
Nabila, yang sedang menangis dalam pelukan Felisia mengabaikan ponselnya yang berdering.
"Nak, terima dulu panggilannya. jangan abaikan seperti itu." ucap Felisia.
Karna, didesak Felisia. Nabila akhirnya mengambil ponsel diatas nakas.kemudian menggeser layar ponselnya.
"Kevin? tumben hubungi aku lagi." batin Nabila.
Nabila yang penasaran akhirnya membaca chat yang dikirim Kevin. Air matanya semakin menetes membasah pipinya.
kemudian, dengan cepat Nabila membalas chatt Kevin.
"Banyak wanita yang mau menerima masalalu lelaki yang hancur. namun, banyak lelaki yang tidak mau menerima masalalu wanita yang hancur. pertimbangkan sebelum mengambil keputusan.terima kasih, sudah peduli terhadap aku.tapi, aku harap kamu bisa mengintropeksi diri kamu. semua berawal dari kesalahan kamu." kemudian Nabila membalas chat Kevin.
Kevin, sesekali melirik ke arah ponselnya."belum dibalas," gumam Kevin.kemudian meletakkan ponselnya.
Tapi, saat mau meletakkan ponselnya. tiba tiba ponselnya berdering dengan cepat dan tersenyum. Kevin, membaca isi chatt dari Nabila.
Kevin berdecih kesal."Aku, yang salah?"
"Dia, yang melukai aku.tapi, kenapa aku yang dipersalahkan? apa iya, wanita selalu benar."Kevin terus berbicara sendiri dalam kamarnya.
Kevin, yang kesal. ingin ke Mansion Alfonso saat ini juga. Namun, matanya menatap jam dikamarnya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Oke, Fine! besok pagi saya akan ke Mansion." sambung Kevin lagi. dengan kasar Kevin melempar ponselnya diatas ranjang.
"Persetan! rusak saya beli ganti 10 ponsel sekaligus." ucapnya dengan sombong.
"Dia, pikir saya tidak bisa menerima dia? jangan kan kamu hancur. sekalipun kamu sudah menikah saya siap menunggu jandamu!"teriak Kevin dalam kamarnya.
"Enak, jadi pebinor sekalian." Kevin mencebik.
Lalu, merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan tertidur tanpa membersihkan tubuhnya.
****
Nabila, akhirnya berbisik ditelinga Felisia." saya belum siap mom.maaf! tapi, saya janji setelah saya siap saya akan jujur dan orang pertama yang tau adalah mommy." janji Nabila.
Karna, Nabila sudah mengatakan ingin jujur kalau dia sudah siap.Felisia pun memilih kembali ke kamarnya.
"Ya, sudah mommy istirahat dulu.jangan menangis lagi nak." jawab Felisia.
Kemudian, Felisia melangkah ke luar dari kamar Nabila menuju ke kamarnya.dimana Wily yang sudah pulas bersama Ayah sambungnya Mason.
******
"Pagi sayang.!" ucap Glen dengan tersenyum.
Stefani, yang masih lelah. dengan perlahan membuka matanya dan menatap sang suami yang sudah selesai mandi.
Tubuh, dan rambut Glen yang masih basah sengaja Glen dekatkan ke wajah Stefani.
"Sayang! dingin." keluh Stefani.
__ADS_1
"Makanya, ayo bangun." sambung Glen. yang terus berada disamping tubuh Stefani yang masih berada dalam selimut.
"Tu, kan selimutnya jadi basah!" protes Stefani Karna selimut yang dipakenya basah karna kena air yang masih menempel ditubuh dan rambut sang suami.
Glen tidak, mendengarkan protes sang istri. dengan , cepat tangannya menggelitik tubuh Stefani yang berada didalam selimut.
Stefani tertawa, begitu juga Glen.Stefani memundurkan tubuhnya agar Glen berhenti menggelitik dirinya. Namun tiba tiba Glen tersungkur diatas tubuh Stefani, membuat jarak mereka begitu dekat.
Napas Stefani yang terengah begitu dirasakan oleh Glen. dengan memejamkan mata Glen mendekatkam bibirnya dengan Bibir Stefani.Namun, saat hendak menyatukan bibir mereka.
Stefani, dengan cepat mendorong tubuh Glen menjauh dari wajahnya. dan berlari ke arah kamar mandi. Glen hanya mengangkat kedua tangannya ke atas, dan menggelengkan kepalanya.
"Achh..," teriak Glen dan berlari menyusul Stefani masuk dalam kamar mandi. Stefani yang hendak mau mengunci pintu dengan cepat ditahan oleh tangan kekar Glen.
''Sayang, bukannya kamu sudah mandi.' protes Stefani.
Glen tertawa.''makanya, jangan ngerjai orang. kalau, kamu tidak ingin dikerjain balik.'' ledek Glen.
Stefani, cemberut. Glen, yang melihat istrinya cemberut. segera, melangkah mundur kembali ke arah kamar.
''Maaf! cepatan mandi katanya mau ringkas ringkas barang di Apartemen kamu.'' ucap Glen.
