
"Ayo, kita ke club."ucap Alfonso.
"Ha, bukan nya kamu akan berhenti merokok? kenapa sekarang kamu malah ngajak ke Club lagi."jawab Glen yang merasa bingung.
"Aku, bilang menurut saja."ucap Al.
Saat ini, pria yang biasanya selalu terlihat dingin, dan tatapan yang menakutkan berubah jadi pria yang sangat menyedihkan dan hancur. langkahnya tergontai menuju ke mobil.
Gareth, Glen, Kevin dan Andre. ikut sedih melihat keadaan Al yang saat ini benar benar hancur.
Pintu mobil dibuka, Al masuk dan duduk dibagian depan sebelah pengemudi. dan disusul 3 temannya masuk duduk di bagian belakang sopir.malam ini Glen yang mengemudi, sealtbelt dipasang. Glen menginjak pedal gas mobil, dan melaju menuju Club yang biasa mereka datangi.
Dalam perjalanan Gareth menanyakan apa yang dikatakan dokter. tapi, Al tidak mengatakan. Al hanya diam sesekali menarik kasar rambutnya, dan kadang menyapu kasar wajahnya.
Glen yang menyetir sekali kali melirik ke arah Al. lalu, kembali lagi fokus ke jalanan.malam ini Gareth bingung, kenapa Al tidak pulang ke mansion untuk istirahat. dan mempersiapkan diri, dihari pertunangan nya esok pagi.
"Al, sebaiknya kita pulang ke Mansion. esok pertunangan kamu dan Cia akan berlangsung."ucap Gareth.
"Aku tau itu. makanya aku hanya ingin ke Club sebentar."jawab Al dengan suara bergetar.
"Ada apa Al. apa kata dokter. sehingga kamu terlihat hancur seperti ini? ini bukan Alfonso yang dulu. kenapa, kamu hanya karna cia kamu jadi seperti orang bodoh. bukan nya niat awal kamu menikahi Cia, hanya untuk memancing Mason keluar dari persembunyian nya? jangan bilang kamu sekarang sudah jatuh cinta dengan Cia." ucap Kevin.
Al, yang mendengar ucapan Kevin hanya tersenyum sinis,. dan saat mereka sedang berdebat, mobilpun tiba didepan Club. Al dan teman teman turun. Glen memberi kunci ke satpam agar mobilnya diparkirkan ditempat parkir VIP.
Ke lima pria itu berjalan masuk ke dalam Club. seperti biasa kedatangan Al dan teman teman disambut bak seorang raja.
"selamat malam Tuan Alfonso,selamat datang kembali ." sapa Manager Club itu.
Mereka berjalan mengikuti Manager dan membawa mereka ke ruangan VIP Alfonso biasanya. setelah pintunya dibukakan , Al dan teman temannya masuk. Al mendudukkan tubuhnya disofa, tangan nya direntangkan ke atas senderan sofa lalu, melihat ke atas langit langit. tidak menunggu lama, minuman datang dan beberapa wanita malam ikut masuk ke dalam.
Wanita wanita malam itu, mulai melakukan tugas mereka. merayu ke lima mafia ini. tapi, Alfonso segera mengusir mereka keluar.
"Panggil manager bodoh itu ke sini. suruh bawah wanita wanita bodoh ini keluar dan jauh dari hadapan saya." ucap Alfonso.
Tapi, wanita wanita itu tetap didalam ruangan itu.meskipun sudah disuruh keluar dan mendapat tatapan tajam dari Alfonso, ada wanita yang berbaju **** roknya di atas paha bajunya hanya menutup kedua gundukan saja berjalan ke arah Al dengan suara manja.
"Ah, tuan. kenapa tuan menolak kami. bukan nya. tuan biasanya ke sini karna cari kami?" tanya wanita itu.
