SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
luka lama


__ADS_3

Leticia menggeleng. Alfonsopun segera kembali memasangkan sabuk pengamannya dan melanjutkan perjalanan mereka.


Dalam perjalanan Leticia hanya diam karna masih kesal dengan tingkah Alfonso yang konyol. sesekali Alfonso melirik ke arah Leticia dan tersenyum. lalu, kembali fokus ke jalanan.


"Ci, tinggal 3 hari kita ke New york. kamu ada rencana apa nanti setelah selesai pemotretan?"tanya Alfonso basa basi.


"Hmm, itu ya." jawab Leticia sekena nya karna masih belum fokus soal pertanyaan Alfonso.


"Ci, kamu ini kalo diajak bicara mesti tidak menghiraukan."Panggil Alfonso kesal.


" Ng, aku mau langsung balik aja.mengingat aku ng boleh terlalu lelah.lagian kalo aku pengen liburan apa jet kamu masih mau nunggu aku disana? ng kan?" jawab Leticia sedikit menyinggungkan bibirnya.


"Kenapa ng? kamu pikir jet ku hanya satu? atau kita batal menggunakan Jet. akan aku suruh mereka mempersiapkan pesawat aja." jawab Alfonso sambil menaik turunkan alisnya.


Leticia yang mendengar ucapan Alfonso sedikit kaget.dan tidak percaya.


"Kamu bercanda?" tanya Leticia.


"Kamu pikir aku orangnya suka bercanda? apa muka ku mirip aktor lawak?" jawab Al. sambil menatap tajam Leticia.


"Sudah menemukan kebohongan dimataku?" tanya Alfonso lagi,


Leticia terkekeh, karna merasa lelucon Alfonso tidak berkelas.


"Aku benci dibohongi, Lelucon mu sungguh tidak berkelas."ucap Leticia perlahan.


"Dan aku benci pembohong. karna tidak ada kebohongan yang baik." Sergah Alfonso.


Leticia seperti disemprot, matanya membulat. tersenyum kecil, Alfonso yang melihat tingkah Leticia hanya menggelengkan kepalanya.


"Sesulit itu meyakin kan kamu."gumam Alfonso.


Sudah hampir 40 menit perjalanan. merekapun tiba dirumah Leticia.mobil Alfonso berhenti pas depan pintu rumah milik Leticia.disana sudah ada security yangbsiap membukakan pintu.


Ceklek...


pintu mobil dibuka.


Alfonso bergegas turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu Leticia duduk. dengan segera membukakan pintu untuk Leticia.


Leticia hanya tersenyum.


"Terima kasih tumpangannya." ucap Leticia.


"Aku yang berterima kasih, karna sudah meluangkan waktu untuk kita."ucap Alfonso.


Mendengar itu Leticia memutar mata malas.Alfonso yang melihat tingkah Leticia sangat gemas.kalo saja tadi masih diruangn kerja bibir Leticia sudah habis disesap Alfonso.


"Kamu ng mampir dulu?" tanya Leticia.


"Ng, aku ada urusan. jadi aku langsung balik. lain kali aja bukan hanya mampir tapi selamanya bersama kamu kita akan tinggal seatap."ucap Alfonso sambil berjalan ke arah pintu mobil bagian sopir.


"uwekk...aku mules, maaf aku pengen muntah."jawab Leticia dan berlari kecil ke arah pintu pagar yang sudah dibukakan security. menyadari kalo Alfonso belum berangkat, langkah kakinya terhenti tepat didepan pagar, berdiri melihat ke arah mobil Alfonso.


Tatapan bola mata kedua insan itu saling bertemu. Leticia menunduk malu, Alfonso menggelang dengan tingkah Leticia barusan.


"Aku pulang ya, sana masuk. bukannya tadi mules. kenapa sekarang diam disitu?"ucap Alfonso.


Leticia tidak menjawab hanya menunjukkan deretan gigi putihnya ke arah Alfonso.


Peebb...,membunyikan klakson mobil .


Dan Alfonso melambaikan tangannya ke arah Leticia.


" Aku pulang, sana masuk dan istirahat." ucap Alfonso dan mulai menginjak pedal mobil.

__ADS_1


Leticia hanya mengangguk, dan melambaikan tangan.


" Daa..., hati hati dijalan."


Alfonsopun melambaikan tangan, berlalu pergi meninggalkan rumah Leticia.


Leticia berjalan masuk kerumah. security kembali menutup pintu pagar.


