
Pov Alfonso.
Berat rasanya aku beranjak meninggalkan kuburan Leticia. Namun, aku tidak boleh egois Aku harus tepati janjiku. Ada keempat buah cinta kami yang masih membutuhkan cinta dan perhatian dari aku.
"Sayang aku pulang ya, kamu jangan merasa sendirian karena aku dan anak anak setiap hari akan bermain disini. Doain aku semoga aku bisa menjadi sosok Ibu dan Ayah yang baik untuk buah cinta kita." ucapku berlinang air mata.
Aku mmbawa keempat anakku pulang ke Mansion. sesekali aku menoleh ke belakang memandangi kuburan berwarna putih itu.
Ya kuburan itu rumah abadi istriku. belahan jiwaku. Aku menarik napas dalam lalu aku melepasnya dengan pelan. aku berusaha meyakinkan diriku kalau ini bukan mimpi melainkan ini kenyataan.
Anak anakku hanya diam mereka yang biasanya cerewet. Diam seribu bahasa ketika melihat aku yang sesekali mengusap air mataku.
Dalam perjalanan pulang ke Mansion aku coba ingat pesan Leticia yang terakhir.
Sayang aku pamit. semua tentang kita sudah tersimpan rapi didalam laci.
Aku mengajak anak-anak ku percepat langkah. Karena, penasaran dengan apa yang berada didalam laci lemari.
''Daddy jalannya pelan nanti Alisha jatuh.'' protes Alisha pada ku.
Aku tersenyum. lagi lagi aku masih belum sadar kalau saat ini hanya aku tempat mereka berlindung.
''Maafin Daddy sayang.'' ucap ku cepat. Sebelum ketiga anakku ikut melayangkan protes juga.
''It's oke Daddy.'' jawab Alisha berkedip.
Anak itu selalu saja ada cara untuk menghibur aku, karakter dia persis Mommy nya. selalu saja menemukan ide untuk mencairkan suasana hatiku.
__ADS_1
Akhirnya kamipun tiba di Mansion. sahabat, kenalan dan masyarakat sekitar serta anak buahku bersama keluarga mereka. Semua masih berada di Mansion. Ya, hari ini dan tujuh hari kedepan di Mansion masih banyak orang. Karena, masih ada tahap tahap untuk mendoakan Leticia.
Aku, mengajak keempat anakku beserta mertua ku dan Karla. masuk ke dalam kamarku.
Tanganku meraih handle pintu kamarku. lagi lagi aku harus menangis. membayangkan tiga hari lalu aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana istri tercintaku menghembuskan napas terakhirnya.
''Ahh..'' aku menarik napas panjang. ku usap kasar wajahku. Lalu, kami bersama-sama masuk ke dalam kamar aku dan Leticia.
Ya kamar ini akan selamanya menjadi kamar aku dan Leticia.Tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan posisi Leticia di kamar ini.
Bahkan, seprei bekas istriku menghembuskan napas terakhir. aku minta untuk tidak dibuang. Tetapi, disimpan dilemari khusus yang tersimpan didalam kamar ku. bukannya aku egois. Tetapi, aku hanya ingin terus mencium wangi tubuh istriku di seprei bekas Leticia dan aku.
''Mommy, Daddy, Karla. ayo masuk.'' aku persilahkan mereka untuk masuk.
Aku lihat Mommy Felisia berulang kali menyeka air matanya. Ya, mungkin Mommy sedih dengan kepergian Leticia. Itulah seorang ibu berat melepas putri kesayangannya pergi untuk selamanya. Apalagi Mommy baru saja 5 tahun ini dekat dengan Leticia. Aku tahu perasaan Mommy, pasti sangat sakit.
Setelah semua duduk di sofa. anak-anak masih diam mereka naik diatas tempat tidur kami. Lalu, mulai berbaring biasanya mereka saling ganggu. Namun, tidak dengan hari ini mereka hanya diam. Masing-masing peluk guling mereka sembari menatap ke arah tivi. Aku memang sengaja menyetel lagu dan klip milik SARAH MCLAREN yang berjudul Angel. aku hanya ingin ungkapkan perasaanku dengan lagu itu.