Stefani, tersenyum. kemudian menutup pintu kamar mandi dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Glen, mendudukkan tubuhnya diatas sofa, dan mengingat keusilan tadi dengan Stefani.
''Enggak apa apa belum tembus gawang. pacaran saja dulu kata orang pacaran setelah menikah lebih enak. saya akan berusaha menjadi teman dan suami yang baik.'' gumam Glen.
Leticia, mengerjap matanya menatap kearah Alfonso. yang sudah selesai mandi dan sedang berada didepan laptopnya. sembari menyesap kopi paginya.
'Pagi, sayang! sudah bangun?" tanya Alfonso. yang masih fokus dilayar laptopnya.
''pagi, juga daddy! tumben daddy pagi pagi sudah ganteng?" goda Leticia.meniru bahasa anak anaknya.
''Iya, hari ini Louis akan datang pukul 8 pagi. jadi saya menelpon Gareth untuk segera ke Mansion untuk membantu ganti forban, aku, juga masih mencari info mengenai wanita yang menembak saya waktu itu.'' jelas Alfonso.
''ya, ampun sayang aku hampir lupa, mengenai wanita itu. sebenarnya dia siapa?'' tanya Leticia. dengan perlahan melangkah turun dari tempat tidur. kemudian, berjalan mendekati ke arah Alfonso.
''hanya, orang yang ingin cepat dikirim ke neraka.'' jawab Alfonso dengan wajah dinginnya.
Leticia, berdiri dibelakang Alfonso. lalu, melingkarkan tangannya dileher Alfonso. sembari mencium pipi sang suami.
''Jangan, berpikir terlalu keras dulu. kamu belum sembuh total.hmm'' ucap Leticia.sembari mengeratkan lingkaran tangannya dileher sang suami.
''Iya, sayang.''Jawab Alfonso. tangannya mengelus tangan sang istri.
''Ayo, sana bersih bersih dulu. wanginya enak bangat.'' goda Alfonso. tangannya sengaja menutup idungnya.
''SAYANG!''cebik Leticia.
Dengan, kesal Leticia berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
''Hehehehe.., mandi yang bersih sayang.'' teriak Alfonso lagi.
Leticia, yang kesal hanya mencebik. lalu, melangkah terus masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Alfonso, mengepalkan tangannya. saat mengetahui siapa yang menembak dirinya.
Seketika, wajahnya berubah jadi dingin.
''Breng..,sek! jadi, selama ini dia wanita, arhh..,'' Alfonso terus saja mengomel.
Tangannya, meraih ponsel yang terletak disampingnya. segera Ia, menggeser layar ponselnya dan menelpon Andre.
''Ndre, kumpulkan semua di markas. hubungi juga Glen dan Kevin.'' perintah Alfonso.
klik..,
Panggilan diakhiri Alfonso.
''Brughh..,'' satu pukulan melayang diatas meja Ia kerja.
''Lihat, saja nanti lidah dan telingamu yang pertama kali saya potong.'' Alfonso terus bergumam.
Leticia, yang sudah selesai mandi. segera berjalan keluar ke kamar. tapi, langkahnya terhenti saat telinganya mendengar Alfonso marah marah.
Dengan, perlahan Leticia melangkah mendekati Alfonso.
''kurung dia, jangan beri dia makan! sabuknya panasin di Api setelah ini saya akan ke markas bersama Steward." perintah Alfonso lewat sambungan telpon.
''kurung? sabuk?'' batin Leticia sembari menarik napas panjangnya.
''yang lain tetap diberi makan. kecuali wanita si*lan itu saja yang tidak boleh diberi makan. mengerti!" Suara Alfonso meninggi.melalui sambung panggilan.
Selesai, menelpon Jose. dengan kasar Alfonso meletakn ponselnya dengan kasar diatas meja Ia kerja.
Leticia, mengerutkan dahinya.''Sayang, ingat masih belum sembuh.'' tegur Leticia.
Alfonso, membalikkan tubuhnya dan menatap sang istri. jari telunjuknya di letakkan diatas bibirnya.
Leticia, yang melihat sang suami memberi isyarat. hanya menarik napas dalam dan berjalan ke meja riasnya. untuk, mengenakan bajunya.
Selesai, mengenakan bajunya Leticia duduk dimeja rias dan mulai memoles wajahnya dengan make up naturalnya.
Kemudian, Leticia berjalan mendekati Alfonso lalu mendudukkan tubuhnya disofa samping sang suami duduk.
Alfonso, yang sudah selesai menelpon. menatap wajah Leticia.
''Nanti, setelah ganti forban saya akan ke markas sebentar ada urusan penting yang harus saya kerjakan.'' ucap Alfonso.
Leticia, hanya diam.karna, dia tau sulit mencegah Alfonso. kalau sudah mengenai nyawa dirinya dan anak anak.
Leticia, masih ingat. bagaimana perjuangan Alfonso membiarkan dirinya tertembak. demi, menyelamatkan nyawanya.
''Iya.'' jawab Leticia.
__ADS_1