SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
Bangunkan Suamiku.


__ADS_3

''Sudah, jangan nangis lagi. kata, daddymu. Steward lebih mengenal Karla.'' jawab Felisia. menenangkan Leticia.


''Cia, kwatir. diperutnya ada janin mom.'' sambung Cia. sembari menyeka air matanya.


Felisia, mengangguk.


'' Kita, doa kan yang terbaik saja untuk Karla dan anaknya.'' jawab Felisia lagi. tapi, hati kecilnya juga kwatir dengan sang putri dan calon cucunya.


Pertarungan, sengit masih berlanjut. saat ini, Karla dan Steward sudah dikepung oleh musuh ditengah.


Karla, terus melompat dan melepaskan tendangan. Begitu, juga Steward. yang siap dengan belatihnya yang sudah dilumuri racun.


Gareth, dengan bahu yang terluka. Masih, sanggup menembak musuh.


Tiba tiba, ada wanita berlari ke arah outdoor. dan melepaskan tembakan.


Doorrr.., doorr..,doorr...


Alfonso, yang melihat. ada peluru yang berlari ke arah Leticia. dengan cepat menghalangi tubuh Leticia dengan tubuhnya.


"Sayang!"satu ucapan terakhir yang keluar dari mulut Alfonso.


" Shiifttt... " Teriak pria bersuara bas itu. yang, tidak asing ditelinga Leticia.


"Al, Bangun!!!" teriak Polievera. dan mengambil pistol Alfonso.yang terjatuh dilantai. dan mengejar wanita itu.


Dorr...dorr... dorrr...


Wanita itu, tersungkur dilantai. dengan , cepat polievera mengikat kaki dan tangannya. kemudian, dengan belatihnya Polivera memotong ke sepulu jari tangan dan jari kaki. Dan, wanita itu dibiarkan menjerit kesakitan sambil ngesot dilantai seperti suster ngesot.


"Sakit! Pengecut!!" teriak wanita misterius itu.


Polievera, menarik penutup wajah wanita itu dengan kasar. betapa terkejut dirinya.


" Ka...,u?"tanya Polievera.


''Aku, puas bisa membelaskan dendamku. dan mafia yang semua sanjung telah tewas." teriak wanita itu.


Leticia, Histeris. saat melihat yang terkapar tak berdaya itu sang suami tercinta. wajahnya berlumuran darah. hanya jarinya yang terus bergerak seolah memanggil Leticia.

__ADS_1


Matanya, menatap Leticia. dan, buliran kristal itu jatuh disudut matanya.


''Sayang!!!!! please.., jangan tinggalin aku sendiri kamu tau aku tidak bisa hidup tanpa kamu. kamu, tau aku sangat membutuhkan kamu. bangun, bangun!!" Leticia terus berteiak. tangannya memeluk kepala sang suami. Gaun putihnya, berubah warna menjadi merah darah.


Polievera, segera memanggil bantuan medis.


Dokter Louis, dengan beberapa perawat datang sambil mendorong Brankar, berlari menuju outdor dimana Alfonso tertembak.


''Mommy, Daddy. tolong!'' Teriak Leticia. kepalanya terus menggeleng sembari bercucuran air mata.


'' Tidak!!!!" hanya kata itu yang terus keluar dari mulut Leticia.


Alfonso, diangkat ke atas Brankar dan didorong oleh perawat dibawa ke klinik yang berada didalam lantai dasar Hotel.


Leticia, terus memegang tangan sang suami.


''Bangun.., bangun.., kamu, sudah berjanji.tidak akan meninggalkan aku.''ucap Leticia. air matanya mengalir semakin deras.


Alfonso, dibawah ke ruangan VIP. Dimana, sejak dari dulu ruangan khusus untuk Alfonso berobat.


Leticia, menempelkan pipinya dipipi Alfonso. sebelum, para medis melakukan tindakan.


''Dokter, lakukan yang terbaik. Aku, tau nya suamiku hidup.''ucap Leticia.


