tidak menyadari Kalo Alfonso sudah didepan mereka.


"Maaf sudah membuat kamu menunggu lama."Ucap Alfonso ke Poliveera.


Mendengar ada suara barito milik Alfonso , Poliveera mengangkat kepala dan berbalik ke arah suara barito terdengar.


"Udah siuman? bagaimana masih nyeri? " poliveera. mencerca Alfonso dengan pertanyaam bertubi tubi.


Yang, membuat Alfonso. hanya menggeleng.


"bisa , aku duduk dulu . setelah itu kita lanjutkan pembicaraan. "Jawab Alfonso.


Menarik kursi, dan duduk disebelah kiri Poliveera.


"Ahh, itu hal biasa. lagian kamu sudah lebih dari cukup membantu aku.terima kasih, saja tidak cukup buat semua ini." jawab Alfonso dan melihat ke teman temannya satu per satu.


Poliveera,yang mendengar itu hanya menggeleng.


"Kita bersahabat, dan wajar kalo teman kerja diserang aku harus menolon." ucap Poliveera santai.


"Ng usah merasa tidak enakan gitu Al. kita sudah seperti saudara.tapi kalo kamu merasa sungkan y uda semua sahammu berikan pada kami." canda Andre yang disertai tawa sahabat sahabatnya.


"Aku, ng masalah. karna tujuan hidupku, bukan harta. aku hanya ingin balas kan dendam kedua orang tuaku. soal harta itu nilai bonus." jawab santai Alfonso.


Gareth, yang melihat ucapan Alfonso serius. segara mencairkan suasana hati Alfonso.


Tepuk...,tepuk...,


"Udah, stop candaannya. apa, hari ini kita tidak berolahraga?dengan mereka yang diruangan sana?" ucap Gareth.


"Kita akan mulai."Jawab Alfonso.dan berdiri dari duduknya berjalan ke arah dimana Sergio ditahan.


Pintu tahanan dibuka. Alfonso dan ketiga temannya dan Poliveera berjalan masuk ke ruang tahanan Sergio dan Blake.


"Wah, ada hidangan enak disini."Ucap Alfonso sambil menepuk tangan kemenangan.


Sergio dan Blake, yang sedang tidur kaget. membuka mata, pandangan mata pertama yang dilihat adalah Alfonso.


Dengan tangan yang masih dirantai, Sergio berusaha mendekati diri ke Alfonso.


"Bajing*n Kau Alfonso. beraninya menculik Putri ku dan menyiksa dia. apa kamu lupa siapa diriku?" ucap Sergio.


*Hahahahhah...,


Tawa Alfonso.


"Aku tidak akan pernah melupakan bajing*n, pengec*t seperti dirimu.justru, karna aku tidak lupa. aku berusaha kabur dari tahananmu dan sekarang dendam itu akan aku balaskan ke dirimu dan si Bodoh itu." jawab Alfonso sambil menunjuk ke arah ruangan Karla dikurung.


"Akan, aku lihat. seberapa hebatnya dirimu berusaha menyelamatkan putrimu.yang, akan disiksa didepan matamu sendiri."Ucap Alfonso lagi. sambil berjalan mendekati Sergio dan Blake.


Brughhh....,


Satu tendangan melayang ke wajah Sergio.


"Bangs*t kau Alfonso."ucap Sergio dan berdecih. membuang air liurnya disembarangan tempat.


"Hahahahaha...,


tawa Alfonso dan teman temannya.


" Lihat dirinya. bangs*t teriak bangs*t." ucap Alfonso.


"Poleevera apa kamu kenal dengan iblis ini?" tanya Alfonso. pada Poliveera.


"Aku, sangat mengenal dirinya Al. ini si bodoh, pernah menawarkan aku saham miliknya.sayangnya aku tidak tergiur karna sahamnya hanya sedikit."Ucap Pol. sambil menaik turunkan alisnya.


Sergio yang sejak tadi tidak melihat kehadiran Pol, karna fokus ke Alfonso. kaget mendengar ucapan Pol. darahnya serasa disiram air panas yang ingin meledak menyembur ke wajah Pol.

__ADS_1


"Pengkhianat, gila uang dan kekuasaan. kenapa Masih berada disini? oya , aku lupa apa kamu menginginkan kekayaan Si bajing*n ini juga?" ucap Sergio. dengan hinana yang berhasil membuat Pol naik pitam.


*Brughhh....


Satu tendangan. dengan sepatu boots khas tentara itali.melayang diperut Sergio.


"Apa katamu aku gila harta? bukannya kamu? Yang demi harta menjual putrimu, ke si bodoh di sampingmu. yang tidak bisa melakukan apapun?" jawab Pol. menunjuk dirinya lalu kembali menunjuk Blake.


"Sudah, kalo terus debat.kapan bajing*n ini akan melihat putrinya disiksa." sahut Steward.


Mendengar, ucapan Steward. akhirnya Alfonso dan temannya. menyeret keluar Blake dan Sergio ke ruangan di mana Karla dikurung.


Kedua mafia. yang dulu disegani anak buahnya dan beberapa kelompok Mafia. kini, hilang derajatnya. ditarik bak seekor hewan dan sesekali ditendang boko*g mereka oleh teman teman Alfonso.


