
Cia yang sudah selesai make up. sedang duduk di sofa sambil bermain ponselnya. saat melihat ke arah Al. Cia teringat akan kejadian tadi pagi.
"Al? "panggil Cia.
Al, yang dasinya sedang dipasangkan oleh asisten Claire. melihat ke arah Cia.
"Hmmmm."jawab Al.
"Kalo sudah selesai, kamu ke sini deh. aku mau menanya sesuatu." ucap Cia.
Al yang mendengar ucapan Cia mengerutkan dahinya.lalu, melihatnke arah assisten claire.
"Sudah?" tanya Al.
"Ya, Tuan." jawab asisten Claire.dan membereskan perlengkapannya dan berjakan keluar meninggalkan sepasang pengantin sendiri dikamar.
Tak..,tak..., tak...,
Langkah kaki Al berjalan mendekati bidadari hatinya yang sudah menunggunya sejak tadi. Al berdiri tepat didepan Cia.
"Kenapa? apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Al.
Cia, tersipu malu.bingung mau melanjutkan bertanya atau diam. tapi karna terus didesak Al akhirnya Cia memberanikan diri bertanya.
"Kamu tadi pagi sembelit? "ucap Cia malu malu.
Al yang mendengar itu hanya menahan tawanya.
"Pppffthhh."
Cia, kesal karna bukannya dijawab malah diketawain.
"Aku, serius. karna tadi pagi aku mendengar kamu mendesah didalam kamar mandi."ucap Cia kesal.
Akhirnya, Al tertawa karna tidak bisa menahan tawanya lagi.
"itu karna kamu membuat aku tidak bisa menahan lagi. makanya , aku terpaksa harus bersolo dikamar mandi."ucap Al santai.
Cia mengerutkan dahinya.yang masih dalam mode bingungnya.
"Apa itu solo." ucap Cia.
Al berjongkok, menatap tajam mata Cia.
"makanya ayo kita ke kapel.jam sudah pukul sembilan pagi, nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya." jawab Al.
Cia yang mendengar Ucapan Al, mengajak dirinya ke kapel. seketika wajahnya berubah sedih.
hatinya gelisah. entah apa yang dipikirkan , tapi seketika air matanya menetes.
__ADS_1
Al, yang melihat perubahan sikap Cia. mengerutkan dahinya.
"Kenapa lagi. apa kamu tersinggung dengan jawaban aku tadi." tanya Al.
Karna Al tidak ingin wanitanya sedih di moment sakral mereka. Al, berjongkok didepan Cia lalu menyeka air matanya. Cia hanya diam.
"Apa, yang membuat kamu sedih? katakan kalo itu bisa aku lakukan akan aku lakukan."tanya Al tegas.wajahnya dingin. karna Al sudah tau apa yang saat ini Cia pikirkan.
Cia, menggelengkan kepalanya. jarinya terus bermain dilayar ponsel miliknya. Al yang tidak suka melihat itu. mengambil ponsel milik Cia dan meletakkan disamping Cia duduk. tangan nya memegang kedua tangan Cia lalu menatap tajam mata Cia.
Cia, yang masih diam dan air matanya terus menetes membuat Al kesal.
"Di tanya ng jawab. sebenarnya apa yang membuat kamu sedih?"tanya Al lagi.
Bukannya dijawab, Cia terus menangis. karna kesal Al pergi ke arah balkon.
Lalu, tangan nya mulai mengusap layar ponselnya. Al, menelpon Ethan. percakapan Al dan Ethan kali ini sangat serius.setelah selesai melakukan panggilan. Al kembali lagi ke kamar dimana Cia sedang menunggu dan masih menangis.
Al yang melihat itu hanya menarik napas panjangnya. Al, serba salah harus menuruti egonya. atau memilih janji ke kedua orang tuanya. kedua perasaan yang berbeda sedang berdebat dipikiran Al.
kedua pihak yang dicintai yang tidak ingin dia sakiti. tapi kenapa Cia harus dilahirkan dari orang yang harusnya dia bunuh? sungguh! kalo saja Al bisa membatalkan pernikahannya akan dia lakukan.
Tapi, dia sudah mencintai Cia. dengan mengetahui Cia menderita Lupus Al sudah bertekad akan terus berada disamping Cia meski Cia belum membuka hatinya untuk Alfonso.
Al, duduk ditepi ranjang matanya terus menatap ke arah Cia. lalu, melihat ke arah jam tangan brand yang melingkar ditangan kanannya. jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. sisa satu jam lagi mereka akan menikah. tapi, Al belum memutuskan mana yang akan dia pilih.
*********
Diluar sana, media terus melaporkan situasi royal wedding seorang presdir muda.
para pemburu berita media cetak, media online semua bersiap menunggu hadirnya pasangan pengantin itu.
Siaran livepun sudah mulai, sesekali tamu undangan yang hadir didalam kapel untuk menyaksikan ikrar janji pernikahan mereka melihat ke arah belakang, berharap pasangan itu sudah berdiri disana. namun mereka harus menahannya karna yang diharapkan masih bingung didalam kamar hotel mereka.
