SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
kamarnya seram.


__ADS_3

Leticia yang sudah selesai minum obat, segera berdiri dari sofa mengambil bajunya dan milik Alfonso dari lemari. kemudian mengenakannya.


" saat tiba di markas, jangan kaget dengan situasi di markas." Alfonso memperingati Leticia. sambil mengenakan bajunya.



" Emang seram ya, Aku disuruh nggak boleh kaget?" tanya Leticia yang bingung. tangannya terus mengoles make up di wajahnya.


" tidak, hanya di sana. lebih banyak anak buah lagi, dan bangunannya gelap sedikit mirip rumah hantu." jawab Alfonso.


Alfonso melangkah, mendekati letisha di meja rias, melingkarkan tangannya di leher Leticia wajahnya membenamkan kan di Curug leher Leticia.


" apa yang, akan kamu katakan pada Daddymu?" bisik Alfonso dengan lembut di telinga Leticia.


Leticia menghentikan, polesan make up di wajahnya. matanya menerawang di kaca meja rias, terlihat jelas airmata tertahan di pelupuk matanya. dengan mengelus punggung tangan Alfonso, sambil sedikit memaksa senyumnya.


" aku, akan berbicara dengan sopan. layaknya seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. kata orang jangan berkata kasar kepada orang tua, apalagi saat sedang hamil seperti ini. aku hanya ingin, bertanya pada daddy, Kenapa dirinya begitu ambisius ingin membunuh kamu. sedangkan dia sendiri sadar kalau dia pelaku dari tewasnya ayah dan ibumu. bahkan kan, tega memperkosa seorang ibu di depan anaknya. Lantas, alasan apa dia menculik Aku dan ingin membunuh kamu." suara Leticia bergetar, kalau saja Mason di depannya. atau saat ini dia sudah berada di Markas Alfonso mungkin tidak bisa menahan Leticia.


Alfonso tersenyum, lalu mendaratkan satu kecupan di pipi Leticia.


" itulah mafia, makanya waktu itu aku sempet. takut, membuka identitas ku di kamu. di kamus seorang mafia, tidak ada cinta, tidak ada belas kasihan. Yang ada hanyalah mati, bunuh. tapi, aku bersyukur kamu bisa menerima aku, dan memahami semua Masa Laluku. Sudahlah Sekarang saatnya kita menatap kedepan. Ayo berangkat." jelas Alfonso. kemudian melepaskan tangannya, diikuti dengan Leticia yang berdiri dari kursi depan meja riasnya.


Alfonso dan Leticia, Berjalan ke depan Mansion. Bale yang sudah menunggu di depan menyerahkan kunci ke Alfonso. pintu mobil yang sudah dibuka oleh Bale, segera Leticia masuk kedalam mobil dan duduk, kembali pintu ditutup oleh Leticia. begitupun Alfonso masuk dan duduk di mobil, seperti biasa Alfonso yang selalu memasangkan sabuk pengaman untuk Leticia. tidak lupa, ia mendaratkan satu kecupan diperut Leticia. dan menurunkan jok mobil agar Leticia lebih nyaman di perjalanan.


Alfonso menginjak pedal gas, lalu dengan perlahan melaju keluar dari Mansion menuju ke markas. sambil sesekali tersenyum ke arah Leticia, lalu kembali fokus ke jalan.


Leticia, sesekali mengelus perutnya yang sudah tampak kelihatan. Alfonso yang gemas dengan perubahan di tubuh Leticia. ikut mengelus perut Leticia.


" Aku tidak sabar hari ini, melihat mereka lewat USG. aku tahu mereka juga mungkin, tidak sabar ingin segera bertemu kita." ucap Alfonso, sambil tersenyum. membayangkan anak-anaknya yang lucu.


Leticia diem, dan tidak menjawab pertanyaan Alfonso.Matanya terus menatap ke depan. air matanya masih saja tertahan dipelupuk matanya. Leticia berharap segera tiba diMarkas. agar ia bisa secepatnya bertemu Mason.


*****


Dimarkas,Mason terus mempertanyakan kapan leticia tiba di markas. tapi Jose, tidak menghiraukan pertanyaan Mason sama sekali.

__ADS_1


"hei, penjaga kejam. kapan putriku tiba disini?" teriak Mason dalam ruang tahanan.


'' kau, tidak memiliki telinga anak muda?"teriak Mason lagi.


Jose, tersenyum sinis, matanya menatap dalam Mason.


''Apa, kau masih merasa memiliki seorang putri?dengan cara dan kelakuanmu yang mirip iblis?" bentak Jose sambil menodongkan pistol ke arah Mason.


Mason, yang mendengar ledekan Jose berdecih.


''ciuhhh..,''


''kau bilang aku iblis? terus apa bedanya aku dan kau?iblis teriak iblis. hahaha...,'' sergah Mason, yang sudah tidak takut mati saat ini juga.


Bunyi langkah kaki yang tidak asing bagi Jose, dan disamping pria berwajah dingin itu ada wanita cantik yang terlihat sangat sedih tapi selalu tersenyum. melangkah masuk ke dalam markas.