Karna, kesal Al mengeluarkan pistol yang diselipkan dipinggang.lalu, menembak ke atas ruangan.wanita wanita itu, berhamburan keluar, sebelum tubuh mereka terkena timah panas dari Alfonso.
"ditegur bukannya menurut malah makin mendekat. Saya tidak butuh, kalian semua. wanita saya jauh lebih terhormat dari kalian semua." ucap Alfonso. lalu, pistolnyan diselipkan lagi ke pinggangnya.
Gareth, kevin, Glen, dan Andre. hanya diam melihat Al. mereka tidak bisa bertindak kalo Alfonso sudah emosi. kalo mereka menegur bisa bisa mereka yang akan kena amukan amarah dari Alfonso.
Malam ini, Al minum entah sudah berapa botol yang dia habiskan, merokok sudah hampir 2 bungkus habis.ke empat temannya bingung dengan aksi Al.
Karna, seingat mereka tadi di markas Al menolak merokok dan minum.kenapa di club. malah, merokok dan minum semua diluar dugaan mereka.
"Glen, apa aku harus melanjutkan pertunangan ini. atau aku batalkan saja."ucap Alfonso dengan mata berkaca kaca, dadanya sesak sekali. sambil terus melanjutkan minum.
Glen yang memang tidak mau minum, karna uda ngeri duluan melihat Alfonso yang minum Alkohol seperti minum air mineral. bahkan, ketiga temannya yang lain juga tidak minum mereka hanya melihat Alfonso saja .
"kenapa kamu katakan itu? bukannya dari awal kamu kejar Cia, bahkan disaat speak up dengan percaya dirinya dan mengejutkan semua orang. kamu mengatakan kalau akan menikahi Cia, tapi kenapa setelah pulang dari dokter kamu malah ragu." jawab Glen.
"Aku, tidak ragu tapi_____" ucap Al tidak meneruskan perkataannya.lalu, kembali fokus ke minuman yang berada ditangannya.
"Uda Al stop minum ayo. kita pulang." ucap Andre. yang sudah sakit kepala melihat
Alfonso seperti ini.
"Aku tidak menunda atau ragu. tapi aku__." ucap Al lagi.
Hikzz..., hikzz..., hikzz...,
Al, berhenti meneruskan ucapannya. karna, tidak kuat lagi dengan beban yang disimpan dihatinya . Al akhirnya pecah dalam tangisan. air mata Al keluar tidak tertahankan.
"Al, sebenarnya apa yang dikatakan dokter Al? aku, kenal kamu bukan baru hari ini, tapi aku kenal kamu sudah bertahun tahun. Alfonso, tidak akan hancur dan lemah seperti ini hanya karna seorang wanita."ucap Garethh.
Hahahahaha....,
Tawa Alfonso.
"Benar katamu Vin, aku menikahi dia karna ingin balaskan dendamku ke Mason ayahnya. jadi, apa peduli ku." Jawab Al, berusaha untuk tidak peduli dengan kondisi Cia.
"Ahh..., kamu mulai ngaco Al."jawab Glen kesal.
Setelah, merasa puas minum dan ngerokok. Alfonso, mengajak teman teman nya. kembali ke Mansion.
"Ayo, kita pulang."ucap Alfonso dan berdiri dari sofa.
Al, yang sudah mabok parah terjatuh lagi ke sofa. akhirnya, Alfonso digotong oleh Kevin dan Andre dibawa ke mobil.
Mobil sudah parkir didepan lobby. Al masuk dan duduk dibagian belakang sopir, Glen masuk ke bagian mengemudi, Andre disebelah glen, sedangkan Garet dan Kevin menemani Alfonso dibelakang. sealbelt sudah terpasang semua.
Glenpun, menginjak pedal gas mobil, dan melajukan mobil ke arah Mansion milik Alfonso. Alfonso yang sudah tidak sadarkan diri. mulai bicara sembarangan.
"Kenapa, kalau bahas soal dirimu, membuat saya tidak bisa berpikir jernih Cia."ucap Alfonso dalam tidurnya. dan terisak dalam tangisnya.
