SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
Aku belum pantas disebut suami.


__ADS_3

Setelah, hampir tiga puluh menit cairan infus nutrisi mengalir ke dalan tubuhnya, tetap saja Leticia belum menunjukkan tanda tanda siuman.


Vani, terlihat sangat kwatir, dan segera menelpon, Glen.


'' Glen, kamu sudah menghubungi Alfonso. istrinya sampai saat ini belum sadar kan diri.'' ucap Vani.sambil berjalan ke sana kemari didalam ruang rawat Leticia.


''Sudah, dan Alfonso sudah dalam perjalanan menuju Airport.'' jawab Glen.


'' Ahh,, syukurlah kalau begitu, kamu ng ke sini.'' jawab Vani,


'' Hmm, aku menunggu Alfonso dibandara." jawab Glen.


"Ok, kamu hati hati. aku mencintaimu." jawab Vani.


lalu...


Panggilan di akhiri Vani.


Setelah mengakhiri panggilan dari Glen, Vani kembali duduk di samping Leticia sambil terus menatap wajah Leticia.


tiba tiba..


Tok.,tok.., tok..,


pintu kamar di ketuk.


Nabila berjalan ke arah depan pintu, dan membukakan pintu.


"Dokter." sapa Nabil sambil melebarkan pintu untuk memberi ruang bagi dokter Louis masuk.


'' Bagaimana sudah ada respon?'' tanya dokter Louis lagi.


'' Belum, dok. daritadi matanya terus menutup seperti ini." jawab Vani dengan cemas.


'' Ok, saya akan periksa lagi. " jawab dokter Louis. sambil berjalan ke arah dimana Leticia berbaring.


Dengan, perlahan dokter menekan tetoskop didada Leticia, beberapa detik.


kemudian menyimpan lagi tetoskopnya.


" Sudah tidak ada masalah, tunggu sebentar lagi pasti Nona Leticia akan sadar." jawab Dokter Louis dengan tersenyum.


"Semoga, seperti itu dokter." jawab Vani


Dan...


sebelum dokter Louis keluar dari ruangan.


"Nanti, kalau Alfonso. sudah tiba tolong hubungi saya ada hal penting yang akan saya bicarakan berdua dengan dia." sambung dokter lagi.


" baik dok." sambung Vani.


"Ok, kalau begiti saya permisi. kalau ada respon dari nona Leticia tolong pencet saja bell biar saya atau perawat yang datang." sambung dokter lagi dan berjalan keluar dari kamar rawat.


" Ok, dok. dan terima kasih." jawab Serentak Nabila dan Vani.


''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''


Karna, melaju dengan kecepatan tinggi, dan tidak menunggu waktu lama Alfonos tiba di airport.

__ADS_1


Dengan, cepat Alfonso berjalan memasuki ruangan airport, dan dikawal enam pria berbadan kekar. Alfonso terus berjalan menuju ke arah dimana pesawatnya mendarat.


Alfonso, melangkah kan kakinya ke dalam pesawat lalu duduk, dengan tangan menopang kepalanya Alfonso terus memikirkan keadaan Leticia.


"Semoga, kamu sudah sadar. aku segera tiba sayang,bersabarlah."batin Alfonso.


Karna , lama perjalanam sembilan jam, Alfonso memilih menutup matanya sesaat dengan harapan saat dia membuka matanya dia sudan berada disamping Leticia.


Tapi...,


Saat hendak menutup matanya


Alfonso teringat mungkin semalam perasaannya gelisah itu karna Leticia sakit.


"Ahh..boo..,dohnya aku." batin Alfonso sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


'''''''''''''''''''''''''''''''''


Cairan Nutrisi satu botol sudah selesai mengalir ke dalam tubuh Leticia.


Vani terus ,menatap ke arah Leticia, karna jam sudah menunjukkan pukul delapan malam berarti Leticia sudah pingsan selama hampir tiga jam.


Saat vani hendak berjalan ke arah toilet, tiba tiba Leticia mulai mnggerakkan jarinya.


Dengan cepat Nabila menekan tombol Bell.


Tak.., tak.., tak..,


Bunyi, langkah kaki dokter dan dua orang perawat berjalan masuk ke dalam ruangan rawat Leticia.


"Letica, sudah sadar dok. tadi saya melihat Leticia, menggerakkan jarinya."ucap Vani dengan semangat.


Dokter Louis melakukan pemeriksaan setelah selesai melakukan pemeriksaan Dokter tersenyum.


"Leticia, sudah sadar penuh." jawab Dokter Louis.


"Ahh..." Vani dan Nabila serentak menghela napas panjang.


Leticia membuka perlahan matanya, dan diikuti tetesan air mata.


Matanya sudah terbuka sempurna, dan terukir senyum dibibir pucatnya.


"Ahh, aku dimana?" tanya Cia kebingungan.


"Kamu, dirawat dirumah sakit."jawab Vani sambil menggenggam tangan Leticia.


