
"Apa, aku bisa hamil?" tanya Cia. sambil jatuh ke dalam pelukan Al.
Al, memejamkan matanya sesaat. kalau saja lupus seorang musuh. Al pastikan, organ mereka tidak bersarang lagi ditubuh mereka.
Hanya...,
Ini bukan musuh yang membuat Al tidak bisa membunuh mereka.
Al, menarik napas panjang.
"Aku janji. kita akan punya banyak anak." jawab Al. sambil menggendong Cia ke arah ranjang.
Cia, yang mendengar ucapan Al. kalo mereka, akan memiliki banyak anak tersenyum.sambil mengeratkan tangannya dileher Al.
Al, membaringkan tubuh Cia ke ranjang.
Lalu...,
Al, ikut membaringkan tubuhnya bersama Cia.
Cia, yang masih terus menangis membuat Al, menarik kasar rambutnya. harus dengan cara apalagi supaya Cia bisa diam.
"Dokter siapa yang selama ini mengobati kamu. dan dirumah sakit mana kamu berobat?" tanya Al, berpura pura tidak tahu.
Sambil terus mengelus kepala Cia.
Cia yang tidur di lengan Al, mengangkat wajahnya.
"Kenapa?" jawab Cia.
"Ya , karna esok kita akan ke rumah sakit untuk kontrol sekalian aku mau tanya kamu bisa hamil ng?" jawab Al. masih dengan mode berpura pura.
Sebenarnya, Al. sudah mengetahui siapa dokter yang selama ini mengobati Cia dan dirumah sakit mana. tapi, karna Al. tidak ingin Cia mencurigai dirinya Al sengaja bertanya seolah belum mengetahui apa apa.
"Dokter Cathlyn. di rumah sakit Quironsalud. "jawab Cia dengan polosnya,
Al, mengangguk mengerti.
"Biasanya ke sana jam berapa?apa perlu membuat janji terlebih dahulu?" tanya Al lagi.
Cia menganguk. sambil terus jalankan jarinya didada bidang Al.
__ADS_1
Ya, saat ini Cia memilik hobi baru, menarik bulu dada Al, dan menjalankan jarinya didada bidang Al.
Al, menurukan kepala Cia perlahan di bantal. lalu, bangun dari ranjang. mengambil ponsel Cia diatas nakas.
Cia, yang melihat Al bangun dari ranjang. akhirnya berhenti menangis. dengan cepat menyeka air matanya.
"kamu mau apa?" tanya Cia manja.
"Mau membuat janji dengar dokter Catlyn."jawab Al sambil terus mengusap layar ponsel Cia . mencari nomor dokter Catlyn.
Cia terdiam setelah mendengar jawaban Al, dan kembali menaruh kepalanya dibantal.
Al, mulai mengirimkan pesan ke dokter Cathlyn. membuat janji kalo esok jam sepuluh pagi mereka akan kontrol lagi.
Setelah selesai mengirimkan pesan ke dokter Cathlyn dan mendapat jawaban dari dokter Cathlyn.
Al, meletakkan lagi ponsel Cia kembali ke nakas. dan membaringkan lagi tubuhnya disebelah Cia.
Al, merapatkan tubuh Cia ke dalam dada nya. dan, memeluk erat Cia.
"Ayo, tidur. esok kita ke dokter jam sepuluh pagi." ucap Al, sambil mendaratkan satu kecupan diujung kepala Cia.
Cia mengangguk.
Otak kotor Al mengusai dirinya.
Al, mulai mendekatkan bibirnya ke arah bibir Cia. lalu menci*m bibir Cia dengan lembut menyesap pelan dengan kelembutan.
"Manis."satu kata keluar dari mulut Al, sambil terus menyesap bibir Cia.
Cia hanya diam tidak merespon sama sekali.
Al, semakin memperdalam Ciumannya semakin dalam. tangannya melepas kancing piyama Cia.
Cia, hanya menatap pasrah.
Setelah berhasil melepaskan piyama Cia. tangan Al mulai ke arah belakang mencari pengait Bra Cia. lalu, melemparnya ke sembarangan tempat.
Nafas Al, semakin menderu, berpadu dengan bunyi sesapan bibir.membuat Cia tenggelam kelangit ke tujuh.
Cia, yang awalnya diam. akhirnya membalas ciuman. Al yang mendapat respon baik dari Cia mulai memasuk kan lidahnya semakin dalam. dan lidah mereka saling bertaut didalam sana.
__ADS_1
Tangan Al, mulai menyentuh dua gundukan Cia. dengan perlahan karna masih keras.terdengar suara bisikan Al ditelinga Cia.
"Masih keras," ucap Al. disela sela mencium Cia.
Wajah Cia merona, membuat Al tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Al, mulai menyapu Leher Cia, dan meninggalkan tanda cinta dileher Cia. dan semakin turun ke arah dada. Al menyesap ****** Cia, yang kecil dan berwarna pink.
"Manis." Ucap Al. lagi.
Cia menggeliat, Al tersenyum karna berhasil membawa Cia ke langit ke tujuh.
Suara desahan saling bersahutan.
Al, terus menyesap dada Cia, hingga menyebabkan Cia menjerit pelan.
"kenapa sakit." Ucap Cia disela sela suara desahannya.
Al, yang mendengar Cia mengeluh kesakitan menghentikan aksinya.
Dan..., menatap Cia. dengan posisi masih diatas Cia.
"Maaf, ini karna masih pertama." Ucap Al. sambil mengecup kening Cia.
Wajah Cia merona. saat mendengar Al mengatakan masih pertama.
"kamu ingkar janji."ucap Cia sambil menyembunyikan wajahnya didada Al.
"Maaf, aku ng isa nahan." jawab Al memasang wajah melasnya.
Cia masih menutup wajahnya karna malu. mendengar ucapan Al sambil mencubit pelan dada Al.
"Mana piyamaku."ucap Cia, dengan suara manja.
Al, yang mendengar Cia menanyakan piyamanya. hanya terkekeh.
"Ng usah pakai lagi. seperti ini saja."jawab Al, sambil menarik selimut. menyelimuti tubuh mereka yang setengah polos bagian Atas.
Al, mengeratkan Pelukan ke tubuh Cia.
" Besok malam kita belajar yang lebih dalam lagi." ucap Al. sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Cia, hanya diam. karna malu harus menjawab apa.sambil terus menutupkan wajahnya di dada Al.
Setelah memastikan Cia sudah tenang. Al menyibak selimut. berjalan ke arah kamar mandi. seperti biasa, untuk menuntaskan hasratnya yang tadi tidak sempat tersalurkan. karna, Al tidak bisa menahan lagi adiknya semakin mendesak dirinya untuk melepaskan lahar vanilanya.