Masuk ke dalam rumah, tanpa melihat siapa yang menunggu diruang tamu.kakinya terus membawa dirinya ke kamar miliknya, badannya yang lelah, tapi hatinya yang berbunga bak sakura bermekaran, sudah menghilangkan lelah dibadannya . ingin cepat dirinya merebahkan diri diranjang sambil membayangkan lagi kejadian tadi di kantor.


Ya, memang diawali hal yang buruk. tapi, disisi lain Leticia memahami Alfonso tidak sedingin seperti yang selama ini dia lihat.


"Cia, ayah ingin bicara." panggil pria berkepala Plontos itu.


Membuat mood Cia, berubah jelek. Langkah Cia terhenti.


"Daddy? ada apa daddy disini?" batin Leticia.


Leticia tidak menjawab, memasang muka malas, dan melangkah kan kakinya ke arah sofa dimana sang daddy menunggu.


"Sini, duduk sini. daddy kangen lama ng pernah bercerita berdua dengan kamu."panggil Mason. sambil tangannya menunjukkan ke sofa didekat dirinya duduk.


Leticia mendudukkan tubuhnya ke sofa yang tadi ditunjuki daddynya.


"Daddy sudah lama di sini?" tanya Leticia dengan nada mengintimidasi. karna Leticia tau ayahnya tidak akan ke rumah. kalo tidak ada sesuatu yang mendesak.


"Mungkin 20 menit yang lalu." jawab Mason.


Tangannya, meraih sebungkus rokok . yang terletak diatas meja didepan mereka duduk.


Leticia ,yang melihat tangan sang daddy langsung menegur.


"daddy mau mengambil apa?" tanya Leticia.


"Daddy mau ngerokok."jawab Mason..


Mason, kaget dengan larangan Leticia. biasanya dirinya mau ngerokok atau minum Alkohol bebas dirumah ini tidak ada yang melarang.


"Lho, kamu sekarang sudah bisa melarang daddy? pria siapa yang mencuci otak kamu."Mason tidak kalah tegas.


Pikiran Mason langsung mengingat Ethan, foto yang dikirim Stolen waktu itu ditaman.


"Tidak, tidak ada yang mencuci otak Cia, dad. tapi, itu kesadaran Cia sendiri. ini peringatan Cia. kalo daddy ng dengar maka Cia yang akan pergi dari sini. silahkan, daddy memilih." jawab Leticia.


Dan berdirri dari sofa dimana diri ya duduk. melangkah ke arah kamar, ingin memgambil ponselnya.


"Cia, jangan pergi daddy yang ngalah." Mason ngalah tidak ngerokok dirumah Cia.


Ya, sejak dirinya divonis menderita Lupus. Leticia merubah pola hidupnya. jadi, biarpun Mason seorang ayah. tetap Leticia melarang karna dia tidak ingin sakitnya makin parah dalam jangka waktu pendek.


Leticia kembali mendudukkan tubuhnya disofa dan siap mendengar apa yamg akan dikatakan sang daddy.


"Ok, daddy mau bicara apa. karna, Cia cape mau istirahat." ucap Cia dan melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 sore.


"Ini tentang ibu mu, kalo seandainya ibu mu masih hidup dan ayah bawa lagi dia kesini apa kamu siap memaafkan dan terima dia?" tanga Mason.


Deg...,


Hati Cia kembali sakit, mengingat semua kenangan yang dilewati seorang diri dan sang pengasuh.ditambah lagi dengan vonis dokter. penyebab, Cia sakit . karna makanan waktu kecil kurang diperhatikan kandungan gizinya.


"Tergantung, seberapa besar kesalahannya ,daddy. kalo bisa memilih Cia sekarang sudah bahagia hidup sendiri seperti ini." lirih Cia dengan mata yang berkaca kaca.


Mason menunduk, mengingat semua salah dirinya. karna dirinya istrinya Felisia harus dipaksa ikut bersama Sergio dan menikahi Sergio.


"Coba saja waktu itu daddy tidak masuk kedalam jebakan Sergio. pasti waktu itu mommy mu tidak akan meninggalkan kamu seorang diri." batin Mason.menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Mason mengerutuki diri, tapi sudah terlambat dimata Leticia


daddy dan mommynya sama saja. tidak ada yang bertanggung jawab atas dirinya.sehingga dirinya harus menanggung akibat yang yang sangat fatal.


"Ok, kalo daddy sudah selesai bicara. Cia, pamit ke kamar.Cia sudah sangat cape." ucap Leticia. dan berdiri dari sofa melangkah ke kamarnya.