"Ahh, kepala ku terasa sedikit berat. dan dimana bibi Yati.seingat aku tadi aku sama bibi Yati sedang berada diruang makan." sambung Leticia lagi


''Kamu pingsan." jawab Vani.


"Hmmm., Lalu leticia mengingat semuanya. dan diam.karna Leticia tidak mau orang lain mengetahui lebih dahulu sebelum suaminya tahu.


"Tolong, ambikan air, aku mau minum." sambung Leticia. dan berusaha bangun dari bed pasien.


''sudah ng usah bangun." jawab Vani sambil mengambil cangkir air dan memberikan pada Leticia.


Setelah selesai minum.


Dokter meminta semua tinggalkan Dia dan Cia diruang rawat karna ada hal penting yang akan dia bicarakan secara pribadi dengan Leticia.

__ADS_1


Setelah semua keluar.


"Maaf, Nona tau kalo nona saat ini sedang hamil?" tanya dokter dengan hati hati.


"iya dok, aku baru tau dua hari kemarin.tapi aku mohon dokter jangan mengatakan pada orang lain dan juga Alfonso. saya ingin memberi kejutan untuk Alfonso." jawab Leticia.


"Baik, saya berjanji saya tidak akan membahas kehamilan nona di orang lain dan juga Alfonso." jawab Dokter.


"Terima kasih dok. apa saya sudah bisa pulang sekarang. karna saya tidak sakit. mungkin saya pusing karna saya dari semalam tidak makan." sambung Leticia Lagi.


" Kita tunggu Alfonso, datang dulu. karna dia akan tiba dua jam lagi disini. tadi Alfonso sudah kabarin saya." jawab Dokter.


setelah selesai berbicara dengan Leticia. dokter Lous, ijin pamit keluar dari ruangan.


********


Setelah, lama perjalanan Alfonso pun tiba dengan dijemput Glen di bandara Alfonso bergegas naik ke mobil.


"Glen, Bagaimana keadaan Cia. sudah sadar kah." tanya Alfonso sambil mendudukkan tubuhnya di kursi belakang bagian Sopir.


"Kurang tau. saya juga belum ke sana dari tadi nunggu kamu disini." jawab Glen sambil menginjak pedal gasnya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah sakit Marie Cristin


"Ahhh.. aku bodoh." ucap Alfonso sambil menggerakkan jarinya di kaca jendela mobil dan memandang keluar ke arah jendela.


"Iya kamu, kenapa matiin ponsel tidak seperti biasanya." tanya Glen.


"Aku sempat termakan hasutan si Blake. dan sempat membenci istriku." jawab Alfonso sambil mengingat lagi bagaimana dia sempat membenci Leticia.


"itu, jeleknya kamu Al. bertindak sebelum berpikir. kamu tahu Kalau. Blake musuhmu masih saja kamu percaya." jawab Glen sambil menggelengkan kepalanya.


"Hmmmmm."


"kalau terjadi apa apa sama Leticia aku tidak akan pernah memaafkan diriku." sambung Alfonso.


Karna Glen mengemudi dengan kecepatan tinggi tidak menunggu waktu lama mereka pun tiba di depan hotel di mana terdapat rumah sakit juga yang berada dalam satu kawasan.


Glen membelokkan mobil masuk ke area parkir hotel, dan dengan bergegas Alfonso turun dari mobil sambil berlari masuk ke dalam ruang rumah sakit. meninggalkan Glen yang masih berada diarea parkir mobil.


Alfonso, berlari dan menekan tombol lift ruangan VVIP.


pintu LIft terbuka.


Alfonso keluar dari Lift dan berjalan masuk kedalam ruangan rawat Leticia.


Langkahnya terhenti saat menatap istrinya yang sedang berbaring di ranjang pasien dengan tangan terpasang selang infus.


Vani dan Nabila, yang sedang bercerita sama Leticia, segera keluar. meninggalkan Leticia karna mereka melihat Alfonso yang sudah berdiri didepan pintu kamar.


sedangkan Leticia yang tidak menyangka kalau suaminya sudah berdiri didepan pintu hanya terdiam tanpa suara.


Dengan rasa bersalah dan kaki yang tidak sanggup lagi untuk melangkah, Alfonso berdiri kaku, dan masih menatap istrinya yang berbaring lemah diranjang pasien,



"Sayang." ucap Alfonso, tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.


Dengan melangkah perlahan, Alfonso berjalan mendekati istrinya.


Alfonso jatuh tersungkur dilantai dekat ranjang Leticia. tangannya meraih tangan Leticia sambil menundukkan kepalanya dipinggir bed pasien.

__ADS_1


"Maaf... maaf kan aku. maafkan semua kebodohan ku maaf karna aku egois, aku belum bisa disebut suami yang baik." ucap Alfonso. dan air matanya semakin mengalir dengan deras.


__ADS_2