&&&&&&&&&&&
Dimarkas, Lion Club seorang pria paruh baya sedang marah besar. semua barang barang koleksi peninggalan Sergio dihancurkan. dilempar sana sini. hatinya kacau, wanita yang akan diajak ke rumah untuk bahagia bersama masih belum bersedia menerima dia kembali.
Sedangkan, berita terus saja menyiarkan pernikahan Cia dengan pria brengse*k yang ingin dia bunuh karna selalu menggagalkan bisnisnya.
Ya, Mason ingin membunuh Al karna selalu menggagalkan bisnis jual beli senjata ilegalnya.tapi, di satu sisi. dia berterima kasih karna Al sudah membunuh Sergio.
Tapi, saat ini rasa terima kasih sudah berubah menjadi amarah dan murka. karna Al dengan cara licik menikahi anaknya yang polos dan yang di banggakan dirinya.
Mason, sudah perintahkan anak buahnya untuk menggagalkan pernikahan Cia dan Al tapi selalu digagalkan oleh Ethan dan anak buahnya.
Bahkan semalam, Mason hampir saja berhasil menaruh bom didepan hotel. tempat Al menginap dan akan diadakan pernikahan anaknya dan Al.
Untung saja, Ethan cepat mengetahuinya dan segera menggagalkan aksi konyol Mason itu.
__ADS_1
sebenarnya, sebelum pertunangan dilaksanakan Al sudah perintahkan Ethan. pergi ke Mason, meminta Mason boleh hadir di acara nikahan Cia, tapi syaratnya Mason harus berpura pura ikut bahagia atas pernikahan mereka didepan Cia. namun, Mason menolak semua itu.
Karna, penolakan dari Mason itu. membuat Al sangat kesal. saat ini Mason tidak bisa keluar dari Markasnya karna markas miliknya di awasi ketat oleh Nuel, jose dan 40 lebih anak buah mereka kwatir kalo Mason bertindak lagi saat pernikahan berlangsung.
*******
Al, akhirnya menyerah dengn sikap Cia yang hanya diam dan terus saja menangis.
Mengambil ponsel miliknya Al menelpon Vani dan nabila. karna mereka sebagai bridesmaids nya Cia.
Setelah, menelpon Vani dan Nabila. Al, berjalan ke arah Balkon. menelpon lagi Etahn memastikan apakah Mason benar benar menolak permintaannya untuk hadir di pernikahan Cia. ternyata benar Mason tidak ingin hadir di pernikahan Cia bahkan Mason dengan tegas tidak ingin mengenal Cia lagi.
Mendengar, semua yang dikatakan Ethan. Al, semakin geram. tangannya memukul ke arah sofa.bingung harus apa? tamu undangan sudah datang, siaran live sedang berlangsung. membatalkan pernikahan itu tidak mungkin.
Al, tersenyum sinis menertawakan ide konyolnya. yang, memutuskan menikahi Cia secara mendadak. tapi, Al berhasil karna sudah memancing Mason berperang terbuka.karna dengan adanya Mason menolak hadir dipernikahannya dan Cia.
Saat sedang bingung dengan keputusannya di balkon. pintu kamar diketuk. Nabila dan Vani sudah didepan pintu mereka datang bersama bibi sum wanita paruh baya yang dulu mengasuh Cia. sejak ditinggal oleh ibunya diwaktu Cia usia 2 minggu.
Al berjalan ke depan pintu membuka kan pintu untuk bibi Sum, Nabila dan Vani.
Ceklek...
Pintu dibuka. dengan ramah, Al melempar senyum. tangannya menggandeng bibi Sum berharap bibi Sum bisa menjelaskan ke Cia.
Dengan langkah tertatih, bibi sum melangkah mendekati Cia. yang sudah sangat cantik.
Cia yang melihat, Bridesmaids yang tidak kalah cantik dengannya tersenyum bahagia. dan Cia mengalihkan pandangannya ke wanita paruh baya itu.
"Bibi." tangis Cia pecah sambil memeluk bibinya, yang sudah dianggap sebagai ibunya.
Bibi Sum merangkul Cia, tangannya menepuk pelan dipunggung Cia.
"Nak, ayo sudah jam. apa yang membuatmu sedih?" tanya bibi Sum
"daddy, bibi. "sambil terus menangis.
"Nak Al. sudah mengusahakan daddymu datang bahkan mencari ke mana mana. tapi, tidak menemukan daddymu. udah kamu nikah dulu karna jam sudah hampir tiba."ucap bibi sum.
Al, yang melihat Cia sudah lebih tenang.karna, dijelaskan bibi Sum. merasa lega, dan pergi meninggalkan mereka didalam kamar. Al berjalan keluar menuju arah Kapel terlebih dahulu unyuk menunggu Cia didepan Altar.
Di kamar hotel, Nabila dengan cepat segera memoles ulang wajah Cia. karna make up sebelumnya sudah luntur.
"selesai." ucap Nabila. mereka sudah sangat cantik semua. menggandeng Cia berjalan keluar dari kamar hotel menuju Kapel
.
__ADS_1
visual kedua bridesmaids.