
Al, yang sudah siap mental juga hatinya. menunggu dengan sabar apa yang akan aku katakan. tangannya memegang kedua bahuku. sambil menatap dengan tidak sabar.sedikit tersenyum dibibirnya seolah memberi kekuatan padaku.
Lalu, Al mengangguk padaku. aku menyiapkan hatiku, ku yakin kan kalau aku tidak salah dengan keputusan ku. serasa sesak didadakku, mulutku serasa kaku untuk berbicara, air mataku menetes tanpa henti. aku mengerutuki diriku, karna aku bodoh bersedia untuk jujur. sedangkan pria ini sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang akan aku katakan.
Kedua mata kami saling menatap, pandangan kami terkunci sesaat. lalu, aku mengambil napas panjang.
"Aku, tidak suka berbicara tentang apa yang aku rasakan.aku lebih suka memendam sendiri. karna aku tahu, kalo aku bicara aku akan menangis."ucapku pada Al.
Sebelum aku berbicara jujur pada Al. lagi lagi aku menangis.
" Jangan, menangis jangan berpikir dengan diam semua bisa terselesai."ucap Al. menguatkan aku.
Lalu..,
Aku bangun dari pangkuan Al. tapi tangan Al menahan ku.
"kamu mau ke mana?" tanya Al. dengan suara semakin lemah. air matanya tertahan dipelupuk matanya.
" Aku, hanya ingin berbaring."jawabku.aku melepaskan tangan Al.
Aku berjalan ke arah ranjang.Aku, pikir Al akan mengikuti aku ke ranjang. tapi, aku salah karna Al masih tetap diam di kursi dengan terus menatap tajam ke arahku.ku duduk kan tubuh ku ditepi ranjang membelakangi Al.
"Aku mencari___." aku tidak bisa meneruskan kata ku.karna dadakku sesak.ku pukul perlahan dadaku, ku berusaha kuat, aku tidak ingin menjadi lemah dengan sakit bodoh ini.
Al, masih tetap kaku dikursi seperti patung hidup. yang hanya menatapku dengan tatapan kosong ke arahku.
"Cari apa teruskan bicaramu," ucap Al sedikit kesal.
Aku takut, kenapa dia jadi membeku lagi. aku menghela napas lagi.
"Aku mencari, botol kecil didalam ada obatku." ucap ku. dengan ragu ragu.dan aku histeris ku pukul dadaku.
"Obat, apa. untuk sakit apa?" tanya Al. dengan suaranya yang begitu datar terdengar di telinga ku.
__ADS_1
kuhentikan tangisku. aku mengumpulkan tenagaku lagi. lalu, aku menutup mataku,telingaku kututup dengan kedua tanganku.
"Aku pasien lupus stadium 3." ucapku. lalu. aku terjatuh dari ranjang karna badanku lemas. aku lemas karna harus mengingat sakit ini lagi. padahal, sudah lama aku berusaha menerima sebagai temanku.
kini, karna desakan Al. aku harus mengingat lagi. kaki ku yang lemas tidak sanggup menopang tubuhku, untuk berdiri. aku menangis kututup wajahku diatas kedua lutut ku.
di saat sela tangisku, aku dengar suara pukulan di tembok.
Plakkk...
Aku kaget. ku angkat wajahku dengan wajah yang penuh air mata. ku lihat ke arah bunyi tadi. ternyata tangan Al sudah berdarah. Al berdiri dengan memegangi ujung meja menatap ke arah tembok.
Aku berusaha berdiri, dan berjalan ke arah Al. saat tangan ku hendak meraih tangannya yang berdarah Al mengangkat tangannya seolah tidak ingin aku menyentuh dia lagi.
Aku diam, dengan kecewa.
"Jangan menyentuhku." ucap Al datar lagi.
Aku kaget.sakit serasa hatiku seperti disayat sembiluh.ya, aku sakit karna Al tidak ingin ku menyentuh tangannya. sakit, karna aku harus mengingat vonis dokter lagi
" Kenapa, sakit sebesar ini kamu sembunyikan dari aku." tanya Al.
Aku diam, aku tidak bisa menyalahkan Al, karna benar apa yang dikatakan Al.
"Aku menunggu waktu yang tepat."jawab ku.
"waktu waktu waktu. alasan klasik." jawab Al dan pergi berjalan ke arah lemari.
Aku berlari mengejarnya. tapi, langkah ku terhenti karna Al menatap tajam ke arahku.aku bergidik ngeri. dalam hati apa yang kan dia lakukan padaku.
Al membuka lemari. lalu, membuka laci kecil dan mengambil botol. dan, kembali berjalan ke arahku. aku melihat botol yang dipegang Al itu sepertinya botol obatku.
"Dari mana, dia menemukan obatku?"batinku dengan ketakutan.
__ADS_1
Langkah Al, semakin mendekat ke aku. aku tercekam. dalam pikiranku sudah ke mana mana.
Al, menarik tanganku, aku hanya menurut dengan rasa ketakutan. lalu, tangan Al pegang bahuku dan mendudukkan aku dikursi. meletak kan botol obatku didepanku. dan berjalan ke arah meja mengambil cangkir dan air mineral. meletakkan didepanku Al membuka botol obatku dan menuangkan air dicangkir.
"Ini, obat ini yang kamu cari kan?" tanya Al.
Aku diam, masih bingung dengan apa yang aku lihat.
"Pria, yang aneh. kenapa tingkah nya sering berubah ubah." batinku
" Minumlah obatin dulu dirimu, baru obatin luka ku. sakit ku tidak terasa seperti sakitmu." ucap Al. matanya berkaca kaca. aku kaget dari lamunan ku.
dan menatap ke arah Al.
"Maaf kan aku, aku tidak sanggup dengan kejujuran dari mu. aku masih berharap ini hanya mimpi." batin Al.
Lalu, aku mengambil obatku segera ku minum. tangan ku gemetaran.setelah ku minum obatnya. Al, menatap tajam wajahku.
"Maaf kalo tadi aku menakuti mu." ucap Al dengan wajah menyesalnya.
Aku hanya tersenyum dengan air mata ku yang menetes dipipiku. tapi , dengan cepat tangan besarnya menyeka air mataku. lalu, Al menggendong tubuh kecil ku berjalan ke arah ranjang.
Aku hanya menurut. Al, membaringkan tubuhku diranjang. dan memeluk eratku. aku yang melihat ke arahnya beralih ke tangannya yang masih berdarah.
"bangun dulu, aku akan mengobati lukamu. ini pasti sakitkan?" ucap ku dengan suara manja.
"ini tidak sakit." jawab Al. lalu, bangun dari ranjang berjalan ke arah p3k. Al mengambil kotak p3k nya lalu duduk di sofa dan mengobati lukanya sendiri.
"Kenapa tidak mau aku obatin," ucap ku kecewa.
Al diam hanya menarik napas panjangnya.sambil melihat ke arahku lalu tersenyum.
"tidurlah , lihat wajahmu sudah merah semua." jawab Al singkat. lalu, kembali fokus melilit kasa ke tangannya yang berdarah.
__ADS_1
Ya, belakang dan wajah ku berubah jadi merah membentuk kupu kupu.itu, karna kebodohan ku sendiri. aku tidak rutin minum obat dan selama berada di hotel aku tidak olahraga.jadi, imunku turun dan menyebabkan sakitku kambuh.