Jose, yang melihat segera berlari dan menyambut boss besarnya.


Mason, tersenyum saat melihat Jose berlari menyambut Alfonso dan Leticia.


'' selamat datang Tuan dan nyonya.'' ucap Jose sambil menundukkan kepalanya.


''hmmm...,'' Alfonso, hanya berdehem leticia tersenyum.


'' Dimana, yang lainnya?'' tanya Alfonso dengan wajah dinginnya.


''mereka be----'' sebelum jose melanjutkan perkataannya mata jose yang melihat Gareth dan kawan sudah masuk ke dalam markas. segera jose menunjuk ke arah pintu depan.


'' itu mereka sudah datang.'' jawab jose.


Alfonso, dan leticia memutar tubuh mereka melihat kearah pintu depan. Lalu, kembali menggandeng tangan leticia berjalan masuk ke ruangan khusus miliknya.


'' kamu disini dulu, aku dan yang lainnya masih bahas masalah yang lain. tidur saja dulu biar kamu tidak kelelahan hmm.'' ucap Alfonso, sambil mengelus punggung belakang leticia.


'' Aku, takut sendirian disini seram." jawab Leticia sambil menerawang ke sekitar kamAr Alfonso yang dominasi warna hitam.

__ADS_1



Alfonso tersenyum, dan duduk di tepi ranjang." ini menandakan suasana hati saya, di mana saat itu. hati saya begitu gelap, bingung berjalan tanpa arah. 2 lukisan wajah itu, Sengaja aku Tampilkan Disini. untuk mengingatkan saya, bagaimana kejamnya dunia terhadap saya. tapi, itu dulu. sekarang, hidup saya sudah terang karena udah ada cahaya yang selalu bersama saya." jawab Alfonso. matanya pun menerawang ke dua lukisan yang terpampang di dinding kamar. seketika, air matanya menetes.


Leticia terdiam, tidak bisa berkata apa-apa lagi. karena, dia semakin paham dan mengerti Bagaimana sulitnya Alfonso melawan kehidupan yang begitu kejam terhadap dirinya." tidak salah, kalau dia menjadi seorang mafia yang kejam. bahkan menguliti manusia pun, Dia tidak takut. karena, itu semua dari hidup dia yang gelap." Leticia berbicara dalam hatinya. sambil tersenyum pada Alfonso.


" Aku mau ikut duduk bersama kamu saja, aku nggak capek." sambung Leticia. berdiri dari ranjang. lalu menggandeng tangan Alfonso mereka berjalan keluar kembali menuju ruang pertemuan, dimana sudah ditungguin Gareth, dan yang lainnya.


" ya sudah, kalau capek bilang saya ya. nanti setelah ini, aku akan mengantarkan kamu bertemu dengan daddy mu." sambung Alfonso.


Alfonso dan Leticia, masuk ke dalam ruangan pertemuan. Leticia duduk di samping Alfonso, dan tangannya sibuk dengan ponsel miliknya.


" Cia, kamu enggak tidur saja." tanya Glenn.


" enggak, kamar Alfonso seram." jawab Leticia sambil bergidik ngeri.


Glenn, Kevin dan yang lainnya mereka terkekeh. saat mendengar ucapan Leticia.


" iya, dulu Alfonso sangat menyukai ruangan gelap dengan gambar yang seram." sahut Andre.


Leticia mengangguk, Karena tadi, Alfonso sudah menjelaskan alasan kenapa dia sangat menyukai warna hitam.


Alfonso masih fokus di ponselnya, sedang menawarkan senjata ilegal nya di club Dead eye yang berasal dari Prancis.


" ya sudah, kita lanjutkan pembahasan kita." sambung Kevin.


Alfonso, menunjukkan percakapan dirinya dengan bos Dead eye.


" dia membutuhkan 100 unit senjata. dan ini sudah melakukan transaksinya, perintahkan, pada Etan. untuk segera mengirimnya, sebelum dia melakukan pembatalan lagi" perintah Alfonso tegas. Alfonso trauma, karena sejak penculikan itu banyak pihak yang melakukan pembatalan jual beli senjata.


" siap." jawab Glenn.


Glenn, mengambil ponsel dari kantong celananya, lalu menggeser layar ponselnya segera menghubungi Etan. sesuai dengan apa yang dikatakan Alfonso tadi.


" nah, Kalau mengenai Mason? surat-suratnya sudah siap melakukan perjanjian hitam diatas putih itu?" tanya Gareth. sedikit melirik ke arah Leticia. khawatir Leticia, sedih atau tersinggung. tapi, malah sebaliknya tidak terlihat wajah sedih di Leticia, melainkan Leticia terus tersenyum.

__ADS_1


" sudah beres semuanya, tapi sebelum itu Leticia masih ingin bertemu dirinya. kita cukup memantau dan mengawasi dari jauh saja." jawab Alfonso. tangannya memijit pelipisnya, sebenarnya sedikit berat Tapi demi cintanya Alfonso harus rela meninggalkan rasa dendamnya.


__ADS_2