SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
Bridesmaid


__ADS_3

''Permisi, tuan dan nyonya. makan malam sudah dihidangkan.'' ucap pelayan itu sambil menunduk.


''Iya, Bi. terima kasih.'' sambung Leticia sambil tersenyum.


''Sama sama, Non.'' jawab pelayan itu. lalu, Pelayan itu kembali ke dapur.


''Ayo, kita makan dulu.karna, besok dan dua hari kedepan kita akan sibuk.'' ucap Alfonso.


Semua, berdiri dari sofa. dan berjalan ke arah ruang makan untuk makan malam bersama.


Selesai, makan malam. para pria duduk bersama diruang keluarga. Sedangkan, para wanita duduk bersama di kamar Felisia. menemani Wily yang sudah tidur.


Karla, dan Leticia. Berbaring, disamping Willy yang sudah pulas. Stefani, Nabila dan Felisia duduk disofa yang ada dikamar dekat ranjang. mereka, membahas soal gaun yang akan dikenakan dipernikahan Karla dan Stefani.


''Aku, percaya dengan desainer Alfonso. buktinya, aku yang nikahnya dadakan. semua gaun selesai tepat waktu.'' ucap Leticia. sembari mengelus rambut willy.


''Iya, aku lihat lewat tayangan tivi. Gaunmu, sangat bagus, sayangnya suamimu enggak pernah senyum. jiwa pembunuhnya terlihat sangat jelas.'' ledek Karla.


Leticia mencebik. diambilnya guling yang ada disampingnya dan dilempar ke arah Karla.


'' Biarin, yang terpenting sekarang dia suami idaman bangat.'' jawab Leticia. sembari menjulurkan lidahnya.


'' Sudah sudah, mau dia mafia, mau dia pembunuh. tetap saja kalian sudah menerima mereka. Jadi, masalalu mereka yang buruk, kalian juga harus menerimanya.'' jelas Felisia. yang heran dengan kedua putrinya. kalau sudah kumpul ada saja yang membuat mereka saling ledek.


''Tu, dengarin Dek. apa kata mommy.''' jawaban Leticia. sambil tersenyum.


" Iya, Aku dengar kak." sambung Karla. memutar mata malas.


Nabila, dan Stefani. hanya tertawa, saat menyaksikan perdebatan antara kakak beradik itu.


Setelah, puas saling menggoda. Leticia menatap Stefani.


'' Fani, yang jadi BRIDESMAID. Aku, Alfonso. Nabila, dan Reno. Dan, untuk Gareth, Kevin, Andre dan Walker. kita, akan mengambil juga pegawai yang bekerja di kantor Alfonso. Untuk, mendampingi ke empat pria yang masih belum ada pasangan.'' ucap Leticia.


''Tapi, Cia. aku kwatir kamu cape.'' sahut Stefani. yang tidak tega melihat sahabatnya yang bersedia dengan perut yang sudah membuncit menjadi bridesmaid mereka.


''Udah, tenang saja. aman kalau aku cape kan ada Alfonso.'' jawab Leticia.menaik turunkan alisnya.


''Mommy, sama daddy damping Karla.'' sambung Leticia lagi.


'' Enggak, nak. mommy dan daddy akan menjadi orangtua untuk kalian semua. jadi, nanti daddy yang akan menggandeng ke dua mempelai wanita.untuk, diserahkan ke mempelai pria.'' jelas Felisia. tangannya meraih tangan Nabila dan Stefani.


''Nabila, kamu juga sebaiknya segera nikah. bukannya, aku dengar dari Alfonso. kalau, kamu sudah berkencan dengan seorang pria.'' seru Leticia. sambil menyatukan kedua alisnya.


Nabila, hanya tersenyum. dan, menunduk.


''Kenapa, berbicara begitu nak.''lirih Felisia. yang merasa anaknya sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


'' Enggak, mom. Cia, hanya ingin menjadi Bridesmaid dengan perut Cia masih buncit seperti ini.'' Sahut Leticia. karna, Ia tidak mungkin mengatakan kalau saat ini sedang menderita Lupus stadium 3.