''Al, baru ingat Mom. Selama ini Cia selalu menulis di buku hariannya. dan aku ingat waktu Cia mau menghembuskan napas terakhirnya, Cia sempat mengatakan pada Al, kalau semuanya tersimpan rapi dilaci lemari kami.'' jelasku kepada Ibu mertuaku.
''Kak, kalau begitu aku panggil Nabila dan Stefani. mungkin ada pesan dari Cia untuk mereka juga.'' usul Karla kepadaku.
''Boleh, aku juga tadi lupa manggil mereka.'' sahutku tersenyum.
Jujur aku sebenarnya belum siap buka lemari pakaian kami. karena didalam lemari itu tersimpan pakaian Leticia. Benar saja saat tangan ku menarik gagang lemari, air mataku langsung jatuh membasahi pipiku.'' ahh.. aku begitu cengeng.'' gumamku. dengan cepat ku usap air mataku.
Lalu, Aku segera buka laci yang dimaksud oleh Leticia. betapa terkejutnya aku ketika mataku melihat ada buku diary berukuran tebal, satu handycam, dan satu amplop berwarna coklat.
__ADS_1
Ku raih semua itu dengan hati yang berdebar. satu persatu aku letakkan diatas meja sofa depan semuanya duduk.
''Ini, semua yang dibilang Leticia."ucap ku.
"Ya, uda Nak. kamu yang buka. Karena, ini buku harian Leticia." Mommy Felisia memberi saran.
Karena, sudah mendapat ijin dari Mommy Felisia. Akupun segera membuka buku harian Leticia. tanganku gemetaran membuka buku harian dari satu halaman ke halaman lain. dibuku itu Leticia menulis semua kenangan awal dirinya mengetahui kalau dia mengidap Lupus,awal aku memaksa menikahi Leticia. Hingga kebiasaanku yang selalu ke mana mana mengenakan sandalnya.
Aku tersenyum. sedikit merasa gila,. Karena, aku lakukan setiap saat kemanapun kalau tidak memakai sepatu pasti sandal Leticia yang aku pakai. Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku mencintai istriku. Apalagi Leticia selalu cemburu kalau aku keluar sendiri dengan keempat sahabatku. itu untuk menegaskan kalau aku tidak akan nakal diluar.
Di halaman terakhir Leticia menitip pesan kepada aku, orang tuanya, Karla, Dan kedua sahabatanya. Singkatnya pesan yang paling banyak di tulis olehnya." Cia tititp anak anak Cia. Tolong dijaga disayang jangan marahi mereka jika mereka terlalu aktif."
Aku tau dia memang berat meninggalkan keempat anak kami. Namun, sakitnya tidak bisa diajak kompromi lagi.
Selesai membaca semua pesan dari buku diarynya. kami mencoba menonton semua rekaman dari awal kami menikah hingga waktu kami bermain bersama anak-anak direkam rapi oleh Leticia.
Semua menangis melihat video dan foto kenangan kami dan Leticia. bahkan akupun tak kalah sedihnya.
Namun, Karla menyentuh amplop coklat sedikit tipis dan ringan." Kak, enggak buka ini.Tetapi, ini dtujukan kepada dokter Cathlyn." ucap Karla kepadaku.
Aku terperanjak. sedikit tidak percaya. "kenapa?" batinku.
"Ya sudah mungkin nanti malam dokter akan ke sini. Nanti, kamu tolong kasihkan." jawabku.
"Iya, kakak. Tetapi, sebaiknya kita baca dulu isinya kak. Amplopnya tidak dilem." usul Karla.
__ADS_1
Namum, aku menolak karena ini bukan ditujukan untuk aku dan kami yang berada didalam kamarku.
"Jangan, Dek. biarin ini mungkin itu rahasia antara Leticia dan Dokter cathlyn." jawabku.