
Alfonso, dan Leticia berjalan masuk kembali ke dalam mansion dengan wajah yang berseri seri.
Diruang tamu, semua keluarga dan sahabat sudah penasaran dengan hasil Usg dari anak anak Alfonso.
''Sayang, mana hasil Usg nya.'' tanya Felisia. sebagai calon nenek dia penasaran, bagaimana perkembanga cucu cucunya.
''Ini mom. kata dokter beratnya sudah dua kilogram. panjang juga sudah 43cm.'' jelas Alfonso dengan bersemangat.
Felisia, melihat hasil Usgnya dengan seksama. terlihat bibirnya terus tersenyum.Mason yang berada disebelahnya mendongakkan kepalanya agar bisa melihat hasil usg yang dipegang sang istri..
""Cucu kita dad." ucap Felisia dengan tersenyum.
"Iya, mom.bentar lagi mereka lahir.daddy enggak sabar untuk menggendong mereka." balas Mason.
Karla, yang baru bangun melangkah keluar dari kamar.
''Aaahh.'' karla menguap. ia terbangun karna suasana diruang tamu yang begitu riuh.
''Ada apa, sich rame rame.'' sambung Karla lagi dengan rambut yang masih berantakan. dan mendudukkan tubuhnya disofa samping sang suami.
''Mommy, lihat hasil USG Leticia.'' jawab Steward. tangannya merapikan rambut sang istri yang acak kadul kemudian dikuncir dengan pita.
''Kak, dokternya sudah datang? kenapa, enggak banguni aku.." tanya Karla cemberut.
'Iya, tadi jam tujuh dan barusan saja pulang.emangya ada apa?" jawab Leticia. bingung dengan pertanyaan Karla. matanya menatap ke arah Karla.
''Rencananya, aku mau periksa sekalian disini. daripada harus ke rumah sakit lagi, cape!" jelas Karla. semua yang mendengar penjelasan Karla menepuk jidat mereka.
''OHH..,''semua serentak menjawab. membuat Karla menggerutu.
''Betul juga. tau, gitu kenapa tidur. lagian Steward juga enggak bilang. tadi, dokter disini kan Steward lagi ngobrol sama Walker dan Pol diruang keluarga kenapa enggak bilang.'' sambung Leticia. yang tidak ingin disebut kakak yang tidak peduli.
''Ya, sudah enggak usah ribut besok pagi saya hubungi dokter . untuk mampir pagi sebelum dia ke rumah sakit.'' sambung Alfonso. menenangkan.
Karla, menatap ke arah Steward.'' sayang, kenapa enggak banguni aku.'' protes Karla pada sang suami.
Steward tertawa kemudian memeluk sang istri.
''aku, enggak tega banguni kamu sayang. kamu pulas bangat sampai mendengkur gitu.'' jawab Steward.
''Hehehe.., iya aku ngantuk bangat setelah menghabiskan satu porsi spagheti buatan kamu.'' jawab Karla sembari menyenderkan belakangnya didada sang suami.
Mereka, bergantian melihat hasil usg anak anak Alfonso.
Stefani, menatap hasil usg Leticia begitu lama. kemudian Stefani menarik napas dalam.
''hmmm.''
''Ternyata, aku belum menjadi istri yang baik karna belum menjalankan kewajibanku sebagai istri. maafkan aku, sayang yang belum mengijinkan kamu menyentuh aku.'' batin Fani.kemudian memberikan hasil usg pada sang suami.
Glen, menyentuh hasil usg itu dengan lembut.'' Al. lu pasti bahagia bangat saat temani leticia usg.kapan aku seperti kamu?'' batin Glen.
Stefani, menatap sang suami.dia bisa merasakan kesedihan sang suami.seketika Stefani teringat sore tadi Glen masuk ke kamar dan berbicara panjang lebar.mungkin benar Glen sedih saat dibully teman temannya.
__ADS_1
Selesai,melihat hasil usg. Felisia, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam waktu Spanyol.
''Ayo, makan dulu. mommy sudah masak.'' ucap Felisia.
Semua, yang sudah lapar berjalan menuju ruang makan, untuk makan malam bersama.
Alfonso, menarik kursi untuk Leticia,''Hati hati sayang, awas perutnya terbentur ujung meja.'' ucap Alfonso,
''Iya, kena ujung meja jugakan dikulit perut sayang.'' jawab Leticia.
''sembarangan saja, itu kena bayi kita.'' sergah Alfonso.
''Iya iya.'' balas Leticia yang tidak ingin berdebat. karena Leticia, tau Alfonso tidak akan pernah mau anak anaknya kenapa kenapa.
Pelayan, mengambilkan piring.dan meletakkan di atas meja makan.
''Setelah, makan malam kami pulang kembali ke apartemen saja.'' ucap Stefani.
Glen, mengerutkan dahinya.
''Kenapa?''tanya Glen bingung.