__ADS_1


Tapi, hati seorang ibu tidak bisa dibohongi. kalau, sudah mengenai seorang anak. Felisia, tersenyum kejut. tapi, ada rasa yang janggal didalam dadanya.


Karla, menatap mommynya dan Leticia berganti. dahinya mengerut. ada, banyak pertanyaan yang ingin Ia tanyakan setelah dirumah mommynya nanti.


Stefani, terperanjak. karna, dia sama sekali tidak mengetahui kalau Nabila. sudah memiliki kekasih.


''Sepertinya, titel mafia suamiku tidak berpengaruh.'' ucap Stefani. sembari menatap Nabila.


***


Diruang keluarga, para pria sedang membahas masalah di pelabuhan.


''Kamu, hubungi Jose saja. minta, Jose, untuk meneliti dengan baik dan seksama semua senjata yang baru tiba itu.kamu, tau kan bagaimana si Rusia itu benar benar teliti. sebelum, dia melakukan pembayaran.'' ucap Alfonso. jarinya menggerakan didagunya.


'' Nak,kamu masih kerja sama dengan. Rusia?'' tanya Mason.matanya menatap sang menantu.


'' Iya, daddy. tapi, dia jarang beli senjata dari saya.'' jelas Alfonso.


'' Itu, bagus. karna, dia bermainnya sangat kotor. ya, sebelas dua belas sama Sergio.''sambung Mason. yang, tidak mau menantunya juga dibohongi seperti Sergio.


'' Aku, dengar juga seperti itu dad. tapi, pura pura tidak dengar. sengaja, aku membiarkan dia mengengendalikan saya dulu.'' jawab Alfonso. sambil tersenyum sinis.


''Baik nak. kalau, kamu sudah mengetahui ularnya dia.'' sahut Mason. sambil tersenyum.


Hari semakin larut, semua sudah mengantuk. Mereka, berpamitan dan masuk ke kamar masing masing.


"Ayo sayang. kita tidur hari sudah larut malam." ucap Alfonso. tangannya, menggandeng tangan Leticia. Mereka, berjalan masuk ke kamar. Begitu juga, dengan Nabila , Stefani dan Karla.


"Sayang minum obat dulu."ucap Alfonso, membawa obat dan air ditangannya. Lalu, memberikan untuk Leticia.


"Terima kasih, sayang." ucap Leticia. sembari meminum obatnya. dan, meneguk air dicangkir. kemudian meletakkan lagi cangkirnya diatas meja.


" Sudah, soal gaun yang akan dikenakan di pernikahan?" tanya Alfonso tangannya mengelus lembut rambut sang istri yang berbaring diatas ranjang.


"Hemmm.., dan mereka setuju. nanti Daddy yang akan mengantarkan Karla dan Fani ke Steward dan Glen diatas Altar." jelas Leticia. soal tadi pembicaraan mereka di kamar Felisia.


" Lebih bagus dong sayang." jawab Alfonso.kemudian mendaratkan satu kecupan di kening sang istri.


Dan, seperti biasa seblum tidur . Alfonso, mengambil cream untuk mengoleskan diperut sang istri. selesai mengoles cream pencegah strechmark.


Lalu, Alfonso. mengambil lagi buku cerita kali ini Alfoso menceritakan gadis berkerudung merah dan si srigala. Alfonso, membaca didekat perut leticia. Alfonso, yang melihat Leticia sudah pulas segera ia meletakkan buku diatas nakas. Lalu, Alfonso membaringkan tubuhnya disamping Leticia. Merekapun, masuk ke dalam dunia mimpi mereka.


*******


Sinar mentari, pagi telah masuk ke celah tirai jendela Mansion. Leticia, melengguh. perlahan membuka matanya. Leticia, diam saat menatap wajah sang suami. wajah Alfonso, terlihat begitu terbeban.guratan guratan terukir dikening sang suami.


Tangannya, menyentuh wajah Alfonso dengan lembut. Ia, menitikkan air matanya.


