
Glen memeluk tubuh kecil Stefani, ke dalam dada polosnya.hidungnya mencium cium ujung kepala Fani.
Fani, yang merasa terganggu mengerjap.matanya, membulat saat melihat Glen yang mencium cium ujung kepalanya.
''Sayang! kamu mabok, kenapa minum sampai tidak sadarkan diri begitu?" tanya Stefani. yang berusaha melepas pelukan Glen.
''Ke na..pa susah sekali, aku menginginkannya, aku sedih diledek mereka.'' jawab Glen terbata bata. Glen meresa malu karna dirinya tadi jadi bulan bulanan teman temanannya di halaman belakang.
Stefani tau efek mabok Glen menjadi baper, karna biasanya Glen tidak pernah menanggapi semua candaan teman temannya.
''Hmmm.., kamu mabok. ayo, tidur bukannya dibuat ngoceh enggak jelas begitu yang ada nanti tambah puyeng.'' sambung Stefani. yang tidak mau dengarin ocehan Glen.
Karna, selama setahun pacaran hingga menikah dengan Glen dia tau cara bercanda mafia mafia itu.
Stefani, dengan lembut mengelus kepala Glen, agar Glen bisa diam dan tidur. dan benar dugaan Stefani, Glen yang merasa kepalanya dielus dan nyaman akhirnya ocehan tidak jelasnya perlahan tidak terdengar ditelinga Stefani.
Glen, terlelap disamping Stefani.
Reno, yang masih menunggu Walker masih bercerita dengan Polieevera diruang tamu, tampak sangat gusar.
''Ahhh.., kemana dia? ditelpon enggak diangkat, dichat enggk dibalas. dasar wanita maunya menang sendiri.enggak mau bicara bersama ambil jalan tengahnya, ini malah ngambekan ke bayi tidak dikasih permen. nanggapin chat, tanpa mendalami isi chatt itu.'' batin Reno.
******
Mason, yang sudah berada dikamar sedang berbicara dengan Felisia. yang sedang mengenakan baju karna baru selesai membersihkan tubuhnya.
''Mom, kita balik Mansion sekarang atau malam ini masih nginap di Mansion Leticia.'' tanya Mason. karna sudah berapa hari mereka nginap di Mansion Alfonso.
''Besok, saja kita pulang, mommy masih tunggu lihat hasil USG Leticia.sekalian, tunggu besok pagi dokternya ke sini untuk ganti forban nak Alfonso.'' jawab Felisia dan mulai duduk dimeja rias dan tangannya mulai moles wajahnya yang kini sudah terdapat gurat guratan karna termakan oleh usia.
''Ya, sudah. kalau begitu Daddy, mandi dulu badan sudah lengket semua.'' balas Mason. yang berdiri dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
''Iya, daddy. kalau daddy selesai mandi mau tidur daddy tidur aja. mommy mau masak untuk anak anak dulu.'' sambung Felisia lagi.karna berapa hari ini, dia tidak masak untuk anak anaknya.padahal ini kesempatan dirinya untuk masak semua makanan kesukaan masa kecil Leticia yang Felisia tau dari bibi Sumi.
Bagi, Felisia lebih baik memanfaatkan situasi selagi ada kesempatan.
Mason, yang tadi menghentikan langkahnya karna masih mendengarkan pembicaraan Felisia. mengangguk.
''Hmmm, biar nanti daddy yang temani willy dikamar.'' jawab Mason. dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Bagi, Mason perkataan Felisia ada benarnya. kalau ada yang bisa diperbaiki kenapa tidak? Mason mulai membersihkan tubuhnya.
Felisia, melangkah keluar dari kamar menuju ke arah dapur.untuk masak makan malam mereka.
****
__ADS_1
Selesai menghubungi dokter Grace, Leticia masih duduk ditepi ranjang matanya menatap dalam wajah sang suami.
Kemudian, Leticia mengeluarkan buku harian dilaci nakas dan mulai menulis kejadian penembakan hingga hari ini.
"Ketika, melihat dia mengorbankan dirinya hanya demi aku dan anak anak kami. sesaat, aku minta pada Tuhan untuk panjangkan umurku setahun lagi. karna aku masih ingin bersama suami dan anak anak saya. Tapi, kata orang takdir yang sudah digariskan Tuhan, tidak dapat dirubah oleh manusia. tapi, apakah dia sanggup hidup tanpa saya disampingnya. ketika saya hampir terkena peluru saja dia berkorban demi saya. bagaimana kalau saya tiada untuk selamanya. Tuhan! kenapa engkau mengirimi orang ini dalam kehidupan saya. bukan, saya tidak bersyukur tapi saya merasa bersalah, telah hadir dalam kehidupan dia. Alfonso, suamiku kamu berhak bahagia. jika kelak aku tiada carilah pendamping yang mencintaimu juga menerima anak anak kita." Tulis Leticia dibuku hariannya.
Kemudian, diletakkan lagi buku hariannya ke dalam laci nakas. tangannya menutup laci nakas dengan perlahan agar tidak membangunkan sang suami.
Tok.., tok.., tok..,
Pintu kamar diketuk oleh pelayan.
''Non!"panggil pelayan dari pintu kamar.
