SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
37.Desahan


__ADS_3

Andre masih terus merekam semua siksaan terhadap Karla.


"Tanya'kan, pada si bajing*n mu. siapa yang lebih hina diantara aku dan ayahmu itu?" jawab Alfonso dengan tatapan mematikan.


Deg...


Karla merasa seperti ditampar. Karla yang tadi berjuang minta di lepaskan dan begitu melawan Alfonso. Seketika diam dan memikir siapa sebenarnya sang Ayah?


"Mafia?


Seketika pikiran itu terlintas di benaknya. Karla dan Ibu nya memang mengetahui Sergio seorang Mafia. Namun, yang Karla tau Sergio tidak sekejam seperti yang di tuduhkan oleh Alfonso saat ini.


'' Daddy? ya Daddy ku seorang Mafia. Namun, Daddy ku tidak menyiksa wanita lemah seperti yang kau lakukan padaku saat ini.'' jawab Karla. tangannya terus menunjukkan pada dirinya, air matanya jatuh tak henti.


Karla menatap tajam Alfonso dengan bola mata birunya. Dengan harapan sang daddy atau malaikat penyelamat datang membawa dirinya pergi jauh dari tempat terkutuk ini.


Alfonso yang melihat Karla hanya diam dan pasrah . segera berjongkok menyamai tinggi mereka.


''Bagaimana, sudah siap untuk bermain-main?" tanya Alfonso dengan tatapan menakutkan.


"Ahhh...aku lupa!" ucap Alfonso sembari tertawa jahat, "sekarang giliran, aku yang barmain-main, waktu bemain si bajing*an itu sudah selesai.'' Alfonso mulai memancing amarah Karla.


Karla tidak merespon, Dia lebih memilih diam menyimpan tenaganya ditambahlah kakinya yang tertembak sangat menyiksa dirinya.


Duh...


''Bajing*an kau! punya mata enggak?" teriak Karla, yang tidak bisa menahan sakitnya luka tembakan, yang sengaja diinjak oleh Alfonso.


Plakk...


Alfonso melayangkan satu tamparan dipipi Karla, '' aku suka kalau tawanan ku melawan seperti ini, menambah sensasi tersendiri untuk aku.'' ucap Alfonso, sembari berkedip pada Karla.


Lalu, berdiri mendekati Pria berkepala plontos yang sedang tak berdaya di ikat disamping Karla.


Alfonso melayangkan pertanyaan pada Pria berkepala plontos. Namun, saat pria itu hendak menjawab. Alfonso melepaskan satu pukulan sabuk ditubuh pria itu hingga membuat pria itu menggeliat kesakitan.


''Brengse*k jawab sesuai apa yang aku tanya'kan.bukan kau lari ke mana-mana. ingat saya tidak suka bertele-tele.'' ujar Alfonso.


Pria berkepala plontos itu, hanya diam dan menahan sakitnya pukulan sabuk berduri di belakangnya. belum lagi, bekas tembakan dari anak buah Alfonso masih sangat menyiksa dirinya.


''Kau, anak buah Blake? alasan apa dia menyerang aku?" tanya Alfonso dengan menodongkan pistol di kening pria berkepala plontos itu.


Alfonso yang sejak awal sudah mengetahui, kalau anak buah Blake juga ikut hadir diacara yang di adakan oleh Karla. terus memancing jawaban dari pria berkepala plontos itu.


Namun, pria itu hanya diam tanpa kata, bagi dia jawab tetap mati, diam juga tetap mati. Kalau ada pilihan pria ini lebih baik memilih ditembak mati sekarang, Daripada harus menahan sakitnya siksaan dari pukulan sabuk berduri Alfonso.


Steward datang membawakan Asam klorida yang diperintahkan Alfonso untuk dicampur.


"Ini campuran HCL nya. Tapi, kamu harus gunakan sarung tangan dulu sebelum diguna'kan karena ini senyawa klorida tinggi." ujar Steward. tangannya menyodorkan sarung tangan pada Alfonso.


"Siip!" jawab Alfonso singkat.


Alfonso menerima sarung tangan dari Steward. Dan memakainya dikedua tangannya. Lalu, mulai menerima satu botol campuran asam Klorida dari tangan Steward.


Karla yang sejak tadi mendengar percakapan Steward dan Alfonso, mulai merasa resah.

__ADS_1


Akan mereka apakan dengan cairan itu? ahh kenapa aku jadi berpikir buruk seperti ini?


Steward yang melihat Karla menggeliat. Karena, menahan sakitnya luka tembakan. Jantung Steward berpacu semakin kencang, suhu tubuhnya tiba-tiba berubah jadi panas.


"Al... saya masih bermain-main dengan wanita ini sebentar saja." ijin Steward sembari menelan salivanya dengan kasar.


"Laku'kan sesuka hatimu, daripada dia nganggur,lebih baik guna'kan dia." jawab Alfonso.


Hati Karla terasa terisi sembilu.


Masih ada pria tidak bermoral seperti mafia mafia gila ini.


Steward tersenyum sinis, langkahnya semakin mendekat pada Karla yang sedang diikat.


"Aku suka lihat wanita yang menggeliat seperti dirimu.Tongkat ku suka berontak, yuk layani aku sepuas yang aku mau." Steward berbisik tepat ditelinga Karla. deruan napas Steward membuat Karla terjun bebas dalam lautan birahi.


Steward mulai bermain-main dengan dua gundukan kenyal itu. Karla berusaha menepis tangan Steward, agar menjauh dari dirinya. Namun, berbeda dengan gejolak jiwanya, yang berharap Steward melakukan semau Steward.


Tidak aku tidak boleh menunjukkan kelemahanku.


Steward yang merasa ada sensasi yang berbeda, Karena tangannya yang selalu ditepis oleh Karla membuat Steward menarik paksa gaun yang dikenakan Karla hingga sobek.


