SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
jangan berlebihan.


__ADS_3

Ada kelegaan tersendiri bagi Leticia, saat perawat dan dokter pamit keluar dari ruangan Alfonso.


''Ada, yang senang bangat dadanya dipegang pegang.'' sindir Leticia.


Semua, yang berada diruangan itu.hanya, saling menatap dengan ketidak tahuan, mereka bingung kenapa Leticia berbicara seperti itu. Gareth mengangkat bahunya karna tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Leticia. Felisia, tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


Alfonso, yang mengerti dari sindiran Leticia hanya tersenyum. lalu bangun dari bed pasiennya. karna sudah diperbolehkan bangun. melangkah perlahan mendekati Leticia yang sedang berdiri. dengan, lembut tangannya merangkul sang istri.


Alfonso, tidak peduli ada sahabat dan mertuanya yang berada dirungan itu.


Tangannya, menarik lembut tubuh gembul sang istri ke dalam dadanya.


''Kenapa, kalau tidak suka, nanti saya akan minta Louiz untuk ganti perawatnya, yang akan ke Mansion besok.'' bisik Alfonso, yang tidak ingin semua mengetahui masalah mereka.


''Tidak, perlu ganti perawatnya! Hanya saja, aku tidak bisa lihat kalau ada yang menyentuh ini.''jawab ketus Leticia.

__ADS_1


''Tidak, aku yang minta ganti nanti aku akan bilang kalau aku tidak nyaman dirawat suster.''Alfonso, memberi alasan karna dia tau Leticia tidak suka dirinya didekati wanita.


Teringat, dipikiranya dimana awal mereka nikah Alfonso ke Californiapun, Leticia selalu menyelipkan foto pernikahan mereka didalam dompet Alfonso.


''Tidak, jangan berlebihan!" jawab Leticia lagi. lalu menyembunyikan wajahnya didada Alfonso.


''Kalau, begitu tidak perlu ada perawat yang ke Mansion. biarkan lukanya akan sembuh dengan sendirinya, dengan berjalannya waktu. karna, aku tidak bisa melihat istriku cemberut. Ayo, kita siap siap pulang ke Mansion.'' jawab Alfonso.sembari mendaratkan satu kecupan dikening sang istri.


Leticia, mengerutkan dahinya. Leticia, berpikir kalau tidak ada perawat yang ke sana terus siapa yang akan mengganti luka forban sang suami.


''Terus, siapa yang akan mengganti forbannya?'' tanya Leticia, sembari menyembunyikan wajahnya ke dada sang suami.


''Aku, merindukannmu sayang.'' bisik Alfonso ditelinga sang istri.


Leticia, juga yang sudah sangat merindukan sang suami. hanya tersipu malu karna banyak mata yang melihat mereka, dengan refleks, tangannya mencubit pelan perut Alfonso.

__ADS_1


Alfonso, merintih kesakitan dengan tatapan menggoda. terlihat pipi yang semakin cubby itu menampilkan warna pink, yang semakin menambah cantiknya wajah Leticia, membuat Alfonso menggigit bibir bawahnya.


''Ehem.., ingat ada bayak orang disini.'' Gareth berdehem, menyadarkan Alfonso. karna, Gareth tau Alfonso, kalau sudah menginginkan kadang suka lupa tempat.


Alfonso tersenyum, Leticia melepas pelukan sang suami. dan berjalan ke arah ranjang.dimana ada willy Nabila dan Felisia yang sedang duduk disana.


Alfonso, berjalan keluar ke arah pintu depan, semua anak buah yang berjaga didepan pintu menyambut dengan bahagia dan memberi ucapan selamat.


Mason, terlihat menitikkan air mata bahagianya. Ia, bersyukur sang menantu telah pulih walau ada luka yang masih menunggu tahap untuk sembuh.


Semua, anak panti berdatangan ke ruangan Alfonso, dengan membawa bunga, ada yang membawa tulisan di secarik kertas tentang isi hati mereka.


Yang lebih menyentuh hati, ada seorang anak yang berusa 7 tahun dengan langkah sedikit takut, mendekat ke arah Alfonso, memberikan sebuah tulisan dan selembar foto usang.


''Ayah, jangan seperti ayahku yang berada di foto ini. Ayah, tau saya sangat ketakutan saat lihat ayah berdarah dan ibu menangis ketakutan. itu sama seperti waktu Ayahku, dulu dia berdarah dan aku menangis didalam pelukan ibu ku meminta untuk Ayahku tidak pergi meninggalkan kami. tapi, Ayah tetap pergi. karna itu, Ayah tolong jangan bermain dengan pistol lagi. karna, saya dan teman teman yang berada disini sangat mencintai Ayah.'' tulis anak itu.

__ADS_1


Alfonso, membaca isi surat itu dengan seksama. lalu, matanya menatap lagi ke foto yang sudah usang yang wajahnya sudah tidak bisa dilihat lagi, namun, Alfonso masih mengenal wajah orang itu. seketika air matanya menetes. lalu, memeluk anak laki laki kecil itu.


''Jangan, takut dengan pistol. Ayah, tidak akan pergi meninggalkan kalian semua. Ayah, akan terus hidup menemani kalian hingga tumbuh dewasa. pistol, tidak berbahaya, yang berbahaya bagaimana orang yang mengendalikan pistol itu.'' ucap Alfonso. tangannya mengelus ujung kepala anak lelaki kecil itu.


__ADS_2