Leticia, segera melangkah ke pintu kamar. tangannya meraih handle pintu dan membuka pintu kamarnya.
Ceklek..,
''Iya, bi. ada apa?" tanya Leticia.
''Dokternya, sudah datang. sementara duduk diruang tamu menunggu Nona dan Tuan.'' ucap Pelayan dengan sopan.
"Iya, saya akan segera ke sana. dokternya, dikasih minum dulu." jawab Leticia dengan sopan.
''Baik, Non! permisi.'' jawab Pelayan dengan sopan.
Sebenarnya, Leticia kasihan harus membangunkan Alfonso yang sangat pulas. tapi, dia juga tidak mau kalau melakukan Usg tanpa Alfonso disampingnya.
Karna, Leticia tau betul Alfonso yang sangat antusia setiap ada jadwal USG. Alfonso, yang sangat teliti menatap layar monitor Usg.
Dengan, lembut tangannya menggerakan tubuh Alfonso.
''Daddy, enggak bangun? kami mau difoto lagi.'' ucap Leticia menirukan bahasa bayi.
Alfonso, masih enggan bangun.karna, merasa tidak enak ditunggu oleh dokter Grace. Leticia, berdiri dan melangkah. Namun, tangannya ditahan oleh Alfonso.
''Tunggu, aku sayang!'' ucap Alfonso dengan menatap dalam bola mata sang istri.
Leticia, menghentikan langkahnya saat tangannya ditahan oleh Alfonso. dan menoleh menatap sang suami.
''Aku, pikir kamu masih tidur.'' jawab Leticia mencebik.
''Maaf.''jawab Alfonso. kemudian bangun dari tempat tidur. bukannya bangun dan melangkah keluar Alfonso menepuk tempat tidur meminta Leticia untuk duduk disampingnya.
__ADS_1
Leticia, menurutdan duduk disamping Alfonso.
"Kenapa!" tanya Leticia. karna,Wajah Alfonso yang begitu serius.
'' Berjanjilah untuk terus bersama saya.'' ucap Alfonso. menitikkan air mata.
Leticia, mengerutkan dahi. karna dia tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Alfonso.
''Kalau, kamu tidak menyesal menjebak aku masuk dalam kehidupanmu. tolong, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. aku mohon!" gertakan giginya terdengar begitu jelas ditelinga Leticia, butiran kristalnya semakin berlomba untuk mengalir keluar.
Alfonso, seperti hilang akal tangannya meremas kuat pergelangan tangan Leticia hingga meninggalkan jejak merah. Leticia tercekam.
''Ada apa dengan kamu sayang?" tanya Leticia dalam kebingungan.
''Aku, takut!" jawaban itu lolos begitu saja dari mulut Alfonso.
Alfonso, tau waktu lahiran tinggal sebulan lagi, dan kehidpan dirinya dan Leticia masih dalam kertas buram.
Usia Leticia sebentar lagi memasuki 28 tahun. karna menurut diagnosa dokter penyakit yang diderita Leticia sudah stadium empat. kemungkinn kecil untuk bertahan hidup lebih lama sangatlah nihil.
Perkataan, dokter Cathlyn kembali teringat didalam ingat Alfonso. "breng..,sek.'' umpat Alfonso.
Leticia, mencoba menenangkan sang suami dengan mengelus punggung tangan Alfonso.
''Sudah, aku sudah mengerti dengan situasi hatimu.ayo, dokter Grace sudah menunggu diluar.'' ajak Leticia. ia mencoba jadi wanita terkuat untuk menyemangati sang suami.
Alfonso, mengangguk. perlahan mengatur emosinya. setelah emosinya stabil Alfonso mengecup ujung kepala sang istri tangannya mengelus perut besar Leticia.
''Terus seperti ini, selalu berada disamping saya! aku kwarir, kalau kehilangan kamu aku bisa terjebak ke dalam dunia hitam lagi. terus bagaimana nasib ke empat anak kita?" Alfonso berbicara sembari menatap bola mata sang istri. Leticia, tersenyum.
''Takdir, maut. semuanya Tuhan yang atur kita cukup menjalankan dengan penuh yakin.'' jawab Leticia.
''Ayo, sayang kita periksa dulu, enggak enak ditunggu oleh dokter Grace.'' sambung Leticia yang tidak mau ikut bersedih dengan takdirnya.
Alfonso menghela napas panjang mencoba untuk kuat walau hatinya sedang tidak karuan.
"Ahhh..., bang..sat." maki Alfonso.
Leticia, menggelengkan kepala." Alfonso, lemah? ini bukan suamiku!" ucap Leticia.
"Aku, lemah? iya aku lemah karna cinta.aku bodoh iya karna aku takut kehilangan kamu.ahh...gadis bodoh!" umpat Alfonso.tangannya menarik kasar rambutnya.
Leticia, melepaskan pegangan tangan mereka dan dengan kesal berjalan keluar. Alfonso, segera menyusul sang istri dengan hati yang kacau.
Tangan Leticia meraih handle pintu. Tapi, dengan cepat Alfonso menahan pintunya. Alfonso, menarik lembut tubuh Leticia ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Dengan, secepat kilat Alfonso menyesap bibir Leticia. Leticia hanya pasrah karna dia pikir dengan itu dapat membuat Alfonso lebih tenang.