Upss...


Steward tersenyum menggoda. rambut Karla ditarik kasar ke belakang. Gaun Karla yang sudah sobek menonjolkan dua gundukan kenyal.


Steward semakin menggila, leher Karla dihisa*p hingga meninggalkan bekas merah dileher dan dada milik Karla.


Alfonso yang sesekali melirik hanya bergidik ngeri. Iya Alfonso memang Mafia yang suka bermain wanita. Namun, Alfonso jarang menenggelamkan miliknya ke dalam milik para wanita yang bermain dengan dirinya. Alfonso lebih suka milihnya dimainkan bak lolipop oleh wanita malam. selain menghindari penyakit, Alfonso tidak suka didominasi wanita.


Tangannya mulai menarik resleting celananya, tongkat ajaibnya langsung menyebul keluar.


Mata Karla membuat ketika melihat milik Steward yang besar dan berbulu. Karena, ukuran Diego tidak sebesar milik Steward, pria berdarah Amerika tidak memiliki ukuran yang panjang dan berbulu. Namun, Diego pintar bermain ritme.


Gleg...


Karla menelan saliva nya dengan kasar.di waktu bersamaan Karla teringat akan Diego. yang entah sekarang berada dimana?


Flasback...


Karena kelelahan dalam pertempuran yang panas. membuat Diego ketiduran. Karla yang panik mendengar suara tembakan saling bersahutan, segera berlari keluar untuk menyelematkan dirinya, tanpa memikirkan keselamatan Diego.


Namun, saat Karla hendak berlari ke arah tangga tiba-tiba, terdengar suara tembakan dan peluru itu mengenai kaki kanannya. Setelah, itu Karla tidak sadarkan diri, dan ketika buka mata Karla sudah berada di tempat terkutuk ini.


*****


Flash on...


Gaun Karla sudah disobek dan dibuang sembarang oleh Steward.


Dengan kedua tangan yang masih diikat oleh rantai. Karla berusaha menutupi tubuhnya yang kini hanya tersisa dalaman berwarna merah itu. Steward yang melihat Karla ingin menutupi tubuhnya dengan cepat mengeratkan rantai ditangan Karla.


Kini Karla hanya pasrah dengan keadaan dirinya saat ini. Steward mulai membenamkan miliknya kedalam mulut Karla. awalnya Karla menolak. Namun, karena dipaksa dengan tamparan. akhirnya Karla melahap dan mulai memainkan dengan lidahnya di ujung milik Steward.


Achhhhhh...

__ADS_1


Suara ******* Karla dan Steward terdengar begitu menggoda. Karla yang pintar bermain dengan lidah membuat Steward berkali-kali melepaskan cairan Vanila didalam mulut Karla.


***


Alfonso masih terus mencerca pria berkepala plontos itu, dengan berbagai macam pertanyaan yang sebenarnya tidak masuk di akal.


Dorr...


Kesal karena pertanyaan yang ditanyakan tidak dijawab oleh pria itu. membuat Alfonso melepas satu tembakan dikaki pria itu.


Kaget dengan suara tembakan.Tanpa sengaja Karla menggigit milik Steward.


Auch...


Steward menjerit kesakitan.


"Bodoh! lakukan dengan benar. atau akan ku akhiri hidupmu sekarang juga sebelum disiksa oleh Alfonso." bentak Steward di sela sela desaha*n nya.


"Jangan! kami belum dapat giliran." sahut Gareth dan Andre serentak.


Alfonso hanya menggelengkan kepala saja, ketika mendengar ketiga sahabatnya berebutan daging abadi.


Setelah mendapatkan pertanyaan dari pria berkepala plontos itu. akhirnya Alfonso memutuskan untuk mengambil organ tubuh pria ini dengan hidup-hidup.


"Reth siap'kan peralatan untuk pengambilan organ." perintah Alfonso. setelah mendapat jawaban yang Ia inginkan.


Gareth segera mengambil organ tubuh pria itu.


Sretttt..


Bunyi sayatan pisau.


Dengan cepat Alfonso mengambil bola mata, ginjal milik pria itu. Benar saja dalam hitungan sejam organ milik pria itu kini sudah berada didalam kantong pengawet.


Pria itu menjerit kesakitan dan hanya bisa pasrah dengan apa yang sudah dilakukan oleh mafia berhati iblis ini.


Organ yang sudah berada didalam kantong pengawet, diserahkan pada Gareth untuk diawetkan di mesin pendingin. Alfonso, menatap pria yang kini tidak berdaya dan sudah tidak berguna itu dengan melepaskan satu tendangan di perut pria itu.


Lalu, Alfonso mengambil pistol yang terselip dipinggangnya. dan membidik di arah pria itu.


Dorr...


Timah panas itu bersarang tepat di jantung pria itu. pria itu tewas tersungkur didepan Alfonso.


Melihat pria itu sudah tewas. Alfonso berjalan meninggalkan tempat penyiksaan dan segera masuk kedalam kamarnya. membiarkan teman-teman nya memburu nikmatnya dunia. sedangkan mayatnya dilempar masuk ke dalam kandung harimau oleh anak buah Alfonso.


Alfonso masih seperti biasa, setelah membunuh selalu menenangkan dirinya dengan pil penenang. Lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya.


Gareth segera membawa organ tubuh pria itu untuk disimpan didalam lemari pendingin. agar tidak merusak saraf-saraf yang terdapat di organ itu.


Didalam kandang hewan buas itu saling berebutan daging manusia. tubuh pria itu dicabik-cabik kasar hingga usus dan potongan tubuh lainnya berceceran dimana mana.


💝💝💝💝💝💝


(sudah di revisi)

__ADS_1


__ADS_2