SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
Mandi di Markas


__ADS_3

''Hmmm.., aku tahu kalau pulang tingkahnya seperti ini. ada yang tidak beres.'' sindir Leticia.


Alfonso, tersenyum ketika mendengar sindiran Leticia. Alfonso, mulai menempelkan kepalanya diperut Leticia.


''Daddy, enggak nakal sayang.'' ucap Alfonso, sembari terus mengecup perut sang istri.


Leticia, mencebik.


''Mandi, sana. dari luar pulang enggak mandi langsung nempel diperut istri.'' sambung Leticia.


Alfonso tersenyum, sembari mendengakkan kepalanya menatap wajah sang istri.


''Tadi, aku sudah mandi dimarkas, sayang.'' ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Alfonso.


''Hmmm...,'' Leticia, mengerutkan dahinya.


''Mandi dimarkas?" tanya Leticia, matanya menelisik bola mata Alfonso mencari kebohongan didalam sana.


''kenapa, bisa mandi dimarkas? habis ngapain?hmmm." Leticia mencerca Alfonso dengan banyak pertanyaan.


Deg..,


Jantung Alfonso, berdegup semakin kencang. Alfonso teringat tadi sebelum berangkat Leticia memberi pesan" jangan kotori tangan, ingat saya lagi hamil tua." Alfonso, bingung harus memberi alasana apalagi," bohong?" batin Alfonso.

__ADS_1


"Enggak, aku sudah pernah berjanji untuk tidak membohongi Leticia lagi."batin Alfonso lagi.


Leticia, terus menatap Alfonso dengan tatapan Intimidasi. Alfonso, hanya bisa menggigit bibir bawahnya. sembari menatap wajah Leticia.



"Sayang! hmmm?" panggil Leticia lagi.


Dengan, memberanikan diri Alfonso menatap wajah Leticia.


"Iya, aku mandi di markas. karna tubuhku kena percikan darah, dari wanita yang menembak aku waktu itu." jawab Alfonso.


Leticia, terperanjak." jadi, dia sudah dibunuh?" jawab Leticia. mata indahnya semakin menatap tajam Alfonso.


Alfonso mengangguk.


Matanya masih menatap Wajah Leticia. Alfonso, berharap Leticia mau memahami dirinya.


Leticia, memejamkan matanya, menelaah semua jawaban Alfonso.


"Hmmm.., baik aku mengerti kalau berada diposisi kamu.selain, kamu siapa saja yang menyiksa.jangan bilang Steward menyiksa terus mengambil gambarnya untuk dikirim pada Karla." tanya Leticia lagi, sembari menautkan kedua alisnya


Alfonso menggelengkan kepalanya" steward memang ikut membunuh, namun tidak mengambil gambar.saya jamin itu sayang." jawab Alfonso. dengan cepat.

__ADS_1


"Ya, sudah kamu harus tetap mandi sayang. sana, mandi dulu, aku enggak marah.hmm..,"jawab Leticia lagi.


Dengan, cepat Alfonso berdiri dari sofa dan berjalan ke arah kamar mandi. Alfonso, membersihkan diri lagi. baju yang tadi dipakenya dari markas atas saran Leticia dibuang.


Setelah,beberapa menit berada dikamar mandi. Alfonso, melangkah keluar dari kamar mandi. Alfonso, berjalan ke arah Sofa dimana bajunya sudah disiapin oleh Leticia.


Alfonso, mengenakan bajunya. "Setelah, ini makan siang dulu terus minum obat. mommy sama daddy juga hari ini pulang.Tetapi, sepertinya Karla dan Steward masih disini." jelas Leticia.


" Iya, bairin saja mereka tinggal disini. oya, Sayang Nabila masih disini kan?" tanya Alfonso.


"Nabila sudah pulang tadi pukul sepuluh, katanya dia mau istrihat di Apartemennya saja." jelas Leticia.


Leticia, ingat Tadi setelah sarapan dan mengantar Alfonso kedepan pintu.Nabila, juga datang ke kamarnya untuk pamit pulang.


"Hmmm.., aku heran sayang ada apa dengan Nabila dan Kevin? sepertinya mereka memiliki masalah yang sama.hari ini juga, Kevin tidak ke markas." jawab Alfonso.sembari merapikan lengan bajunya.


"Aku, juga berpikir seperti itu.tapi, sudah biarin saja mereka sudah pada dewasa, bisa menyelesaikan masalah sendiri.kita akan membantu mereka kecuali mereka meminta bantuan." sambung Leticia.


"Siap, sayang! istriku ini makin hari pemikirannya makin dewasa." jawab Alfonso.kemudian menarik tubuh Leticiia masuk kedalam dadanya dan mengecup ujung kepala sang istri.


Leticia, tersenyum. sembari mendengakkan kepalanya menatap sang suami.


"aku, harus semakin bijak. karna, nanti akan menjadi seorang ibu untuk keempat anak anak kita. sayang? sebentar lagi mereka akan lahir. aku, tidak sabar bertemu mereka." ungkap Leticia.

__ADS_1


"Hmmmm..," Alfonso hanya berdehem. matanya masih dipejamkan sembari wajahnya masih dibenamkan diujung kepala Leticia.


Alfonso, sangat bahagia menunggu kelahiran anaknya.tapi, dia juga takut kehilangan istrinya.


__ADS_2