Ceklek...,


pintu ruangn Karla terbuka.


Sergio, cepat mengangkat kepalanya. dan melihat dimana sang putri disekap, melihat Putrinya yang diikat tanpa busana. dadanya sesak, hatinya hancur. Sergio tidak tega melihat keadaan Putrinya .


Berbalik melihat ke arah Alfonso yang sedang tersenyum sinis.


Ciuhhhh....


Sergio berdecih.


"Pria pengec*t .bisanya, menghukum wanita lemah. " ucap Sergio.


Alfonso yang kaget dengan ucapan Sergio. refleks melepas sabuk rantai besi ke arah Karla.


"Upss.., maaf aku suka refleks." ucap Alfonso dengan menaik turunkan alisnya.


"Daddy...,"teriak Karla dan terus menangis menjerit kesakitan.


"Aku perintahkan. hentikan siksaan pada Karla.dia tidak mengerti dan tau apa yang sudah aku lakukan selama ini." ucap Sergio tegas.


"Apa, aku tidak salah dengar?hentikan?apa dulu kamu hentikan saat aku menangis dibawah kakimu?" jawab Alfonso


"pengec*t teriak pengec*t. siapa yang dulu menanam? " tanya Alfonso.


"Wanita lemah, kata mu? oh, aku kira kamu mengidap Amnesia akut." lanjut Alfonso.


Mendengar ucapan Alfonso semua temanya tertawa.


"Hahahaha...,


"Mungkin lebih baik dia Amnesia supaya bisa melupakan kekalahan terbesarnya saat ini." sambung Pol.


Hinaan, yang keluar dari mulut Alfonso. dan teman temannya, berhasil membuat Blake dan Sergio tersulut emosi.


Menatap tajam, ke arah mereka Blake menunjukkan jiwa membunuhnya


"Tatapanmu, membuat kamu ketakutan."ledek Andre. melihat ke arah Blake.


Mendengar hinaan Andre, Blake sangat geram.


Alfonso, menarik rambut Karla. menghadapkan wajahnya ke arah dimana ayahnya diikat.


"Bagaimana? seru kan pemainan kita. anggap aja kita sedang bernostalgia 27 tahun silam."ucap Alfonso.


Wajah, Karla .disirami Asam Klorida senyawa rendah, yang membuat Karla menjerit karna wajahnya serasa disiram air panas.


Asam Klorida.sering disebut juga asam lambung senyawa. dalam keadan murni memiliki fase gas.tetapi HCL sering larutkan dalam air pada lambung konsentrasi HCL cukup rendah.jadi, tidak berbahaya dan melukai lambung.tetapi untuk konsentrasi yang tinggi sentuhan HCL dapat mengoksidasi kulit. dan kulit akan mengalami luka bakar, HCL murni berfase gas, HCL dapat mengoksidasi paru paru bila berhadapan dengan senyawa ini diharapakan memakai masker dan sarung tangan latex.


"Dad..., "hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Karla.


Sergio menunduk karna tidak sanggup lagi melihat sang putri disiksa.


Blake membulatkan matanya saat melihat tubuh Karla yang bugil.


"Otak mesum."ucap gareth melihat ke arah Blake.


Disambut tawa semua teman Gareth.


Alfonso berjongkok, dan mendekati wajahnya saling bertatapan dengan Sergio.


" Bagaimana ini? sudah cukup? seperti apa yang sudah kamu lakukan pada ibu ku?" ucap Alfonso.


"Menurut kamu?" jawab Sergio.sambil


menatap Alfonso dengan mata yang tidak kalah tajamnya.


Menyebut nama ibu. membuat Alfonso ,seperti kemasukan iblis. mengambil sabuk berdurinya, dan melepaskan ke arah Sergio terus menerus tanpa henti.


"Tidak, ini belum cukup." Teriak Alfonso dan terus menghujam kan sabuk berduri ke tubuh Sergio.


Gareth, Andre, Steward. dan Pol. yang meliha tmelangkah mundur ke belakang saling memandang dan bergidik ngeri.


"Ward, Al. seperti malaikat pencabut nyawa." bisik Andre.


"Ng usah bergosip. aku dengar semuanya. jangan, berpikir kalo aku marah terus aku tidak dengan apa yang kalian gosip." sindir Alfonso.


Mendengar sindirian Alfonso, mereka saling melirik dan menahan tawa.


pppuffttttthh..,


Dan, terus. menghujamkan sabuk berdurinya ke arah Sergio sesekali melayang juga ke arah Blake.


Paalakkk...,


Hanya bunyi itu yang terdengar.


Karla yang tidak sanggup melihat sang ayah disiksa.histeris.


"Iblis! hentikan! sudah cukup! aku mohon berbaik hatilah sedikit." Karla memohon.


...----------------...


tetap dukung dan support ya.habis dibaca dilike komen, pencet 💖 jadiikan favorit ya.awal minggu lho.kalo ada vote berikan votenya.terima kasih🙏💐🥰😘


Oya, aku uda ajukan Gc klo judul ini bulan juli ada kemajuan akan aku adakan Give away sebagai tanda terima kasihku buat readers setia Alfonso.

__ADS_1


__ADS_2