Mason masih terdiam dalaman lamunannya yang tidak menyadari anaknya sudah meninggalkan dia seorang diri di ruang tamu itu.


Tangan Cia lemas meraih handle pintu. membuka pintu lalu masuk ke kamarnya merebahkan dirinya diatas ranjang , matanya memandang ke langit langit kamar tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya.dibiarkan menetes dan jatuh menetes diatas ranjang.


Luka lama yang sudah sembuh kembali diingatkan Mason.ingin sekali memakinya tapi mengingat dia hanya seorang anak.


Leticia menyeka air matanya. dan bangun dari ranjang berjalan ke arah kamar mandi, menyalahkan shower membiarkan butiran butiran air berjatuhan ke kepala dan badannya.air mata dan butiran air dari shower menyatu jadi satu.


Setelah merasa dirinya sudah lega, dimatikan showernya tangannya meraih handuk kimono miliknya dilekatkan ke tubuhnya Leticia berjalan ke luar. kembali ke kamar miliknya.berjalan ke arah lemari, mengambil bajunya setelah berpakaian. Leticia duduk diatas kursi depan meja rias, tangannya meraih hair dry dan mulai mengeringkan rambut panjangnya.


Niat Leticia, yang tadi ingin mengingat kembali kejadian di kantor Alfonso. dirusak oleh sang daddy.


"Apa Cia ditakdirkan untuk tidak bahagia?" batin Cia.


hmmmm...,


"hidup ini sungguh kejam."batin Cia sambil menghela napas panjang.


Setelah selesai. dan melihat dirinya yang sudah rapi. Leticia, berjalan keluar kamar. karna kantong tengahnya sudah mulai teriak.


Tak...,tak..,tak...,langkah kaki Cia. menuju ruang makan.


Matanya melihat ke arah sofa. sang daddy masih terdiam di sofa dengan kepala mendengak ke atas langit langit. memikirkan bagaimana caranya menjelaskan ke Leticia agar bisa menerima sang mommy lagi kembali ke rumah ini.


"Bibi, siapkan makan. aku mau makan uda lapar bangat."ucap Leticia.yang lebih dekat dengan bibi Sum.


"Baik, Non."jawab bibi Sum.


Bibi Sum berjalan ke arah dapur memberitahu ke para pelayan agar menyiapkan makanam di meja makan karna Nona muda mau makan.


Dengan cepat para pelayan, menyiapkan makanan Leticia. yang sekarang Leticia sudah mengurangi makanan berlemak. lebih banyak sayuran dan buah buahan.


"Non, silahkan. semua sudah siap."ucap sang pelayan.


Leticia, berdiri dari ruang tivi dan berjalan ke ruang makan.menarik kursi dan duduk diambilnya alat makan dan mulai mengambil makanan.saat mengambil makanan Leticia ingat kalo sang dady belum pulang.


"Bi, tolong panggilkan daddy. datang makan bareng aku." ucap Leticia.


Sang pelayan yang mendapat perintah dari Leticia segera berjalan menuju ruang tamu dan memanggil tuan besar mereka.


"Tuan, dipanggil Nona muda untuk makan bersama." ucap pelayan.


Mason yang tersadar dari lamunannya, melihat ke arah pelayan.


"Terima kasih." ucap Mason dan berjalan ke ruang makan.menarik kursi dan duduk berhadapan dengan putri kesayangannya.


"Daddy, ayo makan."ucap Leticia yang sudah mengambilkan makan sang daddy dipiring dan meletakkan dengan baik didepan Mason.


"Terima kasih Nak."Ucap Mason yang banyak mengandung arti.


Cia dan Mason mulai makan tanpa ada yang berbicara, kecuali bunyi suara perpaduan alat makan mereka.


...****************...


Beda, dengan pria berhati dingin ini.Alfonso melajukan mobilnya dengan kecepatan tinghi menuju markas. karna tadi sudah dihubungi Glen kalo ada masalah di markas.


Dalam perjalanan ke markas, Alffonso mengingat kembali semua tingkah Cia yang menurutnya sang menggemaskan.


"Mules, aja. aku tidak peduli apa tanggapan mu.tapi aku tidak pernah gagal dalam semua keinginanku. " gumam Alfonso.

__ADS_1


Hahahahah...,dasar kucing.


Begitulah, dalam perjalanan ke markas Alfonso terus bergumam karna merasa lucu dengan semua tingkah Leticia.


__ADS_2