
"Vin, Nab. kalian terlambat Cia sudah pergi." ucap Andre saat menjemput Nabila dan Kevin di Lobby Airport.
Nabila tidak menjawab hanya air mata yang mengalir. Sesal didalam hatinya kenapa dia tidak pulang waktu itu.
Kevin segera membawa Nabila ke dalam pelukannya. " ayo, kita ke mobil. Jangan, menangis disini." Kevin berusaha tenang. Namun, sebenarnya Kevin juga sudah membayangkan betapa hancurnya Hati Alfonso.
Dengan cepat Andre melaju mobil menuju Mansion. Tidak menunggu sejam mobil pun tiba di Mansion.
Nabila bergegas turun meninggalkan kedua anaknya bersama Kevin menyusul dirinya dari belakang.
"Cia, aku sudah datang. Maafkan, aku Cia aku terlambat. Cia, sekarang aku tau maksudmu minta aku cepat datang." tangis Nabila pecah dalam Mansion.
Dengan menggandeng kedua putra dan putrinya. Kevinpun, masuk ke dalam Mansion. Namun, Langkahnya terhenti ketika melihat Alfonso sedang menopang dagunya diujung peti.
"Benar bayanganku, Kau sangat hancur saat ini sahabatku." tangan Kevin merangkul Alfonso.
Alfonso menatap Kevin sembari membalas rangkulan Kevin.
"Vin... Aku bisa apa? uangku tidak berguna. Lihat, Istriku pergi meninggalkan aku." lirih Alfonso. lagi lagi butiran kristalnya jatuh dari sudut netranya.
"Aku kehilangan cahayaku, dia yg dulu membawa aku keluar dari kegelapan, kini pergi untuk selamanya. Aku tidak tau setelah ini aku akan mulai hidup dari mana dulu." Air matanya mengalir semakin deras Alfonso kembali duduk di kursi tangannya menyentuh pipi Leticia.
"Sayang, bangun semua sahabat kita sudah datang. Liha ada Karla, Nabila dan Stefani mereka menangis mencari kamu.Ini ada Kevin disampingku dia datang membaw kedua anaknya." Alfonso terus bicara. Namun, yang diajak bicara tidurnya begitu nyaman hingga enggan bangun untuk menjawab jerit hati sang suami.
__ADS_1
Kevin akhirnya ikut menitik kan air mata. Dia, tidak menduga Alfonso bisa juga menangis. Mafia ini dulu tidak pernah menangis, Mafia ini juga dulu tanpa ragu mengeluarkan organ manusia. Kini, Mafia ini hancur tak berdaya.
Kedua anak Kevin berjalan mendekati keempat anak Alfonso yang duduk terus menatap wajah mommynya.
"Kakak Alonzo, jangan cedih ya. Kata bunda Nabila, Mommy Cia lagi jalan jalan ke surga," ucap Clarinda sembari duduk di samping Alonzo.
"Kata Daddy juga sepelti itu. Tetapi, Alonzo sedih lihat mommy dimasukin dayam peti ini. Mata Mommy juga tertutup teyus." lirih Alonzo.
Nabila datang mendekati anak anak Leticia." Bunda Nabila sayang kalian." lirih Nabila. Tangannya memeluk keempat anak Leticia dan mengecup kening mereka satu persatu.
Stefani juga tak kalah sedih. Ketika, mendengar sahabatnya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Stefani langsung ke Mansion.
Air matanya tak ingin berhenti. matanya terus menatap sahabatnya yang kini begitu cantik bak seorang putri yang sedang tertidur pulas didalam peti.
"Cia, jalan hati hati ya. jangan kwatir Cia ada kami yang jaga keempat anakmu, ada Glen dan ketiga sahabatnya untuk menjaga Alfonso. sakit mu kini sudah sembuh" tangannya menyentuh tangan Leticia yang kini terkatup rapat diatas bagian dada Leticia.