Untung saja, Alfonso membangun Hotel dan dilengkapi dengan klinik.juga ada sebuah panti asuhan. dimana, itu adalah anak anak dari anak buah Alfonso yang tewas. dikumpul dipanti itu. dan Alfonso, yang menanggung semua biaya hidup dan biaya sekolah mereka, hingga mereka dewasa dan mandiri.


Leticia, terus menggenggam tangan Alfonso. Alfonso, juga seakan tidak ingin melepas tautan jari mereka.


''Sayang, bangun., kamu tega kamu bohongi aku. kamu enggak sayang aku dan keempat anak kita.'' lirih leticia. air matanya seakan tidak pernah mau berhenti menetes. Leticia, terus mencium pipi dan sesekali mengecup kening sang suami.


Alat, pacu jantung dan EKG, semua sudah lengkp disiapkan.


Felisia, dan Mason. yang melihat sang putri terus menangis merasa tidak tidak tega.


Mason, terus mengerutuki dirinya.


''Bodohnya aku! kenapa, tidak bisa menyadari kalau ada musuh menyusup masuk ke belakang.'' ucap Mason. terus, mengerutuki dirinya.


Steward, mulai membabi buta. musuh yang sudah tewas. dipotong telinga, lidah dan jari mereka.

__ADS_1


Glen, dan yang lain berlari ke arah klinik. saat melihat Alfonso, yang sudah berlumuran darah. Glen menarik kasar rambutnya. lalu, menjatuhkan tubuhnya didepan kamar Alfonso dirawat.


Steward, dan yang lainnya sudah melumpuhkan musuh. begitupun diudara dua heli musuh sudah jatuh dan terbakar.


Musuh, yang masih hidup dirantai. lalu, dibawa ke markas dimasukkan ke penjara bawah tanah untuk diintograsi.


Semua, dokter sudah berada diruang Alfonso. untuk melakukan tindakan pengeluaran peluru yang tepat didada Alfonso.


Karla, berlari dengan kaki kosong menerobos masuk ke ruang Alfonso. dimana Leticia, tidak ingin meninggalkan sang suami sendiri di ruang operasi.


Dengan, memeluk sang kakak.dan bercucuran air mata. Karla, memberi kekuatan pada sang kakak.


'' kak, ayo. keluar dulu. kalau kakak tidak keluar dokter akan lama melakukan tindakan. kasihan kakak ipar akan kehabisan darah. dan nyawa kakak ipar akan sulit diselamatkan.'' ucap Karla. sembari mengajak Leticia keluar.


'' Sayang, kamu harus kuat kamu harus janji. kembali ke pelukanku dan anak anak kita, dengan tersenyum.'' ucap Leticia. sembari mengecup kening sang suami. lalu, mengecup punggung tangan sang suami lagi.


Langkah, Leticia. begitu berat meninggalkan sang suami sendiri bersama para dokter.


Dengan, bercucuran air mata Leticia berkata pada dokter Louis.


''Dok, selamatkan bossmu. Dia, bukan hanya bos tapi ayahmu.'' pinta Leticia. sembari bercucuran air matanya.


Dokter Louis, habis kata kata. Ia, hanya mengangguk dan tanpa sadar butiran kristal itu jatuh juga dari mata yang dilapisi kaca mata itu.


Tindakan, segera dilakukan oleh tim medis.


Alat pacu jantung terus ditempelkan didada Alfonso. namun reaksi dari Alfonso. sama sekali tidak ada.


Leticia, terus, menatap Layar monitor EKG. Dari kaca pembatas kamar. tangannya terus ditempelkan dikaca seakan ingin merangkul sang suami.


Felisia. memeluk sang putri meminta Leticia untuk duduk dulu. tapi, terus ditolak Leticia.


''MOM, bagaimana Cia bisa duduk. sedangkan, suami Cia kesakitan diruangan itu.'' Leticia berlinang air mata kepalanya disenderkan dibahu sang mommy.


''lakukan lagi.'' perintah salah satu tim medis.


Lalu,alat pacu jantung ditempel lagi. terlihat, badan Alfonso terangkat lagi. namun, detak jantung dilayar monitor masih saja lurus.


Leticia, berdoa sembari berlinang air mata.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2