Gareth yang melihat perubahan Al, mengancungi jempol. kalau Cia, berhasil membuat seorang Alfonso benar benar bertekuk lutut. bahkan sampai melupakan statusnya sebagai mafia kejam. yang biasanya membunuh bahkan mengeluarkan organ manusia tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
Tapi, untuk saat ini. titel mafia kejam itu menghilang dari jiwa Alfonso.
Hmmmm...,
Gareth berdehem karna memikirkan banyak perubahan dari diri Alfonso, teman temannya yang menyadari itu.
"Kamu kenapa Reth. sepertinya kamu memikirkan hal sama seperti yang aku pikirkan."ucap Glen dan masih fokus dijalanan.
"Kalau kita sepemikiran. itu lebih bagus, benar bukan?" tanya Reth.
"Aku juga setuju seperti itu." jawab serentak ke tiga teman nya.
...****************...
Cia, yang sudah masuk ke dalam kamarnya, berbaring sebentar lalu berjalan ke kamar mandi. malam ini Cia tidak berendam di bathup karna sudah malam. sekarang sudah pukul 9 malam waktu spanyol. jadi, Cia berdiri dibawah shower, dan menyalahkan showernya. Cia membiarkan butiran air shower mengenai tubuhnya. Cia memikirkan bagaimana bisa mereka bertunangan besok dan lusanya mereka menikah.sedangkan, mereka belum saling mengenal lebih jauh seperti pasangan lain yang ingin menikah.itu yang saat ini menjadi beban dipikiran Cia.
"Ahh, sudahlah mungkin benar juga cinta akan tumbuh dengan sendirinya setelah berjalannya waktu."gumam Cia.
Sambil terus membiarkan air dari showerr terus membasahi rambut dan badannya.
"Apa aku menghubungi daddy dulu, lagian tidak baikkan aku menikah dan bertunangan tidak dihadiri daddy.
kalau Ibu mungkin tidak hadir mengingat ibu sudah dengan lelaki lain. tapi, daddy kenapa tidak hadir?ini kan pertunangan aku sekali dalam seumur hidupku." batin Cia,
Karna, memikirkan Mason. Cia pun dengan cepat menyelesaikan mandinya. setelah, selesai mandi dengan mengenakan handuk kimononya. Cia, berjalan keluar dan menuju ke kamarnya.
Berjalan, ke arah lemari cia mengambil pakaian dan mengenakan. setelah itu Cia berjalan ke arah nakas dekat ranjang. Cia duduk di tepi ranjang lalu, mencari nomor daddynya. dan mulai menghubungi daddynya. tapi, sudah dua kali panggilan tidak diterima oleh Mason.
Cia, yang sudah tidak kaget dengan Mason. yang setiap kali dihubungi jarang menerima. kembali meletakkan ponselnya diatas nakas. dan membaringkan badannya yg sudah lelah diatas ranjangnya.
Cia, mulai mengingat kembali semua yang dilakukan Al. mulai dari ruangan Walker, di ruangan butik hingga diresto.
"Apa aku tidak perlu datang saja ke acara pertunangan?mengingat saya belum seberapa mengenal Al. pernikahan bukan suatu permainan. bisa saja dia emosi makanya mengatakan hal itu." gumam Cia.
Cia menarik kasar rambutnya, dan Cia bingung harus datang atau kabur?
"Mana ada pernikahan dipaksa?perasaan ku sama sekali belum ada ke pria itu, dan yang saya takutkan kalau dia mengetahui apa yang sedang saya derita. mana ada pria yang mau menjalankan hidupnya sia sia dengan wanita berpenyakitan." gumam Cia.
Cia mengambil ponselnya lagi dan mulai menghubungi Fani.
"Hallo, Fani." ucap Cia melalui sambungan telpon.
"Ehemmmm, besok akan melangsungkan pertunangan." goda Fani.
