SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
Cukup sayang!


__ADS_3

''Masuk, Mom.'' Alfonso mepersilahkan Felisia untuk masuk.


"Lihat, Leticia masih pulas,'' ucap Alfonso tersenyum. "silahkan duduk, mom.'' lagi lagi Alfonso masih tenang.


Felisia merasa ada yang aneh. Namun, dia masih berusaha tenang didepan Alfonso.


''Tumben, Nak. Ada mommy disini, Cia enggak bangun.'' ucap Felisia,


''Iya, mommy. dia baru saja tidur tadi. semalam begadang katanya enggak bisa tidur.'' Alfonso memberi alasan. Tangannya terus mencari hasil lab dan semua yang berkaitan dengan hasil pemeriksaan Leticia, didalam lemari. Lalu, dibawa nya ke hadapan Felisia yang sedang duduk disofa kamar.


''Ini, mom dibaca dulu.'' Alfonso menyodorkan semua hasil lab pada Felisia. semua tersusun rapi didalam map berwarna kuning.


''Apa, ini Nak?" tanya Felisia dengan mengerutkan dahi nya. Lalu, menerima map kuning dari tangan Alfonso.


''Mommy, harus tenang. dibaca dulu nanti Al akan menjelaskan.'' Alfonso melempar senyum. Namun, hatinya sedang menangis.


Felisia mulai membaca hasil Lab lembar perlembar dengan seksama.


''Sudah, Nak. ini hasil lab Cia. memangnya Cia sakit apa?'' tanya Felisia berusaha tenang, " maklum mommy enggak paham hasil yang tertulis di kertas ini." sambung Felisi lagi. dan meletakkan Map kuning di atas meja.


''Cia, menderita lupus!" jawab Alfonso dengan menopang kepalanya.


'' Kapan? kenapa mommy tidak tau?" Felisia bergeming.air matanya perlahan mulai jatuh dari sudut matanya. hatinya bagai disayat sembilu. sesak didadanya, " Lupus?" bibirnya gemetaran ketika mengucap kata Lupus.


'' Cia menderita sebelum kami menikah. Cia, tidak ingin semua tau. Bahkan saya juga tidak diberitahu oleh Cia. saya tau dari dokter yang sering didatangi Leticia.'' jelas Alfonso lagi.


'' Mom... istriku kini sudah lumpuh. dia tidak bisa melihat aku dan anak anak kami dengan jelas. karena, Cia menderita lupus langkah Lupus Guillain Barren Syndrom. Lupus ini menekan tepi saraf dan menekan saraf mata. saat ini otot Cia juga sudah tidak berfungsi lagi.'' mendengar penjelasan Alfonso.


Felisia histeri Ia berlari menuju arah ranjang dimana Leticia sedang pulas. Felisia langsung memeluk tubuh yang sudah lumpuh itu. tubuh yang kini bergantung kepada bantuan sang suami.


''Tidak... ini salah mommy.'' Felisia histeris berhasil membuat para pelayan semua berdiri didepan pintu Alfonso.


Merasa tubuhnya digerak gerakkan. Leticia perlahan membuka mataya. Pandangannya rabun.


''Kenapa, mommy ada dua?" tanya Leticia dengan bercucuran air mata.


''Terus bicara nak, kutuk mommy sayang. mommy yang bersalah semua salah mommy.'' lirih Felisia. tangannya memeluk erat tubuh sang putri.


Leticia berusaha bangun. Namun, tubuhnya tidak bisa bergerak, badannya lemas tak berdaya.

__ADS_1


''Sayang, kenapa aku tidak bertenaga seperti ini?" tanya Leticia bingung.


Dia memang rabun. Namun, Leticia selalu tau keberadaan Alfonso.


"Sini, aku bantu." jawab Alfonso mengabaikan pertanyaan Leticia.


"Sender disini." sambung Alfonso lagi.


Dengan sabar Alfonso mengangkat tubuh Leticia dan disenderkan di headboard ranjang mereka.


Felisia tersungkur dilantai. tangannya terus memukul dadanya. Felisia menyesali kejadian 27 tahun silam dia meninggalkan Leticia yang saat itu masih berumur 2 minggu.


"Mommy harus bagaimana, Nak?" Air matanya terus menetes. pandangannya kosong menatap Leticia.