''Jangan, terbeban seperti ini. semua pasti kembali kepadanya. Kenapa, orang baik sepertimu harus mendapatkan aku. yang, hanya membuatmu menderita.'' gumam Leticia. menitikkan air matanya.

__ADS_1


Dengan, lembut Leticia menyibak selimut. lalu, perlahan bangun dari tempat tidur. dengan langkahnya seperti bebek. karna, perutnya yang sudah semakin besar. Leticia, masuk ke dalam kamar mandi.


Leticia, menyenderkan tubuhnya di dinding kamar mandi. lalu, ia mulai menangis tersedu sedu.


Sesak rasanya di dalam dadanya, tangannya memukul pelan dadanya. Leticia, terus terisak.


Alfonso, yang sudah sadar dan tau. hanya diam seribu bahasa ditempat tidur matanya menerawang ke atas langit langit kamar.


Apalagi, Alfonso, kembali mengingat. semalam pukul dua malam. Alfonso, yang kebelet pipis. saat membuka mata, Ia melihat Leticia sedang menulis diarynya dengan terisak.


Ini, bukan kali pertama Alfonso mendapati Leticia bangun ditengah malam. untuk, menulis di diarynya. saat, mengingat itu Alfonso menitikkan air matanya.


''Kenapa, kamu begitu tidak yakin. kalau kamu bisa sembuh.kenapa, kamu tega ingin meninggalkan aku, anak anak kita dan keluargamu yang begitu mencintaimu.'' gumam Alfonso. yang masih berada didalam selimut. tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.


Setelah, hatinya tenang. Alfonso, menyibak selimut. lalu, berpura pura tidak tau. dan berjalan ke arah kamar mandi.


''Tok.., tok.., tok..,'' pintu kamar mandi diketuk Alfonso.


Leticia, yang mendengar pintu kamar mandi ketuk. segera, menyeka air matanya agar sang suami tidak curiga.


'' Bentar, sayang perutku mules. kalau buru buru ke kamar mandi lain saja sayang." teriak Leticia. dari dalam kamar mandi.


Alfonso, yang mendengar itu, hanya tersenyum kecut.


'' Iya, enggak apa apa. aku pikir kamu mandi. jadi, aku mau gabung.'' jawab Alfonso. dari depan pintu kamar mandi.


'' Bentar lagi ya sayang.'' jawab Leticia, yang berpura pura menyalahkan air closet.


''Hmmm..,''Alfonso berdehen, sambil menyenderkan tubuhnya didinding kamar.


Setelah, beberapa menit. yang menurut Leticia, waktu yang cukup untuk ritual pagi. dengan wajah tersenyum, tapi matanya masih sembab. Leticia, berjalan mendekati pintu. tangannya, meraih handle pintu.


Ceklek..,


Pintu kamar mandi, dibuka oleh Leticia. Alfonso, tersenyum saat melihat sang istri sudah berdiri didepan pintu, dan berpura pura tidak terjadi apa apa.


'' Sudah?'' tanya Alfonso. sembari memeluk tubuh Leticia. dan mengecupnya.


'' Ayo, mandi. mungkin semua sudah pada bangun.'' sambung Alfonso lagi. dan menuntun Leticia, masuk ke dalam kamar mandi.


Leticia, berdiri diam. Alfonso, dengan telaten melepas piyami Leticia. selesai melepasnya, Alfonso melepas piyama miliknya juga. lalu, menuntun sang istri ke arah shower.


Alfonso, menyalahkan shower. dan mulai menyabuni tubuh Leticia. karna, Leticia yang saat ini susah untuk menunduk.


Tidak lupa dan sudah menjadi rutinitas Alfonso. memberi kecupan diperut sang istri dan mengajak The babies untuk ngobrol sebentar.


"Selamat pagi, anak anak daddy. lagi apa disana? sehat sehat dan selalu pintar ya. daddy dan mommy tidak sabar menunggu kalian datang dan kita berkumpul bersama disini." ucap Alfonso. dan mendaratkan satu kecupan di perut Leticia.


Leticia, yang melihat itu hanya tersenyum dan mengelus rambut sang suami.

__ADS_1


__ADS_2