"Aku akan kuat. Namun, aku akan jawab apa kalau anak anak tanya keberadan ibu mereka. Ndre, posisiku saat ini begitu berat. Cia ku pergi meninggalkan aku untuk selamanya." Alfonso menyeka air matanya.
Gareth mendekat tangannya merangkul pria berbadan kekar itu. " Kamu tidak sendiri Al. Ada kami untuk selalu ada bersama kamu. aku bisa merasakan hatimu saat ini. Tetapi, jangan berlarut dalam kesedihan. Lihat, anak anakmu mereka butuh kamu, Al." ucap Gareth. menitikkan air mata.
" Reth, Terima kasih. Ternyata hidup ini tidak adil untuk aku. dimasa kecil aku harus menderita karena kehilangan kedua orang tua. Dimasa remaja aku berjuang melawan kerasnya hidup hingga terjun ke dalam dunia hitam. Setelah ada wanita yang memgajak aku keluar dari dunia hitam, Tuhan mengambilnya dari aku. Apa aku benar benar tidak layak bahagia?" Air mata Alfonso mengalir semakin deras. sesak didadanya semakin tak tertahan.
Alisha kecil berdiri dari kursi perlahan melangkah ke arah Alfonso. Tangan kecilnya memeluk pinggang Alfonso.
__ADS_1
"Daddy...kenapa Daddy menangis terus. Apa daddy sedih karena mommy tidurnya enggak mau bangun? Kalau gitu biar Alisha banguni Mommy ya." bujuk Alisha dengan wajah polosnya.
Hati Alfonso makin hancur apalagi Karla tak hentinya Karla menangis. Dengan cepat Alfonso menggendong putri kecilnya itu.
"Mommy di ajak Tuhan ke surga. Mommy akan lama kembali Karena itu Daddy sedih. Maafin Daddy yang tidak bisa berhasil menyembuhkan Mommy, Nak." jawab Alfonso dengan berlinang air mata.
"Teyus bagaimana kalau Alisha kangen Mommy?" lagi lagi Alfonso mendengakkan kepalanya.
"Tuhan aku akan jawab apa?" batin Alfonso.
"Kita akan kirim surat untuk Mommy." bibirnya berusaha tersenyum.
"Oke.. daddy. Jangan sedih lagi. Nanti Alisha juga ikut sedih." pinta Alisha.
Steward datang mendekati Alfonso yang sedang berdiri sembari menggendong Alisha.
"Anak paman sudah pintar." ucap Steward sembari menyentuh ujung kepala Alisha.
"Iya, Paman." jawab Alisha cepat.
"Al, kalau kamu sedih terus seperti ini. Kamu, tidak kasihan anak anak? Aku tau Al kehilangan orang yang special dalam hidup kita bukan hal yang mudah. Namun, kita juga harus bangkit lagi. Karena, ada anak anak yang sangat membutuhkan kamu." Steward berusaha menjelaskan.
"Iya ward. aku berpikir seperti itu. Namun, aku saat ini benar benar rapuh Ward. Lotus ku pergi meninggalkan aku, Kamu tau sendiri bagaimana aku dulu. Leticia datang bak bunga Lotus dia membuat aku bergairah, dia juga memberi aku kehidupan lebih baik lagi. Lalu, Bagaimana sebuah rating tanpa bunganya?" Alfonso bertanya. bibirnya tersenyum Ia menertawakan nasibnya kedepan.
__ADS_1
"Aku tidak tau lagi harus bagaimana, mungkin aku akan membesarkan anak anak setelah mereka dewasa aku akan segeraa menyusul Cia." jawab Alfonso lagi tanganya mengelus kepala Alisha yang sejak tadi menaruh kepalanya di pundak Alfonso.
"Kamu, tidak waras Al. kalau, kamu bertindak seperti itu Tuhan tidak suka. Kamu harus berdoa untuk Leticia agar langkahnya ringan ke surga." sambung Steward.