Alfonso duduk bersama Leticia diatas ranjang, tangannya mengelus kepala Leticia sembari mendengar tangisan penyesalan Felisia.


"Waktu yang saya takutkan sudah tiba, sayang. kamu harus sabar menerima semua ini. jangan pernah merasa sendiri. Karena Aku dan anak anak selalu mendampingi kamu, hmmm?" Alfonso terus menguatkan Leticia.


Menyadari ini sudah waktunya, Leticia hanya bisa menitikkan air matanya." Tepati janji mu sayang. jaga anak anak kita. didik mereka tumbuh menjadi anak anak yang membanggakan keluarga kita. jangan, terpuruk dikala aku pergi. kita sudah tau ini dari 5 tahun silam' kan?" Leticia begitu tegar memberi semangat untuk sang suami.


Mendengar ucapan Leticia. lagi lagi butiran kristalnya jatuh tak terbendung.


"Kalau bisa, biar aku yang rabun. kalau bisa biar aku yang lumpuh. karena aku yang banyak dosanya, bukan kamu." lirih Alfonso membawa Leticia ke dalam pelukannya.


****


Berbeda dengan Mason. dia sedang tertawa bahagia bersama keempat cucunya didalam mobil. mereka bernyanyi sembari terus berkeliling di kota Madrid.



''Ayo, Opa nyanyi lagi dong. Nyanyi naik naik kepuncak gunung.'' pinta Alisha.


''Jangan! nyanyi aku sayang ibu aja.'' sergah Alonzo.


''Kakak! Alisha mau nyanyi naik naik ke puncak gunung.'' Alisha terus memaksa.


Semua akhirnya mengalah.


Dengan terus fokus ke depan jalan. Mason mengajarkan cucunya menyanyi naik naik kepuncak gunung.

__ADS_1


''Sudah ya, kita pulang. mommy dan daddy pasti sudah pulang.'' ucap Mason.


''Oke, Opa. Alicia juga sudah lapal.'' jawab Alicia dengan mengelus elus perutnya.


****


Dengan tergontai Felisia melangkah keluar dari kamar Alfonso. Sulit menerima kenyataan ini. Putri satu satunya dengan Mason, kini berbaring tak berdaya.


"kenapa sampai dewasa pun kamu masih menderita?" gumam Felisia berlinang air mata.


''Bagaimana, mommy jelaskan kepada daddy mu. sekalipun dia jahat dimasa lalu. Namun, daddy mu sangat menyayangi kamu, Nak.'' tubuh Felisia lemas. Ia jatuh diatas sofa.


Sedangkan, dengan sabar Alfonso menggendong Leticia masuk ke dalam kamar mandi.


Di dudukkan Leticia dikursi yang sudah disediakan di kamar mandi. Alfonso dengan telaten membersihkan tubuh Leticia.


''Setelah ini kita pergi ke rumah sakit, sayang.'' Alfonso terus mengoceh.


''Iya, aku harus rawat inap disana?'' tanya Leticia cemas.


''Iya, mungkin seminggu.'' jawab Alfonso. tangannya mengeringkan tubuh Leticia dengan handuk.


''Bagaimana dengan anak anak?" Sebagai seorang ibu pasti kwatir meninggalkan anak anaknya begitu lama.


'' Anak anak ditangan orang yang tepat.'' jawab Alfonso.


Alfonso mulai memakaikan baju pada Leticia.


''Maaf, aku selalu merepotkan kamu, sayang.'' lirih Leticia.


''Tidak, aku justru bisa marah. kalau, bukan aku yang merawat kamu." sahut Alfonso.


Ya, tadi sebelum keluar dari kamar Felisia minta ijin untuk membersihkan tubuh Leticia. Namun, dengan halus Alfonso menolak tawaran Felisia.


Selesai membersihkan tubuh Leticia. Alfonso menggendong Leticia keluar dari kamar mandi. dibaringnya Leticia di atas ranjang lagi.


''Kamu tunggu di sini dulu, aku mandi sebentar setelah itu kita segera ke rumah sakit.'' ujar Alfonso.


'' Terima kasih, sayang.'' jawab Leticia.

__ADS_1


Namun, bukan menjawab Alfonso menempelkan bibirnya dengan bibir Leticia. diciumnya dengan sangat dalam. setelah, mencium Leticia. Alfonso mengecup kening Leticia. Dan, segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


__ADS_2