''Iya, kita pulang dulu, nanti kapan kapan kita main ke sini lagi.aku, uda kangen dengan kamar ku.'' stefani memberi alasan.
''Lagian, selama dari lamaran sampe nikahan kita belum pulang ke Apartemen kita sayang.'' sambung Stefani lagi.
''Ya, uda kalau Stefani mau pulang. '' sahut Leticia.
Gareth, mengedipkan mata kepada Glen.
''Benar itu, sudah dapat lampu hijau.''sambung polievera.
Glen, berdecik kesal.
''Kalian, ini dimana saja selalu bikin heboh,'' seloroh Glen.
Semua, tertawa. Fani hanya menunduk malu.
''Enggak, usah tanggapi kelompok solo karier itu.'' ucap Glen. sembari menatap wajah Fani.
Akhirnya, semua makan malam bersama dengan tidak ada yang bersuara kecuali perpaduan alat makan mereka.
Saat, mereka selesai makan Leticia baru menyadari kalau Nabila tidak ada bersama mereka diruang makan.
''Apa, Nabila sudah pulang? kenapa, enggak pamit aku." ucap Leticia.
Semua juga, baru menyadari kalau bukan hanya Nabila tapi Kevin juga tidak ada diruang makan itu.
Deg..,
Jantung Reno semakin berdegup kencang. karna dia pernah tau kalau Kevin pernah mengejar cinta Nabila hingga akhirnya Nabila menolak.
Dengan, sopan Reno meminta ijin ke depan Masion.
__ADS_1
"Permisi." ucap Reno,kemudian menarik kursi dan berjalan ke Mansion depan.
Alfonso, tersenyum.melihat tingkah Reno karena dia sudah mendengar desas desus itu.
Reno, mengeluarkan ponselnya dari kantong celana. digesernya benda pipih itu.
Mata Reno, membulat saat membaca balasan chat dari Nabila.
''Jangan, berlagak tidak pernah berdosa.''' Reno menendang kakinya ke sembarang arah.
''Breng..,sek''
''Kemana dia?" Reno, kebingungan didepan Mansion. pikirnya Ia ingin melihat dikamar yang biasa ditempat Nabila kalau dia diMansion.
Namun, keberanian itu seketika menciut.saat, Ia berpikir nanti banyak yang berpikir negatif mengenai dirinya.
Fani, yang melihat sahabatnya tidak ada, segera berjalan menaik tangga ke lantai atas mencari sahabatnya itu dikamar yang digunakan Nabila kalau mereka menginap dimansion.
Tok..,tok..,tok..,
Namun, tidak ada jawaban.
''Nad, aku masuk ya.'' teriak Fani. dengan rasa cemas yang menyelimuti dirinya.
ceklek..,
Pintu kamar dibuka oleh Stefani.
Dengan, berjalan lebih cepat lagi Stefani melangkah ke arah ranjang dimana terdapat tumpukan selimut seperti orang yang sedang berselimut.
Dengan, kwatir Fani membuka selimut dengan cepat. betapa terkejutnya dirinya, mendapati sahabatnya yang tertidur pulas. dengan matanya yang sembab seperti orang habis menangis banyak. tangannya memegang sebuah kotak kecil.
Fani tercekam.''ada apa ini Nad.'' tangannya dengan lembut menggoyangkan tubuh Nabila agar sahabatnya itu mau bangun.
Nabila, menggeliat saat merasakan tubuhnya digerakkan.
''Fani? kamu, ngapain disini.''tanya Nabila dengan bingung.
''Kamu, kenapa tidak keluar, untuk makan malam bersama.'' Fani balik bertanya.
Nabila tersenyum ''masih kenyang.'' jawaban yang pasti untuk dijadikan alasan yang diterima oleh akal sehat.
"Ahh.., Nad, Nad tau enggak amu kwatir sekali saat dengar Leticia mencari keberadaan kamu." ungkap Fani lega.dengan cepat Fani menarik tubuh Nabila ke dalam pelukannya.
"Kalau, ada masalah ceritakan pada saya atau Cia.kami, masih seperti dulu." ucap Fani sambil memeluk Nabila, tangannya menepuk pelan belakang Nabila.
Nabila, menggelengkan kepalanya"aku baik baik saja." lirih Nabila menitikkan air matanya.
""Aku tau kamu Nad." sambung Fani.
Nabila, menggelengkan kepalanya air matanya semakin menetes." gini amat jadi anak yatim piatu. tidak ada yang bisa dipercaya didunia, tempat bersandarpun aku tidak ada.Nabila pecah dalam tangaisnya.
"Ada, aku. juga Leticia.kami siap bahu kamiuntuk tempat kamu bersender."tegas Fani.
__ADS_1
"Kamu, kenapa?" tanya Fani.tangannya menyentuh pipi mulus Nabila.
Nabila, tidak menjawab Ia hanya menggelengkan kepalanya air matanya juga tidak ingin berhenti menetes.