" Fani..., pasti Glen yang menceritakan ke kamu?"tanya Cia.
"Iya, Glen baru saja selesai melpon saya."jawab Fani.
"Glen, mengatakan kalau pertunanganmu akan diadakan esok jam 9 pagi. jadi, aku disuruh enggak boleh terlambat menjemput kamu."'jelas Fani.
Cia, terdiam sejenak. memikirkan Mason yang belum tahu soal pertunangannya.dan bagaimana dia bisa menghubungi Mason.
"Cia, hello Cia. kenapa diam."tanya Fani.
"Oh, maaf Fan. aku hanya memikirkan bagaimana aku menghubungi daddy, karna tadi sudah dua kali saya hubungi, daddy tidak menerima panggilan saya."ucap Cia
"Sudah,kamu enggak usah mikirin itu.sekarang fokus ke acara pertunangan. aku, mau menemani kamu di rumahmu. tapi, sekarang sudah larut malam. ingat, Al itu pria baik baik. kamu beruntung mendapatkan dia."jelas Fan.
"ok. makasih ya Fan."ucap Cia. dan mengakhir panggilan.
Meletakkan, kembali ponselnya ke atas nakas. Cia, menarik selimutnya dan tangannya meraih guling yang berada disampingnya.
"lagian buat apa menolak, toh aku juga ikut andil memilih gaun dan perhiasan."gumam Cia sambil mengeratkan pelukan ke bantal guling.
"Ya sudah ikuti jalan yang sudah ditakdirkan" batin Cia sebelum benar benar masuk dalam dunia mimpi.
Didepan rumah Cia. ada dua mobil dengan jumlah anak buah hampir 50 orang berjaga diluar dilengkapi dengan senjata lengkap.mereka berjaga jaga kalau Cia akan kabur Atau Mason akan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam, sudah menunjukkan pukul 6 pagi Alarm Cia sudah berbunyi. mobil mewah berwarna hitam berhenti didepan pagar. Fani membuka pintu mobil, dan cepat berlari turun dari mobil. berjalan ke pintu pagar lalu menekan tombol bell. satpam yang berjaga di rumah Cia segera berlari ke depan.
Pintu pagar dibukakan, Fani dan Nabila masuk.berlari kecil masuk kedalam rumah dan menuju ke kamar Cia.tangan Fani meraih handle pintu membuka pintu Cia, dan berjalan masuk ke kamar.
Ternyata Cia sudah bangun, dan sedang berada dikamar mandi. Fani duduk ditepi ranjang Cia sambil bermain ponsel.
...****************...
Di Mansion, Alfonso sudah selesai mandi dan berjalan ke arah lemari mengambil baju dan mengenakannya. setelah selesai berpakaian. Alfonso mengambil ponselnya dan mulai mencari nomor Cia.
Selama Walker memberi nomor Cia. Alfonso baru sekali menelpon Cia tapi diomelin Cia karna Al menggunakan nomor pribadi. hari ini Alfonso tidak menggunakan nomor pribadi lagi.
Meletakkan benda pipih itu ditelinga kirinya dan menunggu menunggu Cia menjawab panggilan telponnya.
Drthhh...,,
Cia, yang baru selesai mandi berjalan ke arah nakas. mengambil ponselnya dan melihat Alfonso memanggil.
"Hallo, Glen dan fani sudah ke rumahmu. jangan pernah coba coba untuk kabur. karna, kalo kabur saya tidak bisa menjamin keselamatan kamu."ucap Alfonso.
__ADS_1
Klikk....,
langsung mengakhiri panggilan sepihak,
Cia yang belum berbicara apa apa merasa kesal karna panggilannya sudah di akhiri Alfonso.
"Dasar pria aneh."gerutu Cia.
*****
Setelah, selesai menelpon Al jalan keluar dari kamar menuju ruangan tamu. menuruni anak tangga satu persatu menuju ruang tamu dimana sudah ditunggu Andre, Kevin, dan Gareth.
"Sudah siap, kita pake dua mobil saja ya."ucap Alfonso.
"Siap."jawab Kevin.
Hari ini, acara tunangannya . Alfonso membawa juga bibi Yati. karna, bibi Yatilah yang selama ini merawat Al dari kecil hingg saat ini.
"Bi, sudah siap? ayo, sudah mau jam 7 kita akan berangkat."ucap Alfonso.
"Sudah, Nak."jawab Bibi Yati.
Alfonso, dan rombongan berjalan ke ruang depan menuju halaman depan rumah.dimana sudah ada dua mobil yang menunggu mereka. Alfonso dan bibi Yati satu mobil dan ke tiga temannya satu mobil mereka, berjaln beriringan menuju hotel yang jaraknya tidak jauh dari Mansion miliknya.
"Nak gadis ini pasti cantik.?"tanya bi Yati dalam perjalan menuju ke Hotel.
"Nanti bibi lihat saja, Al tidak tahu menilai."jawab Al sambil memeluk bibi Yati yang sudah dianggap Al sebagai ibu penggantinya.
*****
Cia dan rombongan juga sudah tiba dihotel. Cia, juga tidak lupa mengajak bibi Sum yang sudah merawatnya sejak Cia bayi ditinggal pergi oleh sang bunda.
Saat ini , Cia sementara dirias oleh Nabila, ya Cia tidak mau dirias oleh orang selain Nabila.
Al, juga sudah tiba. Al bergegas masuk ke kamar hotel dan siap berganti pakaian dan wajahnya dipoles sedikit dengan make up.
Tamu undangan sudah hadir semua, mengingat Al dan Cia tidak mengundang banyak orang, hanya teman teman dekat mereka. dan para pelayan dirumah mereka yang hadir.ya Al dan Cia tidak pernah membedakan pelayan dan majikan jadi para pelayan dibawa ke acara pertunangan juga.
Al sudah menunggu didepan tamu undangan. Al, sedikit merasa gugup, mata nya terus fokus kedepan menunggu Cia yang berjalan menuju ke depan dimana sudah ditunggu Alfonso. saat Cia tepat didepannya. Al menatap wajah Cia dan tersenyum air matanya menetes. Al tidak menduga wanita secantik ini akan menjadi pendampingnya. yang bagi dia pria yang tidak layak dicintai wanita manapun.
Al berlutut, dihadapan Cia dengan sebuah kotak perhiasan mawar putih.
"Leticia Virgini Mason, cintailah aku. cintailah , jika kau bisa. jadilah, manusia pertama yang mencintai aku. tapi, jika itu berat cukup berada disampingku dan bersandiwaralah seolah kau benar benar mencintai aku. bawalah aku keluar dari kegelapan menuju ke titik cahaya itu." ucap Alfonso.
Lalu, Alfonso meyematkan cincin tunangan dijari Leticia, begitu juga Letica.
"Alfonso de Armando, jadilah pria pertama yang menemani aku. disaat, aku terpuruk nanti. aku menerimamu dan kita akan melangkah bersama menjalani kehidupan dan menemui titik cahaya itu bersama."jawab Leticia.
Lalu, Leticia menyematkan cincin dijari Alfonso.
Semua tamu undangan bertepuk tangan, dan memberikan selamat.
cincin tunangan
walker dan Glen
Leticia saat tunangan
Alfonso saat tunangan
abaang Kevin
Abang Andre
Nabila yg membawa bunga ucapan.
Stefani.
dekorasi ruangan tunangan
...****************...
__ADS_1
Mohon dukungannya like ,komen, nya terima ksih🙏🙏🙏🙏.
sehat sehat selalu ya para readers.maf bru edit lagi ternyat kataku amburadul tali boleh dibc ulang karna sudah aku edit lagi terima kasih. salam santunku🙏